Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Apa yang kamu lakukan?



Kota Dinan.


Hari berjalan dengan cepat bagi Keiko. Tanpa terasa sudah tiga minggu sejak ia dan Andrew tinggal di Kota Dinan, menikmati kehidupan yang tenang dan harmonis. Sesekali Marco Roux dan Alfred datang untuk menjenguk, membawakan suplemen kesehatan untuk wanita hamil. Keiko akan menerimanya dengan senang hati meski suplemen lain yang diberikan oleh mertuanya itu masih menumpuk di dalam lemari penyimpanan.


Kalau Andrew sedang senggang dan tidak mengurusi pekerjaan, ia akan meminta Keiko duduk selama beberapa jam dengan pose tertentu, lalu ia akan melukisnya di atas kanvas. Karena kondisi Keiko yang sering pusing dan mual, tidak mudah untuk duduk terlalu lama. Oleh karena itulah Andrew membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk merampungkan satu lukisan.


Keiko sama sekali tidak menyangka jika kemampuan suaminya dalam menggoreskan kuas sangat ajaib. Ia tak henti memuji ketika lukisan dirinya yang berlatar belakang pohon wisteria akhirnya dibingkai dan dipasang di ruang tamu.


Sesekali Andrew juga akan membuatkan camilan khas Jepang untuknya—tentu saja dengan menyontek resep dari internet. Kalau cuaca sedang bagus, mereka akan berjalan santai menyusuri tepi Sungai Rance, menikmati semburat keemasan saat matahari bergulir ke kaki cakrawala, seperti yang sedang mereka lalukan sekarang ini.


“Dingin tidak?” tanya Andrew. Ia melepaskan kardigannya dan menyelimuti bahu Keiko sebelum wanita itu sempat menjawab.


“Ayo, pulang,” ajaknya lagi. “Sepertinya pelayan sudah menyiapkan makan malam.”


Bibir Keiko mengerucut ketika ia menggerutu, “Pekerjaanku hanya makan dan tidur, tidak lama lagi istrimu ini akan berubah menjadi seekor panda gendut yang hanya bisa berguling seperti bola.”


Andrew terkekeh mendengar keluhan itu. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap rambut istrinya dengan penuh rasa sayang.


“Siapa bilang pekerjaanmu hanya makan dan tidur? Kamu membawa dua janin dalam perutmu ke mana-mana, itu tentu menguras tenaga. Oleh karena itu, harus makan yang banyak agar kalian tidak kekurangan gizi,” bujuknya seraya menuntuk Keiko memutar balik ke arah villa.


“Tapi nanti kalau aku gendut, kamu tidak akan menyukaiku lagi,” gumam Keiko pelan.


Terakhir kali ia menimbang bobot tubuhnya, itu sudah mendekati angka 58 kilogram, naik lima kilo dari bobot awal, padahal usia kehamilannya baru memasuki bulan kedua. Ia tidak mau menginjak timbangan digital itu lagi setelahnya. Benar-benar membuat shock.


“Siapa bilang aku tidak suka? Kamu semakin montok, aku semakin suka ... kalau bukan karena sedang hamil, kamu pikir aku akan membiarkanmu turun dari ranjang, Sayangku?” Andrew menunduk dan menjilat cuping telinga Keiko sekilas, membuat wanita itu bergidik dan mendesis pelan.


“Makanan yang begini lezat, bagaimana aku rela melepaskannya?” lanjut Andrew lagi dengan suara yang sudah berubah serak.


Melihat ekspresi Andrew yang menderita membuat perasaan Keiko jadi lebih baik. Ia tersenyum cerah, mengusap perutnya dengan sepenuh hati sambil berkata, “Anak-anak yang baik, terima kasih telah membantu melepaskan Mama dari serigala buas. Kelak, harus tetap menjaga Mama, ya!”


“Istriku, tunggu anak-anak lahir—“


“Setelah lahir juga masih harus menyusui dan merawat mereka sampai besar, kamu tidak bisa—“


“Setelah mereka tidak menyusu, serahkan kepada kakek mereka untuk mengurus dan membesarkan mereka. Dia pasti tidak akan keberatan.”


Keiko melotot. “Bagaimana bisa menyerahkan tanggung jawab kepada kakek? Dasar kamu—“


Cup.


