
"Maaf, Lylia..."
Arya meminta maaf, pasrah.
Lylia memasang ekspresi tidak senang. Dia tiba-tiba membuka kedua tangannya, melompat ke pelukan Arya dengan kekuatan penuh.
Arya terkejut dan segera menerima pelukannya. Namun, karena Lylia melompat sepenuh tenaga, dia jadi kehilangan keseimbangannya dan keduanya terjatuh ke atas ranjang.
Keduanya dalam posisi kurang nyaman saat ini, karena Arya terbaring di kasur dengan Lylia memeluknya di atas tubuhnya.
Lylia memeluk Arya dengan sangat erat, tidak mau melepaskan pelukannya. Dia bahkan menghirup aroma tubuh Arya dengan dalam, meski Arya belum mandi pagi ini.
Arya terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia benar-benar kewalahan, karena Lylia berada di atas tubuhnya yang terbaring itu.
Menghela napas pelan, Arya mengelus kepala Lylia.
Lylia merasakan kehangatan di kepalanya. Dia mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat memerah.
"Arya, aku punya permintaan dan kamu harus mengabulkannya."
"Baiklah, katakan saja dan akan aku kabulkan Lylia."
"Aku mau menginap di sini, boleh?"
Lylia berkata menatap Arya dengan matanya yang lembab dan gemetar, seakan jika Arya menolak dia akan menangis.
Arya terdiam dan menatap gadis dipelukannya dengan linglung, sebelum akhirnya berkata.
"Menginap di rumahku? Apakah kamu diizinkan oleh orang tuamu?"
"Aku akan mencoba membujuk mereka, jadi seharusnya itu bukan masalah besar."
"Baiklah... Kalau begitu, aku mengizinkanmu menginap di sini. Tapi, aku tidak tahu apa yang akan dikatakan kakek jika dia mendengarmu akan menginap."
"Tidak masalah, aku yakin kakekmu pasti mengizinkannya." Kata Lylia penuh keyakinan.
Arya tersenyum mendengar ini, dia lalu mengangguk dan mengelus kepala Lylia lagi.
Dan dengan begitu, Lylia mendapat izin dari Arya untuk menginap. Adapun Erwin, dia memberikan kakek Arya itu segepok uang, menyuapnya agar dia diizinkan menginap.
*****
Pada malam harinya, setelah jam makan malam selesai, Lylia datang ke rumah Arya dengan membawa tas yang penuh dengan pakaian miliknya. Gadis itu tersenyum lebar dengan tatapan berbinar, penuh semangat.
Menyambut Lylia, Arya tersenyum lembut padanya.
"Di mana kakek?"
Lylia bertanya ketika dia tidak melihat Erwin.
"Ah, Kakek tiba-tiba pergi berlibur. Dia bilang dia mendapat uang dan ingin mendaki gunung. Kakek bilang dia tidak akan pulang sekitar tiga hari paling lama."
Arya menjelaskan, menghela napas karena kakeknya tiba-tiba meninggalkannya pergi berlibur.
Lylia agak terkejut, tapi dia segera mengangguk mengerti.
Sebelumnya, Lylia tidak mendapat izin untuk menginap dari Erwin. Oleh karena itu, dia menyuap Erwin menggunakan segepok uang dan sepertinya, Erwin menggunakan uang darinya untuk berlibur.
Lylia sangat bahagia karena Erwin pergi tiga hari, menyisakan dia dan Arya berdua saja di rumah.
"Baguslah kalau begitu. Karena kakek pergi, kita bisa berduaan selama tiga hari ini tanpa ada yang menganggu, kan?"
Lylia tersenyum nakal, membuat Arya tidak tahu harus menangis atau tertawa. Dia agak menyalahkan Erwin karena meninggalkannya. Bagaimanapun, Lylia akan menjadi agresif jika hanya ada mereka berdua.
Karena itu, Arya takut jika Lylia bersikap agresif, dia tidak tahu apakah bisa menahan diri atau tidak.
Setelah beberapa jam, Arya dan Lylia yang mengobrol dengan asik di dalam kamar itu tiba-tiba terkejut ketika melihat jam. Saat ini, jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.
"Ya ampun, kita sepertinya terlalu asik mengobrol, ya?" Lylia terkekeh.
"Sepertinya begitu. Jadi... Mau tidur sekarang?"
Arya bertanya dengan wajah memerah. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
Lylia mengangguk penuh semangat.
Arya kemudian merapikan kasurnya sedikit. Karena Lylia akan menginap, dia mengganti spreinya dan menggunakan pengharum ruangan yang sangat banyak tadi. Bagaimanapun, dia adalah pria dan jarang memperhatikan kamarnya. Tapi karena Lylia datang, dia memperhatikan segalanya.
Arya tersenyum masam dengan ini, namun dia tidak mempermasalahkannya.
