
Di dalam kamarnya, Lucy duduk di tepi kasurnya dan terus-menerus bergumam, mengutuk Arya karena kekasihnya ini pergi mencari hadiah ulang tahunnya bersama wanita lain. Parahnya lagi, Arya terlihat mesra dengan wanita tersebut.
Setelah selesai mengutuk, Lucy menghembuskan napas ringan dan perasaannya mulai membaik. Dia kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ruang TV untuk melihat Arya dan Nia.
Namun, ketika dia melihat Arya dan Nia, Lucy tidak bisa menahan kedutan. Dia melihat di depan matanya, Nia berbaring di pangkuan Arya dan tertidur dengan nyaman. Bahkan Arya mengelus kepalanya dengan santai.
Kemarahan Lucy yang sudah hilang segera kembali dan dia mengutuk Nia dengan keras dalam hatinya.
Menenangkan dirinya, Lucy mendekati keduanya dan duduk di sebelah Arya, di sisi lain dari tempat Nia berbaring.
"Apakah menyenangkan bermesraan dengan wanita lain dan sekarang dengan Nia? Arya, apakah begini sikapmu ketika kamu tidak bersamaku?"
Nada dingin Lucy terdengar.
Arya merinding mendengarnya, tapi dia segera menggelengkan kepalanya.
"Lucy, kita hampir bersama setiap saat, jadi bagaimana mungkin aku pergi bersama wanita lain? Jangan mengada-ngada, Ratuku."
"Huh, lalu siapa wanita yang kamu ajak mencari hadiah ulang tahunku minggu lalu? Jangan katakan padaku jika kalung yang kamu belikan ini adalah pilihan dari wanita itu!"
Lucy meraih kalung semanggi berdaun empatnya dan mengarahkannya ke depan, menunjukkannya pada Arya.
Arya terdiam. Apa yang dikatakan Lucy benar. Dia memilih kalung semanggi berdaun empat atas saran dari Yuki.
"Ratuku, dengarkan penjelasanku lebih dulu. Aku mencari hadiah ulang tahunmu bersama dengan Helen dan Nia. Awalnya aku hanya bersama mereka berdua, tapi aku tiba-tiba bertemu dengan Tante Yuki. Dia adalah ibu dari Niko. Ratuku, kamu ingat Niko, kan?"
"Aku bukan anak berusia tiga tahun, tahu? Jadi, jangan berbohong padaku! Katakan yang sebenarnya!"
"Aku sudah mengatakan apa yang harus kukatakan. Percaya atau tidak, semua terserah padamu."
Arya sedikit kesal. Dia sudah mengatakan hal yang sama sejak siang tadi, tapi Lucy sepenuhnya tidak mempercayainya.
Lucy mengerutkan dahinya dan merenung sejenak. Dia kemudian menghela napas panjang dan bersandar pada Arya.
"Baiklah, aku percaya padamu."
Lucy menggembungkan pipinya, ekspresinya cemberut.
Arya tertawa kecil dengan ini. Dia kemudian menatap Nia yang tertidur dan menyentuh pipinya dan menyolek pipi Nia.
"Nia, dia ini benar-benar menyebalkan, ya? Dia selalu datang setelah pulang sekolah dan tidak membiarkan kita berduaan sebentar saja." Kata Arya dengan senyum tipis.
"Huh, aku tidak masalah jika dia datang menggangu. Yang jadi masalah adalah, sampai kapan kamu mau membiarkannya berbaring di pangkuanmu? Apakah kamu begitu menikmatinya?"
"Oh, apakah kamu cemburu, Lucy?"
"Ya, aku cemburu!"
Lucy tanpa ragu mengatakan diri memang cemburu. Sejak siang tadi, ketika dia mendapat foto Arya dan Yuki saling menyuapi, dia marah dan kesal pada Arya sehingga mengabaikannya untuk waktu yang cukup lama. Sekarang, setelah mereka berbaikan, dia jelas ingin bermesraan dengan Arya, tapi Arya sendiri malah menyibukkan diri dengan Nia, membuatnya kesal, marah dan cemburu.
Arya terkekeh dengan ini. Dia segera mengelus kepala Lucy, membujuknya.
Lucy membiarkannya dan dia menutup matanya saat ekspresi nyaman muncul di wajahnya yang merona.
