
tok ...tok....
ceklek
" vitamin nya nyonya muda tuan " Raymond mengaguk mengambil vitamin Adara
setelah itu dia menutup kembali kamar nya
" minum vitaminnya " Adara mengambil nya dan meminum vitaminnya
" nanti besok baru minum susunya " Adara mengaguk
" istirahat lah " Adara mengaguk
" apa tuan masih mau kerja " Raymond mengaguk
" istirahat lah ,besok setelah memeriksa kandungan mu " ucap Raymond lembut
CUP
CUP
" jangan memikirkan papa, aku ke ruangan kerja dulu " ucap Raymond
" iya tuan " ucap adara
setelah itu Raymond ke luar dari kamar dan alangkah kagetnya saat Henry sudah berada di depan kamarnya mungkin dia menunggu Raymond karena dia sangat tau jika laki² itu sering ke ruangan kerjanya
" bisa Daddy bicara " Raymond mengaguk " di ruangan kerja dad " ujar Raymond
Henry dan Raymond duduk berhadapan setelah sampai di ruangan kerja
" kau mencintai nya " Raymond menggeleng " hanya sebuah tanggung jawab " ujar Raymond jujur
" lalu setelah ini apa yang akan kamu lakukan " tanya Henry serius tapi Raymond hanya diam
" jangan membuat mommy mu kecewa son, kamu tau itu kan ?? Daddy membebaskan kalian memilih apa yang kalian ingin ,tapi jika kalian surah membuat istri ku kecewa menangis apa lagi terluka Daddy tidak segan² membunuh kalian " ucap Henry menatap anaknya
" Ray tidak mencintai nya dad " ujar Raymond menunduk
" cintai dia, dalam perutnya ada anakmu !! apa kamu mau suatu saat anakmu mencari ibu nya atau sebaliknya, apa kamu mau anakmu dia asuh orang lain atau memanggil orang lain ayah " Raymond hanya diam saja
" pikirkan kedepannya son, Daddy hanya tidak ingin anak² Daddy lepas tanggung jawab sekalipun kamu bisa memberikan mereka secara materi tapi tidak untuk kasih sayang ,karena Daddy tidak pernah mengajarkan kalian seperti itu ,terlepas dari apa masalah kalian tapi saat ini dia sedang mengandung anakmu dan juga cucu Daddy " ucap Henry
" iya dad, Raymond akan pikirkan lagi " Henry mengaguk
" adakan pesta bagaimana pun dia istri sah " raymond mengaguk patuh
tidak berselang lama pintu ruangan kerja Raymond terbuka ternyata Reza yang masuk
" Daddy " Henry menatap Reza " iya sudah Daddy ke kamar dulu nanti mommy mencari Daddy ,jangan larut malam kerjanya son boy " ujar Henry
" iya dad " ucap mereka " kau !! carilah pasanganmu jangan di kalah sama Xavier, malu sama burungmu " cibir Henry ,Reza hanya mendengus kesal
setelah kepergian Henry, Reza dan Raymond fokus pada kerjaan mereka
ceklek
"sayang kenapa belum tidur " tanya Henry saat melihat Elvi masih duduk di tempat tidur
" Daddy tidak ada " ujar Elvi ,Henry tersenyum kuda
" kenapa ?? merindukan ku " Elvi mengaguk " aku ketemu Ray hanya bicara sesama pria saja " lanjutnya lagi
"apa yang dia katakan " tanya Elvi ,Henry memainkan rambut panjang Elvi
" Daddy hanya memberikan nasehat sebagai orang yang berkeluarga " ujar Henry
" mau bobo " rengek manja Elvi
" ayo " Henry membaringkan tubuhnya begitu juga Elvi lalu dia menarik Elvi dalam pelukan nya
" By " Henry menatap ke bawah " jangan memulai sayang apa kamu masih mau hm " tanya Henry lembut ,Elvi mengagukan kepalanya
" hei kau bisa tidak jalan besok paginya " ujar Henry tertawa kecil
" kau tidak mau " Henry menatap wajah Elvi serius " ssssttt " desis Henry saat Naya sudah bermain di dada dan perutnya
" i want you " bisik Elvi menjilat kuping dan leher Henry
" aaahhhh " Elvi tersenyum menang
" kamu nakal sayang " Elvi hanya mengedipkan matanya pada Henry lalu duduk di pusat inti Henry yang masih ada aku penutup nya
" aaahhhhhhh "
" Daddy suka " Henry hanya memejamkan matanya merasakan gesekan yang di buat Elvi
Henry membuka matanya saat Elvi turun dari atasnya lalu melihat apa yang akan di lakukan istri cantiknya itu
" hei Sa....yanghhhhh " lenguh Henry saat Elvi mengisap pucuk juniornya
" Elvina aahhhhhh kau nakal baby " geram Henry panjang
hingga kamar yang mereka tempati berubah jadi panas suara erangan dan ******* keduanya memenuhi ruangan itu
Henry selalu meracau tidak jelas karena Elvi memimpin wanita itu semakin pintar saat sudah berada di atas Henry membuat laki² setengah abad itu menggeram karena kenikmatan dan tak berdaya
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
seperti biasanya Adara akan terbangun saat laut malam tapi dia bingung harus berbuat apa .
