Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Ambisi Mr.Durrant



Di sebuah toko yang menjual aneka rupa daging di pinggiran kota Tokyo, tampak beberapa orang pria menenteng senjata laras panjang dan masuk melalui pintu belakang. Jika dilihat dari depan, toko itu terlihat kecil dan kumuh. Siapa yang menyangka ketika melewati pintu tengah dan memasuki gudang, bagian dalam bangunan itu hampir dapat menampung sepuluh mobil kontainer.


Ada puluhan kendaraan lapis baja di sana, juga segala jenis senjata yang berjajar rapi di tempat masing-masing, mulai dari senjata tajam hingga RPG. Ada sekitar lima batalyon pasukan berseragam semi militer berbaris di tengah ruangan.


Mereka berbaris dengan rapi dan tegap seperti patung. Jika bukan karena dada mereka yang bergerak naik-turun, tidak terlihat sama sekali bahwa mereka adalah manusia. Pasukan itu hanya berdiri dengan tenang, seolah sedang menunggu seseorang memberikan perintah kepada mereka untuk melakukan sesuatu.


Ada satu buah ruangan utama yang memakan tempat satu per tiga bagian dari keseluruhan bangunan. Ruangan itu berisi kursi-kursi yang disusun melingkari sebuah podium. Sebuah layar proyektor besar terpasang di balik kursi utama, dilengkapi dengan layar-layar monitor super besar di sisi kiri dan kanan. Keseluruhan ruangan itu terlihat suram dan mengintimidasi sebab interior yang didominasi oleh warna hitam.


Satu buah lampu pijar menyala di tengah-tengah ruangan. Cahayanya yang tidak terlalu terang memantul di permukaan wajah seorang pria berkemeja putih yang duduk di kursi utama. Sementara ekspresi wajah lawan bicaranya terlihat sedikit tertekan dan gugup, beberapa kali tangan wanita itu mengusap keningnya yang sebenarnya tidak berkeringat sama sekali.


“Mr.Durrant, saya sudah memerintahkan salah satu anak buah kita untuk menelusuri jejak mereka hingga ke perbatasan kota. Mereka berhasil menemukan rumah yang digunakan oleh Andrew dan gadis Jepang itu untuk bersembunyi. Sayangnya, kedua orang itu sudah tidak ada di sana. Anak buah kita sedang melacak ke mana mereka pergi. Sebentar lagi mereka pasti akan segera ditemukan,” ujar Jovanka dengan hati-hati. Setiap kata yang keluar dari mulutnya benar-benar memerlukan perjuangan.


“Apanya yang sebentar lagi!” bentak Mr.Durrant seraya melempar gelas kaca dalam genggaman tangannya sekuat tenaga ke arah Jovanka.


Benda itu melayang dan menghantam kening Jovanka dengan keras, tapi wanita itu tidak berani bergerak sama sekali. Ia hanya tetap berdiri dengan patuh, membiarkan darah menetes-netes melewati garis hidungnya. Ia berkedip pelan ketika cairan hangat yang menguarkan bau anyir itu meluncur melewati alis dan bulu matanya.


Rasa sakit yang menyengat tak dihiraukan oleh Jovanka. Kesakitan bukanlah prioritas untuk saat ini. Ia bisa mengobati lukanya nanti. Namun, jika Mr.Durrant tidak bisa ditenangkan, ia tidak bisa menjamin dirinya bisa keluar dari tempat itu hidup-hidup.


“Tanaka sudah mati. Kau kira kamu lebih hebat darinya? Dasar bodoh!” seru Mr.Durrant lagi dengan mata menatap nyalang, seolah ingin mencabik-cabik tubuh wanita yang berdiri di hadapannya itu.


“Itu karena dia terlalu ceroboh dan terburu-buru, Tuan,” ujar Jovanka tanpa berani menatap mata lawan bicaranya. Pria itu benar-benar membuatnya ketakutan. Nyalinya menciut setiap kali pria itu bersuara.


“Diam!” teriak Mr.Durrant sambil melotot. Urat-urat di pelipis dan keningnya berkedut kencang.


Tangannya teracung dan menunjuk ke arah Jovanka ketika ia kembali berseru, “Aku menempatkanmu di samping Andrew Roux agar dapat mengawasi dan mengendalikannya! Tapi lihatlah apa yang kau lakukan! Dasar Jalang Bodoh! Hanya memikirkan bagaimana cara menyeret pria itu ke atas tempat ranjangmu tanpa memakai otak! Aku benar-benar sial sudah mengandalkanmu!”


