
Tersenyum menggoda, Rosa bertanya dengan nada lembut.
"Jadi, sudah sampai mana hubunganmu dengan Arya? Kalian adalah pasangan kekasih, jadi tidak mungkin kalian hanya berpelukan atau berpegang tangan saja, kan? Pasti kalian sudah lebih dari itu. Ayo, ceritakan pada Mama. Mama cukup penasaran, lho."
Lucy tertegun, menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah merah padamnya. Ditanyai seperti itu oleh ibu dari kekasihnya membuatnya terdiam seribu bahasa.
Senyum Rosa semakin lebar. Dia sepertinya menyadari sesuatu.
'Jadi, kalian sudah sangat jauh, ya?' Rosa berpikir dalam hati, merasa agak kurang nyaman.
"Sepertinya tebakanku benar. Kalian sudah pernah ciuman?"
Lucy seketika tersedak napasnya sendiri, sangat terkejut dengan pertanyaan tidak senonoh dari Rosa.
Rosa tertawa kecil melihat reaksi Lucy.
Dia sangat menikmati reaksi terkejut dan malu-malu dari Lucy. Bukan hanya Lucy, tapi Arya juga terkadang menjadi korbannya.
"Aku... Aku belum pernah ci-ciuman, Ma..."
Lucy berusaha berbohong, takut Rosa akan marah jika tahu kebenarannya.
Rosa hanya diam dan menatap Lucy dengan tatapan tertarik. Sebagai seorang ibu, dia bisa mengetahui anaknya tengah berbohong padanya hanya dari tatapannya.
Lucy yang ditatap Rosa mau tak mau semakin memerah dan merasa tidak nyaman.
"Ba-baiklah! Mama menang! Aku sudah pernah ciuman dengan Arya..."
Lucy pasrah. Dia tahu kepribadian mama jika tidak mendapat jawaban memuaskan, maka tidak akan berhenti menatapnya.
"Nah, jujur lebih baik. Jadi, siapa yang memulai lebih dulu? Itu Arya, kan?"
"I-iya... Itu Arya, Ma."
"Baik, Mama mengerti."
"Tu-tunggu, Mama! Bukankah itu seharusnya menjadi privasiku dan Arya?! Kenapa Mama selalu penasaran tentang hubungan kami?! Kami sudah besar, Ma!"
"Yah, mau bagaimana lagi~? Habisnya kamu dan Arya sangat imut jika sedang malu-malu~. Mama jadi tidak tahan untuk menggoda kalian~."
Lucy terdiam.
*****
Pada saat yang sama, Arya dan Andhika tiba di pusat perbelanjaan terbesar di kota Bern.
Pusat perbelanjaan ini begitu besar dan megah. Mulai dari toko pakaian, restoran, bioskop, game center dan masih banyak lagi menjadi satu di sebuah gedung.
Andhika berdecak kagum melihat bangunan lima belas lantai di hadapannya. Dia tidak menyangka jika kakaknya akan mengajaknya datang kemari.
"Kak, kenapa kita ke sini? Kita tidak akan berbelanja, kan?"
"Ya, kita kemari karena kita akan berbelanja habis-habisan."
"Tu-tunggu! Bukankah di sini barang-barangnya sangat mahal?! Bagaimana Kakak akan membayarnya? Juga, daripada digunakan untuk berbelanja yang tidak berguna, lebih baik uangnya ditabung!"
"Huh, jangan khawatir. Aku memiliki uang yang sangat banyak di rekeningku." Arya mengangkat dagunya, bangga.
"Kak, jika ingin berbohong ada batasannya. Aku bukan anak berusia tiga tahun yang dengan bodohnya percaya ucapanmu, tahu?" Andhika berkedut.
"Heh, kamu terlalu meremehkan kakakmu, Andhika!"
Arya mengeluarkan dompetnya, menyeringai lebar ketika dia membuka dompetnya yang penuh uang. Bahkah dompetnya terlihat tidak muat untuk menampung semua uang milik Arya.
Andhika terdiam, matanya melebar hingga hampir keluar rongganya. Dia dengan cepat menggosok matanya berkali-kali, takut dia salah lihat.
Namun, tidak peduli berapa kali dia menggosok matanya, matanya tidak membohonginya. Dia hanya menatap Arya dengan tidak percaya.
Arya terkekeh, sangat menikmati reaksi Andhika.
"Ayo, kita masuk."
Arya menarik paksa tangan Andhika yang masih linglung itu.
"Andhika, handphonemu bagaimana? Masih bagus?"
"Eh? Ha-handphoneku? Sudah agak lemot dan baterainya cepat habis, Kak."
"Oh, begitu. Ayo kita beli yang baru."
"Ya, apakah ada masalah?"
Andhika diam, menurut pada kakaknya.
Masuk ke dalam pusat perbelanjaan, Arya mengajak Andhika ke lantai dua di mana handphone dan alat elektronik lainnya dijual. Di sana dia membeli handphone baru untuk Andhika dan Rosa. Dia membeli yang paling bagus dan paling mahal tanpa ragu.
