ONE NIGHT WITH CEO

ONE NIGHT WITH CEO
memilih diam



pagi ini perasaan Raymond sedang kacau tidak karuan


karena berita tentang pertunangan nya dan Amanda sudah tersebar


bahkan di media TV juga membahas tentang pertunangan itu


banyak masyarakat yang berspekulasi jika itu pertunangan bisnis


antara keluarga Henry dan keluarga Davin


tapi mereka tetap antusias menyambut hari bahagia


itu


bahkan saat sarapan pun Raymond hanya diam saja dan berdiri begitu saja saat sarapan nya telah selesai


membuat Elvi sedih karena ini pertama kalinya Raymond mengabaikan nya


Henry hanya mengelus punggung Elvi Sedangkan ke dua adiknya Hanya Diam saja


karena itu bukan ranah mereka untuk bersuara !!!


" hotel mana yang kamu siapkan " tanya Raymond menatap ke arah jendela mobilnya


karena kini mereka sedang di perjalanan menuju perusahaan


" hotel biasanya tuan " ucap Reza


" apa ada laporan " Reza memberikan iPad nya pada Raymond


" pantau mereka berdua " ucap Raymond saat melihat video tentang kejadian di lift dan di loby kantor


" baik tuan, saya sudah mengurus seseorang agar mengikuti mereka ke mana saja " ucap Reza , Raymond hanya mengaguk saja


" maaf tuan ,lalu bagaimana dengan nona Adara " tanya Reza takut


" nanti aku urus, kamu siap kan saja semuanya dan jaga pergerakan ke dua orang itu " Reza mengaguk paham


kini mobil yang mereka tumpangi sudah berada di depan perusahaan besar itu


dengan sigap security membukakan pintu untuk bosnya lalu di susul Reza


saat memasuki loby perusahaan semua karyawan berbisik² tentang pertunangan nya dengan Amanda


bahkan di Twitter #patahhatisedunia menduduki posisi pertama setelah kabar itu muncul


tapi Raymond hanya diam saja dan memilih masuk ke dalam lift yang sudah terbuka


" apa dia sudah datang " tanya Raymond menatap lurus ke depan


" sudah tuan " ucap Reza , Raymond hanya mengangguk saja


setelah itu hanya ada keheningan yang ada dalam kotak persegi itu


Ting


" selamat pagi tuan " ucap rehan lalu menunduk kepalanya


" tunggu aku di ruangan " ucap Reza


" baik tuan " ucap rehan lalu pergi ke ruangan yang biasa mereka gunakan untuk berbicara serius


ceklek


Adara langsung berdiri saat melihat Raymond masuk dalam ruangan nya


sedang kan Reza pergi menemui rehan di ruangan lain yang masih satu lantai dengan ruangan Raymond


" buatkan minuman " ucap Raymond sambil membuka jasnya


" baik tuan " ucap Amanda lalu ke luar dari ruangan Raymond


Raymond memijat pangkal hidung nya


dia merasa kepalanya tiba² saja pusing


sedangkan di rumah sakit besar milik keluarga Brian


Amanda tidak henti² di goda oleh asisten perawat nya


" apa kamu tidak lelah sajak tadi bicara " ucap Amanda kesal karena malu


" cup cup menantu pemilik rumah sakit sedang marah, ah apa nanti maharnya rumah sakit ini, sungguh aku tidak sabar menunggu hari itu tiba " ucap nya lagi


" please Nana, diam lah kepala ku benar² sakit mendengar mu sejak tadi merocos terus " ucap Amanda memijat kepalanya


" apa kamu sudah siapkan semuanya " lanjutnya lagi


" sudah nyonya muda Raymond " Amanda menatap horor sahabatnya itu


" kau gila. "pekik Amanda ,tapi Nana hanya tertawa saja


" kau harus terbiasa nyonya ,karena beritanya sudah menyebar ke mana " ucap Nana ,Amanda hanya membuang napas


" mari nyonya " ucap Nana menunduk kepalanya membuat Amanda tak habis pikir dengan tingkah laku nya


belum juga semenit dia ke luar semua perawat dokter menunduk hormat pada Amanda membuat wanita itu risih


" apa aku bilang kan " bisik Nana di samping Amanda


" sangat menyebalkan " gumam Amanda kesal


karena setiap yang di lewati nya mereka menunduk kepalanya


bahkan tidak hanya yang bekerja di rumah sakit itu ,tapi pasien yang tidak sengaja perpasaran pun melakukan hal yang sama


membuat Amanda semakin tidak enak dan risih


sedangkan di perusahaan besar itu keheningan memenuhi ruangan kerja Raymond


baik Raymond atau Adara tidak ada yang bersuara mereka hanya fokus pada pekerjaan mereka masing²


