Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Ke kantor catatan sipil



Ketegangan di wajah Marco Roux dan Alfred perlahan mencair mendengar seruan Andrew. Kerutan di kening kedua pria tua itu perlahan memudar.


Marco menggosok-gosok tangannya dengan puas sambil berkata, “Bagus sekali. Alfred, suruh orang untuk menyebarkan undangan. Pesta pernikahan akan diadakan minggu depan.”


Pria tua itu lalu menoleh ke arah Andrew dan Keiko kemudian memberi perintah, “Ayo, bersiaplah. Aku sendiri yang akan mengantarkan kalian untuk mendaftarkan pernikahan di kantor catatan sipil sekarang.”


Keiko melongo. Secepat itu? Ke catatan sipil sekarang? Tadi ia pikir setidaknya resepsi akan diadakan bulan depan!


“Jangan cemas, undangan sudah disiapkan sejak sepuluh tahun lalu. Hanya perlu mengisi nama pengantin wanitanya saja,” jelas Marco Roux saat melihat calon menantunya yang tampak sedikit shock.


Sepuluh tahun lalu?


Keiko semakin tercengang. Mulanya ia pikir perkataan Andrew yang menyatakan bahwa ayahnya selalu memaksanya untuk menikah itu terlalu mengada-ada. Namun, sekarang ia percaya Andrew tidak berbohong.


“Untuk masalah resepsi, seharusnya satu minggu cukup untuk memilih gaun pengantin dan mengatur dekorasi sesuai yang kalian mau,” sambung Marco Roux lagi dengan mimik wajah sangat puas, seolah ia baru saja melakukan hal yang menakjubkan dan patut mendapatkan pujian. Sepertinya dua gelas whiskey yang ditenggaknya membuatnya semakin bersemangat.


Andrew tampaknya menyadari perubahan ayahnya itu dan menegur, “Sepertinya Ayah mulai mabuk. Kalau tidak, Alfred saja yang—”


“Siapa yang mabuk? Aku masih sadar! Hanya dua gelas saja, mana bisa membuatku mabuk?” Marco Roux mencibir dan memukul dadanya dengan sombong. “Aku ayahmu! Aku satu-satunya orang yang berhak mendampingimu mendaftarkan pernikahan ke catatan sipil! Aku sudah menunggu begitu lama untuk—“


“Oke ... oke ... Ayah tidak mabuk,” sela Andrew sebelum ayahnya mengoceh lebih banyak lagi. Ia tidak mau beradu argumen dan merusak kebahagiaan yang baru saja dirasakannya.


Berbanding terbalik dengan Keiko yang masih terselap, Andrew menyeringai lebar dan menggenggam tangan Keiko dengan bersemangat. Tampaknya semesta mempermudah semua untuknya!


“Bocah, aku baru sadar ... bagaimana kamu bisa masuk?” tanya Marco seraya berkacak pinggang. Bukankah tadi putranya masih menggedor-gedor kaca dari luar?


“Apakah itu masih penting untuk dibahas?” balas Andrew seraya memeluk ayahnya erat-erat, “Aku sangat bahagia! Terima kasih, Ayah!”


Marco Roux membeku sejenak. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat Andrew tersenyum selebar ini dan mengatakan kalau dia merasa bahagia. Untuk pertama kali dalam hidupnya, putranya memeluknya dengan sangat erat. Pria tua itu mendesah pelan, mengangkat tangannya dan membalas pelukan putranya. Matanya berkaca-kaca, tak menyangka bahwa akan ada masanya Andrew begitu bersemangat dan benar-benar “hidup”. Apakah itu semua karena gadis dalam lukisan yang menjelma menjadi manusia itu?


“Bagus kalau kamu bahagia. Itu yang paling utama. Masalah lainnya, biar ayah yang tangani. Kalian jangan khawatir,” ujar pria tua itu dengan suara sedikit bergetar. Ia benar-benar sudah hampir menangis. Penantian panjangnya untuk melihat putra semata wayangnya menikah akhirnya terkabul.


