Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 127 - Bertemu Mama



Kembali pada Arya, dia melihat ke kiri dan kanan, sebelum matanya berhenti, menatap seorang wanita cantik.


Wanita tersebut membeku melihat Arya. Matanya gemetar dan berkaca-kaca.


Dengan cepat, wanita tersebut menjatuhkan diri ke dalam pelukan Arya dan memeluknya dengan erat, terisak.


Arya tersenyum lembut dan membalas pelukan sang ibu tercinta.


"Aku pulang, Ma." Nada Arya selembut sutra, lebih lembut daripada saat berbicara pada Lucy.


Rosa yang masih dalam kehangatan pelukan Arya itu terisak beberapa kali, sebelum melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putranya.


"Kapan kamu sampai, Nak?"


"Aku baru saja sampai, Ma. Bagaimana kabar Mama?"


"Kabar Mama baik, Nak. Bagaimana denganmu? Kamu sudah makan?"


"Aku baik, Ma. Aku belum makan, aku merindukan masakan Mama."


"Oh, ya ampun, kamu seharusnya mengabari jika akan pulang, jadi Mama bisa masak untukmu. Mama tidak masak hari ini."


"Tidak apa, Ma. Aku bisa menunggu. Oh, ya ngomong-ngomong Lucy juga ikut. Dia merindukan Mama juga."


"Oh, benarkah? Di mana dia?"


Rosa tersenyum lembut ketika mendengar nama Lucy disebutkan. Baginya, Lucy sudah seperti anak sendiri.


Arya kemudian memanggil Lucy, yang masih terjebak dalam pelukan Andhika.


Menemui Rosa, Lucy sangat bersemangat dengan mata penuh kebahagiaan.


"Mama!" Teriaknya, memeluk Rosa dengan erat.


"Lucy, kemari anakku."


Rosa mengusap punggung Lucy, memeluknya dengan erat.


"Mama, aku merindukanmu."


"Mama juga merindukanmu, Lucy."


Lucy terisak dalam pelukan Rosa.


Sudah sangat lama sejak terakhir kali dia merasakan kehangatan pelukan seorang ibu, karena ibunya sendiri telah meninggal saat dia tahun ketiga SMP.


Melihat keduanya berpelukan erat, Arya tersenyum hangat.


Menoleh pada Andhika yang tidak jauh dari sana, Arya menarik tangan adiknya itu dan mengajaknya menjauh.


"Andhika, ada yang ingin aku katakan padamu."


"Apa itu, Kak?" Tanya Andhika penasaran.


"Dengar, Kak Lucy sebenarnya sudah punya pacar, tahu? Aku tahu kamu menyukai Kak Lucy sejak dulu, tapi sepertinya kamu harus melupakannya. Dia sudah punya pacar, Andhika."


Arya menepuk pundak Andhika, membuat ekspresi kesakitan ketika dia menjahili adiknya.


Andhika terdiam mendengarnya. Dia benar-benar terkejut.


'Kak Lucy punya pacar? A-apakah itu benar?! Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin!' Andhika merasa sakit pada hatinya.


"Kak, apakah Kak Lucy benar-benar sudah punya pacar?" Suara Andhika gemetar.


"Um, itu benar, Andhika. Pacarnya sangat tampan dan kaya. Bahkan wajahmu kalah tampan, Andhika."


Arya mengangguk serius. Dia tidak berbohong, Lucy memang sudah punya pacar, hanya saja dia tidak mengatakan pada Andhika jika dirinya adalah pacarnya.


Andhika terdiam kembali, tubuhnya gemetar ketika dia tiba-tiba berteriak sambil menangis dengan kencang.


"Mama, Kak Lucy sudah punya pacar!!!"


****


Rumah Rosa bukanlah rumah yang mewah, namun rumah tersebut nyaman dan aman. Rumah tersebut memiliki dua kamar, ruang keluarga yang berada di tengah serta halaman yang cukup luas untuk memarkirkan sebuah mobil.


Terlebih lagi, Rosa memang memiliki mobil, yang merupakan peninggalan dari sang ibunda tercinta atau dengan kata lain nenek Arya. Mobil tersebut sudah cukup tua, tapi masih terlihat terawat dengan baik dan layak pakai.


Rosa sendiri merupakan wanita yang cantik. Tubuhnya masih terjaga dan beberapa bagian tubuhnya masihlah kencang seperti gadis muda. Dan yang paling penting adalah auranya. Aura keibuannya sangatlah kental. Wajahnya tidak hanya cantik, namun juga lembut dan menenangkan.


Arya tidak tahu bagaimana cara ibunya ini menjaga wajah serta tubuhnya, namun dia senang karena memiliki ibu yang awet muda dan cantik jelita seperti Rosa.


Adapun Andhika, dia merupakan adik Arya dan usianya saat ini empat belas tahun. Wajahnya lebih tampan dari kakaknya dan saat di sekolah, dia cukup populer di kalangan gadis seusianya.


