
Keiko menoleh ketika mendengar pintu di belakangnya terbuka. Ia lalu buru-buru memalingkan wajah saat mengenali wajah yang menyembul dari balik pintu. Wajah itu yang beberapa hari terakhir ini sering muncul di hadapannya. Aksesnya hanya sebatas kamar tidur miliknya dan ruang perawatan Hiro. Hanya dua tempat itu yang bisa ia datangi. Lalu, entah bagaimana pria yang kini sedang berjalan mendekat itu selalu berpapasan dengannya di mana-mana.
“Selamat pagi, Mr. Kobayashi,” sapa Andrew setelah tiba di dekat ranjang Hiro.
Ia memberi isyarat kepada dua orang perawat yang ada di situ agar keluar, lalu menoleh ke arah Keiko dan kembali menyapa, “Miss Sakamoto.”
Keiko hanya mengangguk sekilas tanpa menoleh ke arah Andrew. Ia kembali fokus memindahkan nasi dan lauk dalam wadah ke piring untuk sarapan Hiro. Jangan sampai kehadiran pria itu membuatnya salah tingkah. Hiro sangat sensitif. Keiko tidak mau tunangannya curiga kalau Andrew kadang bersikap sangat ... um, bagaimana menjelaskannya? Intim? Menggoda? Lalu, bagaimana ia harus menjelaskan pada Hiro kalau ia tidak keberatan dengan sikap Andrew? Hiro pasti akan mengamuk.
“Mr. Roux,” sapa Hiro seraya tersenyum kaku. Ia membetulkan posisi duduknya. Belikatnya sudah tidak terlalu sakit. Harus ia akui, pengobatan di tempat ini sangat manjur dan efektif.
“Maaf mengganggu kalian sepagi ini,” kata Andrew seraya menatap Keiko dan Hiro bergantian, “Ada kabar yang ini aku sampaikan.”
Keiko menghentikan gerakannya. Hiro pun terdiam dan menatap Andrew dengan serius. Selama berada di tempat ini, hanya Andrew Roux yang memperlakukan mereka dengan baik. Mr. Tanaka dan yang lainnya hanya ingin memanfaatkan mereka saja, Hiro tahu itu. itulah sebabnya ia bersikap sedikit lunak terhadap Andrew.
“Ada apa, Mr. Roux?” tanya Hiro ketika menyadari ekspresi Andrew yang terlihat sedikit bimbang.
“Kita akan Zeotrope malam ini, bersiaplah,” jawab Andrew sambil menatap lurus ke arah Hiro, “Aku akan lebih dulu masuk. Jovanka akan memberitahu jika waktumu sudah tiba.”
“Oh. Baik,” balas Hiro singkat.
“Bagaimana kondisi bahumu?” tanya Andrew.
“Lumayan.”
“Bagus.”
Andrew terdiam beberapa saat, tidak tahu bagaimana cara memberitahu kepada dua orang di hadapannya tentang rencana Mr. Tanaka mengenai kedua orang tua mereka. Akan tetapi, jika ia tidak mengatakannya, mereka pasti akan terkejut jika mengetahuinya belakangan. Andrew mendesah pelan, ini cukup sulit ....
“Ada hal lain yang ingin Anda sampaikan, Tuan?” tanya Hiro ketika pria di hadapannya hanya berdiri dan menatapnya dengan sorot serba salah.
“Begini ... um, Mr. Tanaka ingin menggunakan kalian berdua untuk—“
“Menangkap orang tua kami?” sela Hiro seraya tertawa hambar, “Aku sudah menduganya sejak si Tua itu berkunjung dan mengancam dengan menggunakan Keiko. Pria tua itu benar-benar licik. Aku justru akan heran kalau dia tidak melakukannya.”
Andrew terdiam. Ia menatap wajah Keiko sekilas, ingin mengetahui bagaimana reaksinya. Akan tetapi, wajah gadis itu tetap datar tanpa emosi yang dapat terbaca. Apakah dia juga sudah menebaknya? Kalau ayahnya ditangkap, bagaimana nasibnya? Bukankah dia tidak punya siapa-siapa lagi? Apakah anak buah ayahnya akan tetap tunduk padanya? Apakah musuh-musuh ayahnya akan bermunculan dan mengincarnya untuk membalas dendam?
Ada begitu banyak pertanyaan saling tumpang tindih dalam kepala Andrew. Ia sangat mengkhawatirkan Keiko. bagaimana jika Hiro pun ditahan setelah ini semua selesai? Ke mana gadis itu akan pergi? Atau berlindung?
“Mr. Roux?”
Andrew mengerjap dan kembali menatap Hiro. Pria itu sedang memerhatikannya lekat-lekat.
“Ada yang ingin Anda sampaikan lagi? Atau ingin ikut sarapan bersama kami?”
