Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Ayo, berangkat



Clark dan Leon tetap terjaga hingga pukul empat dini hari. Mereka berdiskusi mengenai langkah-langkah yang harus diambil jika sampai ketahuan atau tertangkap. Karena bergerak sendiri tanpa sepengetahuan organisasi EEL, maka mereka hanya bisa memanfaatkan sumber daya yang ada, juga mengandalkan kemampuan Garry untuk back up jika terjadi masalah.


Setelah semuanya dirasa sudah cukup matang, Clark memeriksa jam di layar ponselnya dan berkata, “Pergilah tidur sebentar. Aku akan membangunkanmu pukul lima nanti.”


“Hum,” gumam Leon sambil mengangguk dengan patuh. Kepalanya memang sedikit pening karena menahan kantuk. Takutnya justru ia tidak bisa berkonsentrasi dalam menjalankan misi nanti.


“Anda juga beristirahatlah sedikit, Kapten,” ujar pemuda itu dengan suara serak.


Ia berjalan menuju salah satu ranjang yang tersedia di dalam kamar losmen itu dan membaringkan tubuhnya. Ia meletakkan lengan kanannya di atas kening untuk menghalau cahaya lampu yang cukup silau. Hanya sekejap pemuda itu sudah mendengkur halus.


Clark menekan tombol merah pada bulatan yang memproyeksikan blue print kastil keluarga Nakamura, memperbesar gambar hologram yang melayang di atas meja dan memperhatikan beberapa detail ruangan.


Sedikit banyak Clark sudah mempunyai gambaran mengenai bagaimana isi dalam bangunan itu. Garry sudah berhasil meretas ke dalam sistem keamanan bangunan itu dan mencari tahu di mana lambang piramida terbalik itu berada.


Setelah memindai dengan teliti, pemuda itu akhirnya berhasil menemukan bahwa simbol yang juga terukir di atas gapura utama kediaman keluarga Nakamura itu tercetak pada sehelai daun pintu yang dicat dengan warna emas. Pintu itu berada di lantai dua, dijaga oleh pasukan berlapis dan sistem keamanan tingkat tinggi. Tidak ada alat digital di dalamnya sehingga Garry tidak bisa menembus dan mengetahui apa yang ada di balik pintu itu. Ruangan itu adalah satu-satunya tempat yang tidak dapat ditembus oleh Garry.


Melihat dari semua penjagaan itu, Clark cukup yakin bahwa apa pun yang tersembunyi di balik pintu itu pastilah merupakan sesuatu yang sangat berharga.


“Yeah, kalau bukan barang berharga, bagaimana mungkin menjadi incaran semua orang, ‘kan?” gerutu Clark seraya membereskan barang-barang di atas meja dan menyimpannya ke tempat semula.


Rencananya nanti Garry akan menyabotase sistem kamera CCTV yang berada di salah satu ruangan kastil keluarga Nakamura, ruangan yang berada di sebelah “ruang rahasia” dengan lambang piramida di daun pintunya. Kemudian Clark dan Leon akan menyamar sebagai petugas yang akan memeriksa dan membetulkan “kesalahan teknis” itu. Dengan berbekal ID palsu yang dibuat oleh Garry, Clark dan Leon akan menyusup ke dalam dan mencari tahu apa yang tersembunyi di ruangan rahasia itu.


Clark mengembuskan napas dan bergumam, “Aku tidak tahu kenapa setuju untuk terlibat dalam semua kekacauan ini. Seharusnya aku menjadi agen yang baik, berprestasi, menikmati jenjang karir, menikah, punya anak, lalu pensiun. Kalau begini, bisa punya kekasih saja rasanya sudah merupakan sebuah keajaiban.”


“Jangan khawatir. Kamu tidak sendiri.”


Clark hampir terjungkal dari atas kursi ketika mendengar suara bariton yang bergema dari ponselnya.


“Garry? Kau menyadapku?” seru Clark seraya menempelkan sidik jari untuk mengaktifkan ponselnya, “Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidur?”


Garry berdecak pelan sebelum menjawab, “Kalau tidak menyadap ponselmu, bagaimana aku akan membantu kalian besok?”


Nada suara pemuda itu terdengar sedikit bosan dan ogah-ogahan ketika melanjutkan, “Aku tidak mau tidur. Nanti saja kalau misi ini sudah selesai. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, boss pasti akan mencekikku sampai mati.”


Clark terkekeh puas sebelum berkata, “Baguslah kalau kamu menyadarinya. Andrew Roux pasti akan mengejar kita meski ke neraka sekalipun kalau sampai gagal dalam misi ini.”


Pria itu menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan penuh rasa tidak berdaya.


“Baguslah kalau kalian berdua menyadarinya.”


Clark dan Garry sama-sama terdiam, kemudian berseru hampir di waktu yang bersamaan.


“Andrew?” seru Clark.


“Boss?” panggil Garry.


“Apa yang kau lakukan di ponselku?” tanya Clark sambil memelototi ponselnya. Ia pikir hanya Garry yang bisa mengakses benda itu.


