Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Kesempatan



Andrew digiring memasuki sebuah ruangan sempit di lantai tiga. Ada satu buah bangku besi panjang, satu kursi hitam yang memiliki sandaran, dan satu buah meja besi yang tertanam ke lantai dalam ruangan itu. Tidak ada jendela atau pun ventilasi. Pintunya pun terbuat dari baja yang cukup tebal. Akses masuk menggunakan tanda pengenal biometrik.


Ruangan seperti ini biasanya hanya digunakan untuk menginterogasi tahanan level satu, atau para pengkhianat. Jadi tidak diragukan lagi, ia telah dianggap sebagai bagian dari komplotan penjahat.


“Silakan duduk, Mr.Roux. Kapten Charles Mo akan segera ke sini untuk meminta keterangan dari Anda,” ujar salah seorang pengawal yang membawa Andrew ke tempat itu.


“Baik, terima kasih,” jawab Andrew dan duduk dengan perlahan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan meluruskan kakinya dengan santai.


Dua orang pengawal yang mengantarnya segera keluar setelah melihat Andrew duduk di bangku besi dengan patuh. Suara “klang” yang cukup keras bergema dalam ruangan ketika pintu kembali tertutup rapat. Andrew tidak mau repot-repot menolehkan kepalanya untuk mengamati isi ruangan itu karena ia tahu, ada empat buah CCTV di setiap sudut ruangan, juga sensor-sensor yang akan memicu alarm jika ia berani mendekati pintu barang satu langkah saja.


Ia tahu siapa pun yang memberi perintah untuk menempatkannya di sini, sudah jelas ingin mempersulit dirinya. Orang itu sengaja memutus aksesnya dengan dunia luar. Tidak membiarkannya mendapat informasi sedikit pun. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk menjeratnya dalam sebuah kejahatan yang sama sekali tidak dilakukan olehnya.


Andrew mendesah pelan dan bersandar di tembok beton yang terasa dingin. Warna cat yang putih sama sekali tidak bisa menghapus kesan muram dalam raut wajah pria itu. Untuk saat ini, ia sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatannya sendiri. Isi kepalanya terus berputar dan memikirkan jalan keluar agar bisa membawa Sakamoto Keiko keluar dari semua kekacauan ini.


Jika yang dikatakan oleh Hiro benar, maka nyawa gadis itu sekarang benar-benar sedang berada di ujung tanduk. Tidak menutup kemungkinan bukan hanya Ryuchi yang mengincarnya, tapi juga orang dalam EEL yang menginginkan kekuatan ganda.


Aku harus menemukan cara untuk menemukannya.


Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Andrew. Kerutan di keningnya perlahan memudar ketika melihat siapa yang melangkah masuk. Ia pikir Kapten Charles yang datang, tapi rupanya dua orang pengawal tadi yang kembali masuk sembari mengapit sosok yang baru saja dipikirkannya.


Meski cukup terkejut dan senang, Andrew mengatur ekspresi wajahnya tetap tenang dan datar. Ia tetap duduk dengan tenang dan acuh, seolah kehadiran orang-orang di hadapannya itu sama sekali tidak mengganggu atau menarik minatnya.


“Silakan duduk, Nona Keiko,” ujar pengawal seraya menunjuk bangku di sisi Andrew.


Keiko hanya mengangguk singkat dan berjalan ke arah yang ditunjukkan kepadanya. Ia duduk di sebelah Andrew tanpa banyak bicara. Dari sorot mata pria di sampingnya itu, ia tahu ada yang tidak beres.


Andrew tidak mengatakan apa-apa, maka Keiko pun diam. Selama hampir 30 menit dalam ruangan itu, tidak ada interaksi antara dua orang itu karena mereka tahu saat ini mereka sedang diawasi dengan ketat.


Diam-diam Andrew menghela napas lega karena Keiko cukup pintar dan mengikutinya bersandiwara sebagai dua orang asing yang tidak saling mengenal.


Tidak lama kemudian, keheningan dalam ruangan itu menguap ketika seorang pria berambut ikal kecokelatan masuk dengan suara cukup ribut. Pria itu membetulkan letak kacamatanya sebelum duduk di kursi hitam. Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia adalah orang cukup penting.


Kalau tidak salah menebak, pria ini seharusnya adalah Charles Mo, salah satu pemimpin EEL yang terkenal karena kemampuannya dalam menggali informasi dari tahanan. Meski begitu, Andrew tetap menunjukkan tampang acuh tak acuhnya, seperti seekor kucing jantan yang sedang berjemur dengan malas.