Arya mengelus kepalanya cukup lama, sampai dia tiba-tiba berhenti dan menyentuh kepala bagian belakang Lucy dan menariknya.
Mata Lucy melebar saat dia tiba-tiba dicium oleh Arya, tapi dia segera membalas ciuman itu. Keduanya bertukar ciuman ringan pada awalnya, namun karena sikap nakal Arya, keduanya memainkan lidah mereka.
Mata Nia langsung melebar dan dia segera menutup kembali matanya. Dia jelas melihat Arya dan Lucy sedang menyatukan bibir mereka dengan mesra.
Wajah Nia seketika merah padam. Jantungnya berdebar kencang dan dia tidak bisa untuk menjerit dalam hatinya.
'Kak Arya dan Kak Lucy... Mereka benar-benar ciuman? Di saat seperti ini?! Di saat aku ada di sini?! Ya ampun, apa yang harus kulakukan sekarang?! Jika aku bangun, bagaimana jika mereka malah marah karena aku menggangu waktu mereka?! Jika aku tidak bangun... Ah! Aku tidak kuat mendengar suara ini!'
Nia kebingungan. Dia ingin bangun, tapi ragu. Namun, jika dia tidak membuka matanya, maka dia hanya akan mendengar suara decakan lidah Arya dan Lucy yang sangat intim. Dia tidak tahan dengan suara semacam ini.
Menarik bibirnya, jembatan air liur terbentuk di antara bibir Arya dan Lucy, menunjukkan betapa intensnya mereka berciuman.
"Ish, kenapa kamu melakukannya sekarang? Bagaimana jika Nia terbangun?" Lucy memerah ketika dia memukul ringan dada Arya.
'Maaf, Kak Lucy. Tapi, aku sudah bangun sejak tadi!' Nia tersenyum masam dalam hatinya.
"Siapa yang peduli? Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena terus-menerus menggangu kemesraan kita."
Arya terkekeh, membuat Lucy agak kesal namun dia tidak mengatakan apapun.
Arya kemudian meminta Lucy untuk mengambilkan bantal agar dia bisa memindahkan kepala Nia dari pangkuannya.
Lucy segera mengambilnya dan memberikannya pada Arya.
Pemuda itu lalu memindahkan kepala Nia dari pangkuannya ke bantal dengan perlahan. Setelah itu, dia menggendong Lucy ala tuan putri dan membawanya ke kamar. Ini hampir jam sepuluh, jadi sudah waktunya tidur.
Setelah keduanya benar-benar pergi, Nia segera membuka matanya dan duduk. Dia meletakkan tangannya di dadanya, hanya untuk merasakan bahwa jantungnya berdebar sangat kencang, bahkan wajahnya terasa panas dan asap mulai mengepul keluar dari kepalanya.
"Nia, kenapa wajahmu sangat merah?"
"Kyaaaa!!!"
Nia langsung menjerit dengan suara aneh saat sebuah suara terdengar dari samping. Dia segera menoleh dan melihat David berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Apakah kamu demam?" Tanya David.
"Ti-tidak, aku tidak demam. Hanya saja..."
Nia tidak melanjutkan ucapannya. Dia menggelengkan kepalanya ketika bayangan Arya dan Lucy yang sedang ciuman melintas di benaknya.
David kebingungan dengan Nia. Dia segera memiliki ekspresi berpikir dan menghela napas setelah itu.
"Kamu melihatnya, kan?"
"Ti-tidak! Aku tidak melihat apapun!" Nia melambaikan kedua tangannya dengan panik.
"Oh, ayolah. Reaksimu sangat berlebihan, jadi kau jelas melihatnya. Tenang saja, bukan hanya kamu yang pernah melihatnya. Aku juga pernah melihat mereka seperti itu."
Nada David terdengar kesal.
'Jika Kak David pernah melihatnya, jadi Kak Arya dan Kak Lucy pernah melakukannya lebih dari satu kali, kan?' Nia berpikir, hanya membuat wajahnya semakin panas dan merah.
"Kak, apakah mereka berdua sering melakukannya? Mak-maksudku... Itu... Ci-ciuman itu....?"
"Ya, mereka sering melakukannya. Tidak, mereka melakukannya setiap hari. Setiap pagi dan setiap malam. Itu pun yang tidak sengaja aku lihat. Jika aku tidak ada di rumah, mungkin mereka melakukannya berkali-kali dalam sehari."
Nia terdiam.