
Pada pagi harinya, ketika Yuki membuka matanya dengan berat, dia bangun dan melihat sekeliling, terkejut.
"Kenapa aku di sofa?"
Yuki menggosok matanya. Hal terakhir yang dia ingat adalah dia sedang bercerita tentang suaminya sebelum akhirnya tertidur. Namun, dia samar-samar melupakan pada siapa dia bercerita.
Melihat sekeliling sekali lagi, mata Yuki melebar dan dia menatap seorang pemuda di sebelahnya. Pemuda ini masih tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya agak miring, bersandar di bahunya.
Melihat ke arah tangannya, Yuki tambah terkejut. Ternyata, dia sedang berpegangan tangan dengan pemuda ini.
Secara alami, pemuda ini adalah Arya.
Yuki linglung dan kebingungan. Dia berusaha mengingat apa saja yang terjadi tadi malam sehingga dia bisa tertidur di sebelah Arya dan mereka berpegangan tangan.
'Ya ampun, apa saja yang kukatakan padanya? Kenapa aku melakukan hal sememalukan ini?'
Yuki marah pada dirinya sendiri. Dia merasa malu pada dirinya sendiri karena secara tidak sadar telah menceritakan sedikit rahasia kecilnya dengan suaminya dulu.
Yuki perlahan menenangkan diri, menghela napas panjang dan kemudian menarik tangannya dengan sangat perlahan, agar Arya tidak terbangun.
Setelah itu, Yuki menjauh sedikit dari Arya. Dia menatap pemuda itu dengan ekspresi rumit di wajahnya.
Melihat wajah Arya yang tertidur, Yuki merasakan gelitikan di dalam hatinya, yang membuatnya ingin membelai Arya dan menjahilinya sedikit.
"Ini tidak masalah, kan? Aku hanya ingin menjahilinya sedikit..."
Yuki mendekati Arya, mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu dan menariknya kembali ketika dia hampir menyentuh pipi Arya. Dia melakukan hal ini berulang kali sebelum akhirnya dia benar-benar menyentuh pipi Arya.
Dengan gerakan lembut, Yuki membelainya sambil tersenyum. Wajahnya menunjukkan kebahagiaan dan dia sedikit memerah.
"Jika dilihat dari dekat, wajahnya cukup tampan, ya? Andai saja aku lebih muda sepuluh tahun dan aku tidak memiliki seorang anak, mungkin aku sudah menyerangmu saat ini juga, Arya."
Yuki tersenyum lembut ketika pikiran liar memenuhi benaknya.
Tersentak, Yuki menggelengkan kepalanya dengan kuat. Wajahnya merah padam.
"Tidak, apa yang aku pikirkan?! Kenapa aku memiliki pemikiran seperti ini?!"
Yuki menghela napas panjang dan kemudian menatap Arya lagi untuk waktu yang cukup lama. Dia sesekali membelai pipinya.
"Um... Lucy, lima menit lagi..."
Arya, yang dibelai oleh Yuki bergumam. Matanya masih menutup, menunjukkan jika dia masih tidur tapi alisnya berkedut beberapa kali.
Yuki menarik tangannya dan menghela napas. Dia merasa agak iri dengan gadis bernama Lucy ini.
"Kamu benar-benar mencintai kekasihmu, ya. Bahkan dalam tidurmu, kamu memimpikannya."
Yuki tersenyum pahit.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya beranjak dari sofa dan pergi ke dapur, memasak untuk sarapan.
*****
Di ruang keluarga, ketika Niko sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, dia mendecakkan lidahnya kesal saat melihat seseorang tertidur di sofa dengan santai.
"Dasar, seenaknya menginap dan bangun terlambat? Setidaknya kau harus berusaha bangun lebih awal ketika menginap di rumah orang lain!"
Niko mendengus, hendak memukul Arya yang masih tidur di sofa. Tapi, karena ibunya melihatnya, dia mengurungkan niatnya.
"Ibu, aku bangunkan saja dia, ya? Sebentar lagi sekolah di mulai, dia akan terlambat nanti."
Niko bertanya pada Yuki yang sedang merapikan meja makan.
"Ya, kamu bangunkan saja Arya. Tapi lakukan dengan perlahan, jangan sampai mengejutkannya, oke?"
Niko mengangguk dengan ini. Dia menatap ibunya sesaat sebelum membangunkan Arya.
Mengguncang bahu Arya, Niko memanggilnya beberapa kali dan menyuruhnya bangun.
Arya jelas bangun, tapi dia masih mengantuk, jadi dia membuka matanya sejenak sebelum menutupnya lagi.
