Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Dia layak



Injan Entertainment.


Hansel sudah hampir kehilangan akal ketika panggilan teleponnya tidak terhubung. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaannya saat melihat foto yang dikirimkan oleh Cecille. Tadinya ia ragu dan ingin menanyakan langsung kepada wanita itu. Akan tetapi, teleponnya tidak diangkat.


Setelah ia memastikan dari internet dan kembali menghubungi wanita itu, nomornya sudah tidak aktif! Jantung Hansel seolah merosot dari tempatnya, membuatnya merasa tercekik karena rasa was-was.


Wanita bodoh itu tidak mungkin ingin aborsi, ‘kan?


Memikirkan kemungkinan itu membuat Hansel semakin panik. Melacak nomor teleponnya pun tidak mungkin karena ponselnya sudah dimatikan. Paling hanya bisa mengakses lokasi terakhirnya saja, sedangkan sekarang Hansel yakin kemungkinan besar wanita bodoh itu sedang menuju salah satu rumah sakit untuk ... sial, ia tidak berani memikirkannya.


“Dasar bodoh! Kenapa keras kepala sekali!” umpatnya seraya berlari keluar dari kantor.


Pria itu telah melupakan wibawanya sama sekali, mengabaikan tatapan heran dari sekretaris dan anak buahnya yang berpapasan di sepanjang lorong. Ia tidak punya waktu untuk menjelaskan apa pun. Setelah meneriaki semua orang yang ada di dalam lift untuk keluar, ia langsung menekan tombol untuk pergi ke basemen.


Sambil menunggu lift mencapai dasar bangunan, Hansel menghubungi nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Begitu panggilan tersambung, ia langsung memberikan instruksi secara ringkas dan jelas agar orang itu segera bertindak.


Ketika lift berdenting dan terbuka, Hansel langsung melompat keluar dan berderap menuju mobilnya. Ia masuk dan menyalakan mesin, kemudian duduk dan menunggu ... menunggu dengan sangat tidak sabar. Rasanya seperti ia sedang duduk di atas bara api, sangat tidak nyaman dan membuat frustasi. Jantungnya berdentam tak beraturan. Jemarinya meremas ponsel di tangannya dengan gugup.


“Wanita bodoh itu ... seharusnya aku mengikat kaki dan tangannya saja. Benar-benar sialan ....”


Hansel membuka kembali foto yang dikirimkan oleh Cecille dan menatap dua garis merah yang tercetak jelas di sana. Perlahan garis bibirnya melengkung, membentuk senyuman samar yang tampak menawan.


Itu bayinya. Bayi miliknya ....


Pria itu mengusap permukaan ponselnya dan tersenyum seperti orang bodoh. Sekarang ia memiliki keluarga ... wanita dan bayi yang harus dilindunginya.


Ding.


Rumah Sakit Saint di pusat kota, bagian ginekologi.


“Sial!”


Hansel melempar ponselnya ke jok samping dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Ia mengatur GPS menuju lokasi yang baru saja diberitahukan kepadanya.


Suara ban yang berdecit bergema di dalam basemen. Mobil sport itu hampir menghantam palang yang belum terangkat sempurna, lalu melesat membelah jalanan Kota Paris yang cukup padat. Menyalip kendaraan lain di sisi kiri dan kanannya, Hansel benar-benar tidak peduli dengan suara klakson dan teriakan penuh kemarahan dari balik jendela kaca mobil yang dibuat terkejut olehnya.


Lima menit. Waktu yang seharusnya ditempuh selama kurang lebih dua puluh menit berhasil dipersempit menjadi hanya lima menit. Seperti orang kesetanan, Hansel melompat keluar dari kursi pengemudi dan berlari ke meja informasi.


“Di mana bagian ginekologi?” tanyanya pada petugas yang berjaga di balik meja.


“Lantai dua, keluar dari lift belok kanan.”


“Terima kasih!” Hansel berseru dan langsung berlari ke arah yang ditunjukkan kepadanya.


Hansel menghampiri wanita itu dan duduk di sebelahnya. Deru napasnya yang berat dan terputus-putus menarik perhatian wanita di sebelahnya.


Saat tatapan mata mereka bertemu di udara, tampak jelas sorot keterkejutan dari wanita itu. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara, terlihat sedikit bodoh dan sialnya tetap terlihat menggemaskan.


Hansel menarik napas panjang dan mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari wanita di sampingnya.


“Dasar bodoh. Apa yang ingin kamu lakukan?” tegurnya dengan ekspresi tak berdaya.


“K-kamu? A-apa yang k-kamu lakukan d-di sini?” Cecille tergagap, sama sekali tak menyangka bahwa Hansel akan muncul di hadapannya seperti ini.


Tidak. Sebenarnya dalam hati ia sedikit berharap bahwa Hansel akan berjuang untuk menemukannya, setidaknya dengan begitu ia akan percaya bahwa pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Lalu ... di sinilah pria itu sekarang ... meskipun ia tidak mengatakan apa pun di pesan dan mematikan ponsel setelahnya, Hansel Roux tetap menemukannya ....


Dalam perjalanan ke rumah sakit tadi, pikirannya terdistorsi. Entah mengapa ia merasa tidak benar-benar ingin mengaborsi bayi dalam rahimnya ... ada sedikit rasa tidak rela ... tapi ada juga sedikit rasa bimbang, dan itu semua membuatnya hampir gila.


Mata Cecille yang sudah merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis kembali berembun. Hatinya terasa masam, pahit, dan manis pada saat yang bersamaan.


Hansel bangun dan meraih Cecille ke dalam pelukannya.


“Gadis bodoh. Sekarang kamu adalah wanita milikku, bayi itu juga milikku. Aku tidak mengizinkanmu membuangnya,” bisik pria itu di telinga Cecille. “Batasmu adalah saat aku menyerahkan pil itu, saat kamu tidak meminumnya dan bayi ini hadir, tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuhnya tanpa izin dariku. Mengerti?”


Cecille menggigit bibirnya dan gemetar. Entah karena ucapan Hansel yang membuat hatinya terasa hangat atau karena akhirnya ia menemukan tempat untuk mengeluh, wanita itu mulai terisak. Ia ingin memarahi Hansel, tapi ia sadar itu semua bermula dari kesalahannya. Akhirnya hanya bisa menangis.


Hansel mengetatkan pelukannya dan mengusap punggung Cecille dengan lembut.


“Jangan menangis lagi, nanti orang-orang mengira aku menindasmu,” bujuknya seraya mencium puncak kepala wanita dalam dekapannya.


“Bagaimana kamu menemukanku?” tanya Cecille dengan suara yang serak dan sengau.


“Ayo pulang, nanti aku beri tahu.”


Untuk pertama kalinya, Cecille menuruti perkataan Hansel. Ia tidak menolak atau melawan saat pria itu melingkarkan tangan di pinggangnya dan menuntunnya turun. Ia juga tidak menolak ketika pria itu mendudukkannya di kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman. Hatinya kini yakin, Hansel Roux tidak akan meninggalkannya, pria itu layak ....


Layak untuk menjadi pasangannya, layak untuk menjadi seorang ayah ....


***


jangan lupa like yaaa


mwuahhh


😍😍😍