Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Serangan Balasan



Setelah tiba di ujung lorong, Keiko menyadari ruangan loteng itu mungkin berukuran sekitar 2x2 meter. Ada beberapa potongan kayu dan tumpukan kardus di sudut ruangan, tapi masih menyisakan sedikit celah untuk tubuhnya.


Ia merayap hingga hampir menempel dengan jendela kaca, kemudian membidik ke arah anak buah Mr.Durrant yang berada dalam jangkauan tembakannya.


Di posisi yang sekarang, suara Mr.Durrat dapat terdengar dengan cukup jelas oleh Keiko. Pria itu sedang mulai menghitung waktu.


“Sepuluh, sembilan, ....”


Keiko mengintip melalui pisir dan menarik pelatuk. Tubuhnya sedikit tersentak ke belakang ketika selongsong berhamburan dan butiran timah panas menerjang udara, menghantam tubuh-tubuh kekar yang berdiri di halaman. Dalam sekejap keadaan menjadi kacau balau karena musuh di luar sana sama sekali tidak menyangka kalau Keiko akan memberikan serangan balasan.


“Cepat berlindung!” teriak Mr.Durrant ketika melihat hampir dua kompi pasukannya tumbang dengan tubuh bersimbah darah.


Dalam sekejap semua orang itu kocar-kacir mencari tempat perlindungan. Mereka meninggalkan Tuan Sergio dan dua orang anak buahnya yang tersisa.


Keiko masih terus membidik dari loteng. Ia mengincar kepala, kaki, dan tangan musuhnya yang masih terlihat, menembaki mereka ampun hingga suara pekik kesakitan membahana di udara.


“Serang mereka! Lindungi Nona Keiko!” teriak Tuan Sergio setelah pulih dari keterkejutannya.


Ia memimpin dua orang anak buahnya untuk mengambil senjata musuh yang tertinggal, lalu berlari ke arah pepohonan di samping pondok untuk berlindung. Dalam hitungan detik, suara tembakan yang bertubi-tubi kembali bersahutan di udara, membuat korban dari pihak musuh semakin banyak.


Mr.Durrant yang sudah berhasil menemukan tempat aman segera memberi perintah kepada anak buahnya yang memegang RPG dan berlindung di dekatnya.


“Tembakkan benda itu! Ratakan bangunan itu dengan tanah!” serunya dengan amarah yang menggelegak di dalam dada.


“Baik, Kapten!”


Dalam hitungan detik, suara RPG yang ditembakkan terdengar di udara, mengalahkan suara desingan peluru yang berhamburan mencari sasaran.


Melihat misil yang meluncur ke arahnya, Keiko langsung tiarap dan melindungi kepala dengan kedua tangannya, bersiap menerima serangan yang datang.


Boom!


Duar!


“Ah!”


Tubuh Keiko terlempar ke belakang ketika ledakan yang dahsyat mengguncang bangunan hingga semua benda yang ada dalam loteng ikut bergetar. Sepersekian detik kemudian, seluruh barang-barang itu ambruk ke bawah bersama tubuh Keiko yang melayang sekejap sebelum menghantam lantai dengan cukup keras.


Gadis itu terbatuk-batuk karena debu yang mengepul di udara memasuki paru-parunya. Ia meringis dan mengusap wajahnya. Matanya sulit dibuka karena kemasukan debu. Rasa sakit berdenyut di beberapa bagian tubuhnya, tapi ia tidak memedulikannya. Dalam keadaan yang kacau itu, Keiko mengerjap beberapa kali untuk menghalau debu yang masuk ke matanya, lalu menahan perih dan merangkak sambil meraba-raba untuk mencari senjatanya yang terpental entah ke mana.


Di luar, Mr.Durrant menyeringai puas melihat bangunan yang luluh lantak di hadapannya.


“Ingin membunuhku? Heh! Gadis Bodoh. Kemampuanmu tidak sepadan denganku,” ujarnya dengan puas ketika melihat separuh bagian pondok kayu sudah hancur. Ia cukup yakin bahwa gadis di dalam pasti terluka parah, atau paling tidak sedang pingsan saat ini.


Di dalam rumah, suara berderak yang cukup keras terdengar ketika rangka kayu yang hanya tersisa separuh terlepas dari rangkaian. Benda itu meluncur ke bawah dengan cepat. Keiko segera berguling ke kanan untuk menghindari patahan kayu itu, tapi sayang, sedikit potongan kayu masih menyerempet betisnya.


Keiko meringis menahan sakit. Ujung patahan kayu yang tidak rata merobek betisnya cukup dalam. Daras merembes keluar, bercampur dengan debu dan kotoran yang ada di lantai. Ia menggigit ujung bajunya, merobeknya dan menggunakannya untuk membebat luka di betisnya.


