Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 160 - Melawan Para Penculik



Setelah itu, Arya dan Luois menyusun rencana sebelum menuju pelabuhan untuk menyelamatkan Lucy dan Putri Inggris.


Arya dan Luois berjalan perlahan, bahkan suara langkah kaki mereka hampir tidak terdengar. Mereka mengendap-endap melalui kontainer yang ada.


Ketika melihat dua orang yang sedang berjaga-jaga, Arya dan Luois bersembunyi di balik kontainer dan saling memandang. Mereka mengangguk dan segera maju ke arah dua orang tersebut dan langsung menyerang.


Keduanya mencekik masing-masing orang.


Luois mencekik targetnya hingga pingsan sementara Arya mencekik dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengambil belatinya dan menusuk dada targetnya, membunuhnya tanpa ragu.


Louis terkejut melihat Arya menbunuh. Dia tidak menyangka jika pemuda ini memiliki keberanian untuk membunuh. Bahkan dalam matanya, Luois bisa melihat jika Arya tidak berkedip dan tidak menyesal.


"Kau! Apa yang sebenarnya yang kau pikirkan?! Kenapa kau membunuhnya?!"


"Huh, peduli setan. Sudah kukatakan, berani menculik wanitaku sama saja dengan mencari kematian! Aku hanya memenuhi kata-kataku!"


Luois terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Dilihatnya, Arya masih muda namun melihatnya mampu membunuh tanpa ragu, Luois ragu jika Arya semuda yang dia lihat.


Menghela napas pasrah, Luois berkata.


"Arya, kau telah membunuh maka kau harus membersihkan mayatnya dan menghilangkan jejak sebaik mungkin. Jika kau terkena masalah, jangan libatkan aku dan negaraku!"


Arya mengangguk sungguh-sungguh. Dia sudah menjadi seorang pembunuh selama tiga tahun lamanya, jadi membersihkan mayat dan menghilangkan jejak pembunuhannya merupakan hal biasa baginya.


Setelah itu, Arya dan Luois kembali menyusuri pelabuhan dan bersembunyi dibalik kontainer setiap mereka bertemu para penculik. Selama satu jam, mereka berdua setidaknya telah menghabiskan lebih dari selusin penculik.


Luois membuat pingsan para targetnya, sementara Arya membunuh mereka semua.


Luois kembali dibuat terkejut melihat kekejaman Arya ketika pemuda itu membunuh setiap targetnya. Dia sepertinya begitu ahli dalam membunuh, karena setiap musuhnya pasti kebanyakan mati dalam satu tusukan di bagian jantung.


"Serang! Bunuh mereka, mereka hanya berdua! Jangan biarkan mereka kabur!"


Tiba-tiba, ketika Arya dan Luois sedang mengendap-endap melalui kontainer, suara seseorang berteriak terdengar. Suara itu tampak memperingati yang lain.


"Sial, kita ketahuan!" Luois mendecakkan lidahnya.


Arya acuh tak acuh melihat ini.


Hanya dalam waktu sekejap, Arya dan Luois dikepung selusin pria dewasa. Mereka semua membawa belati.


Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, Arya dan Luois saling memunggungi dan berjaga-jaga.


Arya mengencangkan pegangannya pada kedua belatinya da memasang ekspresi serius. Dia mengencangkan kuda-kudanya, bersiap menyerang jika pihak lain menyerang.


Luois juga demikian. Dia mengeluarkan pistol revolver-nya dari balik pakaiannya dan segera mengarahkannya pada lawannya.


Selusin orang itu terkejut melihat pistol revolver miliknya. Mereka semua mengerutkan dahi dan tubuh mereke menegang. Jika lawan memiliki pistol revolver, bagaimana mereka melawannya memakai belati?


Namun, pistol revolver pasti memiliki keterbatasan peluru, jadi ini membuat mereka agak menghela napas.


"Aku urus enam orang, kau urus enam orang juga. Jangan buang tenagamu jika kau tidak bisa membunuh mereka, cukup lukai dan kabur!"


Luois mengingatkan Arya, berbisik dan pemuda itu segera mengangguk.


Arya menghembuskan napas ringan, menghentakkan kakinya dan maju melawan enam orang di hadapannya. Meski agak mustahil, selama dia berusaha, dia pasti bisa menbunuh salah satu dari mereka.


"Huh, hanya seorang bocah! Ini akan mudah!"


Seseeorang maju dengan gagah berani, tersenyum mengejek ketika melihat Arya maju tanpa takut. Bocah sepertinya, dia sudah pernah membunuh banyak.


Pria yang maju melawan itu mengencangkan pegangannya pada belatinya dan bersiap menghadapi Arya.


Namun apa yang terjadi selanjutnya mengejutkannya.


Arya tiba-tiba berlari lebih cepat, bergerak secara zig-zag dan membingungkannya. Pemuda itu tiba-tiba sudah ada di hadapannya, menyerangnya menggunakan belatinya.


