
sore menjelang magrib semua keluarga termaksud Jeje dan Alan di gazebo teras depan di temani makanan ringan dan minumannya
Raymond datang dengan pakaian santainya mencium pipi Elvi bergantian
" Raymond pergi dulu " ucap Ray lalu meninggalkan mereka di ikuti oleh Reza
" Reza pergi dulu dad,yah, Pi " mereka hanya mengangguk saja
" ada apa dengan mereka " tanya Alan bingung
" apa sedang ada masalah " tanya Jeje
Henry hanya membuang napasnya panjang
" bahkan aku juga tidak tau, tapi mereka bilang hanya lelah saja " ucap Henry
" hei kenapa " tanya Henry saat melihat Elvi sudah mengembun matanya
" tangan Ray luka by " Ucap Elvi ,karena tadi tidak sengaja melihat tangan kanan Ray
" sudah tidak papa,dia sudah dewasa sudah besar luka seperti itu hanya luka kecil baginya " ucap Henry menenangkan Elvi
" di mana mereka " tanya Raymond kini ke dua nya sedang menuju tempat di mana orang² yang menggangu nya sudah di bawah anak buahnya
" di tempat biasa kak " Raymond mengaguk
" tangan Kakak "
" aku baik² saja ,jangan seperti mommy jika tidak ingin aku menendang mu ke luar dari mobil ini " Reza langsung menutup mulutnya dengan rapat
" apa ada laporan dar rehan " tanya Raymond
" tidak ada,hanya tadi dia sebelum ke luar menyuruh pelayan membuatkan teh hangat dan bubur untuk nona Adara " Raymond mengaguk paham
lalu Dy bersandar di tempat duduknya
" apa Kaka tidak ingin jujur dengan daddy , sepertinya Daddy sudah menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Kaka " ujar Reza membuka suara
" belum saatnya za hingga waktu dua bulan ,aku tidak ingin Adara dalam masalah sekalipun aku yang menimbulkan masalah ini " ucap Raymond memejamkan matanya
" dia sudah terlalu banyak terluka karena ku " lanjutnya lagi
" lalu apa yang akan kakak lakukan " tanya Reza
" untuk sekarang kita hanya bisa bertemu dengan nya di kantor " Reza mengaguk paham
jika sampai mereka ke apartemen sudah di pastikan Henry akan menyusul mereka ke sana juga atas laporan suruhannya
kini mobil Reza sudah sampai di rumah besar itu iya lebih tepatnya rumah penyiksaan sekalipun dari luar sangat mewah tapi di dalam hanya mereka yang tau
bahkan orang yang pernah masuk di sana akan bingung dengan keadaan di dalamnya
" di mana dia " tanya Raymond saat sudah sampai di depan itu rumah itu
di mana dia sudah di sambut anak buahnya saat sebelum nya Reza sudah menghubungi nya jika Raymond akan ke sana bersama nya
" di dalam tuan " ucap nya lalu mereka masuk bersamaan dalam rumah itu
Raymond langsung masuk di dalam di ikuti oleh Reza
Ray tersenyum saat mendengar teriakan seseorang dari dalam sana
ceklek
" lepas bajingan, siapa kalian hah " bentak seseorang yang di ikat kaki dan tangan nya di kursi
" Kami ??" tanya Morgan ,sambil menunjuk dirinya
" iya kamu bajingan , lepaskan " teriak Sisil
" selamat malam tuan " ucap mereka serempak saat melihat Raymond mendekat , mendengar itu Morgan langsung membalikan tubuhnya dan menunduk kepalanya
" apa yang kau lakukan padanya " tanya Raymond menatap mangsanya
" tidak ada tuan " ucap morgan
" tuan Raymond " ucap sisil lirih
" kenapa ?? kaget sudah terlambat , kau sudah tau berurusan dengan siapa "
Ray duduk di kursi yang di berikan oleh anak buahnya
" saya tidak pernah mencari masalah dengan anda tuan " ucap Sisil berderai air mata
" kau yakin " Raymond membungkukkan badannya menatap Sisil tajam
Sisil mengaguk cepat , karena memang dia tidak memiliki masalah dengan Raymond
tapi tanpa dia sadari dia sudah mengganggu ketenangan istrinya
" kau memang tidak mengganggu secara langsung ,apa kau ingin tau " Sisil mengaguk cepat
Raymond mendekati Sisil ,lalu berbicara tepat di hadapan nya
" kau sudah salah menyentuh istri ku Adara sekali pun tidak secara langsung " sisil membulatkan matanya
apa tadi istri !!!! Adara
" gilir dia setelah itu lempar dia di mana harusnya dia berada " ucap Raymond
Sisil kaget langsung menggeleng dengan cepat
" tuan, saya mohon ampuni saya, saya mohon saya janji tidak akan menganggu Adara " ucap sisil memohon
"TUAN " teriak Adara ,tapi Raymond menulikan pendengaran nya dan ke luar begitu saja dari ruangan itu
" menjauh kalian " bentak Sisil saat anak buah Raymond sudah mulai mendekat
sreekkk
" bajingan menjauh kalian " teriak Sisil tapi anak buah Raymond tetap mendekat bahkan pakaian yang di kenakan Sisil sudah robek bagian atasnya
" kami akan memberikan kenikmatan untuk mu nona " ucap salah satu dari mereka
" aku tidak sudih " ucap Sisil meludahi nya
PLak
" kau pikir kamu siapa hah " bentaknya lalu mengusap wajahnya dengan sapu tangan
lalu dia membungkam paksa mulut sisil sekalipun Sisil menolaknya , sedangkan yang lainnya menunggu giliran nya
" kenapa kau tidak mencicipi nya " tanya Raymond pada Morgan
" saya tidak suka barang bekas tuan " ucap Morgan
" aku tau tentang mu Morgan, jangan berani² membohongi ku " Morgan menelan ludahnya paksa
" CK "
lalu mereka masuk dalam mobil, di kemudi oleh Morgan dan di sampingnya Reza sedangkan Raymond duduk di bangku belakang
" langsung pulang " titah Raymond
" baik tuan " ucap Morgan
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
sedangkan di apartemen Adara memuntahkan semua isi perutnya saat bangun dari tidurnya
hoek.......hoek .....