Charles Mo mengangkat koper kecil yang dibawanya dan meletakkan benda itu di atas meja. Ia mengeluarkan sebuah benda menyerupai kubah kecil dari dalam saku jasnya dan mengetuk permukaannya satu kali. Benda itu langsung berkedip-kedip dan membiaskan cahaya keunguan


Andrew tahu benda itu akan merekam semua pembicaraan yang terjadi di dalam ruangan.


“Mr.Roux, Nona Sakamoto, apakah kalian berdua saling mengenal?” tanya Charles Mo dengan santai.


“Tidak,” jawab Keiko dan Andrew bersamaan.


Charles tersenyum tipis sebelum bertanya lagi, “Pernah bertemu di luar ruangan ini sebelumnya?”


“Ya.”


“Apakah Kobayashi Hiro mengatakan sesuatu kepadamu sebelum meninggalkan tempat ini, Nona Keiko? Sesuatu yang mencurigakan, atau terdengar seperti pesan rahasia?”


Keiko menggeleng pelan sebelum menjawab, “Tidak.”


Gadis itu benar-benar ingin tertawa dengan keras. Apakah pria di hadapannya itu sedang membuat lelucon? Kalau pun Hiro mengatakan sesuatu, sudah jelas ia tidak akan mengakuinya di depan mereka ‘kan? Benar-benar konyol.


Melihat Charles Mo yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu, Andrew memilih untuk tidak terlalu meremehkannya. Di balik kacamata yang ketinggalan zaman itu, terdapat sorot mata yang tajam dan penuh perhitungan. Andrew tidak mau bersikap gegabah dan membuatnya kehilangan kesempatan untuk keluar dari tempat itu hidup-hidup.


“Mr.Roux,” panggil Charles dengan suara yang dalam dan berat, “Anda adalah satu-satunya saksi mata yang menyaksikan Kobayashi Hiro terluka parah, tapi ... anehnya, tidak ada satu orang pun yang berhasil menemukan pria itu. Apakah Anda yakin dia benar terluka? Atau ....”


“Kalian bisa memeriksa CCTV yang ada di sana. Kenapa bersikeras menyudutkanku?” balas Andrew dengan enteng.


Charles menyentuh bagian tengah kacamata dengan telunjuknya, lalu mendorongnya hingga ke pangkal hidung.


“Hehe ... kamera pengawas, ya ... benda-benda itu, tidak ada satu pun yang hidup. Bukankah ini sebuah kebetulan yang aneh?”


Charles Mo menatap Andrew dan Keiko bergantian sebelum melanjutkan, “Kalian berdua, selagi aku masih berbaik hati, katakan yang sebenarnya ... di mana Kobayashi Hiro?”


“Tidak tahu,” jawab Keiko hampir bersamaan dengan Andrew.


Gadis itu menambahkan, “Aku dikurung di sini dalam pengawasan penuh selama 24 jam. Menurut Anda, bagaimana aku bisa bersekongkol dengannya?”


Charles Mo mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh, lalu bergumam, “Mungkin saja melalui Mr.Roux, bukan begitu?”


“Anda terlalu banyak berkhayal, Tuan,” jawab Andrew, masih dengan sikap dinginnya yang membuat orang merinding. Ada sorot mengejek yang berbayang di pelupuk matanya, membuat lawan bicaranya merasa kesal sekaligus terintimidasi.


“Baiklah. Karena kalian berdua lebih memilih cara kasar, maka bersiaplah,” balas Charles Mo seraya menyeringai lebar.


Andrew memajukan tubuhnya dan menatap lurus ke wajah Charles Mo. Aura yang mematikan memenuhi ruangan. Keiko tidak berani bergerak, ia seolah sedang menyaksikan dua ekor singa jantan yang sedang mempertahankan wilayah mereka masing-masing


Charles Mo lalu berseru dengan suara yang cukup keras, “Penjaga!”


Tidak sampai beberapa lama kemudian, pintu bergerak dan terbuka. Dalam sepersekian detik yang terlewat oleh mata semua orang, Andrew meletakkan jari telunjuknya pada bulatan kecil di permukaan koper yang ada di atas meja. Dalam sekejap benda itu terbuka lebar, hampir bersamaan dengan padamnya lampu dalam ruangan, juga suara sirine yang meraung kencang di setiap lorong.


Boom!


Boom!


Boom!


Ledakan kuat bertubi-tubi membuat dua orang penjaga yang berdiri di dekat pintu tersaruk-saruk mencari sumber keributan. Mereka tidak memakai perisai malam. Secepat kilat Andrew memutar bulatan kecil di balik dasinya, lalu menghela pergelangan tangan Keiko dan menariknya melewati Charles Mo yang mematung di tempatnya. Ini kesempatan mereka untuk keluar dari tempat itu.