Arya menebas perut pria itu, lalu menusuk bahunya dengan belati lainnya dan mencabutnya, segera menebas leher pria tersebut dengan cepat.


Lima orang yang melihat itu terkejut, tidak menyangka jika Arya begitu lihai dan cepat. Pemuda ini ternyata berpengalaman, berbeda dari tampilan luarnya.


"Maju, aku tidak punya waktu meladeni kalian satu per satu, jadi datang saja semua!"


Arya berkata dengan dingin, menatap tajam lima orang tersebut. Matanya menunjukkan niat membunuh yang tidak bisa ditampung.


Lima orang tersebut saling memandang, lalu mengangguk bersamaan dan maju lima sekaligus seperti permintaan Arya. Mereka tidak ragu dan tidak malu menghadapi seorang pemuda berlima.


Ketika lima orang itu mengarah padanya, Arya mundur dengan cepat dan mengeluarkan pistol revolver yang Luois berikan padanya. Dia mengarahkannya pada lima orang tersebut, menarik pelatuknya dan menembak secara acak.


Dia belum pernah memakai pistol revolver seperti ini sebelumnya, jadi dia agak terkejut ketika merasakan recoil dari pistol revolver ketika menembakkan pelurunya, membuatnya agak meleset dari target yang dia incar.


Selain itu, karena ini adalah pertama kalinya Arya menggunakan pistol revolver, dia menembak sebanyak empat kali secara acak.


Lima orang tersebut terkejut dan membeku ketika melihat Arya mengeluarkan pistol revolver. Mereka menyebar, namun itu terlambat. Dua dari mereka gagal menghindar dan berakhir tertembak di kaki dan pinggang.


Dua orang tersebut terjatuh, berguling-guling sambil mengerang begitu keras.


Kembali pada Arya, dia kini hanya perlu melawan tiga orang, meringankan bebannya. Dia segera berlari ke salah seorang yang baru saja menghindari pistol revolver-nya.


Arya mengerahkan tebasan namun serangan ditangkis oleh pihak lawan. Dia berdecak kesal karena ini.


Perlahan, tebasan demi tebasan dilayangkan oleh Arya dan lawannya. Mereka saling menyerang dan menangkis di saat bersamaan.


Namun, Arya unggul karena dia memiliki dua belati sementara lawannya hanya satu. Dia berhasil memberikan luka sayatan di tangan dan pinggang lawannya. Meski luka yang dia berikan tidak dalam, tapi itu melambatkan serangan lawan sehingga dia bisa memojokkan lawannya.


"Mati kau, bocah!"


Suara seseorang datang dari belakang.


Arya terkejut dan menoleh ke belakang, melihat dua orang yang sedari tadi menonton kini mulai menyerangnya.


Arya segera menendang, mendaratkan tendangannya ke salah seorang, sementara satu orang lagi berhasil melukainya di bagian pinggang dengan belati.


Arya mengerang kesakitan saat rasa perih dan menyakitkan menyerang pinggangnya.


Darah mengalir dengan cepat. Wajah Arya pucat dan napasnya berat.


"Tamat riwayatmu!" Teriak orang yang ditendang Arya, mengangkat belatinya dan hendak menusuk Arya.


Namun tiba-tiba, suara tembakan terdengar dan dua orang yang menyerang Arya dari belakang berteriak terkejut dan kesakitan saat kepala mereka tertembak.


Hanya dalam sekejap, dua orang tersebut jatuh mati dengan bunyi gedebuk.


Arya terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah suara tembakan, melihat jika Luois yang menembak dua orang ini.


Arya mengangguk, berterima kasih dan mengalihkan pandangannya ke arah orang yang dia lawan tadi, hanya untuk melihat jika orang yang dia tebas dia bagian tangan dan pinggang itu telah melarikan diri.


Arya menghela napas panjang dan segera menyentuh lukanya, mengerang teredam saat dia kesakitan. Darahnya mengalir deras dan sepertinya itu adalah luka yang cukup dalam.


"Kau baik-baik saja?" Luois bertanya.


Sesaat setelah dia selesai melawan enam orang, dia segera membantu Arya. Namun itu agak terlambat, karena Arya sudah tertusuk di bagian pinggang. Ini membuatnya agak bersalah.


"Aku cukup baik. Ini hanya luka ringan."


Arya mengangguk pelan, dia kemudian berjalan ke arah dua orang yang telah mati itu, merobek pakaian keduanya dan menggunakan pakaian yang telah dia robek itu untuk membalut lukanya agar dia tak kehilangan banyak darah.


Setelah selesai membalut lukanya, Arya menatap Luois.


"Kita harus cepat. Ada satu orang kabur, dia pasti melaporkan kejadian ini pada teman-temannya. Kita juga telah membuat keributan, jadi pasti ada beberapa orang yang mendengarnya dan segera kemari." Arya serius.


Louis mengangguk dan kemudian, keduanya menyusuri pelabuhan lagi dan mencari pusat para korban penculikan ditahan.