" seperti nya asam lambung ku kumat " gumam Adara
hoek ......hoek...
Adara bersandar pada wastafel kamar mandi sambil memejamkan matanya
setelah beberapa saat dia bangun mencuci mulut dan wajahnya
lalu dia ke luar dari kamar mandi
tok ...tok ..
" nyonya makan malam sudah siap " ucap Rosna dari luar
ceklek
Adara membuka pintu kamarnya
" nyonya baik² saja " Adara mengaguk
" tapi wajah nyonya pucat " ucap Rosna khawatir
" aku baik² saja mungkin karena tadi telat makan jadi asam lambung ku naik " ucap Adara tersenyum
" kalau begitu kita ke bawah nyonya " Adara mengaguk
" rehan sudah ada " tanya Adara sambil menuruni tangga
" sudah nyonya ,tuan rehan sedang menunggu di meja makan " Adara menggaguk
saat sudah di dekat dapur ,rehan langsung berdiri saat melihat sang nyonya
" selamat malam nyonya " sapa rehan membungkuk badannya
" malam mas rehan " ucap Adara mendekat ke arah meja
tapi langkah nya terhenti dan langsung berlari ke arah wastafel dapur
hoek ......Hoek ...
" nyonya " pekik rehan dan Rosna bersamaan lalu mendekati Adara
" apa yang kamu masak Rosna " tanya Adara lirih
" ayam goreng,ikan bakar,sayur seperti biasanya " ucap Rosna bingung
" jauhkan ayam nya " ucap Adara tegas
hoek ....Hoek ....
" hah " beo rehan dan Rosna bukannya sang nyonya sangat menyukai ayam bahkan dia lahap sekali saat makan ayam apa lagi dengan sambal terasinya
" baik nyonya " ucap rehan lalu mengambil ayam itu menjauhkan dari meja makan
Adara mencuci mulutnya sedangkan Rosna berdiri di samping Adara
" nyonya baik² saja " Adara mengaguk
" bantu ke meja makan mba " Rosna membantu Adara ke meja makan
"apa ada udang di kulkas " Rosna membulatkan matanya
" a-da " ujar Rosna setelah lama terdiam
" masakan udang mba, aku pengen makan itu " rehan dan Rosna saling berpandangan bingung
" baik nyonya " Rosna lalu ke arah kulkas mengambil udang untuk sang nyonya
" asam manis iya mba "ucap Adara
" iya nyonya "
walaupun sedikit bingung Rosna tetap membuat kan masakan pesanan sang nyonya
" apa perlu saya panggil dokter nyonya " tanya Rehan
" tidak usah mas,mas makan duluan saja makannya " ucap Adara menatap rehan sayu
" tidak papa nyonya " ucap rehan
"aku ingin ke pantai " gumam Adara lirih,tapi rehan bisa mendengar nya
" saya akan mengantar anda nyonya " ucap rehan ,Adara menggeleng
" aku ingin kemping mas ,tapi apa mereka mengizinkan kita " Adara menatap rehan
" saya akan usahakan,tapi mungkin tidak malam ini bagaimana nyonya " Adara mengaguk
"tapi anda yakin tidak ingin di periksa dulu nyonya " Adara mengaguk
" saya hanya masuk angin asam lambung ku juga kambuh tapi nanti juga sembuh " Ucap Adara
" tapi nyonya .....
" sudah mas tenang saja, aku sudah sering seperti ini " potong Adara cepat
rehan mengaguk pasrah, jika sang nyonya kekeh tetap Seperti itu dia bisa apa
hingga beberapa saat Rosna datang bersama dengan sepiring udang asam manis nya
melihat itu Adara kegirangan bahkan mulut nya sesekali mengisap bibirnya
" silahkan nyonya " ucap rosna lalu menatap rehan yang juga menatap nya
" terimakasih ,ayo kita makan " ucap Adara
" nyonya nasinya " Adara menggeleng
" ini saja mba " lagi² rehan dan Rosna di buat bingung dengan tingkah sang nyonya
tapi mereka tidak bisa berbuat papa .