
Lylia memperhatikan dari sebelahnya dengan senyum lembut. Dia kemudian berpikir sejenak sebelum ide nakal melintas di benaknya.
"Arya, angkat kedua tanganmu."
Lylia tiba-tiba berkata demikian, membuat Arya terkejut, berhenti menulis dan menoleh ke samping.
"Ada apa? Kenapa aku harus mengangkat kedua tanganku?"
"Lakukan saja, itu tidak sulit, kan?" Lylia cemberut.
Arya tersenyum masam melihat kekasihnya ini cemberut ketika permintaan kecilnya tidak dipenuhi. Meski bingung, Arya mengangkat kedua tangannya seperti yang diminta Lylia.
Mata Lylia berbinar melihatnya. Dia tersenyum nakal, lalu pindah duduk ke pangkuan Arya, bersandar di dadanya.
Arya terkejut dan wajahnya segera memerah. Jantungnya segera berdetak kencang bagai genderang perang.
Lylia, yang duduk di pangkuannya menggerakkan pinggulnya sedikit, mencari posisi yang nyaman.
Arya, sebagai pria normal yang sehat, jelas bereaksi ketika Lylia menggerakkan pinggulnya yang bulat itu. Ini membuatnya memiliki pikiran kotor.
Menggelengkan kepalanya, Arya berusaha menyingkirkan pikiran kotornya itu.
"Akhirnya, aku bisa duduk di pangkuanmu, Arya. Aku sudah lama ingin melakukan ini." Lylia terkekeh dengan rona merah di wajahnya.
"Ugh, Lylia. Bisakah kita mengubah posisi kita? Aku kesulitan belajar, tahu?"
"Tapi aku sudah terlanjur nyaman."
Lylia yang bersandar di dadanya itu menepuk pipi Arya dengan tangannya yang lembut.
Arya semakin memerah dengan ini. Dia benar-benar kewalahan jika gadis ini sudah bertindak agresif seperti ini.
Menghela napas tanpa daya, Arya melanjutkan menulis di bukunya dan mencoba fokus.
Lylia yang berada di pangkuan Arya diam pada awalnya, bersenandung dengan irama menyenangkan. Namun perlahan, ekspresinya terlihat bosan. Dia kemudian mengulurkan tangannya, meraih tangan Arya yang sibuk menulis. Dia menghentikan gerakan Arya.
"Lylia, ada apa?"
"Aku... Aku mau peluk..."
Lylia berkata dengan pelan. Dia kemudian berbalik, melingkari tangannya di leher Arya sementara kakinya mengunci pinggang Arya. Posisi pelukan mereka sekarang merupakan pelukan koala.
Arya terkejut dan semakin kewalahan.
Lylia yang melingkari leher dan mengunci pinggangnya ini memeluknya dengan erat, membuat Arya bisa merasakan dua buah gunung kembarnya menempel erat di dadanya.
Lylia tidak menyadari ini, jadi dia tidak bereaksi banyak, hanya mempererat pelukannya.
"Arya, peluk aku juga. Tidak adil rasanya jika hanya aku yang memelukmu."
Arya terdiam, keringat menetes dari pipinya. Dia kemudian dengan kaku melingkari pinggang Lylia dengan tangannya.
Lylia terkekeh, sangat bahagia dengan pelukan yang dia lakukan bersama Arya.
Setelah hampir sepuluh menit berpelukan, Arya melepaskan tangannya dan berkata dengan kaku.
"Lylia, sudah, oke? Kita sudah berpelukan selama sepuluh menit..."
"Eh? Apakah benar? Tidak, ini lebih cepat dari kemarin, ini belum sepuluh menit!"
Lylia mengangkat kepalanya dan menatap Arya sejenak sebelum membenamkan wajahnya ke dadanya, mengusapkan dahinya berulang kali sambil mengeluh karena kekurangan asupan pelukan.
Lylia tidak akan melepaskan pelukannya sebelum sepuluh menit.
Arya tidak tahu harus menangis atau tertawa. Di satu sisi, dia bahagia karena memiliki kekasih perhatian dan lembut seperti Lylia. Tapi si sisi lain, dia kewalahan dengan keagresifan gadis ini.
Ketika genap sepuluh menit, Lylia akhirnya mengendurkan pelukannya dan tersenyum lebar. Wajahnya terlihat cerah, seakan baterai kehidupannya telah diisi ulang.
Arya menghela napas lega dengan ini. Dia kemudian tersenyum pada Lylia.
"Oke, sekarang sudah sepuluh menit. Jadi, bisakah kamu minggir, Lylia?"
"Eh? Apakah aku mengatakan jika sudah sepuluh menit aku akan minggir dari pangkuanmu? Aku hanya mengatakan akan melepaskan pelukanku jika sudah sepuluh menit, yang artinya aku tidak perlu minggir, kan?" Lylia membalas, tersenyum nakal.
Lylia tersenyum manis lalu meletakkan kepalanya di pundak Arya. Dia dengan lembut berbisik, mengucapkan kata-kata manis dan penuh cinta pada Arya.
