
"Pertanyaan Mama hanya satu dan kamu harus menjawab ini dengan jujur."
Rosa berkata, menatap Lucy dengan serius. Dia menghela napas.pelan sebelum melanjutkan.
"Dari mana Arya mendapatkan uang? Setiap bulan, dia selalu mengirimkan setidaknya tiga puluh juta dan itu hampir setiap bulan. Bahkan dua minggu setelah itu, dia menambahkan lima belas juta, bahkan lebih. Saat aku tanya, dia selalu menjawab kalau uang itu dari Vicky. Aku sangat tahu kepribadian Vicky itu seperti apa, jadi tidak mungkin dia mau memberikan uang sebanyak itu secara cuma-cuma. Terlebih lagi kondisi Vicky saat ini tidak baik, jadi tidak mungkin mantan suamiku yang memberikannya. Tolong jawab dengan jujur, Lucy. Jangan coba-coba membohongiku, atau kalian berdua tidak aku restui saat akan menikah nanti." Nada Rosa penuh penekanan di akhir.
Lucy terkejut mendengar pertanyaan sang mama. Dia mengerutkan dahinya saat ekspresi berpikir muncul di wajahnya. Ini adalah pertanyaan yang selalu dia hindari selama berkunjung dan bertemu Rosa.
Memutar otaknya dengan keras, Lucy berusaha mencari alasan sebagus mungkin. Dia tidak ingin membongkar rahasia Arya kepada ibunya, karena kekasihnya itu sendiri ingin merahasiakannya karena dia ingin memberikan kejutan pada sang ibu.
Setelah diam dan berpikir cukup lama, Lucy menghela napas pada akhirnya. Dia tidak menemukan alasan yang bagus untuk diberikan, jadi dia lebih memilih jujur daripada berbohong.
"Mama, aku akan memberi tahu Mama tentang dari mana Arya mendapat uang begitu banyak. Tapi, berjanjilah jika Mama akan merahasiakan ini dari Arya!"
Lucy serius, jadi Rosa membalas dengan anggukan penuh keyakinan.
"Baiklah, aku akan ceritakan semuanya. Setahun yang lalu, saat itu Maret. Arya, aku dan beberapa teman lainnya sedang mengobrol bersama sampai Arya tiba-tiba bilang kalau dia ingin membuka bisnisnya untuk mencari uang. Dia meminta saran dan akhirnya kita setuju untuk membuat toko roti karena kebetulan teman Arya ada yang pandai membuat roti. Setelah satu bulan pembukaan toko, kami sangat kewalahan karena tokonya sangat ramai. Lalu, seiring berjalannya waktu, Arya memiliki uang lebih dan dia membuka tiga cabang tambahan. Jadi, total Arya memiliki empat cabang toko roti saat ini. Toko rotinya sendiri dia beri nama Arcy gabungan namaku dan nama Arya. Salah satu cabangnya juga ada di kota ini."
Lucy menjelaskan dengan serius, namun wajahnya menunjukkan kebahagiaan dan rasa bangga.
Rosa yang mendengar Lucy tidak bisa untuk tidak terkejut. Dia merasa kalau cerita Lucy hanya karangan semata, agar dirinya percaya. Namun, setelah dipikir dengan tenang, dia akhirnya percaya.
Terlebih lagi dirinya juga pernah datang dan membeli roti dari toko roti Arcy, membuatnya semakin yakin dengan cerita Lucy. Namun, apa yang membuatnya sangat terkejut adalah ternyata toko roti yang pernah dia kunjungi ternyata adalah milik putranya tercinta.
Dia tidak tahu sejak kapan, tapi sepertinya Arya telah menjadi pengusaha muda yang sukses.
"Jadi, maksudmu Arya punya empat cabang toko roti? Benarkah itu? Sejak kapan anak itu pandai berbisnis?" Rosa benar-benar terguncang dengan informasi yang baru saja dia dapatkan.
Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan dan perasaan tidak nyaman memenuhi hatinya. Rasanya sakit, bagai ditusuk ribuan jarum.