Terkekeh, Lylia tersenyum manis, membuat Arya diabetes hingga ke tulang.
"Arya, ayo berbaring di sini. Aku sudah mengantuk, tahu?"
Arya terpesona dengan senyum manis Lylia. Dia menatapnya lama sebelum mendapat kesadarannya setelah mendengar ucapan Lylia.
Dengan ragu, Arya masuk ke dalam selimut dan berbaring di sebelah Lylia.
Kasur milik Arya sebenarnya tidak terlalu besar dan hanya muat untuk satu orang. Namun, karena kini digunakan untuk dua orang, kasur itu menjadi sangat sempit. Jadi, Arya dan Lylia mau tak mau saling berhadapan agar kasur itu muat untuk dua orang.
Mata keduanya terkunci satu sama lain saat mereka berhadapan.
Keduanya sangat dekat, bahkan Arya bisa merasakan napas Lylia menari di sekitar wajahnya, membuatnya memerah. Terlebih lagi, dada bulat Lylia menyentuh dadanya.
Ini membuat Arya kewalahan.
Di sisi lain, Lylia merasa gugup. Wajahnya memerah dan dia merasa sangat bahagia karena Arya begitu dekat dengannya. Dia bisa merasakan aroma khas tubuh Arya yang selalu dia sukai hingga menjadi candu baginya.
Memeluk Arya, Lylia menariknya ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggung Arya.
Arya terkejut ketika dia merasakan dada Lylia menekan dadanya. Sensasinya benar-benar lembut dan hangat, membuatnya merasa melayang.
Menghilangkan pikiran kotornya, Arya balas memeluk Lylia.
Kedua terikat satu sama lain dalam diam. Mereka hanya menikmati kehangatan masing-masing.
Setelah beberapa saat, Lylia yang membenamkan wajahnya ke dada Arya tiba-tiba berubah jadi melankolis. Alisnya terkulai saat dia ingat jika dia belum memberitahu Arya tentang kepindahannya.
Mengangkat kepalanya, Lylia menatap Arya.
"Arya..." Panggilnya dengan lembut.
"Y-ya, Lylia? Ada apa?"
"Aku memiliki sesuatu yang harus kukatakan padamu. Tapi aku takut membuatmu marah. Bisakah kamu berjanji untuk tidak marah?"
Arya terkejut mendengarnya, namun dia segera tersenyum dan mengangguk.
"Katakan apapun itu, Lylia. Aku berjanji tidak akan marah."
"Benarkah?" Lylia ragu.
Arya menyakinkannya sekali lagi dan Lylia, yang sudah diyakinkan itu mengatakan pada Arya jika dia akan pindah ke Amerika Serikat dalam waktu satu bulan ini.
"Ayahku memiliki pekerjaan di sana, lebih tepatnya dia memiliki kerja sama dengan seseorang. Dia sudah tanda tangan surat kerja sama dan ternyata salah satu syarat kerja sama itu adalah harus pindah ke Amerika Serikat juga. Itu yang ayah dan ibuku katakan."
Lylia menjelaskan, tidak berani menatap Arya karena merasa bersalah.
Arya terdiam, menatap Lylia dengan ekspresi terkejut. Dia menggertakkan giginya.
"Benarkah itu? Benarkah kamu akan pindah bulan depan?"
Lylia mengangguk.
"Kenapa kamu harus pindah? Kenapa harus sekarang? Tidak bisakah kamu tinggal di sini, bersamaku?"
Arya merasakan sakit di dadanya. Dia tidak mengharapkan kepindahan tiba-tiba semacam ini. Terlebih lagi, kini perasaannya pada Lylia sudah berubah dan dia mencintainya dengan tulus.
"Lylia, kumohon padamu. Katakan semua ini hanya candaan. Aku tahu kamu marah karena kejadian tadi pagi, tapi jangan berbohong soal kepindahanmu untuk membuatku sedih. Kumohon padamu, Lylia."
Arya menatap Lylia. Semua rasa gugup dan mendebarkan yang dia rasakan hilang seketika. Dia hanya merasakan sakit dan patah hati saat ini.
"Aku tidak bercanda... Aku sebenarnya tidak mau ikut pindah, tapi orang tuaku memaksa, terutama ibuku."
Arya terdiam, ekspresinya menjadi suram.
Menarik kepala Lylia, Arya membenamkannya ke dadanya dengan erat.
"Arya...? Maafkan aku, aku seharusnya tidak mengatakan ini..."
"Cukup, Lylia. Cukup. Jangan katakan apapun lagi. Tidurlah, Sayang. Tidur, ini sudah malam."
Arya berkata, suaranya gemetar ketika dia tidak membiarkan Lylia mengangkat kepalanya untuk menatapnya. Dia benar-benar tidak ingin kekasihnya ini melihat wajah sedihnya.