
Di kediaman Raymond saat ini nampak tegang di sore hari, setelah kedatangan Raymond membawa wanita bersama nya .
Henry dan Elvi nampak terkejut dengan kedatangan wanita itu, terutama Henry karena sebelumnya mereka perna bertemu di perusahaan
Raymond memegang tangan Adara dengan lembut sesekali dia mengelusnya menggunakan ibu jarinya agar wanita itu tidak terlalu gugup
" rif'at pulang dad mom eh Kaka ipar " ujar rif'at tersenyum sedangkan Adara tertunduk
mata Henry dan Elvi melotot menatap rif'at !!
" maaf " ujar rif'at saat melihat tatapan Raymond
" katakan son, kalian punya hubungan apa ?? bukannya dia sekertaris mu " tanya Henry dengan suara rendahnya
" dia istri ku ,ibu dari anak yang dia kandung " Elvi melotot kan matanya begitu juga Henry
" ka-lian sudah menikah " tanya Elvi gugup
" iya mom ,dia sedang hamil dua bulan " ujar Raymond tenang , sedangkan Adara sudah menunduk kepalanya bahkan hanya sekedar mengangkatnya dia tidak bisa
" apa ini alasan nya kamu tidak mau melanjutkan hubungan mu dengan amanda "
" Daddy " panggil rif'at kesal
" jika aku melanjutkan apa Daddy sudah siap di benci rif'at begitu juga mommy, bahkan Daddy tidak tau sejak kapan rif'at mencintai Amanda bukan " Henry membungkam mulutnya
" setuju atau tidak, Ray tetap akan bersama nya karena dia sedang hamil anak Ray " ucap Raymond tegas
" apa sebuah kecelakaan " tanya Henry menatap Raymond
" bukan " ucap Raymond tak kalah tegas
" lalu apa yang membuat mu menikahinya " tanya Henry lagi
" apa aku perlu alasan untuk menikahi seseorang ?? " tanya balik Raymond
Elvi berdiri mendekati Adara ,dia sangat tau di posisi ini karena dia pun pernah mengalami nya bagaimana rasanya
" jangan takut " ucap Elvi lembut sambil mengelus tangan Adara
" dia mommy " ucap Raymond
" selamat sore nyonya " ucap Adara
" sudah memeriksanya " Adara mengaguk
" boleh mommy mengelus nya " tanya Elvi ,Adara menggegam kuat tangan Raymond
" boleh mom " ujar Raymond
" apa mereka kembar, ini sangat besar jika usianya baru dua bulan " tanya Elvi lembut
" iya nyonya " Elvi tersenyum " panggil mommy seperti Ray iya ?? apa mereka rewel " Adara menggeleng
" sayang " Elvi melotot kan matanya menatap tajam Henry
" apa yang kamu lalui selama ini sedangkan Raymond selalu di sini bersama kami " tanya Elvi lembut
"dad,mom eh "
belum juga menjawab Queen sudah lebih dulu datang ke ruangan tengah lalu duduk di samping rif'at
" dia siapa " rif'at mengikuti arah mata Queen " Kaka iparmu , istrinya Kaka Ray " ucap rif'at
" APA " pekik Queen berdiri lalu menunjuk Adara
" dia Kaka iparku, jadi Kaka Ray tidak menikahi amanda karena dia " ucap Queen ketus
" Queen " panggil Elvi menatap Queen
" why " tanya Queen kesal
" memang benar kan ?? karena dia Amanda tidak bisa menikah dengan kak Ray ?? apa dia memberikan tubuh nya pada Kaka Ray ,karena Kak ...
"REGINA " bentak Raymond emosi
" jaga ucapan mu, jangan karena kamu perempuan kesayangan Daddy kamu seenaknya di sini ,apa kau lupa siapa aku hm !! sekalipun kau adikku aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti ibu dari anak²ku termasuk kamu ,satu lagi bukannya kamu sudah tau jika rif'at mencintai Amanda " ucap Raymond tegas
" kau harus sadar , awalnya kamu hadir karena apa ?? jadi jangan menghakimi istri ku seolah dia wanita yang mau menjual tubuhnya demi harta kau ingat itu, bahkan dia tidak pernah meminta uangku kau bisa tanya pada Reza " ucap Raymond menatap tajam Queen
" jika kamu tidak suka dia berada di sini silahkan ke luar dari rumah ini " lanjutnya lagi
Elvi mengelus punggung Adara yang sudah terisak sambil meremas ujung bajunya
" Queen duduk " ujar Henry dingin
" lalu apa yang akan kau lakukan " tanya Henry setelah lama terdiam
" aku akan tinggal bersamanya !! jika di rumah ini dia tidak di terima kami akan tinggal di apartemen " ujar Raymond dingin
" kami akan pikirkan " ujar Raymond
" tapi bermalam lah untuk malam ini " Raymond mengaguk
" bawa istri mu ke kamar , biarkan dia istirahat dulu " Raymond mengaguk
" ayo " Raymond membantu Adara berdiri
" maaf " ujar Adara menunduk kepalanya
" sudah tidak papa nak, istirahat lah jangan memikirkan papa iya " Adara mengaguk
setelah itu Raymond membawa Adara ke kamarnya yang terletak di lantai dua sedangkan Elvi mendekati Queen
PLak
" sayang / mommy " pekik Henry ,rif'at dan Reza
" apa mommy pernah mengajarkan kamu menilah seseorang dari tampilan nya hah ,apa mommy pernah mengajarkan kamu untuk kurang ajar pada orang " ucap Elvi menatap Queen
sedangkan Queen hanya bisa tertunduk sambil mengelus pipinya yang terasa panas
" hargai orang jika kamu ingin di hargai !! jangan karena kamu kaya jadi bisa berbuat sesukamu, ingat apa yang kamu dapat bukan milikmu, pikirkan jika posisinya itu adalah kamu " ucap Elvi
" sayang ....
