
Ketika dokter terakhir memastikan bahwa kandungan Keiko telah memasuki minggu keenam, Andrew hampir melompat maju dan memeluknya. Ekspresinya berubah-ubah, perpaduan antara gugup dan bahagia yang terkira. Untuk pertama kalinya, pria yang tak tergoyahkan itu merasa cemas dan takut. Takut jika ia tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk kedua kalinya.
“Baby, ini calon bayi kita,” gumam pria itu seraya menatap lembar USG di tangannya dengan binar yang mengalahkan pendar aurora di luar sana.
Dua kantong embrio yang tercetak dalam lembaran kertas itu terlihat seperti berlian yang berkilauan. Rasanya Andrew tidak mau mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas itu, sementara telapak tangannya yang lebar terus mengusap perut Keiko dengan penuh rasa sayang.
“Um, ini hasil perbuatanmu yang bekerja keras selama dua minggu ini tanpa henti,” balas Keiko, sedikit menggoda suaminya.
Mau tidak mau wanita itu merasa lucu melihat respon suaminya mengenai kehamilannya itu. Sejujurnya ia sedikit tidak siap karena semuanya terlalu tiba-tiba, dimulai dari pernikahan, bulan madu, hingga kabar kehamilan. Namun, melihat ekspresi Andrew saat ini, semua keraguan dan kekhawatirannya berkurang drastis. Ia percaya pria itu bisa menjadi ayah yang sangat baik.
“Menurutmu mereka akan lebih mirip siapa? Aku harap akan lebih mirip seperti dirimu,” gumam Andrew sambil menciumi perut istrinya, “Kalian dengar tidak? Harus mirip dengan Mama, juga harus menjadi anak yang baik ... kalau tidak, Papa akan memukul pantat kalian.”
Keiko terkekeh dan berkata, “Janinnya bahkan belum terlihat, kamu sudah mengancam mereka.”
“Aku bersungguh-sungguh, kelak kalau mereka nakal dan menyusahkanmu, aku yang akan memberi mereka pelajaran.”
“Kita lihat nanti, apakah ayahmu akan membiarkanmu turun tangan terhadap cucu-cucunya atau tidak,” balas Keiko seraya mengangkat alisnya dan memberikan tatapan provokasi.
Gerakan Andrew mendadak terhenti. Bagaimana ia bisa melupakan ayahnya? Bagaimana respon pria tua itu kalau sebentar lagi dia akan menjadi seorang kakek? Huh ... mungkin dia akan memanjakan cucu-cucunya sampai ke langit. Akhirnya Andrew hanya bisa mendesah tak berdaya ....
“Sudah, jangan pikirkan pria tua itu, kita akan mengurusnya nanti,” gerutu Andrew. “Ngomong-ngomong, aku punya vila kecil di tepi kota Prancis. Kamu mau tinggal di sana? Atau mau tetap di mansion?”
“Memangnya ayahmu akan mengizinkannya?” balas Keiko sedikit ragu.
“Kurasa jika itu membuatmu merasa lebih nyaman dan relaks, maka dia akan setuju. Jangan khawatir, nanti aku yang akan bicara dengannya.”
Andrew menawarkan itu bukannya tanpa pertimbangan. Ia tahu Keiko lebih senang tinggal di tempat yang tidak terlalu ramai. Bisa dibayangkan jika mereka tetap di mansion, mungkin ayahnya akan ikut mengurusi segala sesuatu yang akan membuatnya pusing dan tidak nyaman.
“Sudah, cepat tidur. Ibu hamil tidak boleh begadang, nanti bisa mempengaruhi perkembangan janin,” ujar Andrew seraya menata bantal dan membantu Keiko berbaring dengan nyaman. Ia memakaikan selimut dan mencium kening wanita itu, lalu berbaring di sampingnya.
“Kita akan pulang besok siang. Ada dua orang dokter yang akan ikut untuk menjagamu sepanjang perjalanan, jadi jangan cemas, ya,” lanjutnya lagi seraya memeluk istrinya erat-erat.
“Oke, suamiku.”
Keiko tertawa dan menggeleng tak berdaya. Ini baru suaminya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana respon Marco Roux nanti. Malam ini sudah cukup menggemparkan, harus mempersiapan diri untuk kehebohan yang akan dihadapinya besok. Akhirnya wanita itu hanya bisa menghela napas dan menutup mata, berbaring dengan nyaman dalam pelukan suaminya.
...***...
Keesokan harinya, saat turun dari jet pribadi dan hendak pindah ke mobil yang akan menuju Kota Dinan, Keiko muntah hebat. Perjalanan panjang meskipun dengan menggunakan fasilitas mewah yang nyaman, tetap saja membuat perutnya bergolak. Kepalanya terasa berputar, membuatnya pusing dan mual setengah mati. Seluruh isi perutnya tumpah hingga tak ada lagi yang tersisa, hanya cairan masam dan pahit yang tersisa di kerongkongan.
Wajah Keiko yang kuyu dan terlihat sangat tersiksa membuat Andrew memarahi dua orang dokter yang menurutnya tidak becus merawat istrinya, membuat pria dan wanita yang memakai jas medis itu hanya bisa mengusap keringat di dahi diam-diam. Rasa mual yang diderita wanita hamil sama sekali bukan salah mereka, tapi harus menanggung semua kesalahan ... hanya bisa menangis dalam hati ....
“Mr.Roux, ini adalah reaksi alami wanita hamil pada trimester pertama, setelah memasuki trimester kedua, biasanya akan mereda dengan sendirinya.” Dr. Carla berusaha menjelaskan, meski rekannya telah menjelaskan hal yang sama sejak semalam.
