Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 73 - Perubahan yang Merepotkan



Dua hari kemudian, setelah mengantar Lucy pulang ke rumahnya, Arya segera menuju ke tempat Niko untuk memenuhi undangan makan malam yang Niko sampaikan padanya dua hari yang lalu.


Arya sendiri sudah meminta izin pada Erwin, jika dia akan pergi ke tempat teman laki-lakinya. Erwin mengizinkannya setelah beberapa pertanyaan.


Selain itu, Erwin juga berpesan pada Arya jika dia harus kembali ke rumah sebelum jam sebelas malam. Jika lebih dari ini, maka dia tidak akan diizinkan masuk ke dalam rumah dan harus tidur di luar.


Setibanya di tempat Niko, Arya menekan bel dan tidak lama setelah itu dia disambut hangat oleh Yuki.


Yuki sepertinya baru saja selesai mandi, karena rambutnya masih agak basah dan wajahnya sedikit memerah karena uap. Dia terlihat segar dan lebih cantik meski tanpa make-up.


Melihat tatapan Yuki, Arya agak terkejut karena wanita ini benar-benar menatapnya dengan penuh cinta. Ini seperti apa yang dikatakan Niko.


Menggelengkan kepalanya, Arya menganggap bahwa tatapan cinta ini hanyalah tatapan cinta seorang ibu pada anaknya. Bagaimanapun, Yuki merupakan seseorang yang sudah memiliki seorang anak berusia delapan belas tahun, yang seusia dengannya.


Jadi, Arya menganggap jika tatapan Yuki adalah tatapan yang biasa dia tunjukkan pada Niko.


‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍"Kemari, masuklah."


Yuki tersenyum manis dan mengajak Arya masuk.


"Apakah kamu mau teh, atau kopi hitam?"


"Kopi hitam mungkin tidak buruk."


Arya mengangguk lalu duduk di sofa ruang keluarga.


Yuki kemudian pergi ke dapur, membuatkan kopi hitam seperti yang Arya minta tadi. Dia bersikap layaknya seorang istri yang menyambut pulang suaminya.


Di ruang keluarga, Arya duduk dan menatap Yuki yang bersenandung ringan di dapur. Dia menghela napas panjang sebelum menggelengkan kepalanya.


'Ini perasaanku saja, atau aku memang selalu diperlakukan dengan sangat baik di sini? Aku tahu aku sudah membantu Niko saat di bully dulu, tapi kenapa sikapnya harus begitu baik? Ini sudah berlebihan.'


Arya jelas menyadari sikap Yuki padanya.


Sikap Yuki padanya terlalu berlebihan baginya, apalagi dia terkadang diundang makan malam dan berakhir pulang larut, karena Yuki selalu menahannya ketika dia hendak pulang. Yuki juga sangat hangat dan lembut padanya.


Ini membuatnya khawatir, takut Niko salah paham.


"Ini, aku sudah menambahkan gula, jadi itu tidak akan terlalu pahit."


Ketika Arya termenung, Yuki sudah berada di dekatnya dan memberikannya kopi hitamnya.


Arya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum dan menyesap kopinya, merasa bahwa kopi itu agak terlalu manis.


Yuki kemudian duduk di sebelah Arya dan bersandar pada sofa.


"Arya, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"


"Kabarku baik. Bagaimana dengan Tante sendiri, apakah semuanya baik-baik saja?"


"Um... Ya, semuanya baik. Tapi, aku agak lelah karena harus bekerja dan mengurus rumah seorang diri. Aku berharap seseorang datang dan berbagi lelah bersamaku."


"Kalau begitu, Tante mungkin harus mencari seorang suami. Dengan begitu, Tante bisa berbagi rasa lelah." Kata Arya, dengan senyum tipis.


Yuki agak terkejut, tapi dia segera tersenyum manis dan bersandar pada pundak Arya.


"Kamu benar, tapi itu bukan hal yang bisa diputuskan dalam sekali atau dua kali pikir. Aku butuh banyak pertimbangan, apalagi Niko sudah besar. Dia pasti tidak akan menerima ayah barunya jika aku tidak membicarakannya lebih dulu dengannya."


Ekspresi Yuki tampak bermasalah. Namun, ketika merasakan kehangatan pundak Arya, ekspresinya berubah menjadi rileks dan nyaman.


Arya merasa agak kurang nyaman dengan Yuki bersandar padanya, namun dia tidak mengatakan apapun.


"Kalau begitu, Tante harus membicarakannya dengan Niko...!"