karena ini bukan di apartemen tapi di rumah Raymond dia ingin ke luar tapi takut
rumah Raymond sangat luas dan dia takut tersesat sehingga dia hanya duduk dalam kamar
" sayang sabar iya " ucap Adara sambil mengelus perut nya
hingga akhirnya terdengar suara pintu kamar terbuka dan itu membuat Adara sedikit lega
" kenapa belum tidur " tanya Raymond lalu menatap jam yanga ada di kamarnya
" kau lapar " tanya Raymond karena dia ingat kata rehan jika Adara sering bangun jam 2 malam hanya untuk makan
" maaf " cicit Adara menunduk
" ingin makan apa " tanya Raymond lembut
" terserah apa saja yang ada di dapur "ujar Adara
" mau masak sendiri atau suruh pelayan "tanya Raymond
" sendiri saja " Raymond mengeritkan keningnya " kenapa tidak pelayan saja " tanya Raymond
" mereka pasti sudah tertidur " ucap adara
bagaimana mungkin dia meminta pelayan sedangkan dia baru saja datang di keluarga ini
jika di apartemen dia tidak sungkan meminta pada Rosna dan rehan
tapi di sini beda dan sangat beda !!
" kalian lapar ??? padahal tadi Oma kasih udangnya banyak Lo ,baiklah kita ke dapur jangan nakal ok " ucap Raymond lembut lalu dia memberikan ciuman di perut Adara
CUP
" ayo kita ke dapur " Adara mengaguk lalu mereka ke luar dari kamar Raymond
" maaf sudah repotin " Raymond menaikan alisnya " Meraka anakku, apa pun yang mereka inginkan aku turuti " ujar Raymond
entah kenapa Raymond merasa tidak suka dengan ucapan Adara
" apa kau ingin rehan yang menemani " Adara menggeleng sedangkan Raymond memilih diam
" mau makan apa " tanya Raymond saat mereka sudah sampai di dapur
" kulkasnya di mana tuan " Raymond melangkah mendekati kulkas dan membuka nya
" apa tidak papa saya memasak " Raymond mengaguk " masak sop iga boleh " Raymond menatap Adara " kamu bisa " Adara mengaguk
" makan dengan nasi " adara menunduk kepalanya " mual " Raymond menarik napasnya kasar
" coba dulu nanti aku suapi gimana " Adera hanya diam " coba dulu jika masih mual nanti aku tidak akan paksa " Adara mengaguk
setelah itu Raymond mengeluarkan bahan apa saja yang di perlukan sesuai apa yang di sebutkan Adara
" yakin tidak minta bantuan pelayan " Adara mengaguk " apa yang perlu aku lakukan " tanya Raymond
" apa tuan bisa mengupas kentang dan wortel " Raymond mengaguk meskipun dia belum tau
" saya siapkan bumbunya " Raymond mengaguk
setelah itu mereka fokus pada tugas mereka masing-masing, sehingga suara Queen mengagetkan mereka
" kakak "
" aaww "
mungkin karena kaget tidak sengaja Adara memotong tangannya sendiri saat mengupas bahan yang akan di haluskan
" baby/ Kaka ipar " pekik Raymond tidak sadar begitu juga Queen
Raymond langsung menarik tangan Adara lalu mengisapnya membuat Adara kembali kaget
" sa-ya tidak papa " ujar Adara , Raymond langsung menatap nya tajam " tanganmu berdarah dan kamu bilang tidak papa !! apa kamu buta hah " bentak Raymond kesal
" maaf Kaka ipar " ujar Queen sendu
" tidak papa nona Queen " ujar Adara tersenyum
" ambilkan kotak obat Queen " Queen langsung mencari obat kotak yang ada di laci dekat dapur
" duduk, dan minta pelayan yang masak jangan membantahku " Adara mengikuti Raymond duduk di kursi makan
" tapi ....
