
sorenya harinya saat pulang kerja Raymond meminta Reza langsung pulang ke rumah orang tua nya
" apa tuan tidak singgah ....
" langsung pulang saja za ,jika terjadi papa nanti rehan atau pelayan akan menghubungi mu " ucap Raymond
Reza mengaguk mengerti lalu dia menjalankan mobilnya
sesekali Reza melirik ke arah bosnya lewat pantulan kaca spion
dia sangat tahu jika bosnya sedang tidak baik² saja sejak kejadian malam itu
" maaf karena telah teledor menjaga anda tuan " ucap Reza lirih, Raymond membuka matanya menatap Reza
sekalipun ucapan Reza kecil tapi Raymond dapat me dengar nya dengan jelas
" kenapa kamu meminta maaf ?? semuanya sudah terjadi za jangan menyalakan dirimu yang patut di salah kan itu manusia bodoh itu " ucap Raymond kesal
" maaf " cicit Reza
" cih aku sudah besar za ,bahkan aku lebih tua dari mu " cibir Raymond sedangkan Reza hanya diam saja
setelah melewati jalan yang cukup panjang kini mereka telah sampai di rumah besar itu
di mana mereka sudah di sambut kepala pelayan dan penjaga yang menjaga bagian depan rumah itu
" selamat datang tuan " ucap penjaga saat membukakan pintu untuk Raymond
" hebm "
" bersihkan dirimu setelah itu temui aku di ruangan kerja " ucap Raymond sebelum naik ke kamarnya
" baik tuan " ucap Reza lalu mereka menuju kamar masing² yang berada di lantai dua dan Reza berjalan tepat di belakang Raymond
ceklek
Raymond menarik napas nya saat memasuki kamarnya lalu melonggarkan dasinya dan membuang jasnya ke arah sofa
tok ....tok ...
" masuk " titah Raymond
ceklek
" apa Daddy bisa masuk " Raymond hanya mengaguk,lalu menggulung kemejanya
" gimana pekerjaan mu " tanya Henry basa basi
" langsung saja dad,aku tau Daddy pasti ingin membicarakan sesuatu " Henry berdecak anak sulung nya sangat susah di ajak bicara baik² dia lebih suka pada intinya
" apa kamu tidak ada niat ingin menikah " tanya Henry menatap Raymond
" kerjaanku banyak, Ray tidak punya waktu berurusan dengan wanita " ucap Ray jujur
" iya Daddy tau, apa kamu tidak ingin mencoba nya " tanya Henry dengan antusias
" mencoba apa, pacaran ??? tidak perlu dad aku bukan anak ABG lagi " ucap Raymond
" jadi kalau langsung menikah kamu mau " tanya Henry serius
" Ray belum kepikiran ke sana " Henry menghembuskan napasnya kasar
" jangan seperti Daddy nak, kamu tau kan umur Daddy menikah dengan mommy berapa ??' Raymond mengaguk " lihat lah mommy mu masih sangat cantik Sedang kan Daddy " ucap Henry ambigu
" Raymond akan usahakan dad " ucap Raymond
" baiklah jika kamu butuh bantuan Daddy bilang saja " ucap Henry sebelum berdiri, Raymond hanya mengangguk
" mandi lah " ucap Henry sebelum ke luar dari kamar anak sulungnya itu
setelah membersihkan tubuhnya , Raymond ke ruangan kerja di mana di sana sudah pasti ada Reza
ceklek
Ray tersenyum melihat Reza sudah duduk manis di sofa jangan di pangkuan nya ada laptop kerja nya
" aku memanggilmu tidak menyuruh mu bekerja " ucap Brian lalu duduk di samping Reza
" hanya menyelesaikan beberapa kerjaan kak " ucap Reza,lalu menyimpan laptopnya di atas meja tapi tetap menyala
" apa ada yang menganggu pikiran Kaka ,sejak tadi Kaka bnyak melamun " lanjutnya memberanikan diri bertanya
karena Raymond kembali terdiam
" aku hanya lelah za,tidak perlu khawatir " ucap Raymond tertawa kecil
" jika Kaka ingin berlibur, Reza akan kosong kan jadwal untuk Kaka!!! perusahaan nanti Reza yang urus " ucap Reza lagi
Raymond semakin tertawa keras lalu memukul bahu Reza dengan pelan
" kau sepeti lebih tua dari ku ,tapi aku suka kedewasaan mu, aku hanya memikirkan ucapan Daddy yang menyuruhku menikah " ucap Raymond
kini Reza yang kembali diam ,membaut Raymond berdecak
" apa tidak sebaiknya kita beri tahu Daddy kak " tanya Reza lirih
" tidak untuk sekarang za,aku tidak ingin menjalin hubungan sepeti ayah Alan kamu pasti sudah tau makanya aku memilih tinggal terpisah karena tidak ada cinta di antara kami selain rasa bersalah dan tanggung jawab " ucap Raymond jujur
" tapi kak,kini hidup ayah Alan dan ibu Elsa baik² saja bukannya kata ayah rasa itu tumbuh karena kebersamaan mereka " tanya Reza menatap Raymond
