Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Hiro



“Hiro?” gumam Keiko pelan, "Benar itu kamu?”


Meski sosok di depannya itu tidak terlihat dengan jelas, Keiko sangat mengenali suaranya. Ia sangat yakin bahwa sosok yang kini berada hanya beberapa senti di hadapannya itu adalah Hiro, tunangannya. Tadi ia sempat ragu saat sekilas melihat salah satu orang kepercayaan Hiro berada di dekat stand cenderamata. Namun, sekarang ia tahu ia tidak salah lihat.


“Akhirnya kamu datang juga. Cepat pergi dari sini, orang-orang itu masih mengincarmu,” ujar Hiro seraya berbalik dan membuka jendela dengan sangat hati-hati.


“Orang-orang? Siapa?” tanya Keiko tak mengerti.


“Anak buah Ryuchi,” jawab Hiro, membuat Keiko menahan napas karena terkejut.


“Jadi, kamu mengirim orang untuk mengawasiku?”


“Ya. Tidak ada cara lain.” Ia memberi isyarat agar Keiko segera memanjat jendela dan keluar dari ruangan itu. “Cepatlah. Kita bisa membahasnya lagi nanti. Tidak ada banyak waktu.”


“Tunggu!” sergah Andrew yang dari tadi terdiam di belakang Keiko. Ia maju dan berdiri di tengah, menjadi pemisah antara Keiko dan Hiro.


Pria itu menatap Hiro dengan tajam dan kembali berkata, “Bagaimana kamu bisa sampai di sini?”


Hiro mendengkus pelan dan menjawab, “Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat, Mr.Roux. Keselamatan Keiko jauh lebih penting. Lagipula, kalau kamu lebih waspada dan menjaganya dengan baik, aku tidak akan muncul di sini.”


“Omong kosong! Siapa yang dapat menjamin ini bukan hasil rekayasamu?” sanggah Andrew dengan cukup keras. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, menandakan perubahan emosi yang cukup jelas dalam dirinya.


“Omong kosong?” balas Hiro sinis. Dalam keremangan, tubuh pria itu memancarkan aura permusuhan yang cukup jelas. Ia sedikit bergeser ke kiri dan membuka pintu lemari.


Brak!


Andrew dan Keiko sama-sama terkejut ketika tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari dalam lemari. Meski tidak bisa melihat dengan jelas, Keiko cukup yakin bahwa sesuatu yang baru saja jatuh itu adalah manusia. Sosok itu tidak bergerak dan tergeletak begitu saja di atas lantai. Tak lama kemudian, samar-samar aroma anyir menguar di udara. Kini Keiko semakin yakin bahwa itu adalah mayat seseorang.


“A-apa ini?” Keiko mundur satu langkah. “Siapa dia?”


“Anak buah Ryuchi. Mereka ada di mana-mana.” Hiro menarik tangan Keiko dan menuntunnya ke dekat jendela. “Cepatlah. Pergi dari sini. Aku akan menjelaskannya lagi nanti.”


Andrew masih ingin membantah. Akan tetapi, dari luar terdengar derap kaki mendekat ke arah mereka. Dengan sigap ia membantu Keiko naik ke atas jendela, kemudian menyusul di belakangnya.


Hiro melompati jendela kayu dengan mudah, lalu mempercepat langkahnya dan memimpin di depan. Ia berlari melewati pepohonan yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan setapak yang dilalui.


“Ke arah kiri. Mobilku ada di sana!” serunya tanpa memperlambat langkah kakinya. Saat ini, setiap detik sangat berharga. Terlambat sedikit saja, maka besar kemungkinan musuh akan berhasil menangkap mereka.


Andrew terpaksa menarik tangan Keiko dan mengikuti Hiro. Kali ini mereka tidak punya pilihan. Ia sama sekali tidak membawa pasukan ke tempat ini karena mengira semuanya sudah selesai. Hiro benar, ia lalai karena telah mengendurkan kewaspadaan.


“Tunggu! Jangan lari!”


Andrew menoleh sekilas ketika mendengar suara teriakan datang dari arah belakang. Tampak beberapa pria berjas hitam berlompatan dari jendela dan berlari ke arah mereka. Dari ekspresi wajah mereka, tampak jelas bukan dari pihak kawan.


“Sial. Baby, lari lebih cepat lagi!” serunya seraya mempercepat gerakan kakinya untuk berlari. Mudah baginya untuk melawan para penyusup itu, tapi ... jika ada opsi lain yang lebih aman untuk Keiko, tentu saja ia akan memilihnya.


“Cepatlah!” serunya seraya menekan tombol di dekat setir, membuat pintu di bagian belakang terbuka secara otomatis.


