Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 153 - Kebetulan Macam Apa Ini?



Tiba di hotel, Arya dan Lucy berpisah di depan kamar hotel gadis tersebut.


Keduanya mengobrol sedikit dan berbagi ciuman di pipi masing-masing. Sebenarnya mereka tidak puas dengan ciuman di pipi, tapi mereka tidak bisa melakukannya di tempat terbuka, karena itu akan sangat memalukan.


Setelah itu, Arya melambaikan tangannya pada Lucy sambil tersenyum. Dia berjalan dan menaiki lift, tiba di lantai enam dan berjalan di koridor menuju kamarnya.


Ketika di koridor, Arya terkejut karena melihat sosok yang tidak asing. Di depannya, ada seorang wanita berambut pirang sedang berjalan menuju arah yang sama dengannya.


"Itu adalah wanita yang tadi ada di restoran keluarga yang Lucy bahas tadi, kan? Apakah dia berada di hotel ini juga?"


Arya penasaran. Jika wanita ini berada di hotel yang sama dengannya, dia ingin mengajaknya berkenalan supaya Lucy juga bisa berkenalan juga dengannya. Dia tidak tahu mengapa Lucy ingin berkenalan dengan wanita ini, tapi karena itu adalah keinginan kekasihnya, maka tidak masalah mengabulkannya.


Mempercepat langkahnya, Arya ingin menyapa wanita tersebut namun sebelum suaranya keluar, wanita tersebut sudah memasuki kamar hotelnya.


Arya menghela napas dengan ini. Dia kemudian melihat nomor kamar hotel wanita tersebut dan mengetahui jika wanita ini menginap di kamar nomor 31.


"Kamar ini nomor 31, jadi di sebelahnya adalah..."


Arya dengan kaku menoleh ke kamar sebelah nomor 31 itu, tersenyum masam karena tepat di sebelah kamar nomor 31, itu adalah kamarnya, nomor 30.


"Sebenarnya kami adalah tetangga? Ya ampun, kebetulan macam apa ini?"


Arya tertawa, tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Baiklah, dia berada di sebelah kamarku, jadi berkenalan dengannya esok hari bukan masalah besar."


Arya menuju kamarnya, masuk dan langsung berbaring di kasurnya.


*****


Jam dua belas malam dini hari, Arya yang berada di dalam kamarnya itu tampak terjaga ketika dia melamun, menatap langit-langit.


Dia tidak bisa tidur, tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Dia tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba seperti ini.


"Sepertinya mencari angin segar bisa membuatku mengantuk."


Arya menghela napas panjang, lalu bangkit dari kasurnya dan segera keluar dari kamarnya. Dia ke meja resepsionis, mengatakan jika dirinya akan keluar sebentar mencari angin segar.


Di luar hotel, Arya berjalan-jalan sedikit.


Keadaan kota Vant di malam hari bisa dikatakan sepi dan sunyi, hanya ada beberapa pejalan kaki yang mencari angin segar seperti dirinya.


Arya berjalan-jalan sebentar di sekitar hotel sambil menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang indah. Bulan purnama juga menyempurnakan langit malam.


Arya tersenyum melihat bulan dan bintang, merasa tenang. Dia suka melihat bulan dan bintang.


Melanjutkan mencari angin segar, Arya tanpa sadar telah tiba di dekat minimarket. Dia berjalan hanya mengikuti arus, jadi dia tidak sadar jika sudah berada cukup jauh dari hotel.


Arya menghela napas dengan ini.


"Yah, karena sudah sejauh ini, sekalian saja aku mampir dan membeli minuman."


Arya masuk ke dalam minimarket dan segera membeli sekaleng minuman berenergi. Dia kemudian langsung membayarnya di kasir.


Di kasir, Arya dibuat terkejut dengan kebetulan yang tidak pernah disangka.


Ternyata, wanita berambut pirang yang merupakan penghuni kamar nomor 31 ada di minimarket yang sama dengannya.


'Ini... Kebetulan, ya? Tidak, tidak. Ini jelas-jelas tidak masuk akal. Bagaimana mungkin aku bertemu dengannya lagi di saat seperti ini? Sudahlah, anggap saja angin lewat.' Arya berpikir sejenak, menggeleng pada akhirnya.


Dia berjalan dengan santai, sambil menikmati minuman berenerginya. Di depannya merupakan wanita berambut pirang itu, berjalan memimpin dan menuju hotel tempat mereka menginap.