" ini kak " Raymond menerima kotak obat yang di berikan Queen
"Kaka ipar " Adara menatap Queen sedang kan Raymond masih mengobati luka Adara yang tidak seberapa itu
" iya nona Queen " jawab Adara
" maaf tetang yang tadi sore, Queen bukan bermaksud merendahkan Kaka ipar hanya saja Queen kaget dan tidak tahu jalan ceritanya seperti apa sekali lagi Queen minta maaf " Adara mengaguk tersenyum
" bisa panggil Queen saja, tidak usah pakai nona, Kaka ipar istrinya Kaka Ray " lanjutnya lagi
" temani dulu Adara ,Kaka mau panggil pelayan " Queen mengaguk
" maaf sudah buat tangan Kaka ipar terluka " ujar Queen sendu
" tidak papa qu- Een ini hanya luka kecil " Queen menggeleng " tapi tadi tangan Kaka ipar berdarah " ujar Queen
" kita bisa berteman kan Kaka ipar " Adara tersenyum " tentu " ujar Adara
" tunggulah pelayan akan memasakkan untuk mu " Adara mengaguk
" Kaka ipar lapar " Adara mengaguk " mommy dulu juga sering bangun saat hamil Radhi dan Raine " Adara menaikan alisnya
" mereka adik kembarku tapi mereka tinggal di Landon bersama opa dan Oma mungkin mereka akan kembali ke sini " ujar Queen yang mengerti kebingungan Adara
" maaf tuan " Raymond hanya mengaguk , sedangkan pelayan langsung melanjutkan pekerjaan yang sudah setengah jalan
" dulu di sini ramai kak, ada papa dan mama nya Reza tapi mereka harus pindah ke rumah kakek nya karena di sana mereka sendiri dan hanya Reza yang di sini , terus ayah sama papi mereka tinggal di belakang di paviliun jika Kaka bosan di rumah Kaka bisa ke sana atau Kaka ikut Queen ke butik " uang Queen
" kamu maaf Queen ...
" tidak papa senyaman nya Kaka saja " Adara mengaguk
" kamu punya butik " Queen mengaguk " besok kakak ikut Queen saja ke butik bukannya kaka mau cari pakaian nya " ucap Queen
" apa boleh " tanya Adara
" Kaka Ray boleh kan " Raymond mengagguk " itu suami Kaka sudah izinkan " ucap Queen
"jam berapa kamu ke butik " tanya Adara dia sudah sedikit nyaman bercerita dengan Queen
" jam 7 atau 8, terserah Kaka saja " jawab Queen
" jam 8 iya tapi saya harus ke rumah sakit dulu " Queen mengaguk setuju
"kamu ngapain ke dapur " Queen menepuk jidatnya
bahkan dia sampai lupa dengan tujuan nya ke dapur
" astaga Queen mau minum !! air di kamar habis " ujar Queen tersenyum lalu berdiri mengambil air
" masih sakit " Adara menggeleng " jangan lagi memegang pisau atau yang lainnya " ujar Raymond
" tapi ....
" jangan membantah Adara , bisa kan " Adara mengaguk kan kepalanya
" Besok akan di temani rehan dan Morgan, jangan terlalu lelah biarkan karyawan Queen yang mengurusnya kamu hanya pilih saja " ucap Raymond
"nanti saat jam makan siang mereka mengantarmu ke perusahaan " Adara menggeleng cepat
"mereka tidak akan membicarakan kamu lagi !! jadi jangan takut lagi untuk ke sana " lanjutnya lagi
" bisa saya bertanya " Raymond mengaguk " kontr...
" kita bahas nanti " ujar Raymond apa lagi ada pelayan dan juga Queen.
" aku temani Kaka ipar makan boleh kan " Adara tersenyum
" apa tidak papa kamu makan jam segini " Queen mengaguk
" nanti Queen olahraga " setelah itu mereka tertawa bersama
dan itu membuat Raymond ikut tertawa melihat ke keakraban istri dan juga adiknya