Andrew membungkam mulut istrinya sebelum wanita itu semakin marah.


Pria itu lalu menuntun istrinya untuk masuk dan duduk di meja makan. Pelayan mengeluarkan hidangan satu per satu dan menatanya di atas meja. Keiko yang sempat kesal karena ucapan suaminya, kini menatap aneka sup dan makanan kesukaannya yang menerbitkan selera makan.


Andrew hendak mengambilkan piring untuk istrinya. Namun, suara ponselnya yang nyaring membuatnya mengurungkan niat tersebut. Ia mengambil ponselnya dari saku celana, ingin menonaktifkan benda itu, tapi pop up yang muncul di layar ponselnya membuatnya mengurungkan niat tersebut. Pada akhirnya ia hanya menggantinya dengan mode getar.


“Ada apa, Sayang?” tanya Keiko ketika menyadari Andrew menatap ponsel dengan ekspresi yang sedikit rumit.


“Ada masalah dengan tender proyek Phoenix yang baru,” jawab Andrew. “Tidak apa, aku akan menyelesaikannya besok.”


Baru saja perkataan itu selesai diucapkan, ponsel Andrew berbunyi lagi. Kali ini pesan beruntun masuk bertubi-tubi, membuat ponselnya bergetar tanpa henti. Kedua alis pria itu bertaut, menimbulkan guratan-guratan halus di keningnya.


“Kalau sangat mendesak, pergilah setelah makan malam, jangan menunda-nunda ...,” saran Keiko dengan mimik serius. “Jangan sampai kerja keras ayah selama puluhan tahun rusak.”


Andrew terdiam dan membaca lagi pesan terakhir yang masuk:


Lahan untuk proyek entah bagaimana sudah menjadi milik Cecille, putri dari Marquess of Alrico. Mungkin Anda bisa membujuk gadis itu untuk menjualnya kembali kepada kita.


Setiap huruf yang tertulis di sana sangat menusuk mata, membuat Andrew sangat kesal, tapi ia tidak mau menunjukkannya kepada Keiko. Ia mengirim beberapa pesan balasan, kemudian menemani Keiko makan dengan tenang. Meski wajahnya terlihat santai dan tersenyum sepanjang makan malam, tapi otaknya menganalisa semua masalah dengan teliti dan hati-hati.


Seharusnya proyek baru itu akan mulai dijalankan awal bulan depan. Semua hal sudah diperiksa dan dipastikan dengan benar, lalu mengapa tiba-tiba ada sengketa lahan? Ini sedikit tidak masuk akal. Kecuali jika ada yang ingin menjebaknya. Sekilas ia sempat curiga kepada keluarga sang Marquess, tapi laporan dari anak buahnya mengatakan bahwa wakil presdir dan presdir dari anak perusahaan merekalah yang bersekongkol dengan rival Phoenix.Co dan memalsukan data. Lalu, mengapa bisa sampai kecolongan? Ia yakin sudah memeriksa semuanya dengan benar.


“Sudah kenyang?” tanyanya ketika melihat Keiko tidak membuka mulut lagi saat ia menyodorkan buah beri merah.


“Um. Kenyang. Sekarang mengantuk,” jawab Keiko sambil menguap.


Andrew tersenyum lembut. Istrinya terlihat semakin menawan saat hamil. Aura yang terpancar membuatnya terlihat sedikit berbeda ... sangat menggoda, seperti mochi lembut yang kenyal dan manis, minta untuk digigit dan dimakan sampai habis.


“Tatapan matamu sangat mengerikan, Suamiku ... benar-benar terlihat seperti serigala,” gumam Keiko dengan mata bulat yang bersinar penuh godaan dan ejekan.


Andrew mendengkus. Ia bangkit dari kursi dan menggandeng Keiko ke kamar. Ia mendudukkan wanita itu di tepi ranjang dan mengecup keningnya.


“Tidurlah lebih awal, aku harus pergi untuk ... oh, Baby, apa yang kamu lakukan?”


Tubuh Andrew menegang, seperti ada aliran listrik yang menjalar sekujur tubuhnya, memberi sensasi kesemutan dan gatal. Di depannya, Keiko menatapnya dengan sorot yang mengandung sejuta makna ... dengan daya magis yang tak dapat ditolak ....


***


Eyyy, Keiko ngapain, ya?