Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Rela mati untukmu



Dengan hati-hati Keiko melepas cincin di jarinya, lalu menyerahkan benda itu kepada Andrew. Ia menghela napas panjang, menatap kosong pada kilau berlian yang berpendar seperti bintang dengan, seolah pikirannya sedang berkelana ke suatu tempat yang sangat jauh.


“Apa ini?” tanya Andrew ketika melihat tidak ada tanda-tanda Keiko akan mengatakan sesuatu.


Keiko mengerjap pelan dan menjawab, “Cincin. Diberikan oleh ayahku beberapa waktu lalu.”


Ia mengulurkan benda di tangannya itu ke arah Andrew, mengamati ekspresi heran di wajah pria itu sambil mengulas senyum tipis. Bahkan dengan kening yang berkerut seperti itu, Andrew Roux tetap terlihat tampan.


Tatapan mata Keiko melembut. Di bawah cahaya lampu yang redup, siluet tubuh Andrew yang ada di hadapannya terlihat tidak nyata, seolah mereka pernah berada dalam dimensi yang berbeda pada suatu waktu ... dulu sekali ....


Gadis itu menggerakkan tangan untuk menekan dadanya. Debaran di jantungnya semakin kencang ... semakin hari semakin tak beraturan, setiap kali memerhatikan wajah pria itu ... ia seolah terhanyut dan enggan untuk memalingkan tatapannya.


Ada kerinduan yang tak bisa ia ungkapkan. Ada sebuah rasa yang tak bisa ia jelaskan.


Keiko menelan ludah dengan susah payah, seakan ada gumpalan kapas yang tersangkut di tenggorokannya dan membuatnya merasa tidak nyaman. Perasaan ini ... ia sungguh tidak mengerti ....


“Ada apa? Kamu sakit?” tanya Andrew ketika melihat raut wajah Keiko yang seperti sedang menahan rasa sakit, kening gadis itu berkerut dalam sambil menatap hampa pada suatu titik yang kasat mata.


Kelopak mata Keiko bergetar pelan. Bulu mata yang lentik bergerak dengan anggun ketika mata bulat itu mengerjap lagi. Perlahan gurat-gurat halus di keningnya menipis. Alisnya yang semula bertaut pun akhirnya kembali relaks.


Gadis itu menatap lurus ke arah Andrew dan balik bertanya, “Yang kamu bicarakan itu ... reinkarnasi, apakah betul?”


Andrew cukup terkejut dengan pengalihan topik pembicaraan yang tiba-tiba itu. Ia terpaku sejenak, membalas tatapan Keiko yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Ada jejak keraguan yang terpantul dari dalam sepasang mata indah itu, juga sedikit sorot yang ambigu ... memberi ilusi kepada Andrew bahwa gadis itu sedang merindukannya.


Andrew menggenggam cincin berlian di tangannya erat-erat sebelum akhirnya menjawab, “Ya. Kamu adalah istriku, maksudku ... di kehidupan sebelumnya kita adalah suami istri. Aku sangat mencintaimu, jadi aku berdoa dan memohon agar kita kembali dipertemukan di kehidupan selanjutnya. Sisanya ... kamu tahu sendiri bagaimana kelanjutannya ....”


“Apakah itu artinya sekarang kamu mencintaiku?”


“Ya,” jawab Andrew tanpa ragu-ragu sedikit pun. Ia sangat tahu ia mencintai gadis di hadapannya itu, bahkan sejak mereka belum bertemu.


Jawaban yang diplomatis itu cukup membuat Keiko terkejut. Tiba-tiba ia teringat akan perkataan Hiro yang menyatakan bahwa Andrew menyukainya. Benarkah demikian? Apakah rasa suka pria itu bukan karena obsesinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan reinkarnasi, seperti yang pernah diungkapkannya beberapa waktu lalu?


Meski bersikap seolah mengabaikannya, pemikiran-pemikiran ini selalu menghantui Keiko sejak Andrew mengungkapkan masalah mengenai reinkarnasi kala itu.


“Apakah kamu yakin? Mungkin saja kamu tertarik karena wajahku yang mirip dengan istrimu di masa lalu itu. Bagaimana jika aku bukan dia? Bagaimana jika ini hanyalah sebuah kebetulan belaka? Bukankah itu tidak adil untukku?” cecar Keiko tanpa berkedip.


Sudut bibir Andrew tertarik ke atas. Senyuman itu seolah muncul dari dasar jiwanya ... indah dan menawan. Bahkan matanya yang selalu terlihat serius dan tajam itu kini tampak bercahaya, memerangkap siapa pun yang melihatnya, menyihir dengan pesona dan kharismanya yang memikat.


“Tentu saja aku tahu dengan jelas siapa dirimu, Baby ... tidak mungkin ada kesalahan, bukan sebuah kebetulan, dan bukan hanya karena kemiripan wajah. Kamu adalah dia. Aku tidak meragukan hal itu.”