Napas Keiko memburu. Ia seolah melayang di udara karena Andrew menarik tangannya dengan sangat kuat, membuat tubuhnya terpaksa menyesuaikan dengan kecepatan pria itu. Ketika akhirnya berhasil mencapai sisi mobil Hiro, gadis itu melompat masuk dan membanting pintu hingga menutup. Ia pun duduk dan mengatur deru napasnya yang tak beraturan.


Andrew masuk dari sisi yang lain dan duduk di sebelah Hiro. Ia menutup pintu dengan cepat dan memasang sabuk pengaman.


“Berpegangan!” seru Hiro seraya menginjak pedal gas dalam-dalam. Suara ban yang berdecit karena bergesekan dengan aspal membuat debu berterbangan di udara. Mobil itu pun melesat secepat kilat di jalanan yang cukup lengang.


Dari kaca spion, Andrew dapat melihat para pengejarnya mengacungkan tangan sambil terus berlari.


Dor!


Dor!


Dor!


Suara tembakan bertubi-tubi memecah kesunyian malam.


“Keiko, merunduk!” seru Andrew dan Hiro bersamaan.


Di belakang, Keiko menurunkan kepalanya hingga hampir menyentuh lutut. “Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”


Andrew dan Hiro menghela napas lega. Kedua pria itu kemudian saling menatap sekilas sebelum kembali melihat ke depan.


“Maaf melanggar perjanjian kita, Mr.Roux, tapi aku tidak bisa membiarkan Keiko dalam bahaya,” ujar Hiro setelah berhasil berbelok di tikungan dan melepaskan diri dari para pengejar.


Andrew menggertakkan gigi dan tidak menjawab pernyataan itu. Saat ini, ada begitu banyak hal yang ingin ia ucapkan. Akan tetapi, menyadari bahwa ada Keiko yang ikut mendengarkan dari bangku belakang membuatnya mengurungkan niat itu. Ia tidak mau gadis itu salah paham dan menjauhinya. Hubungan mereka sudah mencapai tahap yang cukup baik. Ia tidak mau Keiko kembali menjauh dan menjaga jarak dengannya hanya karena salah paham.


“Bagaimana kamu tahu bahwa anak buah Ryuchi akan menyerang kami?” tanya Andrew dengan intonasi seperti dengan menginterogasi.


Sudut bibir Hiro tertarik ke atas, memberikan seulas seringai mengejek di wajahnya. Ia kemudian menjawab, “Apakah kamu pikir organisasi kami sesederhana itu, Mr.Roux? Kamu pikir, bagaimana aku bisa lolos dari Zeotrope? Itu karena anak buahku menyusup di mana-mana, sama seperti Ryuchi. Dia bisa memerintahkan orang untuk menghabisi kalian meskipun sedang berada di balik jeruji besi. Bagaimana aku bisa mengetahui rencananya? Tentu saja karena aku memiliki mata-mata di dalam organisasinya. Aku langsung datang ke sini begitu mendengar kabar bahwa dia mengirim orang untuk membunuh Keiko.”


Kedua tangan Andrew terkepal erat di atas pahanya. Tiba-tiba ia merasa sangat tidak berguna. Ia hampir saja melakukan kesalahan yang sama seperti di masa lalu dan membuat nyawa Keiko berada dalam bahaya.


Melihat Andrew yang hanya terdiam, membuat Ryuchi merasa berada di atas angin. Ia kembali berkata, “Kamu pikir, karena Ryuchi ditangkap, maka anak buahnya otomatis akan membubarkan diri? Apalagi, dia adalah satu-satunya keturunan Keluarga Nakamura yang tersisa, tentu saja tidak akan semudah itu untuk menyingkirkannya. Tak kusangka kamu benar-benar ceroboh.”


Lagi-lagi Andrew hanya bisa terdiam. Semua perkataan Hiro benar. Ia sangat ceroboh. Sekilas ia melihat melihat melalui pantulan kaca yang ada di atas dashboard, Keiko sedang menatap keluar melalui jendela. Kening gadis itu berkerut dalam, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit.


Andrew berniat mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Kim, tapi benda itu tidak ada dalam saku celananya. Ia mengernyit dan mencoba mengingat-ingat, kemudian menyadari bahwa benda itu masih berada di dalam metal case yang tertinggal di dalam kamar. Ia menghela napas panjang dan mengumpat dalam hati. Sekarang, bagaimana caranya untuk meminta bantuan?


***


Makasih untuk yang sudah mampir ke “Teror Arwah Penasaran”, lopeee sekebonnn ....