Wajah Jovanka merah padam mendengar semua sumpah serapah yang ditujukan kepadanya. Namun, tidak ada yang dapat ia lakukan. Membantah pun tidak. Memang ia yang salah karena terlalu berambisi untuk dapat meniduri Andrew Roux. Akibatnya, lihatlah semua kekacauan ini sekarang.


Tadinya ia berharap jika berhasil menjerat Andrew dan tidur dengannya, maka pria itu akan lebih mudah ditaklukkan, lebih mudah untuk mencari informasi yang diinginkan oleh Mr.Durrant. Selain itu, iw benar-benar tertarik kepada Andrew. Siapa sangka kehadiran Sakamoto Keiko mengacaukan semua rencana yang sudah ia susun.


Jovanka mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya dan berkata, “Saya akan menebusnya, Tuan. Ketika gadis itu ditemukan, saya akan membawanya ke hadapan Anda. Setelah itu, Anda bisa melakukan apa pun yang Anda inginkan terhadapnya.”


“Sebaiknya memang seperti itu, atau kau akan menyesalinya nanti,” geram Mr.Durrant, jelas-jelas menunjukkan mimik wajah yang dipenuhi cibiran dan rasa jijik.


“Tutup mulutmu dan enyah dari hadapanku sebelum aku menghabisimu di sini!” sergah Mr.Durrant seraya menendang perut Jovanka sehingga wanita itu terjungkal dan meringkuk di atas lantai.


Amarah pria itu belum berkurang sedikit pun. Lima tahun ia menyusun semua rencana ini dengan hati-hati dan teliti, mencari celah yang bisa digunakan untuk memanjat ke posisi tertinggi. Ia tidak mau semuanya hancur hanya karena wanita bodoh yang tidak bisa diandalkan dan pemuda kemarin sore yang lancang, berani melawan kekuatan yang sudah dihimpunnya selama ini.


Jovanka terbatuk-batuk dan merangkak untuk bangun. Tubuhnya tidak bisa berdiri tegak karena rasa sakit yang sangat menghantam ulu hatinya, membuatnya sesak napas sekaligus pening dan mual. Benar-benar sial.


Sialan!


Brengsek!


Seharusnya aku langsung menutup pintu ketika bedebah tua ini mendatangi asramaku waktu itu, dan bukannya tergoda untuk bekerja sama, umpat Jovanka dalam hati.


Sekarang semuanya sudah terlalu terlambat. Tidak ada kesempatan untuk menyesali segala yang sudah terjadi. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah meneruskan rencana semula, mencari Andrew dan Sakamoto Keiko, lalu menyeret dua orang itu ke hadapan Mr.Durrant. Dengan begitu mungkin nyawanya bisa terselamatkan.


Wanita itu tertatih-tatih berjalan menuju pintu keluar. Perutnya terasa pedih dan panas. Rasanya seperti benar-benar hampir muntah darah.


Sialan.


Seharusnya ia mengabarkan kematian Mr.Tanaka melalui pesan singkat saja, setidaknya ia mungkin tidak akan dihajar sampai babak belur seperti ini. Atau, mungkinkah sama saja? Bisa jadi Mr.Durrant mendatangi apartemennya seperti beberapa waktu lalu dan menghajarnya di sana. Pria itu benar-benar seperti iblis. Tidak memiliki hati nurani sama sekali.


Jovanka melirik sekilas ke arah pasukan yang berbaris di aula dan bergidik ngeri. Ia tahu itu hanya sepersekian persen saja dari pasukan yang dimiliki oleh pria mengerikan itu. Masih ada pasukan lainnya yang tersebar tidak hanya di Tokyo, tapi juga Moskow, Jerman, Prancis, dan Meksiko. Itu hanya sebagian kecil wilayah yang diketahui oleh Jovanka, belum termasuk pasukan yang bergerilya dan menyusup di daerah Asia dan Australia.


Oleh karena mengetahui kemampuan pria itulah maka Jovanka bersedia ditugaskan untuk memata-matai Andrew Roux. Bedebah tua itu selalu merasa bahwa Andrew memiliki hubungan yang tidak biasa dengan Mr.X.


Tampaknya rubah tua itu juga benar-benar sudah bersiap untuk bertempur merebut kekuasaan EEL sekaligus menjadi ketua mafia terbesar di empat benua.


Jovanka merasa ngeri ketika membayangkan apa yang mungkin akan dilakukan oleh Mr.Durrant jika berhasil menemukan Andrew dan gadis Jepang itu. Diam-diam ia sedikit berharap agar kedua orang itu tetap bersembunyi dengan baik dan tidak pernah tertangkap.


***