“Tidak. Aku akan segera keluar,” jawab Andrew cepat. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu berjalan keluar.
Hiro menatap punggung Andrew sampai pria itu menghilang di balik pintu.
“Dia menyukaimu,” ujar Hiro tanpa menoleh kepada Keiko.
Prak.
“A-apa maksudmu?”
“Pria itu ... Andrew Roux, dia menyukaimu, Keiko-Chan,” ulang Hiro, kali ini mengalihkan tatapannya ke wajah Keiko yang hanya berjarak beberapa jengkal darinya.
“Itu hanya perasaanmu saja,” jawab Keiko sambil memungut kembali sendok dan mengambil kuah panas dalam mangkuk. Ia meniup-niup makanan itu sebelum menyodorkannya ke mulut Hiro.
“Makanlah. Kamu perlu banyak nutrisi.”
Hiro menahan pergelangan tangan Keiko, lalu mengusap pipinya yang merona seperti buah plum. Pria itu memaksakan diri untuk tersenyum sebelum berkata, “Dengarkan aku baik-baik. Kalau kedua orang tua kita ditangkap, atau terjadi sesuatu padaku, berlindunglah padanya. Kamu mengerti?”
“Hiro! Kenapa berkata seperti itu? Tidak akan terjadi apa-apa padamu!” sanggah Keiko dengan keras.
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia sudah menahan semuanya sejak kemarin, ia tahu ayahnya pun akan ditangkap. Ia sudah menduganya ... tapi perkataan Hiro ini membuatnya semakin sadar kalau sebentar lagi, ia akan hidup sendiri. Tidak ada ayahnya, atau pun Hiro. Mereka pasti akan ditahan untuk waktu yang sangat lama. Memikirkannya saja sudah membuat dadanya terasa sesak.
“Jangan menangis,” ujar Hiro pelan. Ia meraih telapak tangan Keiko, menariknya mendekat dan menciumi punggung tangannya.
“Kau tahu, seorang pria akan melakukan apa pun untuk wanita yang dicintainya. Oleh karena itu, aku yakin dia pun akan menjagamu dengan baik. Aku rela jika kamu bersamanya.”
Lagi-lagi Hiro memaksakan seulas senyum untuk menenangkan kekasihnya, wanita yang paling dicintainya, wanita yang mampu mengubah semua pola pikir dan tabiatnya yang keras. Ia tahu kemungkinannya untuk selamat dalam pertempuran kali ini sangat kecil. Di satu sisi, agen pemerintah ini menahan Keiko sebagai senjata mereka, di sisi lain ... ia tidak tahu apakah bisa bertahan melawan Robert Castillo tanpa persenjataan dan pasukan lengkap. Ia hanya dijadikan umpan di sini. Jadi, ia tahu kemungkinannya hampir mustahil untuk kembali kepada Keiko.
“Jangan sembarangan bicara. Diam dan makanlah,” sergah Keiko seraya mengerjap cepat, berusaha mengusir air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Kamu tahu dunia seperti apa yang kita tinggali, Sayang ... jangan menyangkalnya. Berjanjilah, kamu akan hidup dengan bahagia meski aku tidak ada di sampingmu. Jaga dirimu baik-baik dan berbahagialah. Maafkan aku—“
“Diam!” seru Keiko lantang.
Seluruh tubuhnya gemetaran. Meski belum bisa mencintai pria di hadapannya itu, ia telah mengenalnya selama hampir seumur hidup. Tetap ada rasa sakit dan kehilangan ketika menyadari mungkin mereka tidak akan bertemu lagi.
Keiko meletakkan mangkuk sup dan menghambur ke pelukan Hiro. Ia mendekap pria itu erat-erat, menyembunyikan wajahnya di bahu Hiro ketika tetes demi tetes air matanya meluncur melewati pipi dan bibirnya, meninggalkan rasa asin yang sedikit pahit dan masam.
Beberapa bulan lalu ia ingin melarikan diri dari pria ini, siapa sangka sekarang ia benar-benar merasa sedih ketika mengetahui mungkin akan kehilangannya.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” gumam Hiro pelan seraya mengusap-usap punggung Keiko, “Ini sudah lebih dari cukup.”
Dari balik pintu, Andrew kembali menarik gagang pintu dan berusaha menutupnya tanpa suara. Tadinya ia ingin mengantarkan pakaian yang akan dikenakan oleh Hiro nanti malam. Namun, melihat pemandangan di depan matanya itu membuat pria itu mengurungkan niatnya. Andrew meremas kantong baju milik Hiro dan berjalan kembali ke ruangannya. Ia akan meminta Clark untuk mengantarkannya nanti.
***
Kenalkan, ini Hiro.
Hiks...
bye bye Hiro
maafkan pembaca lebih mendukung Keiko dengan Andrew 🥺