Arya merinding saat suara lembut namun menggoda Lylia masuk ke telinganya. Dia bisa merasakan napas hangat Lylia bertiup dengan agak cepat. Ini membuatnya memanas dan merah hingga telinga.
Lylia tidak berhenti, terus berbisik. Napasnya perlahan memburu, wajahnya memerah dan matanya menunjukkan kenakalan yang menyenangkan.
Lylia mengangkat kepalanya, menatap Arya.
Keduanya saling menatap dengan wajah memerah. Napas Lylia memburu ketika dia menghembuskan napas hangat.
Arya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata Lylia. Matanya yang indah itu menunjukkan sikap nakalnya, yang bisa memikatnya ke dalam kebahagiaan tanpa batas.
"Arya..."
"Lylia..."
Saling menggumamkan nama, Arya dan Lylia perlahan mendekatkan wajah mereka, saling memiringkan kepala dan bibir mereka hampir bersentuhan.
"Arya, jika kau mencari Kakek, Kakek ada di tempat tetangga untuk bermain catur...!"
Ketika kedua bibir hampir bersatu, suara derit pintu yang diikuti suara Erwin terdengar, membuat sepasang kekasih yang hendak berciuman itu segera memisahkan diri dengan panik.
"Kakek, jangan lihat!"
Arya reflek meraih bukunya, melemparnya ke arah pintu dan mengenai wajah Erwin.
Erwin terkejut ketika sesaat setelah dia membuka pintu kamar cucunya, dia disambut oleh sebuah buku yang melayang ke wajahnya.
Erwin terhuyung ke belakang satu langkah. Dia meraih buku di wajahnya, berkedut keras di sudut matanya.
"Arya, apa maksudmu?"
"Sudah kubilang, jangan lihat!"
Arya mengabaikan Erwin, meleparkan pena miliknya dan mengenai dahi Erwin
Erwin berdecak kesal. Wajahnya sedikit memerah karena marah. Di dahinya, terlihat sebuah titik hitam, jelas tinta dari pena yang Arya lemparkan tadi.
"Kau... Apakah kau sudah bosan tidur di kamarmu?"
"Kek, pergilah bermain catur! Jangan lihat ke dalam!"
Arya berteriak, melemparkan tas miliknya, membuat Erwin mengutuk cucunya yang kurang ajar ini.
Mendengus kesal, Erwin meraih tas Arya dan membuangnya ke samping sebelum dia pergi bermain catur dengan tetangganya.
Kembali pada Arya, dia terengah-engah ketika wajahnya berkeringat dingin.
Baru saja, dia melemparkan tiga benda pada kakeknya.
Dia melakukan ini bukan tanpa alasan. Saat ini posisinya dengan Lylia sama sekali tidak nyaman untuk dilihat oleh Erwin. Lylia sedang mengunci pinggangnya ketika gadis ini duduk di pangkuannya. Mereka juga saling berhadapan. Jika Erwin melihat ini, apa yang akan dipikirkannya?
Arya jelas tahu jika Erwin melihatnya seperti ini, dia pasti akan dimarahi habis-habisan.
Juga, Arya tidak ingin kakeknya melihat kekasihnya, yang sangat cantik ini, sedang bermesraan dengannya.
Adapun Lylia, dia benar-benar merah bagai tomat rebus saat ini. Kepalanya mengeluarkan asap dan jantungnya berdebar begitu kencang. Dia dan Arya baru saja ingin melangkah untuk memperdalam keintiman mereka dalam hubungan pasangan kekasih, tapi Erwin tiba-tiba datang, membuat mereka gagal untuk semakin intim.
"Baiklah, Lylia. Minggir dulu dari pangkuanku, atau kakek bisa saja datang dan memergoki kita."
Arya berkata, membelai pipi Lylia sebentar.
Lylia secara alami menurut dan pindah, duduk di sebelah Arya, menundukkan kepalanya dengan malu. Tidak hanya dia baru saja hampir ketahuan akan berciuman dengan Arya, tapi dia juga merasa jika dirinya agak berlebihan. Dia tidak tahu mengapa, tapi dirinya benar-benar ingin berciuman dengan Arya.
Mungkin karena Arya adalah pria yang dia cintai, makanya dia mau melakukan apapun dengannya.
Arya di sisi lain mengalihkan pandangannya sejenak dari Lylia sebelum menatapya lagi. Matanya menunjukkan sedikit kecewa dan tidak percaya.
Apa yang membuatnya kecewa adalah dia gagal berciuman dengan Lylia. Adapun yang membuatnya tidak percaya adalah dirinya yang akan berciuman dengan gadis secantik Lylia. Dia tidak pernah membayangkan jika dirinya bisa berciuman dengan Lylia.
'Kakek, kau benar-benar datang di waktu yang salah. Jika kau datang sedikit lebih lambat, aku pasti sudah sangat bahagia sekarang!' Arya menggerutu dalam hatinya.