Ia baru saja ingin berdiri ketika secara tidak sengaja matanya tertumbuk pada gagang senjata yang tertimbun di bawah reruntuhan.


Gadis itu merunduk dan setengah melompat ke arah senjatanya. Ia memeriksa isi magasin dan cukup puas melihat jumlah peluru yang masih banyak.


Setelah menggenggam senjata itu erat-erat, Keiko merangkak di antara reruntuhan dan berlindung di balik sofa yang tertimpa lemari. Ia menyelipkan moncong senjata melalui celah antara sofa dan lemari, lalu mencari keberadaan Mr.Durrant melalui pisir.


Kebetulan sekali pria itu sedang keluar dari balik pohon, mengangkat tangan dan mengucapkan sesuatu ke arah pohon di sebelahnya.


Mungkin sedang berbicara kepada anak buahnya, pikir Keiko.


Kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis itu mengarahkan ujung senapan agar selaras dengan titik tengah pada pisir dan membidik jantung Mr.Durrant.


Satu. Dua. Tiga.


Keiko menarik pelatuk dengan mantap. Senjata api itu memuntahkan isi magasin sehingga serentetan peluru berdesing di udara, melesat secepat kilat menuju Mr.Durrant yang tampak terkejut ketika mendengar suara tembakan dari antara reruntuhan bangunan.


Pria itu belum sempat memberikan respon ketika salah seorang anak buahnya sudah lebih dulu menghadang di depannya dan menjadi tameng.


Hantaman peluru yang bertubi-tubi membuat tubuh anak buah Mr.Durrant tersentak ke belakang. Darah muncrat dari lubang di tubuhnya, beberapa memercik di udara dan mengenai tubuh Mr.Durrant yang hanya berjarak sekitar satu langkah. Tubuh pria yang sudah tidak bernyawa itu ambruk dan menimpa Mr.Durrant.


“Sial!” umpat Keiko ketika menyadari bidikannya tidak mengenai sasaran, sementara amunisi sudah semakin menipis.


Setelah pulih dari keterkejutannya, Mr.Durrant mendorong tubuh anak buahnya yang bermandikan darah dan meraung kencang.


“Bunuh jalang itu! Hancurkan semuanya!”


Persetan dengan kerja sama! Kesabarannya sudah habis. Masalah petunjuk dapat ia cari dari jasad gadis sialan yang berani melawannya itu!


Tanpa dikomando dua kali, sisa pasukan yang tersisa segera mengarahkan semua senjata mereka ke sisa pondok kayu yang masih berdiri. Detik berikutnya, tembakan beruntun diarahkan ke sisa bangunan itu. Dalam sekejap semuanya runtuh ke bawah.


Keiko berguling dan masuk ke sela sofa dan lemari yang membentuk sudut segitiga. Ia meringkuk dan menangkupkan kedua tangan ke atas untuk melindungi kepalanya.


Andrew ... cepatlah datang ....


Blup!


Satu peluru berhasil menembus sofa dan menyerempet pinggang Keiko, membuatnya menggertakkan gigi karena menahan rasa sakit. Cairan panas dan anyir membasahi kemejanya yang sudah tidak berbentuk lagi. Gadis itu sedang mengatur napasnya yang mulai tersengal ketika suara yang khas kembali terdengar dari luar.


Keiko semakin merapatkan tubuhnya ke lantai dan meringkuk hingga kepalanya menyentuh lutut. Tak lama berselang, suara ledakan yang dashyat kembali terdengar. Kali ini misil dari RPG menghantam bagian dapur sehingga memicu timbulnya api akibat adanya kebocoran gas. Api membesar dengan cepat, melahap apa pun yang ada di dekatnya.


Tuan Sergio panik. Ia menoleh sekilas untuk mencari keberadaan Keiko di antara reruntuhan, tapi tidak berhasil menemukan sosok gadis itu. Ia juga tidak berani memanggil Keiko, takutnya jika gadis itu menjawab makan akan membantu musuh menemukan lokasi gadis itu dengan mudah. Oleh karena itu, Tuan Sergio kembali fokus dan membidik ke arah musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang pepohonan di depan sana.


Sementara itu di bagian depan reruntuhan bangunan, Keiko tidak berani bergerak. Selain karena luka di pinggangnya yang terasa semakin menyengat, ia takut musuh akan menemukan lokasinya dan langsung membombardirnya dengan serangan bertubi-tubi.


“Andrew ...,” lirih Keiko pelan, sungguh berharap Andrew akan datang menyelamatkannya.


Ia belum ingin mati. Dendam ayahnya belum ia balaskan. Ia tidak boleh mati sekarang ....


***


Jangan lupa napas, Kesayanganku 😁


Kalau kalian suka, vote dan like yang banyakk yaaa...


mwuah!😍😍