Raymond membuang napas nya kasar
" aku hanya tidak ingin melukai nya terlalu jauh za, biarkan seperti ini saja " ucap Raymond ,Reza memilih diam tapi dalam hatinya beda
bukannya dengan begini Kaka sudah membuatnya sakit batin Reza menggeleng
sedangkan Raymond hanya tersenyum saja
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
kini mereka sudah berkumpul di meja makan,kali ini Queen pulang tepat waktu selain pekerjaan nya tidak terlalu banyak dia juga tidak ingin membuat mommy nya khawatir
" tumben ratu Mateo tepat waktu " cibir rif'at lalu duduk di samping nya, Queen hanya berdecak saja karena kembarannya itu selalu mencari masalah dengan nya
" ini meja makan, jangan bertengkar di depan makanan " ucap lembut Elvi
" maaf mom " Elvi tersenyum lembut menatap rif'at membuat Henry kesal
" hei siapa yang suruh kamu tersenyum padanya " bentak henry kesal
" bucin " henry menatap Queen dan rif'at bergantian
" makanya cari pasangan kalian masing² agar tidak menopoli istri ku "ucap Henry ketus
" dia mommy kami " ucap Queen tidak mau kalah
" Daddy yang paling berhak, kalian sudah dewasa sana cari pasangan " ucap Henry, membaut rif'at dan Queen berdecak
sedangkan Raymond dan Reza hanya diam saja
" kalian " tunjuknya pada Raymond, rif'at dan Reza " malu sama kucing mereka sudah beberapa kali kawin nah kalian punya burung di anggurin,malu " ucap Henry ketus, membuatnya mendapatkan hadiah dari sang istri tercinta
" sakit sayang " rengek Henry manja
" makanya kalau bicara di saring " ucap Elvi kesal
" memang benarkan, percuma sukses banyak uang tapi burung nya di kurung terus " mereka hanya berdecak saja percuma melawan daddy nya karena pawang nya hanya sang mommy
sedangkan Queen sudah tertawa keras bahkan dia harus menahan perutnya karena tertawa
" sudah² ayo kita makan jangan berdebat jika di meja makan " ucap Elvi melerai mereka lalu dia mengambil makanan untuk suaminya
" pimpin doa Rif " rif'at membuang napasnya kasar
" iya mom " ucap rif'at lalu memimpin doa
setelah itu mereka makan dalam diam hanya ada suara sendok garpu Saja yang terdengar
keheningan di ruangan makan itu sudah terbiasa bagi mereka tapi tidak dengan orang yang jika akan ikut bergabung makan dengan mereka
mereka hanya akan berbicara sesekali saja, karena jika tidak begitu sang ratu pemenang tahta tertinggi setelah Daddy nya akan bersuara bahkan tak segan melempar sendok pada anak²nya dan Queen maupun rif'at sudah pernah merasakan itu bahkan sering jika sudah berdebat di meja makan
setelah makan malam mereka berkumpul di ruangan tengah sekalipun hanya sebentar saja tapi mereka meluangkan waktu berkumpul pada orang tua mereka
sekalipun Reza bukan anak Henry dan Elvi tapi mereka tidak pernah membedakan Reza
apa lagi dulu mereka berkumpul bersama tinggal di rumah besar itu sebelum Jose dan Aqila pindah ke rumah orang tua Aqila
" makan puding nya nak ,bukan itu kesukaan mu " Reza tersenyum lembut
" makasih mom " Elvi hanya mengaguk
" Kaka tidak makan " Elvi menatap Raymond sedang kan Queen dan rif'at tanpa di suruh mereka sudah makan sejak puding itu di letakan di atas meja
" apa mau cerita dengan mommy " tanya Elvi lembut,Ray menarik napasnya pelan karena Elvi selalu peka dengan apa yang mereka alami entah itu apa tapi perasaan seorang ibu tidak bisa di remehkan
" Ray baik² saja mom " ucap Raymond meyakinkan mommy nya karena belum saat nya bercerita
" baiklah, tapi jika kamu ingin cerita mommy akan mendengar kan ,jangan memendamnya sendiri Daddy dan mommy akan selalu mendengar kan apa pun itu " ucap Elvi lembut
" iya mom " ucap Raymond lalu dia mengambil puding bikinan Elvi
Henry menatap Raymond yang tidak biasanya
karena terlihat gusar begitu juga Elvi
tapi mereka tidak akan memaksa nya untuk bercerita
karena mereka selalu mementingkan kenyamanan anak²nya
mereka akan menunggu sampai mereka sendiri yang akan bercerita
begitu juga Reza, jika ada masalah Reza selalu bercerita pada mereka dan juga orang tuanya sekalipun mereka jarang bertemu tapi mereka selalu menjaga komunikasi dengan mereka