Niko berkedut kesal. Dia mengguncang bahu Arya dengan lebih kencang dan dia menaikkan nadanya. Sebagai hasilnya, Arya benar-benar terbangun karena terkejut.
Arya yang terbangun karena terkejut itu melihat sekeliling dengan linglung. Dia mengusap matanya dan setelah beberapa saat, dia akhirnya mendapat kesadarannya seutuhnya.
"Niko, apa yang kau lakukan di rumahku?"
"Rumahmu? Ini rumahku! Kau menginap di sini tadi malam, ingat?"
"Ah... Benarkah itu?"
Arya masih agak bingung. Dia mencoba mengingat kejadian tadi malam dan akhirnya, dia ingat apa saja yang terjadi tadi malam.
Semuanya, mulai dari dirinya yang digoda oleh Yuki, Yuki yang bercerita tentang suaminya dan terakhir, tentang bagaimana dia dan Yuki saling bersandar dan berpegangan tangan lalu tertidur bersama.
Wajah Arya memerah mengingat semua ini. Dia kemudian menoleh pada Yuki yang sedang membereskan meja makan
Ketika mata mereka bertemu, Yuki langsung buang muka saat wajahnya memerah.
Arya tersentak dengan ini. Dia jelas merasa bahwa Yuki menghindarinya. Namun, semuanya wajar karena apa yang telah terjadi jelas akan menyebabkan rasa canggung.
Setelah bertukar beberapa kata dengan Niko, Arya meminjam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
"Niko, apakah kau memiliki parfum? Jika ada, aku minta."
"Parfum? Aku tidak punya. Aku jarang memakainya."
"Kamu butuh parfum, Arya? Bagaimana jika pakai punyaku?"
Tiba-tiba, ketika Arya mengobrol dengan Niko, Yuki menyela.
Arya mengalihkan pandangannya dari Yuki. Dia menggaruk pipinya dengan canggung, wajahnya memerah dan dia menjawab dengan suara rendah.
"Te-tentu, jika Tante mau memberikannya, maka aku tidak menolak."
Yuki kemudian mengangguk dan segera mengambilkan parfum miliknya di kamarnya.
Kembali pada Arya dan Niko, Niko menatap Arya dari atas hingga bawah. Dia mengerutkan dahinya dan menatapnya dengan curiga.
"Apa yang terjadi ketika aku tidur tadi malam? Kau tidak melakukan hal buruk pada ibuku, kan?"
Niko bertanya dengan dingin. Dia jelas merasakan ada kecanggungan aneh antara Arya dan ibunya, yang tidak biasanya terjadi.
Selain itu, Niko juga menyadari Arya dan Yuki tidak mau saling menatap dan selalu menghindari tatapan satu sama lain.
"Tidak... Tidak ada yang terjadi..."
"Arya, jangan berbohong. Katakan padaku, apa yang terjadi...?"
Sebelum Niko menyelesaikan kalimatnya, Yuki sudah kembali, jadi dia tidak bisa bertanya begitu saja di depan ibunya, atau dia akan dimarahi.
"Arya, ini parfumnya. Jika aromanya tidak cocok dengan seleramu, aku masih punya aroma lainnya."
"Um, terima kasih, Tante. Ini saja sudah cukup."
Arya tersenyum, kemudian memakai parfum tersebut.
Setelah semua itu, mereka bertiga akhirnya sarapan bersama. Yuki memasak telur omelet dan tumis sayur beserta sup daging hangat.
Arya makan dengan lahap dan memuji masakan Yuki terus-menerus, mengatakan bahwa masakannya sangat lezat.
Yuki tertawa kecil dan berterima kasih. Dia senang jika ada yang memakan lahap masakannya.
Selama sarapan berlangsung, selain memuji masakan Yuki, Arya juga terus-menerus menatap wanita ini dengan terpesona.
Yuki benar-benar terlihat cantik dan memiliki daya pikat yang kuat baginya. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dan wajahnya memerah ketika dia tersenyum lembut pada Yuki.
Yuki merasa malu ditatap oleh Arya terus-menerus. Tapi di dalam hatinya, dia senang dan bahagia.
Di sisi lain, Niko menjadi sangat kesal karena Arya dan ibunya saling menatap dari waktu ke waktu.
Ketika hendak pergi ke sekolah, Niko bersalaman pada ibunya sebelum pergi. Dia mencium punggung tangan ibunya lalu mengatakan beberapa hal sebelum akhirnya pergi.
Arya juga melakukan hal yang sama, tapi dia tidak melepaskan tangan Yuki begitu selesai bersalaman dengannya. Dia memegangi tangannya cukup lama dan menatapnya dengan lembut.