
Seminggu sudah hubungan Reza dan Raine semakin dingin bahkan bisa di bilang menjauh .
Selama itu pula Raine menyibukkan diri dengan pekerjaan nya di mana dia akan berangkat saat penghuni rumah belum sadar semuanya dan akan pulang saat sudah selesai makan malam .
Bukan Tanpa alasan dia melakukan semua itu agar keluarga nya bisa merasa tenang tanpa harus merasa canggung atau yang lainnya karena kehadiran nya .
Hubungan dengan Adrian pun tetap seperti itu hanya untuk bertemu sudah tidak lagi hanya sesekali menanyakan kabar satu sama lain tidak ada lagi obrolan tentang hubungan Reza dengan Raine atau semacamnya .
Raine membuka matanya secara perlahan karena sudah beberapa hari ini dia merasakan pusing tapi sebisa mungkin dia tetap bekerja, mengingat dia bekerja di perusahaan papi Jeje dan dia tidak ingin mengecewakan mereka sekalipun ada Ela juga yang masih bekerja.
Seperti saat ini dia memaksa kan dirinya sekalipun kepalanya terasa berat dan akan kembali berputar jika dirinya berdiri .
Tok ....tok .....
" Masuk "
Ceklek
" Non baik² saja " Raine menggaguk kepalanya
" Tapi non ....."
" Apa jadwalku Ndang " Tanya Riane memotong ucapan sekertaris nya .
" Jam 10 ada rapat dengan perwakilan devisi tentang projek yang akan di luncurkan,jam 3 ada pertemuan dengan klien dari luar negeri hanya pertemuan biasa " Ujar Endang .
" Makasih " Jawabnya lirih sambil memegang kepalanya yang terasa berat .
" Apa saya panggil kan dokter non ? Sudah beberapa hari ini nona Raine terlihat pucat " Riane menggeleng.
" Aku baik² saja Endang " Jawabnya ,tapi Endang tidak bisa percaya begitu saja .
Mengingat belakangan ini Riane bekerja sangat memaksakan dirinya,kerjaan yang bisa saja di lakukan untuk besok pagi .
Dia akan melakukan hari ini dan seterusnya nya seperti itu .
" Endang "
" Iya non " Jawab Endang mendekat .
" Tolong belikan Obat sakit kepala atau mungkin penambah darah terserah " Ujar Raine .
" Apa tidak sebaiknya panggil dokter saja non, saya takut nanti salah obat " Jawab Endang .
" Aku hanya sakit kepala biasa Ndang ,mungkin karena kurang istirahat " Jawab Raine.
" Tolong bantu aku ke kamar siapa tahu bisa enakan setelah istirahat sebentar " Lanjutnya lagi .
Endang langsung mendekat sambil memegang memegang lengan dan pinggang Raine .
Raine memegang kepala nya yang terasa semakin berat ,bahkan dia melihat semua ruangan berputar membuat langkahnya terhenti hingga akhirnya penglihatan nya buram .
" Nona Raine " Pekik Endang sambil menahan tubuh Riane dan ikut meluruhkan ke lantai .
Endang menatap sekeliling nya tapi tidak ada yang bisa di minta bantuan .
Hingga akhirnya ada seorang OB wanita yang bertugas khusus di lantai itu .
"Bu tolong bantu " OB pun langsung masuk ke dalam membantu Endang memindah kan Riane ke dalam kamar .
" Makasih Bu " Jawab Endang .
Setelah itu Endang menelpon siapa saja yang bisa langsung ke sini tidak lupa juga dia menelpon dokter keluarga Riane.
"Apa yang harus aku lakukan " Gumam Endang sambil berlalu lalang di ruangan itu .
Dia mendadak menjadi orang yang paling bodoh sedunia karena melihat bosnya pingsan .
Sedangkan di perusahaan Reza yang baru saja ke luar dari ruangan meeting di buat kaget saat melihat panggilan dari Endang .
" Kenapa " Reza menggeleng lalu kembali menelpon Endang karena tidak mungkin wanita itu menelpon sebanyak itu jika tidak ada hal penting .
" Ken....."
" Tuan , Nona Raine pingsan saya tidak tahu ...."
" Saya akan ke sana " Jawab Reza langsung mematikan sambungan telepon nya .
" Kenapa " Tanya Raymond saat melihat wajah panik Reza .
