
Dengan ragu-ragu Cecille melangkah maju untuk mendekati Hansel. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh, tidak tahu harus melakukan apa.
“Kamu terluka ...,” bisik gadis itu pelan, sorot matanya dipenuhi rasa bersalah juga ketakutan, jika tidak ada Hansel tadi, apa yang akan terjadi kepadanya?
“Luka kecil saja, tidak apa-apa.” Hansel menjawab dengan santai, lalu menunduk dan membuka penutup wajah pria di bawah kakinya.
“Bryan?!” pekik Cecille. Wajahnya mendadak pias, sungguh tak menyangka jika bajingan yang ingin menculiknya adalah orang yang sangat dekat dengannya.
“Kamu mengenalnya?” tanya Hansel dengan kening mengernyit.
“D-dia ... dokter keluarga ... juga sahabatku ...,” jawab Cecille terbata, “Dia seharusnya menemaniku ke resepsi tadi, tapi ....”
Tubuh Cecille limbung, membuatnya terjajar beberapa langkah ke belakang. Mendadak ia merasa mual. Apakah Bryan mengindari datang ke resepsi karena sedang merencanakan semua kegilaan ini? Ia pikir pria itu sangat baik dan lembut, tidak mungkin melakukan hal rendahan semacam ini.
“Sahabat?” Hansel mencibir. Ia mengangkat kaki dan melayangkan sebuah tendangan lagi ke perut Bryan, membuat pria itu mengaduh kesakitan.
Telinga Cecille berdenging, mengalahkan suara sirine yang kini sudah berhenti tepat di sampingnya. Polisi yang bergerak di sekelilingnya terlihat seperti bayangan kabur yang membuatnya pening. Otaknya masih berusaha mencerna, apa yang direncakan Bryan terhadapnya. Apakah pria itu hendak memaksanya? Ia bukannya tidak mengetahui kalau pria itu menyukainya.
Salah seorang petugas mendekat dan bertanya, “Anda yang menelepon kami?”
“Ya,” jawab Cecille dengan suara gemetar.
“Baik, Nona, silakan ikut kami ke kantor untuk memberi pernyataan.”
Ucapan dari salah satu plosisi itu membuat Cecille semakin yakin kalau ia tidak sedang bermimpi. Tiba-tiba tubuh Cecille merinding. Ia gemetar hebat, seolah sedang berada dalam sebuah mesin pendingin raksasa. Namun, tak lama kemudian, sebuah sentuhan terasa di pundaknya, disusul kehangatan yang melingkupi seluruh tubuhnya.
Gadis itu tertegun ketika menyadari sebuah jas tersampir di bahunya, menguarkan aroma khas pria yang maskulin. Ia mendongak dan mendapati sepasang mata yang asing tapi tulus sedang menatapnya, seolah ingin memberikan kekuatan dan penghiburan.
“Jangan takut, aku temani,” kata Hansel seraya memapah Cecille ke mobil patroli, “Hubungi orang tuamu, mungkin ini akan sedikit lama.”
Cecille mengangguk pelan dan mengambil ponselnya. Sekali lagi gadis itu meremang, tidak sanggup membayangkan apa yang akan dilakukan oleh ayahnya kepada Bryan ....
Sirine kembali meraung saat mobil polisi melesat di jalan raya. Cecille masih termenung dengan tatapan kosong. Ia terlihat seperti baru saja menerima sebuah pukulan telak, membuat keningnya mengernyit seakan sedang menahan rasa sakit. Ia tidak sadar sudah berapa lama kendaraan yang ditumpanginya itu melaju saat tiba-tiba suara bariton di sampingnya mengembalikan kesadarannya.
“Ayo, turun. Kita sudah sampai.”
“Oh.” Cecille mengerjap dengan linglung, kemudian menyusul Hansel turun.
Seorang petugas polisi mengarahkan mereka berdua menuju ruang khusus untuk memberikan keterangan, sedangkan Bryan dibawa keruangan interogasi yang hanya dipisahkan oleh pembatas dari kaca. Dari awal sampai akhir, Bryan tidak berani menatap Cecille sama sekali, atau mengucapkan sepatah kata pun.
“Apa yang terjadi? Tolong ceritakan kronologisnya,” kata seorang petugas yang duduk di balik meja.
Cecille menghela napas dan mulai menceritakan rangkaian kejadian dengan runut, tidak ada yang dilewatkannya sedikit pun. Polisi kemudian mengkonfirmasi pernyataan tersebut kepada Hansel.
Tepat setelah polisi menyimpan keterangan mereka berdua, pintu kantor itu terbuka lebar, disusul sang Marquess dan istrinya yang berderap masuk seperti banteng yang siap mengamuk.
“Apa yang terjadi kepada putriku?” teriak Antonio dengan wajah yang merah padam.
“Papa, Mama!” Cecille bangun hampir menangis melihat kedua orang tuanya datang.
Polisi langsung menenangkan Antonio yang tampaknya sudah hampir meledak dalam kemarahan. Sedangkan Maria langsung menghampiri Cecille dan memeluk putrinya itu erat-erat, air mata berderai di pipinya. Dilihat dari penampilan kedua orang itu, tampaknya mereka baru akan pergi tidur. Karena tergesa-gesa untuk datang ke kantor polisi, mereka tidak sempat mengganti piyama dengan pakaian formal, hanya melapisinya dengan mantel tebal. Mereka bahkan masih memakai sandal rumah biasa.