Arya sebenarnya ingin mengajak wanita ini berkenalan, agar dia bisa lebih mudah mengajaknya berkenalan dengan Lucy juga. Tapi melihat ini sudah melebihi jam dua belas malam, dia mengurungkan niatnya dan menunggu hingga matahari terbit.


Tiba-tiba, ketika Arya sedang berjalan santai, wanita berambut pirang di depannya mempercepat langkahnya dan berlari kecil.


Arya agak terkejut melihatnya, namun dia mengabaikannya. Dia berjalan santai.


Tiba di hotel, Arya berada di lobi dan di sana, dia melihat wanita berambut pirang itu sedang terengah-engah sambil menunduk dan kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya. Dia tampak kelelahan.


Mengabaikannya, Arya melewati wanita tersebut dengan acuh.


Melihat Arya melewatinya, wanita berambut pirang itu berkedut dan dia langsung mengangkat kepalanya, menatap tajam Arya.


"Hei, kau! Bisakah kau berhenti mengikutiku seperti penguntit? Aku tahu diriku cantik, tapi membututiku sejak beberapa jam yang lalu itu tidak sopan dan merupakan tindakan pelecehan!"


Wanita tersebut berkata, nadanya jijik dan bahasa yang dia gunakan merupakan bahasa Inggris.


Arya terkejut, berhenti di tempat dan menoleh pada wanita tersebut. Di lobi, hanya ada di dan wanita ini. Adapun para pegawai hotel, sepertinya mereka tertidur.


Arya diam beberapa saat ketika dia berusaha memahami kata-kata wanita tersebut. Setelah itu, dia segera mengerutkan dahinya dengan tidak senang.


"Maaf, Nona. Tapi sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Aku tidak mengikutimu ataupun membututimu."


"Pembohong! Jelas sekali kau mengikutiku! Bahkan ketika aku pergi ke minimarket, kau mengikuti dan berpura-pura membeli sesuatu!"


Wanita tersebut membantah Arya, membuatnya berkedut dan rasa kesal memenuhi hatinya.


"Nona, dengarkan aku. Aku sedang melakukan study tour saat ini dan kebetulan aku berada di kamar nomor 30. Yang berarti, kamarku dan kamarmu bersebelahan. Jadi, sebenarnya aku tidak mengikutimu tapi kita kebetulan memiliki tujuan yang sama. Itu saja."


"Lalu kenapa kau bisa mengetahui aku berada di minimarket? Juga, dari mana kau mengetahui nomor kamarku? Bukankah itu artinya kau membuntutiku sebelumnya?"


"Semua itu kebetulan, Nona. Aku tidak bisa tidur jadi aku pergi keluar untuk mencari angin dan tanpa kusadari aku sudah berada di dekat sana. Aku merasa haus, jadi aku membeli minuman dan setelah itu, aku kebetulan bertemu denganmu lagi. Tapi sepertinya kau tidak memperhatikanku, makanya kau salah paham. Semuanya hanya kebetulan, Nona. Adapun dari mana aku mengetahui nomor kamarmu, aku tidak sengaja melihatmu masuk kamar nomor 31. Sudah, itu saja. Semuanya kebetulan dan semua ini hanya kesalahpahaman, Nona. Selain itu, aku adalah penghuni kamar nomor 30."


Arya kembali menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir namun tampak wanita tersebut masih tidak percaya padanya. Wanita ini dengan terang-terangan menatap jijik dirinya, seakan dia adalah sampah.


Wajah Arya dipenuhi kedutan saat dia merasakan tatapan jijik wanita berambut pirang ini.


"Kau masih tidak percaya, Nona?"


Nada Arya penuh penekanan, menahan rasa kesalnya.


"Ya, tidak mungkin aku percaya ucapan penguntit sepertimu! Kau pasti berbohong jika kau adalah penghuni kamar nomor 30!"


"Baiklah, kalau begitu ikut aku. Aku akan tunjukan jika aku memang penghuni kamar nomor 30."


Arya menghela napas panjang pada akhirnya, lalu segera berbalik dan menuju lift.


Wanita berambut pirang tadi mengikutinya dari belakang dengan menjaga jarak. Dia menatap Arya dengan waspada.


Tiba di lantai enam, Arya langsung menuju kamar nomor 30 dan membukanya menggunakan kuncinya.


Melihat itu, wanita tadi menganga dan menatap Arya dan pintu yang terbuka secara bergantian. Ekspresi ketidakpercayaan melintas di matanya yang indah.


"Lihat, ini kamarku. Semuanya hanya kebetulan dan aku tidak bermaksud menguntitmu atau semacamnya, Nona."