Raymond bukannya tidak ingin menjelaskan hanya menurut nya itu tidak penting toh pernikahan mereka hanya sebuh kontrak saja


sedangkan Adara merasa dia tidak memiliki wewenang untuk hanya sekedar bertanya tentang kebenaran berita itu


apa lagi pernikahan mereka hanya di atas kertas


jadi dia memilih diam seribu bahasa


sekalipun dadanya sesak mengingat itu


ceklek


" kau sudah selesai " tanya Raymond saat Reza masih terdiam di ambang pintu


" iya tuan " ucap Reza saat kesadaran nya sudah kembali


lalu dia menuju meja kerjanya , Raymond memang sengaja menyatukan ruangannya dengan Reza


agar lebih gampang saat berkerja karena jika harus terpisah seperti dulu saat Daddy nya yang memimpin


pikirnya terlalu repot karena harus memanggil lagi , menunggu lagi dan itu membuat nya bosan


sedangkan meja kerja Adara dia sengaja meminta Reza untuk membuat nya di dalam agar lebih gampang memantaunya toh itu hanya sementara


karena selama bekerja dia tidak memakai sekertaris ,jadi Adara adalah sekretaris pertama nya


hingga waktu makan siang ruangan itu hanya ada keheningan saja


" maaf tuan jam makan siang " ucap Reza takut


" pesan kan saja " ucap Raymond tanpa mengakat kepala nya


" baik tuan ,maaf nona Adara ingin makan apa " Adara mengangkat kepalanya


" saya makan di kantin perusahaan saja asisten Reza " ucap Adara lembut


" pesan kan saja " ucap Raymond dingin


" baik tuan " ucap Reza, lalu menatap Adara


" Reza "


" baik tuan " mau tidak mau Reza memesankan makanan juga untuk Adara


terserah sang nyonya ingin memakannya atau tidak


yang penting dia sudah melakukan tugasnya


Adara hanya membuang napasnya kasar


dia tidak ingin membuat Reza dalam masalah !!!!


Adara mengaguk saat Reza menatap nya dengan sorot mata memohon


tidak berselang lama pesanan mereka sudah datang sedangkan makanan rehan juga sudah di berikan


" nona "panggil Reza setelah OB ke luar dari ruangan itu


dengan setengah hati Adara mendekat ke arah sofa


" biarkan saya saja " ucap Adara lembut ,Reza mengangguk


Adara menyimpan makanan untuk Raymond


" tuan makanannya sudah siap " ucap Reza saat makanan nya sudah siap


" kenapa kau memesan udang za " ucap Raymond saat sudah sampai di sofa


" maaf tuan, karena saya tidak tau kesukaan nona Adara " ucap Reza , Raymond hanya diam saja lalu duduk


" biarkan saya saja yang makan " ucap Adara mengambil ahli piring Raymond


" simpan " titah Raymond ,Adara kembali meletakan piring Raymond


Raymond menyisihkan udang ke pinggir piring nya


dia bukan tidak suka tapi dia merasa risih saat makan udang dengan kulit nya begitu juga sang Daddy henry


Adara yang melihat itu mengambil udang itu dan mengupas kulitnya


" apa yang kamu lakukan " tanya Raymond sedikit meninggi kan suara nya


" mengupas kulitnya " ucap Adara


sedangkan Reza hanya diam saja mempertikan mereka


dia sedikit lega akhirnya Adara peka juga sehingga tanpa di minta dia mengupas kulit udang itu


" tangan mu akan kotor " ucap Raymond


" nanti saya cuci " ucap Adara,


setelah selesai dia berdiri " asisten Reza minta tolong bukakan pi....


" masuk di kamar " ucap Raymond


Adara langsung ke kamar pribadi Raymond di bantu oleh Reza karena hanya dia yang tau kode kamar pribadi itu


setelah itu Reza kembali ke sofa untuk melanjutkan makannya


" kenapa aku harus mengingat kejadian itu, sadar tidak akan lama lagi kamu akan pergi menjauh " ucap Adara lalu masuk kedalam kamar mandi mencuci tangan nya


setelah selesai Adara langsung ke luar dan menuju sofa untuk makan siang


Reza benar² bingung dengan keadaan ini


jika bisa memilih dia akan memilih makan di luar bersama rehan


dari pada makan dalam ruangan tapi terasa hambar apa yang masuk dalam mulutnya


bahkan sampai selesai pun keadaan nya tidak membaik


" biarkan OB saja nona " cegah Reza saat Adara membersihkan makanan mereka


" tidak papa asisten Reza ,ini hanya sedikit saja " ucap Adara lalu melanjutkan pekerjaan nya


sedangkan Raymond hanya diam saja sambil memainkan HP nya


setelah selesai Adara menyimpan nya di troli yang tadi di pakai untuk mengantar makanan


setelah itu dia kembali Ke mejanya padahal ini masih jam istirahat


reza menatap mereka bergantian entah lah


dia juga bingung dengan keadaan ini


dia bingung harus berada di pihak mana karena ke duanya sama pentingnya