" Raine pingsan saya harus ke sana tuan " Jawab Reza
" Kita pergi bersama " Kedua orang itu pun langsung berlari ke arah lift menuju loby .
Raymond pun menelepon anak buahnya untuk menyiapkan mobil .
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Sesampainya di perusahan reza dan Raymond langsung menuju ruangan Riane dengan langkah yang besar .
Sehingga membuat para karyawan bertanya² tentang kehadiran dua pria yang sangat di takuti di dunia bisnis itu apa lagi sebelum itu mereka melihat ke empat pria yang memang masih terlihat tampan dan gagah di usia mereka yang terlihat panik .
Saat sampai di ruangan itu ternyata sudah ada Henry ,Jose, Alan, dan jeje entahlah sejak kapan mereka berada di ruangan itu .
Yang jelas saat mendengar kabar Raine pingsan mereka langsung menuju perusahaan itu .
" Sayang " Panggil Reza langsung duduk di samping tempat tidur sambil memegang tangan Raine .
" Kemana ayah " Tanya Raymond menatap sekeliling nya .
" Aku di sini " Jawabnya dengan sedikit gugup apa lagi sorot mata Henry sudah siap membawa nya bertemu tuhan .
" Bisa ayah periksa " Reza mengaguk lalu sedikit menjauh.
" Riane akan baik² saja "Jose dapat melihat rasa takut,dan khawatir dari mata anaknya .
Reza hanya mengangguk saja tapi jujur dari dalam hatinya di takut ,karena belakangan ini hubungannya dan Riane semakin menjauh sekalipun dia merindukan wanita itu .
Davin berulang kali memeriksa Raine dan berharap apa yang akan dia ucapkan nanti tidak salah .
Karena dia sudah sering mendapatkan keadaan seperti ini tapi mengingat hubungan Reza dan Riane .
Membuatnya kembali memeriksa wanita itu hingga akhirnya nya dia menatap Reza dengan lekat .
" Katakan sesuatu bodoh " Bentak Henry yang memang sudah kesal .
" Berikan ini agar bos mu sadar " Endang pun menurut karena sejak tadi dia berada di ruangan itu .
" Raine hamil "
DUAR
Reza memundurkan langkahnya hingga Jose dan Alan menahan tubuh pria tinggi itu .
" Ayah jangan bercanda ini tidak lucu " Ujar Raymond menatap dingin Davin .
" Ayah serius son, Jika kalian tidak percaya dengan hasilnya kalian bisa meminta Alister atau Amanda atau dokter yang lainnya " Ujar Davin dengan helaan napas .
" Bawa pria itu ke sini " Ujar Henry dingin dan datar .
Jeje pun langsung ke luar dari ruangan itu tanpa mengucap kan papa .
" Hen kendalikan dirimu, Riane Tidak mungkin melakukan hal bodoh semacam itu !! Bisa saja saat mereka berhubungan dengan Reza dia lupa meminum obatnya dan saat itu dia lagi masa subur ,jangan gegabah Hen " Peringat Davin.
" Banyak orang yang kebobolan dengan pil Hen jangan ...."
" Adara memakai pil bahkan ini sudah sebulan lebih tapi dia tidak hamil " Potong Henry cepat.
" Semua orang tidak sama Hen " Jawab Davin yang masih berdebat dengan Henry .
" Jika bukan anak pria itu laku anak siapa ?? Sedangkan dia dan Reza menikah belum sebelum Vin " Bentak Henry emosi .
Sedangkan di ujung ruangan di kursi sofa Reza sedang menunduk kan kepalanya tangannya sudah terkepal kuat bahkan kini tangannya sudah putih .
" Jangan menarik kesimpulan yang belum tentu benar son " Jose mencoba menenangkan anaknya .
" Tapi apa yang terlihat selama ini tidak menuntut kemungkinan Pa " Jawab Reza dengan amarah yang siap meledak .
" Bukannya ayah mu sudah menjelaskan bisa saja Riane lupa minum obatnya " Reza menggeleng " Tidak Ayah, Bahkan setelah menikah aku belum menyentuh Riane sedikit pun lebih tepatnya saat pria itu mencium pipinya dan terkahir kami berhubungan saat aku kembali dari luar kota " Jawab Reza karena memang itu yang dia tahu .
Jose dan Alan saling melirik mereka juga bingung harus mengatakan apa .
