Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Pergi ke suatu tempat



Guncangan halus membangunkan Keiko dari tidurnya. Gadis itu menggeliat dan bergeser ke sisi jendela, menekan tombol hingga panel penutup terbuka. Kerlap-kerlip lampu di luar sana menarik kembali separuh jiwanya yang masih melayang-layang di udara.


Hal terakhir yang diingatnya adalah melarikan diri dari hadapan Andrew dan membaringkan tubuh di atas ranjang. Ia bahkan belum sempat mandi, langsung jatuh tertidur begitu saja saat kepalanya mengenai bantal. Sekarang ia merasa sedikit panik. Apakah mereka sudah sampai di Paris? Berapa lama ia tertidur?


Keiko bangun dari atas ranjang dengan sedikit terburu-buru dan langsung menuju bilik kecil di samping kasur. Ia mandi dengan cepat, lalu kembali keluar dengan tubuh dililit handuk. Baru saja hendak membuka laci nakas yang ada di sisi ranjang, terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.


“Baby, kamu tidak ingin keluar untuk melihat-lihat?” tanya Andrew.


“Tunggu sebentar!” seru Keiko.


Gadis itu pun tergesa mencari pakaian ganti di dalam nakas. Senyum tipis tersungging di bibirnya ketika melihat setumpuk pakaian di dalam sana, persis seperti dugaannya. Ia yakin Andrew sudah menyiapkan semua keperluannya di dalam pesawat, dan hal itu terbukti benar. Bahkan ada dua pasang flat shoes dan satu buah sandal santai. Hati Keiko tiba-tiba merasa hangat dan manis.


Setelah berganti dengan sebuah blus putih polos dan celana jeans biru tua, Keiko merapikan rambutnya dan membuat kuncir ekor kuda. Ia menarik sandal santai dari laci dan memakainya. Semua ukuran terasa pas, tidak ada yang terlalu besar atau terlalu kecil, termasuk pakaian dalamnya. Untuk yang satu itu, Keiko sungguh tidak tahu harus memuji kemampuan Andrew dalam menebak dengan benar, atau memukul kepala pria itu karena sempat berpikir untuk membelikannya pakaian dalam.


“Baby ....”


“Ya, segera datang!”


Keiko melompat tiga langkah dan membuka kunci. Ia meraih gagang pintu menariknya hingga terbuka.


“Ada apa, Sayang? Kita sudah sampai?” tanyanya dengan mata berbinar penuh antusiasme.


Senyum lebar di wajah gadis itu terlihat sangat menyilaukan, membuat Andrew tanpa sadar ikut mengulas senyum tipis.


“Tidak. Kita sedang berhenti di Turki untuk mengisi bahan bakar,” jawab Andrew seraya menarik tangan Keiko dan menggandengnya menuju ruang utama, “Apa ada makanan yang ingin kamu cicipi atau barang-barang tertentu yang mau kamu beli?”


“Oh ....” Keiko bergumam pelan. Sejujurnya, ia tidak ingin membeli apa pun lagi. Makanan di dalam pesawat sangat bervariasi dan semuanya cukup sesuai dengan seleranya. Mengenai barang-barang, ia juga tidak menginginkannya. Apa yang diberikan oleh Andew sudah lebih dari cukup.


Setelah berpikir sejenak, Keiko menambahkan, “Tidak ingin apa-apa. Aku keluar karena mengira kita sudah sampai di Paris.”


Gadis itu lalu mengintip lagi jendela di sisi kirinya. Dalam kegelapan, selain kerlip lampu di kejauhan dan bangunan-bangunan yang tinggi menjulang, keadaan di luar sana tidak terlalu jelas. Tidak terlihat pesawat lain di sekitar, membuat Keiko sedikit mengernyit karena bingung.


“Ini adalah salah satu fasilitas penerbangan milik Phoenix.Co, kalau kamu ingin tahu,” jelas Andrew seolah mengerti apa isi benak Keiko.


“Kamu ... bagaimana bisa selalu tahu apa yang sedang aku pikirkan?” Keiko memasang ekspresi serius di wajahnya dan berkacak pinggang sebelum menambahkan, “Itu sedikit menyeramkan. Apakah kamu menanamkan chip di kepalaku saat aku sedang tidur?”


Andrew terkekeh hingga bahunya berguncang.


“Otakmu terbentur saat berkelahi tadi? Aku akan meminta dokter untuk memeriksanya,” ujar Andrew setelah tawanya digantikan dengan seringai lebar yang terlihat sangat konyol.