' diam ,ini karena Daddy selalu mengikuti apa maunya " Elvi menatap tajam Henry
" Queen " rif'at memeluk adiknya itu dengan erat seketika tangisan Queen pecah
" jangan nangis nanti Kaka dengar " Queen hanya mengaguk dalam pelukan Rif'at
" tapi jangan mena
" apa Daddy tidak suka, saya menampar nya !! lalu bagaimana dia merendah kan orang segampang itu " bentak Elvi menatap henry
" ma-af mom hiks hiks " ucap Queen sesegukan
" apa yang kamu minta maafkan pada mommy ,apa Queen berbuat salah pada mommy " Queen menggeleng
"harusnya kamu bersyukur, saat mommy mengandung kalian opa dan Oma menerima kalian dengan baik,lalu kenapa kalian tidak bisa menerima istri nya Ray " Elvi menjeda ucapannya " apa Queen tau rasanya seperti apa, bahkan mommy dulu harus kuliah di rumah dan berhenti karena di luar sana banyak yang ....
" sayang sudah " Henry berdiri memeluk istrinya "Queen masuk kamar sebentar minta maaf lah pada kakakmu " Queen mengaguk
" Queen ke atas mom " pamit Queen pada Elvi
" katakan za " ucap Henry
" awalnya Kaka Ray di jebak dad, tapi untung ada nona Adara yang menolong nya ke luar dari tempat itu sedangkan Reza saat itu sedang menghadiri pesta undangan dari kolega bisnis, sedangkan kak Ray bertemu dengan pak Gunawan yang menjebaknya,saat sampai di apartemen Raymond malah menodai Nona adara karena pengaruh obat yang dia minum,
awalnya nona adara menolak dia tidak ingin menikah dan dia beranggapan kejadian malam itu hanya sebuah kesalahan atau kesialan baginya hingga akhirnya Kaka Ray mengancam nya akan akan membuat panti asuhan Kasih ibu rata dengan tanah karena Adara besar di sana dad " terang Reza tanpa ada di tutupi
" berarti saat Daddy ke perusahaan mereka sudah menikah " Reza mengaguk
" nona Adara tidak pernah mengeluh saat Amanda ke perusahaan dia hanya berdiri lalu ke ruangan sebelah untuk makan siang bersama rehan, dia selalu menolak saat Reza memesankan makanan karena dia membawa bekal kadang dia harus makan di kantin terkahir dia bekerja bulan lalu ,saat pacar mantan kekasihnya mengotori pikiran karyawan yang lain dan mengatakan Nona Adara wanita penggoda,****** dan yang lainnya sedangkan saat itu nona Adara sudah hamil dad " ujar Reza
" lalu di mana dia sekarang " tanya Elvi kesal
" dia berada di club xx mom, tapi anak buah kapal Ray sedang mengurusnya untuk membawa nya pergi karena mantan kekasih nona Adara selalu mengganggu nona Adara jadi kak Ray mengirim mereka jauh dari nona adara " Elvi mengelus dadanya lega
" kamu tau semuanya dan kamu tidak cerita pada kami " Reza menunduk kan kepalanya
" maaf kak, Reza bukannya tidak ingin tapi kaka Ray melarang ku " ujar Reza ,Henry membuang napas nya kasar lalu menyadarkan tubuhnya di sofa
" telepon papa mu ke sini sekarang juga ,dan bersihkan tubuh kalian " Reza dan rif'at mengaguk
" baik dad, kami ke atas mom " Elvi mengaguk
" kenapa menangis hm " tanya Henry lembut
" maaf " ujar Elvi, Henry mengelus punggung nya dengan lembut
" tidak papa ,Daddy paham kamu tidak ingin anak² merendah kan orang lain apa lagi sampai berbuat Kasar " elvi mengaguk
" sudah jangan menangis lagi, sekarang Ray sudah membawahkan wanita bahkan istrinya,dia juga sendang hamil cucumu " ucap Henry
" pasti dia berat buatnya dad " ujar Elvi
" maaf karena kesalahan Daddy !! berimbas pada Ray dan rif'at " ucap Henry
" tidak papa setidaknya kita sudah tau sekarang kita hanya akan menanyakan bagaimana selanjutnya " Henry mengaguk
" iya mom ,nanti kita hubungi Daddy dan mommy mereka harus pulang " Elvi mengaguk
" sudah jangan menangis nanti anak² lihat " Elvi menghapus air matanya