Namun, Andhika sama sekali tidak tertarik pada gadis-gadis di sekitarnya, karena pada dasarnya dia sudah jatuh hati pada Lucy sejak usianya tujuh tahun.


Oleh karena itu, saat mendengar jika Lucy sudah memiliki kekasih, Andhika sangat sedih, seakan hatinya dihancurkan berkeping-keping.


Dia menangis dengan kencang, berlari pada sang ibu tercinta dan mengadu padanya jika Lucy sebenarnya sudah memiliki kekasih.


Rosa dan Lucy yang tengah melepas rindu dengan saling berpelukam itu terkejut mendengar tangisan Andhika.


Mereka segera melepaskan diri, menatap Andhika yang menangis.


"Andhika, kamu kenapa, Nak? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" Tanya Rosa cemas.


"Kak Lucy... Kak Lucy..." Andhika terisak, membuat suaranya tidak jelas.


"Kak Lucy kenapa?" Rosa bingung.


"Kak Lucy sudah punya pacar! Aku tidak terima ini! Kak Lucy, katakan padaku jika kamu tidak punya pacar!"


Andhika menoleh pada Lucy yang terkejut itu. Gadis itu kemudian menatap Arya yang tidak jauh darinya.


Arya menunjukkan senyum nakal, meletakkan jarinya di bibirnya.


Lucy segera mengangguk mengerti.


"Ya, Andhika. Aku sudah punya pacar. Maaf mengecewakanmu, tapi aku lebih menyukai pacarku yang sekarang daripada dirimu."


Kata-kata Lucy membuat Andhika terguncang, membuatnya mundur dua langkah dan dia segera menjadi lemas.


Rosa yang masih kebingungan itu menatap Arya, lalu Lucy sebelum tersenyum. Dia mengerti sekarang. Baik Arya dan Lucy sedang menjahili Andhika, di mana "pacar" yang dimaksud Lucy merupakan putra tertuanya, Arya.


Menghela napas pelan, Rosa memeluk Andhika dan ikut menjahilinya.


"Jangan menangis, Andhika. Jika Lucy sudah punya pacar, maka kamu harus merelakannya. Kamu harus mencari wanita lain, Nak." Rosa menahan tawa.


Setelah menangis selama hampir sepuluh menit, Rosa yang tidak tahan dengan tangisan Andhika mengatakan jika sebenarnya dia dan Lucy beserta Arya hanya menjahilinya.


Andhika yang mengetahui jika dirinya dikerjai menjadi kesal, memukuli dada Arya berkali-kali. Menangis begitu lama di depan Lucy benar-benar memalukan baginya.


"Kak Lucy milikku!" Andhika berkata, melotot pada Arya.


Arya hanya mengangkat bahunya, mengabaikannya. Bagaimanapun, Lucy adalah kekasihnya dan miliknya seorang. Dia hanya belum memberitahu Andhika tentang hubungannya dengan Lucy.


"Andhika, ayo pergi jalan-jalan."


"Jalan-jalan? Ke mana?" Andhika mendengus, masih tidak senang karena dikerjai.


"Sudah, ikut saja."


Arya tersenyum penuh makna, menarik tangan Andhika dan mengajaknya pergi jalan-jalan. Tidak lupa, dia berpamitan pada Rosa.


Ketika Arya dan Andhika pergi, Rosa bersama Lucy tengah mengobrol bersama di ruang keluarga.


"Bagaimana kabarmu dan David? Kamu semua sehat, kan?"


"Kami sehat, Ma. Kakak juga sudah mulai bekerja hampir dua tahun ini. Dia benar-benar bekerja keras."


"Oh, benarkah? Bagus dia bekerja keras. Aku senang mendengarnya, dia sudah bisa menjadi suami yang baik."


"Kakak belum punya pasangan, Ma. Dia itu terlalu keras kepala dan hanya bekerja terus. Dia lupa mencari kekasihnya." Lucy menghela napas.


"Ya ampun, anak itu benar-benar. Ngomong-ngomong, Lucy. Jika David bekerja, siapa yang menemanimu di rumah? David kerja kantoran, benar? Jika dia lembur, bukankah kamu akan sendirian di rumah?"


"Itu... Arya yang menemani..."


Lucy menundukkan kepalanya, memerah karena malu. Dia terkejut mendapat pertanyaan semacam itu.


"Begitu, ya? Apakah Arya merepotkanmu selama di sana, Lucy? Arya pernah bilang jika dia terkadang menginap di rumahmu."


"Arya tidak merepotkan, kok, Ma. Justru aku senang dia sering berkunjung ke rumah."


Lucy tersenyum manis, merasa bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama Arya setiap harinya.


Rosa yang melihat itu tersenyum. Dia merasa tenang jika putranya memiliki Lucy yang merawatnya selama dia tidak di sisinya.