Sedangkan di sisi lain Henry dan Davin terus berdebat hingga akhirnya perdebatan itu terhenti saat mendengar suara dari arah tempat tidur .
" Nona Riane " Raine memegang kepala nya yang terasa pusing lalu kembali membuka matanya .
Betapa kagetnya saat melihat semua orang berada di ruangan itu terlebih ada Reza dan juga Raymond .
" Baring saja nak " Ujar Davin lembut saat melihat Riane bangun .
" Riane kenapa ayah " Tanya Raine mencoba bangun sehingga Endang membantunya .
Davin menatap Henry lalu bergantian menatap yang lainnya .
" Anak siapa itu " Davin memejamkan matanya kuat tak kalah suara itu ke luar dari mulut Henry .
" Ma-ksud Daddy " Tanya Riane terbata .
" Kau hamil dan ayahmu sudah memeriksa nya !! Anak siapa itu " Bentak Henry .
Riane menatap Reza yang hanya terdiam bahkan pria itu mengepalkan tangannya .
Tidak berselang lama pintu ruangan itu terbuka ,alangkah kagetnya saat melihat siapa yang masuk .
Adrian Batin Riane .
Bugh .
" Henry ,Daddy " Pekik mereka bersamaan .
" Kau apa kan anakku bajingan " Teriak Henry memenuhi ruangan itu .
Adrian memegang ujung bibirnya yang terluka lalu menatap Henry yang siap membunuh nya .
" Maksud tuan apa " Tanya Adrian yang memang tidak tahu papa .
" Daddy sudah Ken...."
" Kau ingin membelah nya Hah ,kenapa kau takut jika Daddy membunuh nya " Bentak Henry lagi.
" Tapi Riane dan Adrian ....."
" Raine hamil " Adrian melotot kan matanya lalu menatap Raine yang sudah menangis .
" Kenapa kau kaget !! " Adrian menatap sekeliling nya hingga berhenti di sebuh sofa .
" Kalian bisa menikah, aku akan mengurus surat perceraian kami " Ujar reza tiba² membuat Riane semakin menangis .
" Apa tuan mengira Riane hamil anakku ?? " Tebak Adrian.
" Maaf jika saya Lancang " Adrian dengan berani menatap Henry " Saya memang dekat dengan anak tuan ,tapi saya tidak pernah menyentuh nya lebih dari sekedar pelukan dan memang saya pernah mencium Raine tapi hanya di pipi tidak lebih , Jika tuan masih ragu tuan bisa melakukan tes DNA saya yakin orang sekaya dan penguasa seperti anda bisa melakukan apa pun !! Jika memang terbukti itu anak saya ,dengan senang hati aku akan membawa Riane ke luar dari rumah yang mewah itu tapi tidak ada kehangatan di dalam nya ..."
" tolong dengarkan saya setelah itu saya akan mendengar kan tuan bicara " Lanjutnya saat melihat Henry akan kembali bersuara .
"Sekalipun dia bukan anakku , saya akan membawanya jika memang kalian tidak menginginkan nya . Kami sudah Tidak perna bertemu lagi ,terkahir kami bertemu saat di restoran dan di sana juga ada tuan Reza dan tuan muda Raymond dan saat itu kami hanya saling berpamitan setelah itu kami tidak pernah ketemu sekalipun sesekali hanya bertukar pesan hanya menanyakan kabar satu sama lain , Dan di sini saya jelaskan dengan baik ! Bahwa saya dan anak tuan tidak memiliki hubungan apa pun seperti yang di pikiran tuan semua apa lagi sampai melakukan hal sekotor itu ,saya memang mencintai anak tuan tapi saya tidak akan melakukan hal menjijikan itu untuk mendapatkannya !! apa lagi saya tahu siapa pria yang dia cintai yang kini sudah menjadi suaminya " Tekan Adrian .
" Kalau begitu saya pamit , Raine selamat " Adrian Tersenyum lembut pada Riane lalu ke luar dari ruangan itu .
Tanpa mempedulikan orang-orang yang berada di ruangan itu,Masa bodoh jika nantinya akan berakibat pada pekerjaan nya.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
*Dukung terus Raymond dan Adara
Reza dan Raine
like
koment*
*vote
jangan lupa hadiah bunganya dan bintang 🌟🌟🌟🌟*