Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Jangan Berhenti



Sudah hampir tengah malam ketika akhirnya tamu terakhir berpamitan kepada Andrew dan Keiko. Keriuhan mereda seiring pesta yang telah usai. Para pelayan yang bertugas masih hilir mudik membersihkan sisa-sisa jamuan makan malam. Marco Roux dan Alfred sudah beristirahat di kamar hotel yang disiapkan untuk mereka, begitu pun Clark, Kim, Marry, dan Sofie. Kecuali Hansel yang memilih untuk pulang ke apartemennya, semua orang sudah beristirahat di ruangan masing-masing.


Andrew dan Keiko yang telah berada di presidential suite Hotel Le Bristol akhirnya bisa menghela napas lega. Berendam air panas dalam bathtub sangat membantu melemaskan kembali otot yang pegal. Keiko mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya, lalu memakai piyama yang sudah disiapkannya sebelumnya.


Ketika ia keluar dari kamar mandi, Andrew juga baru saja keluar dari kamar mandi yang berada di ruang sebelah. Mereka bertemu di tengah kamar yang redup karena hanya mengandalkan penerangan dari lampu tidur di dekat ranjang.


Tatapan Keiko jatuh pada tetesan air di leher suaminya, meluncur turun melewati otot dada yang kencang, lalu menghilang di balik jubah mandinya yang terbuka sampai sebatas pinggang. Wajahnya seketika merona. Ia berjalan menuju meja rias dengan gugup, kemudian mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambut.


Andrew mengulum senyum dan berjalan ke arah Keiko, mengulurkan tangan untuk mengambil alat pengering rambut dari tangan istrinya sambil berkata, “Biar aku saja.”


Keiko ingin menolak, tapi suara mesin yang berdengung halus membuatnya mengurungkan niat itu.


Dari pantulan di cermin, wajah Andrew tampak sangat serius ketika sedang mengeringkan rambutnya. Matanya yang biasa menyorot tajam terlihat fokus pada helaian rambutnya yang meriap terkena udara panas dari hairdryer.


Dada Andrew hampir menempel dengan punggung Keiko, membuat gadis itu tidak bisa menebak apakah hawa panas yang menggelitik bagian belakang tubuhnya berasal dari mesin pengering rambut atau datang dari tubuh suaminya.


“Sudah selesai,” kata Andrew sambil mematikan hairdryer.


“Terima kasih.”


“Um. Kamu beristirahatlah. Aku akan kembali ke kamar sebelah.”


Andrew memutar tubuhnya dan hendak berjalan menuju pintu penghubung yang tersambung dengan kamar lainnya dalam penthouse hotel itu. Ia tidak bisa menjamin bisa menahan diri jika terus berada dalam satu ruangan bersama istrinya. Akan tetapi, sebelum ia sempat berjalan, sebuah tangan mungil menggenggam pergelangannya dengan lembut dan membuat langkah kakinya tertahan.


“Ada apa, Baby? Kamu memerlukan sesuatu?” tanyanya.


“Tidak ....” Keiko menunduk, menggigit bibirnya dengan gugup sebelum melanjutkan, “Kamu ... tidur di sini saja ....”


Andrew tercengang, mengira bahwa ia salah mendengar ucapan istrinya. Ia menelan ludah, membuat jakunnya bergerak dua kali sebelum akhirnya suaranya serak yang bergema dalam ruangan itu, “Apa katamu?”


“Jangan pindah, tidur di sini saja ... bersamaku ....”


Wajah Keiko memucat. Ia sudah menggunakan seluruh keberaniannya untuk mengatakan hal itu. Selama berendam tadi, ia sudah memikirkannya dengan matang. Mereka sudah menikah, sah secara hukum dan agama, Andrew pun sangat baik terhadapnya ... apa lagi yang harus ditunggu?


Andrew maju satu langkah, menyentuh ujung dagu Keiko sehingga gadis itu mendongak dan mengunci matanya dengan tatapan yang menelisik.


Pupil mata Keiko bergetar, seluruh tubuhnya meremang, tapi ia menguatkan tekad dan membalas, “Kalau begitu ... tidak perlu menahan diri ... kita sudah menikah, tidak ada yang salah kalau ... um, kalau ingin tidur bersama ....”


“Apakah tidur bersama yang kamu maksud itu memiliki arti yang sama dengan apa yang aku pikirkan, Baby?” tanya Andrew dengan suara yang semakin serak dan berat, tatapannya sedikit menggoda ....


Keiko merona ketika mendengar balasan Andrew. Apa arti tidur bersama yang ada di kepala suaminya? Tentu saja ia tahu dengan jelas.


Gadis itu mengangguk malu-malu sambil menjawab, “Ya.”


Hanya dengan kalimat persetujuan dari gadis di hadapannya saja, tubuh Andrew langsung bereaksi. Aliran darah seolah meluncur deras dan memenuhi kepalanya sehingga wajahnya menjadi merah padam, sedetik kemudian, arus itu berputar dan berkumpul di inti tubuhnya. Rasanya seperti mendidih, menggelegak ....


Ia merangkum wajah Keiko dan mencium bibir ranum yang menggoda itu dengan hati-hati, mencari tahu bagaimana reaksi istrinya itu. Nyatanya gadis dalam dekapannya itu merespon dengan sangat alami, membuka mulut dengan patuh dan membiarkan lidahnya menjelajah. Ciuman lembut itu perlahan menjadi semakin intens, saling membelit dan menyesap kuat.


Andrew mengerang pelan ketika ciuman saja rasanya tidak mampu memuaskan dahaganya. Ia membopong tubuh istrinya dan membaringkannya ke atas ranjang. Rambut Keiko yang terurai di atas bantal terlihat seperti sulur-sulur magis yang memerangkap akal sehatnya. Bibirnya yang sekal sedikit terbuka, membuat desah napasnya terdengar seperti nyanyian Siren yang menyihirnya untuk semakin mendekat.


Mata Andrew menyusur ke leher istrinya, detakan halus di pembuluh darah menarik perhatiannya. Ritme yang teratur itu membuat lidahnya terasa gatal. Ia menundukkan kepala dan mencium pembuluh darah itu dengan lembut, menyesapnya perlahan, lalu menjilatnya dengan penuh minat.


Pupil Keiko tiba-tiba membesar dan seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat. Ia merasakan aliran listrik yang tidak terhitung jumlahnya merambati leher, lalu menyebar ke ujung syaraf anggota tubuhnya dalam sekejap. Semua pori-pori di tubuhnya terbuka, dan pikirannya tiba-tiba menjadi kosong.


Andrew menjauhkan wajahnya tiba-tiba, menatap istrinya dengan tatapan yang dipenuhi kabut sambil berkata, “Masih ada waktu kalau kamu ingin berhenti, Baby ....”


Keiko mengerjap pelan, mengumpulkan kesadarannya yang baru saja hancur karena sentuhan suaminya.


“Jangan berhenti ...,” pintanya sambil menatap lekat manik kelam suaminya yang tampak bercahaya seperti mutiara hitam.


Untuk kali ini, ia tidak ingin Andrew berhenti ....


***


Uhuk!


Nyengir ae, Mblo 😂😂😂