Andhika terkejut melihat kakaknya mengeluarkan uang belasan juta hanya untuk dua buah handphone.
Ketika berkeliling, Andhika menarik tangan Arya pelan, membuatnya berhenti di jalurnya.
"Ada apa, Andhika?"
"Kak, ayo pulang saja. Sudah cukup membeli handphone saja."
"Kenapa? Apakah ada masalah?"
"Tidak, hanya saja, bukankah uang yang Kakak pakai untuk membeli handphone tadi lebih baik ditabung? Aku sebenarnya tidak memerlukan yang baru, jadi Kakak tidak perlu repot-repot membelikan yang baru." Andhika berkata dengan cemas. Dia takut Arya kehabisan uang.
Selain itu, Andhika merasa bersalah. Dia memang memiliki banyak keinginan yang belum terpenuhi, namun dia tidak pernah meminta permintaannya agar dipenuhi. Dia lebih memilih mengurungkan keinginannya.
Semua itu terjadi karena buruknya kondisi ekonomi keluarganya.
Hal ini membuat Andhika jadi selalu mengurungkan keinginannya. Dia juga merasa tidak enak hati jika harus meminta pada Rosa karena dia tahu kalau kondisi ekonomi keluarganya buruk.
Mendengar itu, Arya merasa sakit di dadanya namun dia berusaha terlihat baik-baik saja. Dia tidak tega melihat adiknya jadi begitu.
'Lihat, Vicky. Karenamu, Andhika jadi seperti ini! Dia menginginkan banyak hal, tapi dia ragu memintanya karena memikirkan kondisi ekonomi keluarga!' Arya mengumpat dalam hati, menyalahkan Vicky atas apa yang terjadi.
Mengelus kepala Andhika, Arya tersenyum hangat.
"Apa yang kamu katakan? Jangan berkata seperti itu. Kamu boleh membeli apapun yang kamu inginkan, Andhika. Kamu bahkan boleh bermain sepuasnya di game center. Soal biaya, kamu tidak perlu khawatir! Kakak yang akan bayar!"
Andhika mengangguk. Rasa cemasnya menghilang dan dia mulai bersemangat.
Menatap Arya, Andhika bertanya.
"Kak, aku benar-benar boleh membeli apapun yang aku inginkan? Aku boleh main sepuasnya di game center?"
"Ya, tentu saja. Itulah mengapa aku mengajakmu ke sini!"
"Yeay! Terima kasih, Kak! Aku menyayangimu!"
Andhika memeluk erat Arya, sangat bahagia.
*****
Setelah mengatakan jika dirinya pernah ciuman dengan Arya, Lucy terdiam sangat lama. Wajahnya memerah dan dia tidak berani menatap Rosa sama sekali.
Adapun Rosa, dia hanya tersenyum dan tertawa geli ketika melihat reaksi menggemaskan Lucy. Dia sudah memiliki tebakan jika Arya dan Lucy sudah pernah ciuman, namun mendengarnya langsung dari Lucy masih agak mengejutkannya.
Setelah diam hampir lima belas menit, Rosa menghela napas pelan dan berkata, memecah kesunyian.
"Baiklah, mari kita akhiri kecanggungan ini." Rosa bertepuk tangan sekali.
Lucy tersentak karena terkejut. Dia dengan ragu dan malu-malu menatap Rosa.
"Ugh, bukankah ini semua salah Mama karena menanyakan hal yang tidak seharusnya?" Lucy mengeluh.
Rosa tidak menanggapi, hanya tertawa kecil.
"Ngomong-ngomong, kasihan Andhika. Dia baru saja kehilangan wanita yang dia sukai." Rosa berkata, tersenyum lembut.
Dia mengetahui jika baik Arya ataupun Andhika selalu memperebutkan Lucy.
Dia selalu mendengarkan Andhika yang membual tentang dirinya yang akan menjadi kekasih Lucy.
Rosa yang mendengar itu hanya tertawa kecil dan berkata kalau Andhika tidak mungkin jadi kekasih Lucy, karena sudah pasti Arya mengambil langkah lebih dulu. Terlebih lagi Arya tinggal di kota Century bersama kakeknya dan dia juga satu sekolah dengan Lucy.
"Mau bagaimana lagi. Aku hanya mencintai Arya, jadi Andhika harus menyerah dan mencari wanita lain." Lucy mendengus ringan.
Rosa tersentuh mendengarnya. Dia senang saat mengetahui anaknya memiliki seseorang yang sangat mencintainya ketika dia tidak berada di sisinya selama beberapa tahun terakhir.
"Baiklah. Kalau begitu, Lucy. Mama memiliki pertanyaan untukmu. Tolong jawab dengan jujur dan jangan berbohong pada Mama, oke?"
Rosa sangat serius, seakan sikap santai dan bercanda yang dia tunjukkan tadi adalah bohong.
Lucy mengangguk tanpa disadari begitu melihat ekspresi serius Rosa. Dia tahu jika sang mama sudah demikian, maka dia tidak boleh main-main lagi karena pada dasarnya inilah Rosa yang sebenarnya.