“Aku yang menyambungkannya,” jawab Garry dengan sedikit takut-takut, “Maaf, lupa memberitahukannya kepadamu.”


“Sepertinya kalian berdua memiliki banyak waktu luang sampai-sampai masih sempat untuk bergosip,” sindir Andrew dengan sinis.


“Tidak. Aku sangat sibuk. Bye, Boss,” ujar Garry sebelum memutuskan sambungan telepon.


“Hey! Kembali! Singkirkan dia dari ponselku!” teriak Clark, kesal karena Garry meninggalkan tanggung jawab kepadanya.


“A-apa? Apa katamu?” Wajah Clark mendadak berubah menjadi ungu dan biru.


“Tidak ada.”


“Enyah dari ponselku! Kalau tidak, jangan harap aku akan membantumu!” ancam Clark seraya berusaha menghapus riwayat penelusuran di internet yang baru-baru ini dibukanya. Wajar saja kalau ia iseng dan membuka situs dewasa, kan? Hanya saja rasanya terlalu memalukan kalau sampai tertangkap basah oleh Andrew seperti ini.


Garry benar-benar sialan, umpatnya dalam hati.


“Seleramu lumayan juga,” goda Andrew sebelum offline dari ponsel Clark, meninggalkan sahabatnya itu dalam kondisi putus asa dan merana.


“Aku benar-benar akan mencekik bocah sialan itu ketika bertemu dengannya nanti,” rutuk Clark dengan wajah memerah karena kesal.


Pria itu berjalan menuju ranjang dan menendang ujung kaki Leon untuk melampiaskan kekesalannya. Selalu seperti itu bukan, yang lebih kuat menindas yang lemah.


“Bangunlah. Sudah hampir siang. Kita harus segera bersiap,” ujar Clark sambil berjalan menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri.


Leon tersentak bangun dan terbengong di sisi ranjang, menoleh dengan linglung ke kanan dan ke kiri. Nyawanya seolah masih melayang di ruang hampa udara. Setelah beberapa detik, pemuda itu berhasil mendapatkan kesadarannya. Ia segera melompat turun dengan sedikit terburu-buru hingga ujung kakinya terantuk alas kakinya sendiri.


“Aduh!”


Leon mengaduh, setengah melompat-lompat sambil mengusap ibu jari kakinya yang berdenyut nyeri. Ia ingin mengumpat dan memarahi Clark yang sudah mengagetkannya, tapi ia tidak berani. Benar-benar ....


“Apa yang kau pikirkan? Bengong seperti itu ... sana pergi bersiap,” gerutu Clark ketika keluar dari kamar mandi dan mendapati Leon sedang mematung di tengah ruangan.


“A-aku ... b-baik, Kapten!” seru Leon sambil tersaruk-saruk menuju kamar mandi.


Pemuda itu membersihkan diri dengan cepat, kemudian berganti pakaian dan duduk di sebelah Clark. Entah dari mana datangnya, sudah ada dua gelas kopi dan dua tangkup roti bakar di atas meja ketika Leon duduk. Ia mendongak dan menatap Clark dengan sorot penuh tanya.


“Makanlah. Si Tua penjaga penginapan baru saja mengantarkannya,” ujar Clark seraya mengambil cangkir kopi miliknya dan menyesap isinya perlahan.


Leon mengangguk dan berkata, “Terima kasih.”


Dua orang itu sarapan dengan tenang, tidak banyak bicara satu sama lain. Tidak sampai 15 menit kemudian, Clark bangkit dan mengambil rompi yang semalam disimpannya di dalam lemari. Ia memilih beberapa senjata khusus buatan Phoenix. Co yang tidak akan terdeteksi oleh metal detector, juga beberapa kelereng peledak yang diselipkan di ruang khusus yang berada dalam alas sepatunya.


Ia lalu mengambil The Eyes dari dalam kotak dan memakainya, kemudian memeriksa apakah benda itu berfungsi dengan baik. Setelah yakin semua sudah sesuai prosedur, pria itu segera memakai rompi kuning yang bertuliskan “Security Sistem Service”.


Leon pun segera melakukan hal yang sama, kecuali untuk The Eyes. Hanya Clark yang memakai benda itu untuk meminimalisir kecurigaan.


“Sudah siap?” tanya Clark seraya memasang topi yang memiliki logo yang sama dengan rompinya.


“Siap, Kapten,” jawab Leon seraya mengancingkan rompi teknisi berwarna kuning terang.


“Ayo, berangkat,” ujar Clark seraya membuka pintu dan berjalan lebih dulu keluar dari kamar itu.


Leon mengunci pintu, kemudian berderap mengejar Clark yang sudah hampir sampai ke mobil. Jantung pemuda itu berdentam-dentam. Ini adalah misi keduanya, tapi langsung ditugaskan untuk melakukan sesuatu yang berbahaya. Ia menelan ludah dan menyemangati diri sendiri dari dalam hati. Mau tidak mau, ia harus menyelesaikan misi ini dengan baik.


***


Haii kesayanganku, jangan lupa like, vote dan komen yaaa...


makasihh😍😍