“Tidak. Aku baik-baik saja, hanya sedikit takut kepadamu Mr.Roux ... kamu menyeramkan. Sepertinya aku harus mulai memakai topi baja agar kamu tidak bisa membaca isi kepalaku,” kata Keiko, tidak menghilangkan mimik serius di wajahnya sama sekali.


“Sakit!” Keiko menepis tangan Andrew dan mengusap pipinya sambil cemberut.


“Jangan marah ... siapa suruh kamu sangat imut dan menggemaskan ....” Andrew merengkuh pinggang Keiko dan memakaikan sebuah mantel bulu yang sudah disiapkannya. “Bagaimana kalau aku mengajakmu ke suatu tempat?”


“Terima kasih.” Keiko mengetatkan mantel di depan dada. Rasanya lembut dan hangat. Sangat nyaman dipakai.


“Kita akan ke mana?” tanyanya lagi, wajahnya diliputi rasa ingin tahu.


“Nanti kamu akan mengetahuinya,” jawab Andrew sambil tersenyum penuh rahasia. Ia memberi isyarat dengan kepalanya agar Keiko mengikutinya ke pintu keluar.


Setelah turun dari pesawat, Keiko baru menyadari bahwa kawasan itu cukup luas. Ada satu buah pesawat jet lain yang terparkir sedikit lebih jauh di belakang. Gedung-gedung beton tinggi menjulang memutari lahan itu hampir dari semua sisi. Rahangnya hampir terbuka lebar melihat semua bentuk paling mutahir dari semua teknologi yang pernah dilihatnya dipakai oleh orang-orang yang sedang berlalu-lalang di sekitarnya. Orang-orang itu sesekali berhenti melakukan aktivitas mereka hanya untuk menyapa atau memberi hormat kepada Andrew.


Sementara Andrew sendiri hanya menanggapi itu semua dengan santai. Ia menuntun Keiko dan berjalan ke arah barat, menuju salah satu bangunan paling tinggi yang ada di sana. Para penjaga yang bersenjata lengkap memberi hormat ketika Andrew lewat, membuat Keiko tidak meragukan ucapan kekasihnya bahwa tempat itu adalah salah satu fasilitas milik perusahaan keluarganya. Keiko melirik diam-diam. Seberapa kaya pria di sampingnya itu?


Keiko tiba-tiba teringat saat Andrew berpamitan kepadanya di pulau. Apa yang pria itu katakan pada saat itu? Semua propertinya sudah diberikan kepadanya, ia hanya perlu tanda tangan saja. Jangan-jangan termasuk tempat ini?


Tidak. Tidak mungkin.


Keiko menggelengkan kepalanya pelan, kemudian kembali melirik ke arah Andrew. Pria itu tidak mungkin serius dengan ucapannya waktu itu.


“Berhenti berpikir yang tidak-tidak,” ucap Andrew ketika menyadari tatapan kekasihnya yang rumit terpantul melalui kaca di samping lift.


Keiko hanya berdeham dan meluruskan kepalanya, menatap penuh minat pada bentuk lift yang terlihat berbeda dari lift mana pun yang pernah ia naiki.


Setelah memindai retinanya di panel yang ada di tembok, Andrew mempersilakan Keiko untuk masuk lebih dulu. Ia menyusul di belakang gadis itu, lalu memilih angka hologram yang melayang di hadapannya.


Kening Keiko berkerut dalam ketika melihat Andrew menyentuh angka 45, angka terkahir yang muncul dalam pilihan. Sepertinya itu adalah lantai paling atas. Untuk apa mereka pergi ke sana?


Tubuh Keiko tersentak ke depan ketika lift melesat ke atas dengan kecepatan maksimal. Untungnya Andrew menahan pinggangnnya dengan sigap, kemudian menggengam tangannya erat-erat. Pria itu tidak terlihat terpengaruh dengan gerakan lift, sepertinya sudah terbiasa menggunakan benda itu.


“Teknologi seperti ini, dari mana kalian mendapatkannya?” tanya Keiko penuh rasa ingin tahu.


“Ayahku merekrut orang-orang terbaik dari seluruh dunia,” jawab Andrew seraya tersenyum tipis, “Apa yang kamu lihat di sini, belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kantor utama di Paris.”


“Itu terdengar keren sekaligus menakutkan,” ujar Keiko dengan senyum kaku dan tubuh yang tegang.


Tiba-tiba ia sebuah pemikiran melintas di kepalanya. Jika suatu saat nanti ia menikah dengan Andrew dan menjadi Mrs.Roux, apakah ia cukup sepadan dengan semua predikat yang disandang oleh pria itu? Ia benar-benar merasa rendah diri dan tidak layak. Hal itu membuatnya semakin gugup sehingga telapak tangannya menjadi basah.


***