Sekali lagi kening Keiko mengernyit ketika mendengar panggilan Andrew untuknya barusan. Seingatnya, Andrew pernah menggunakan panggilan yang sama saat mereka berada di Zeotrope.


Saat itu, ia tidak begitu menyadarinya. Ia pikir itu hanyalah sebuah panggilan asal dan iseng. Namun, sekarang saat ia mendengarnya dengan jelas, rasanya sedikit berbeda.


Baby ....


“Kalau begitu ... kenapa aku tidak bisa mengingatmu?” tanya gadis itu dengan suara yang sedikit serak. Ia mengerjap cepat untuk menghalau embun yang sudah berkumpul di pelupuk matanya dan membuat wajah pria di depannya mengabur.


Senyuman di wajah Andrew semakin lebar, bahkan kilau di matanya berubah menjadi binar-binar yang memesona sekaligus penuh rahasia.


“Itu karena aku bersalah kepadamu di masa lalu. Tidak apa-apa, dengan begini ... aku bisa menebus kesalahanku yang sangat banyak itu,” jawab pria itu dengan ringan, “Bahkan jika kamu tidak mencintaiku di kehidupan ini, itu tetap sepadan ... aku tidak akan menyesal sama sekali.”


Keiko terbengong. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria di hadapannya itu. Sedikit absurd dan tidak masuk akal.


Jika dia tidak keberatan kalau cintanya tak terbalas, lalu mengapa dia bersedia mempertaruhkan segalanya hanya untukku? Atau, mungkinkah semua ini hanya omong kosong? Bagaimana jika dia adalah salah satu dari mereka yang mengincar kekuasaan? Sengaja mendekati dan membuatku mempercayainya, lalu menikam dari belakang ....


Memikirkan kemungkinan itu membuat Keiko tiba-tiba kesal. Ia bangkit dengan cepat dan hendak meraih kembali cincin dalam genggaman Andrew. Namun, pria yang sedari tadi mengamati seluruh gerak-geriknya dengan teliti itu lebih gesit. Ia menahan jemari Keiko dalam genggamannya, bersama cincin berlian yang masih berada di sana.


“Kenapa? Tiba-tiba berubah pikiran dan tidak jadi melamarku?” godanya dengan mata berkilat jenaka.


Keiko melotot. “Melamar kepalamu!” umpatnya kesal, mencoba menarik tangannya dari cekalan Andrew.


Alih-alih marah, pria itu justru terkekeh pelan dan berkata, “Tiba-tiba kamu menyodorkan cincin kepadaku, lalu bertanya apakah aku mencintaimu, bukankah seharusnya selanjutnya adalah kamu bertanya apakah aku bersedia menikah denganmu?”


“Kamu ... kamu ... benar-benar ....”


“Tampan?”


Keiko mendengkus dan berseru, “Bisa serius sedikit tidak?”


“Aku serius, Baby.”


“....”


Keiko sangat kesal sampai kehabisan kata-kata. Ia mendelik dengan bibir mungil yang terbuka dan menutup beberapa kali.


Anehnya, wajahnya yang memerah karena marah itu bahkan semakin terlihat menggemaskan di mata Andrew, membuatnya ingin merengkuh dan ******* habis bibir ranum itu. Namun, menyaksikan gadis itu yang hampir meledak karena kesal, Andrew akhirnya melepaskan tangan mungil itu dari genggamannya.


"Baik. Aku tidak bercanda lagi," ujar Andrew seraya menatap cincin berlian yang berkilau. Dalam sekejap ekspresi wajahnya menjadi serius, kilau jenaka di matanya menghilang, digantikan dengan ekspresi tenang seperti biasanya.


“Katakan, ada apa dengan cincin ini?” tanyanya seraya menunjuk benda yang masih berada dalam genggamannya.


“Bukan urusanmu! Kembalikan!” sentak Keiko yang masih sedikit marah, “Siapa yang tahu kalau kau akan menggunakannya untuk mencelakakanku?”


Andrew tertegun mendengar perkataan gadis di hadapannya itu. Mata jernihnya yang menyala-nyala tiba-tiba meredup.


Dengan suara rendah yang menyerupai gumaman kesedihan, pria itu berkata, “Meski tangan dan kakiku dipotong sekalipun, aku tidak akan pernah membuatmu celaka. Kamu adalah nyawaku. Jika harus mati karena melindungimu, maka aku akan melakukannya dengan sukarela.”


Kata-kata yang diucapkan oleh Andrew lagi-lagi membuat Keiko terpana. Entah mengapa, ia selalu bisa dibuat salah tingkah dan menjadi bodoh oleh pria itu. Benar-benar tidak berdaya. Ia tidak ingin mempercayai ucapan Andrew yang seolah penuh dengan omong kosong itu, tapi nyatanya ... hatinya justru terasa hangat ....