“Ayo, cepat ... sebelum Cecille benar-benar tiba di sini,” ajaknya seraya mengurai pelukan.


“Tunggu sebentar, Ayah. Aku sedang meminta Kim untuk mengantar surat-surat identitas Keiko kemari. Dia masih di jalan, mungkin sebentar lagi sampai.”


“Kim?” Kening Marco Roux berkerut dalam. Seingatnya, tidak ada anak buahnya yang bernama Kim.


“Um ....” Senyuman di wajah Andrew tiba-tiba terlihat sedikit kaku. “Itu ... prototipe kedua yang aku ambil dari Phoenix. Ayah tidak keberatan, bukan?”


“Tentu saja tidak keberatan,” balas Marco Roux cepat.


Andrew tersenyum lebar hingga seluruh giginya terlihat.


“Aku tidak akan mempermasalahkannya ... asal tahun depan sudah ada seorang cucu yang montok dan sehat dalam gendonganku. Kalau tidak ... lihat bagaimana aku memperhitungkannya denganmu.”


Untungnya tidak lama kemudian terdengar deru mobil yang berhenti di pelataran. Keempat orang itu—termasuk Alfred yang mengekor dari belakang—bergegas keluar. Mereka mengamati pintu mobil sport putih yang terbuka dengan saksama.


“Halo, semuanya. Aku tidak menyangka akan mendapat sambutan seperti ini.”


Keiko cukup terkejut melihat siapa yang muncul dari dalam mobil. Itu adalah Clark! Bagaimana pria itu bisa sampai kemari? Namun, sebelum Keiko sempat membuka mulut untuk bertanya, pintu satunya terbuka lagi. Kim keluar dari sana dan membungkuk dengan hormat.


“Mr.Roux, Nona Keiko, Tuan Besar ...,” sapanya satu per satu.


“Kim ....” Akhirnya sebuah senyuman terkembang di wajah Keiko karena merasa seperti bertemu teman lama.


Marco Roux hanya menatap tajam ke arah prototipe miliknya yang kini telah berganti nama menjadi Kim. Untungnya hanya ada satu putra seperti itu dalam kehidupannya. Seandainya ia memiliki dua atau tiga lagi yang serupa dengan Andrew, entah apakah ia bisa berumur panjang atau tidak.


“Aku dan Kim langsung memesan tiket pesawat komersil yang tercepat saat mendapat pesan darimu,” jelas Clark tanpa diminta.


“Tidak ada yang memintamu untuk datang. Aku hanya meminta Kim untuk membawa barang milik Keiko kemari,” cetus Andrew acuh tak acuh, membuat raut wajah Clark yang penuh rasa percaya diri mendadak berubah menjadi ungu dan hijau.


“Kamu—“


“Berisik sekali, mana benda yang kuinginkan? Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu.”


“Memangnya ada apa?” tanya Clark seraya menyerahkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang kepada Andrew.


“Cecille sedang kemari.”


“Apa?! Kalau begitu cepat pergi, biar aku yang menghadapinya di sini.”


Mata Andrew berkilat. Ide itu bagus juga. Biarkan Clark yang menjadi tamengnya untuk sementara waktu.


“Kalau dia datang, katakan saja aku masih di bandara. Kim, kamu awasi dia, jangan sampai membuat onar,” pesannya.


“Baik, Kapten.”


“Ayah, ayo pergi.”


Marco Roux mengangguk dan mengikuti langkah putranya menuju mobil yang tadi dipakai Andrew dari bandara. Kebetulan mobil itu hanya bisa muat untuk empat orang saja, jadi si Tua Alfred tidak bisa ikut.


“Pergi ke kantor catatan sipil!” perintah Marco Roux. Ia lalu mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.


“Baik, Tuan.”


Sopir menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Mobil melesat laju, membawa ketiga penumpangnya ke tempat tujuan.


***