Sebelum Arya menyelesaikan kalimatnya, mulutnya tiba-tiba dibungkam oleh Yuki dengan jari telunjuknya. Ekspresinya cemberut dan agak marah.


"Kenapa kamu jadi membahas hal semacam ini? Kamu kuundang kemari untuk makan malam dan menonton film bersama, bukan membahas suami baru atau apapun itu!"


Arya terdiam. Dia terbawa suasana tadi.


"Maaf, aku tidak sengaja melakukannya."


"Hmph!"


Arya tersenyum masam dengan ini. Dia kemudian mengulurkan tangannya, hendak mengelus kepala Yuki seperti yang biasa dia lakukan pada Lucy ketika kekasihnya itu merajuk.


"Ibu, apakah Arya sudah datang...?"


Sebuah suara datang dari tangga, membuat Arya terkejut dan langsung menarik kembali tangannya dengan panik. Dia dengan jelas mengetahui suara siapa itu.


"Ya, dia sudah datang. Ini, Arya sudah bertemu dengan Ibu. Kembalilah ke kamarmu dan belajarlah."


Yuki tersenyum, namun matanya menatap tajam Niko.


Niko mengerutkan dahinya dengan tidak senang. Dia melotot pada Arya, seakan berkata, 'Jangan macam-macam ketika aku tidak ada, atau aku akan membunuhmu!' Arya merasakan hal semacam ini.


Setelah ragu-ragu, Niko kembali ke kamarnya.


Arya melirik Yuki sejenak lalu dia pergi menemui Niko sebentar. Dia yakin Niko melihat pergerakan tangannya tadi, jadi dia ingin menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Niko, apakah kau di dalam?"


Arya mengetuk pintu kamar Niko.


"Masuk, pintunya tidak dikunci."


Niko bahkan tidak membukakan pintu, hanya menjawab dari dalam.


Arya masuk dan menemukan Niko duduk di meja belajarnya, menatapnya dengan tajam.


"Apakah kau memiliki keperluan denganku, Arya?"


"Tidak banyak, hanya beberapa hal kecil."


"Oh, baiklah. Ngomong-ngomong, saat aku turun tadi, aku melihat tanganmu bergerak. Ke mana kau menggerakkan tanganmu?"


Niko bertanya dengan dingin.


Arya tersenyum masam dan menjawab dengan canggung.


"Aku tidak tahu...?"


"Haah... Lupakan. Sekarang, apakah kau percaya padaku jika ibuku menatapmu dengan penuh cinta?"


"Niko, berhenti mengatakan omong kosong! Ibumu menatapku dengan cara biasa, oke?"


"Biasa? Kau pasti salah lihat! Perhatikan baik-baik, tatapan ibuku sama seperti tatapan Lucy ketika menatapmu. Keduanya dipenuhi cinta!"


"Niko, tatapan ibumu jelas berbeda. Itu hanya tatapan cinta seorang ibu pada anaknya, mengerti?"


Arya menghela napas tanpa daya karena Niko begitu keras kepala. Dia memang melihat sedikit jejak cinta dalam tatapan Yuki, tapi dia yakin dia hanya salah lihat.


Niko menggertakkan giginya, merasa marah pada Arya tapi dia tidak bisa melakukan apapun.


"Arya, sebenarnya apa yang kau lakukan pada ibuku sehingga dia menatapmu seperti itu?"


"Aku tidak melakukan apapun, paham?"


Arya agak kesal karena terus-menerus dituduh melakukan sesuatu pada Yuki. Pada kenyataannya, dia tidak melakukan apapun pada ibu Niko ini. Dia hanya sesekali diundang makan malam dan bertukar beberapa kata, lalu semuanya selesai.


Arya juga merasa aneh dan bingung dengan perubahan sikap Yuki ini.


Pada awalnya, sikap Yuki pada Arya biasa saja, dengan keramahannya dan kelembutannya.


Pertemuan pertamanya dengan Yuki adalah ketika Arya memberitahu fakta jika Niko dibully oleh Roy dan teman-temannya.


Yuki sangat terkejut dengan ini.


Tapi, setelah mengetahui bahwa Arya selalu membela Niko saat dibully, Yuki berterima kasih padanya.


Pada titik ini, sikap Yuki masih seperti biasa sampai akhirnya, perlahan-lahan sikapnya berubah dan menjadi seperti sekarang.


Arya tidak tahu mengapa, tapi yang jelas, perubahan ini merepotkannya.