“Apa yang terjadi kepadamu? Apa ada yang sakit? Siapa yang melakukannya?” cecar Maria dengan suara tercekat. Penampilan putri semata wayangnya terlihat menyedihkan. Putri yang selalu dimanja dan disayangnya ... bagaimana ia rela melihat anak gadisnya terluka?
“Aku tidak apa-apa, pria ini yang menolongku,” jawab Cecilla seraya menunjuk ke arah Hansel. Ia lalu menoleh ke kanan dan menunjuk kepada Bryan yang masih ditanyai di sana.
“Dia yang melakukannya,” sambungnya lagi dengan suara bergetar.
Antonio dan Maria yang sejak masuk hanya berfokus kepada putri mereka segera menoleh. Dalam sekejap ekspresi mereka berubah drastis, perpaduan antara ketidakpercayaan, keterkejutan, dan kemarahan yang berbaur menjadi satu.
Pria tua itu merangsek ke ruangan sebelah, mendorong dan meninju siapa pun yang menghalanginya. Pintu ditendangnya hingga terbuka, kemudian menyerbu Bryan dan menghajar wajahnya yang sudah bengkak dan memar karena dipukuli Hansel tadi.
Bryan hanya bisa mengangkat tangan untuk menangkis serangan yang datang bertubi-tubi. Saat ini pengaruh alkohol mulai berkurang, otaknya yang semula berkabut kini perlahan mulai kembali terang. Pupil matanya bergetar ketika menatap wajah sang Marquess yang murka.
“Tuan,” sapanya dengan suara yang sangat serak.
“Tutup mulutmu bedebah!” bentak Antonio seraya melayangkan sebuah tamparan keras sehingga membuat wajah Bryan miring ke samping.
“Aku pastikan kamu akan membusuk di penjara!” sambungnya lagi sambil menuding kening Bryan dengan telunjuknya.
“Tuan, kami akan mengatasi ini, Anda jangan melakukan kekerasan,” tegur salah seorang petugas polisi seraya menahan sang Marquess yang sudah bersiap untuk memukul lagi.
Akhirnya dua orang polisi terpaksa menyeret pria tua itu keluar dari ruang interogasi. Mereka berhasil membujuknya untuk kembali ke ruangan tempat putrinya berada.
Hansel yang melihat Cecille sudah tidak setakut tadi karena kehadiran kedua orang tuanya segera bangun dari tempat duduknya.
“Karena sudah ada yang menemanimu, aku pergi dulu,” pamitnya kepada Cecille.
Ia kemudian menghadap ke arah Maria dan Antonio sambil membungkuk dengan sopan dan menyapa, “Tuan, Nyonya, saya permisi.”
“Tunggu, Anak Muda. Siapa namamu?” tanya Maria yang sejak tadi terlalu sibuk menanyai putrinya sehingga melupakan kehadiran sang penyelamat.
“Hansel Roux, Nyonya.”
Mata Maria membulat. Ia tiba-tiba teringat kalau pernah melihat wajah pria di hadapannya itu. Kalau tidak salah di ... ah, pernikahan Andrew Roux. Pria ini adalah pengiring pengantin pria. Manik biru Maria tiba-tiba bersinar. Ia menoleh ke arah suaminya yang juga tampaknya sudah mengenali penyelamat putri mereka.
“Apakah kamu bersaudara dengan Andrew?” tanya Antonio sedikit antusias.
Hansel menyeringai kaku sebelum menjawab, “Bisa dibilang begitu.”
“Oh ...,” gumam Antonio dan Maria bersamaan.
Binar di wajah mereka semakin berpendar cerah, tapi cahaya itu surut dengan cepat ketika menyadari wajah dan tubuh pria muda itu dipenuhi luka. Antonio segera menoleh keluar, memberi isyarat kepada asistennya yang menunggu di luar agar masuk ke ruangan itu.
“Antarkan Tuan Hansel ke rumah sakit untuk mengobati luka-lukanya,” perintahnya dengan tegas.
“Tidak perlu—“
“Jangan menolak, anggap saja ini adalah ucapan terima kasih dari kami karena telah menyelamatkan Cecille,” sela Antonio sebelum Hansel menyelesaikan ucapannya.
Hansel hanya bisa tersenyum pasrah dan menjawab, “Baiklah ... terima kasih, Tuan.”
“Tidak perlu sungkan. Kami yang berterima kasih kepadamu.”
Hansel mengangguk dan bersiap untuk keluar, tetapi suara Cecille datang dari sisi tubuhnya, terdengar sedikit ragu dan malu-malu.
“Aku akan menemanimu.”
“Pergilah, kami akan menyelesaikan sisanya di sini,” sambung Antonio dengan cepat ketika mendengar inisiatif dari putrinya.
Hansel menoleh, mengangkat alisnya dan memberi tatapan menggoda kepada Cecille, kemudian membalas, “Oke.”
Kedua orang itu lalu berjalan mengekori asisten sang Marquess. Dari belakang, Maria menatap punggung putrinya dan Hansel yang menjauh dengan ekspresi yang sangat puas. Ia menoleh ke arah suaminya dan mendapati pria itu pun sedang memperhatikan kedua orang itu dengan tatapan yang bercahaya.
“Menurutmu, apakah putri kita akan segera memiliki kekasih?” tanyanya dengan penuh minat.
“Sepertinya begitu,” jawab Antonio tak kalah bersemangat. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya kemudian berbalik kembali menghadap ruang interogasi dan berkata, ”Sekarang mari kita habisi bajingan kecil itu.”