"Ya, Ma. Penghasilan Arya juga lumayan banyak setiap bulannya, makanya dia bisa mengirimkan uang sebanyak itu pada Mama setiap bulannya. Arya juga bilang jika uang yang dia kirimkan kurang, jadi dia terkadang mengirimkan lebih. Ma, Arya sangat sayang pada Mama. Dia tidak ingin Mama bekerja lagi, makanya dia berusaha membuka bisnisnya, agar bisa mencarikan uang untuk Mama. Arya tahu perjuangan Mama di saat sulit dulu, karena mantan suami Mama, Vicky, tidak bertanggung jawab." Lucy berkata, sedikit terisak.
Rosa terdiam, semakin terkejut. Rasa sakit di dadanya semakin menguat. Dia tidak tahu jika selama dia berpisah dari putranya selama beberapa tahun terakhir, putranya berusaha keras mencari uang untuk dirinya. Dia merasa tidak berguna di titik ini.
Tanpa Rosa sadari, air mata menetes dari matanya yang indah. Perasaan bahagia sekaligus sedih memenuhi hatinya. Dia bahagia karena putranya sukses dengan bisnisnya, tapi dia juga sedih karena membiarkan putranya berjuang seorang diri tanpa bantuannya.
Menyeka air matanya, Rosa meminta Lucy meniggalkannya sejenak agar dia menenangkan diri dan mengolah informasi yang dia dapat.
Lucy secara alami menurut dan meninggalkannya.
Kembali pada Rosa, dia menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan fakta jika dia menangis.
"Rosa, lihatlah putramu. Dia sudah dewasa tanpa kamu sadari. Dulu kamu memarahinya karena dia ingin tinggal dengan kakeknya dan sekarang? Dia telah kembali setelah sekian lama dan ketika dia kembali, dia sudah menjadi orang sukses. Sejak kapan dia menjadi begitu mandiri? Sejak kapan dia menjadi begitu dewasa? Sejak kapan dia sudah tidak membutuhkan bantuanku lagi? Suatu hari nanti, apakah dia akan meninggalkanku dan hidup bersama keluarganya sendiri?"
Dia juga ingat jelas jika dia pernah mengatakan hal yang sangat buruk pada Arya.
"Kamu sama saja seperti ayahmu! Lebih memilih meninggalkanku dan tidak memedulikanku sama sekali!" Setidaknya itu yang dia ucapkan pada saat bertengkar dengan Arya, hampir tiga tahun yang lalu.
Ini yang menyebabkan Rosa sangat menyesal. Dia pikir, setelah mengatakan hal yang begitu buruk pada Arya, putranya itu akan jadi membencinya dan tidak akan pernah kembali padanya. Namun, siapa yang sangka jika Arya tetap kembali padanya bahkan kembali setelah menjadi orang sukses?
Ini membuatnya merasa sangat bersalah. Bahkan sampai sekarang, Rosa belum sempat meminta maaf atas apa yang dia katakan saat itu.
"Rosa, kamu harus minta maaf pada putramu. Jangan sampai kamu menyesal lagi." Rosa bergumam.
Melihat sang anak sudah begitu dewasa dan mandiri, seakan sudah tidak membutuhkan bantuannya lagi, membuat hatinya sakit, sangat sakit.
Dia bisa membayangkan jika suatu saat nanti, Arya dan Andhika menikah dan hidup bersama istri dan anaknya, dia tentu merasa bahagia namun setelah itu dia akan berpikir, setelah ini aku akan hidup bersama siapa?
Anak-anakku telah menikah semua dan tinggal aku seorang diri di sini. Siapa yang akan menemaniku?
Siapa yang akan memakan masakanku? Siapa yang akan tertawa bersamaku?
Dengan pemikiran seperti itu, Rosa menangis dalam diam. Hatinya terasa sakit saat dia membayangkan hidup sendiri tanpa seorangpun di sisinya.
.
.
.
.
.
Jujur saja, waktu menulis chapter ini, saya menangis saat menulis bagian Rosa merenung dan menangis itu.
Saat menulis bagian Rosa merenung itu, saya jadi ikut merenung juga tentang banyak hal.
Banyak hal yang terlintas di benak saya setelah chapter ini dibuat, terutama tentang ibu saya. Ibu adalah sosok pahlawan bagi saya. Jadi sebisa mungkin saya membahagiakannya meski hanya dengan hal kecil dan sepele.
Saya gak tau harus bilang apa lagi tentang sosok seorang ibu, karna jasanya begitu besar bagi saya.
Intinya... Love u Mom♥️