Andrew bukannya tidak tahu hal itu. Ia hanya memerlukan tempat pelampiasan untuk emosinya yang tak tersalurkan. Tidak tahu harus memarahi siapa.
“Masih pusing? Ada yang mau makan tidak?” tanya pria itu seraya mengusap-usap punggung Keiko dan menciumi kepala yang terkulai ke pundaknya.
Kalau bisa dipindahkan, rasanya ia ingin meminta agar dirinya saja yang mengalami semua “siksaan” itu.
Keiko menggeleng lemah. Saat ini ia hanya ingin tidur. Berbaring di atas kasur yang empuk dan memejamkan mata, rasanya pasti sangat enak.
“Oke.”
Andrew menopang tubuh Keiko dengan hati-hati, kemudian memberi perintah kepada sopir untuk segera berangkat. Total ada empat iring-iringan mobil yang menuju Kota Dinan. Di depan adalah mobil bodyguard, mobil Andrew dan Keiko berada di urutan kedua, di belakang mereka adalah mobil untuk Dokter Carla dan Dokter Mario, kemudian mobil paling belakang berisi enam orang pengawal terlatih.
Sepanjang perjalanan, Andrew duduk dengan tenang. Ia tidak berani bergerak sama sekali meski bahu dan lengannya sudah kesemutan karena menahan tubuh istrinya.
Karena Andrew meminta agar sopir mengendarai mobil dengan hati-hati, akhirnya waktu tempuh yang seharusnya hanya setengah jam terpaksa memakan waktu hampir satu jam penuh. Hari sudah menjelang sore ketika akhirnya mereka tiba di vila yang dulu ditinggali oleh Andrew.
Ketika pengawal membukakan pintu mobil, Andrew mengangkat tubuh Keiko dengan sangat hati-hati, kemudian membopongnya keluar. Siapa sangka begitu pintu vila terbuka dan ia melangkah masuk, ayahnya dan si Tua Alfred langsung menyambut di ruang depan.
“Apa yang terjadi? Kenapa kamu menggendongnya seperti itu? Apa dia sakit?” cecar Marco Roux bertubi-tubi. Kantong matanya terlihat seperti mata panda, jelas menunjukkan bahwa pria tua itu tidak tidur semalaman.
“Ayah, Alfred ... apa yang kalian lakukan di sini?” bisik Andrew sambil memelototi kedua pria tua itu. Jantungnya hampir copot karena terkejut.
“Kenapa tidak bilang kalau kalian akan datang?” tanyanya lagi sebelum melangkah menuju kamar tidur.
“Masih bertanya kenapa? Dasar bocah kurang ajar, tentu saja karena kamu menculik menantu dan calon cucuku ke sini,” balas Marco, balik memelototi putranya.
Andrew tercengang ketika pintu kamarnya terbuka lebar. Seluruh perabot dalam ruangan itu telah diganti. Sepertinya semua isi kamar mereka di mansion telah dipindahkan oleh ayahnya ke tempat ini. Mau tidak mau hati Andrew terasa hangat. Ayahnya benar-benar sangat menyanyangi Keiko seperti putri sendiri, juga menyambut calon cucunya dengan sepenuh hati.
Kemarin malam, saat Andrew memberi kabar kepada pria tua itu bahwa Keiko hamil, Marco Roux sudah hampir menyusul dengan menggunakan jet pribadi miliknya. Untungnya Andrew cepat mengatakan bahwa mereka akan kembali ke Dinan hari ini, kalau tidak ... mungkin ayahnya akan benar-benar menyusul ke Finlandia.
Setelah membaringkan Keiko di kasur dan menyelimutinya, Andrew berjalan keluar. Saat itulah ia baru menyadari bahwa perabot dalam seluruh vila pun sudah diganti, semuanya menggunakan bahan terbaik dengan kualitas terbaik pula. Juga ada selusin pelayan yang berbaris rapi di dekat pintu dapur. Ia sama sekali tidak menyangka ayahnya akan melakukan ini semua.
“Terima kasih, Ayah,” ucap Andrew dengan tulus.
Marco Roux melambaikan tangannya ke udara.
“Apanya yang terima kasih, aku melakukan ini untuk cucuku. Kamu bilang mereka ada dua? Langsung sepasang! Ya Tuhan ... Alfred, aku akan memiliki dua orang cucu! Kau dengar itu?”
Pendar sukacita di iris abu-abu milik Alfred tak kalah bercahaya dibandingkan binar di wajah Marco Roux. Tuhan yang tahu bagaimana majikannya itu menanti dan melakukan segala upaya agar putranya mau menikah. Sekarang, Andrew bahkan berhasil mencetak dua orang anak sekaligus, tentu saja ia ikut senang!
“Aku akan menyiapkan makanan untuknya dulu, tadi ia muntah—“
“Astaga, cepat ... cepat ... pergi siapkan makanan. Menantu dan cucuku tidak boleh kelaparan!” sela Marco Roux, ia segera memberi perintah kepada pelayan untuk menyiapkan makan malam.
“Ayah, pelan sedikit, kamu akan membangunkan mereka,” tegur Andrew sambil mengulum senyum.
Marco Roux langsung menutupi mulutnya dengan tangan, kemudian memberi perintah kepada para pelayan dengan bahasa isyarat.
Sore itu, di dalam vila kecil di tepi Sungai Rance, kehangatan menjalar ke seluruh ruangan. Tak ada yang tidak bersukacita menyambut kehadiran calon penerus generasi Keluarga Roux. Dua janin mungil yang baru terbentuk, tapi sudah mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tak terhingga dari semua orang.
***
Maaf belum bisa double up, lg kurang fit...
semoga kalian terhibur yaa.