
Keiko duduk di sisi ranjang. Jantungnya berdegup kencang. Entah karena adrenalin atau aroma pria tadi seolah tertinggal di udara dan menempel di indera penciumannya sepanjang waktu. Sorot matanya yang teduh dan senyumnya yang tulus terus terbayang. Ada semacam perasaan aneh yang tidak bisa ia ungkapkan ketika harus berhadapan dengan pria itu.
“Kenapa dia sangat baik padaku,” gumam Keiko seraya memainkan kartu silver dalam genggaman tangannya.
Dalam dunia mafia yang dikenalnya sejak kecil, setiap orang selalu memiliki motif terselubung ketika berbuat baik pada seseorang. Akan tetapi, ada yang berbeda dengan pria yang bernama Andrew itu. Meski baru bertemu beberapa kali secara tidak sengaja, Keiko bisa merasakan jika pria itu tidak memiliki niat buruk.
Kalau dia berniat jahat, pasti dia sudah memanfaatkan kesempatan ketika kami hanya berdua di lorong yang sepi tadi. Dia bisa menyerangku, atau bekerja sama dengan temannya untuk menculikku. Aku masuk ke dalam mobil mereka dengan sukarela. Tapi, alih-alih melakukan semua itu, dia justru membawaku ke sini dengan selamat, dan memberi kartu akses tanpa limit.
“Siapa pria itu sebenarnya?”
Tidak banyak orang yang memiliki unlimited access card. Selain para pengusaha terkaya di dunia, hanya para petinggi militer atau orang-orang penting yang menduduki kursi pemerintahan yang memiliki benda itu. Jika dlihat dari penampilan pria itu yang cukup sederhana, Keiko benar-benar tidak bisa menebak siapa gerangan pria yang sudah menjadi pahlawan penyelamatnya tadi.
Ding.
Ding.
Ding.
Suara bel bertubi-tubi mengalihkan perhatian Keiko. Ia menghampiri pintu dan memeriksa monitor kecil yang terpasang di sisi kanan. Wajah Hiro dan beberapa pengawal terlihat dalam monitor. Mereka berdiri di depan kamar dengan waspada. Raut wajah tunangannya itu terlihat cemas. Beberapa kali ia menyugar rambutnya dengan kasar sambil berbicara pada pengawalnya.
Keiko merasa sedikit lega karena Hiro datang lebih cepat dari perkiraannya. Tadi ia langsung menghubungi pria itu begitu sampai di meja resepsionis, meminjam telepon hotel dan menghubungi tunangannya. Ayahnya tidak bisa menjemput karena sedang bertemu dengan salah satu rekan bisnisnya.
Ding.
Keiko segera menekan tombol hijau sebelum Hiro menekan bel berulang kali. Pintu terbuka lebar. Tangan Hiro yang terlihat masih berada di posisi tempat bel berada langsung terkulai.
“Keiko!” seru Hiro sembari menghambur ke arah tunangannya hingga tubuh gadis itu terdesak ke belakang.
“Hey, pelan sedikit,” protes Keiko ketika merasakan dekapan Hiro terlalu ketat, membuatnya tidak bisa bergerak.
Hiro melonggarkan pelukannya dan mengangkat dagu Keiko, memeriksa wajah gadis itu dengan teliti.
“Ah, maaf ....”
Pria itu menuntun kekasihnya masuk dan mendudukkannya di atas kursi yang disediakan di ruang depan.
“Apakah kamu terluka?” tanyanya dengan wajah serius.
“Hanya sedikit lecet,” jawab Keiko pelan.
“Di mana? Apa yang luka?”
“Aw!” desis Keiko ketika tanpa sengaja Hiro menekan pergelangan tangannya yang memar, “sedikit sakit di situ.”
Pria itu menghela napas pelan. Ia sungguh merasa bersalah karena membuat Keiko berada dalam bahaya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Robert akan mengincar Keiko untuk membalas perbuatannya. Sekarang ia tidak bisa membiarkan Keiko berkeliaran di luar untuk sementara waktu.
“Bawa ke mari!” seru Hiro sambil menoleh dan menggerakkan tangan ke arah para pengawalnya.
Seorang pria bertubuh kekar dengan lengan kanan yang dipenuhi tato segera menghampiri tuannya dan menyerahkan sebuah kotak plastik putih. Hiro mengambil benda itu dan membukanya.
“Biarkan aku mengobatimu,” ujar Hiro seraya mengeluarkan kapas dan sebotol dari kotak itu.
Ia menuang sedikit cairan anti bakterial di kapas dan mengusapkannya di luka Keiko.
“Um ... ah,” desis Keiko ketika cairan itu menyentuh kulitnya. Terasa cukup pedih.
Ia tidak menyadari semua itu sejak tadi. Mungkin karena terlalu tegang, ia tidak merasakan sakit sama sekali. Sekarang pinggangnya pun berdenyut nyeri. Sepertinya karena terbentur di aspal ketika terjatuh tadi.
“Maafkan aku, Sayang ... ini salahku,” gumam Hiro sambil mengoleskan salep di luka yang sudah dibersihkan itu.
“Kenapa meminta maaf? Ini bukan salahmu,” balas Keiko sedikit heran.
Hiro terdiam. Ia menoleh sekilas ke arah Keiko dan terus melanjutkan mengobati tunangannya dalam diam. Bagaimana caranya mengatakan bahwa gadis itu diserang di tengah jalan oleh salah satu musuhnya? Hubungan mereka baru saja membaik. Bahkan dibilang perkembangannya cukup bagus. Keiko tidak lagi menolaknya, tidak mendorongnya menjauh. Lalu sekarang ....
Keiko menyadari raut wajah tunangannya sedikit berubah. Pria itu terlihat benar-benar merasa bersalah, membuat sebuah pemahaman merasuki kepala Keiko seperti hantu.
Seumur hidup tumbuh dan tinggal dalam dunia yang hitam, Keiko tentu saja bisa memahami dengan cepat apa yang sedang terjadi.
“Ini semua ada hubungannya denganmu?” tanyanya pelan.
Hiro menempelkan plester di luka Keiko perlahan, memastikan benda itu menutup luka dengan baik, lalu mendongak dan menatap wajah tunangannya.
“Mereka adalah anak buah Robert Castillo, salah satu ... um, pesaing bisnisku. Aku sungguh tidak menyangka dia akan melakukan hal ini. Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Aku ....”
Keiko tidak melepaskan tatapannya dari wajah Hiro, tidak mengucapkan sepatah kata pun, membuat pria itu semakin merasa bersalah.
“Apakah kamu memaafkanku?”
“Apakah ini akan terus terjadi?”
Hiro terdiam. Keiko pun terdiam. Mereka sama-sama tahu apa jawabannya.
Keiko mendesah pelan dan memejamkan mata. Bertahun-tahun ayahnya menjaganya dengan baik, menutupi identitasnya sehingga ia bisa pergi ke mana pun tanpa terganggu. Sekarang semuanya berubah. Kebebasannya perlahan terenggut. Mungkin ... untuk selamanya.