
Tiba di rumah Lucy, Arya dan Lucy segera masuk ke dalam.
Arya pergi membersihkan dirinya. Tubuhnya yang bersimbah darah membuatnya takut terhadap dirinya sendiri. Adapun Lucy, dia segera pergi ke kamarnya.
Setelah waktu yang tidak diketahui, hujan turun begitu deras.
Arya terlihat sedang duduk di ruang tamu. Wajahnya masih pucat, seakan darah tidak pernah mengalir ke sana. Tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar dan perasaan bersalah dan menyesal selalu memenuhi hatinya sejak dia membunuh.
"Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika aku tertangkap dan dipenjara? Bagaimana jika Mama mengetahui jika aku seorang pembunuh? Apa... Apa yang harus kulakukan?"
Arya menatap tangannya yang gemetar, lalu mengepalkannya. Kepalanya benar-benar dipenuhi berbagai macam kecemasan dan kekhawatiran.
Tidak lama kemudian, suara derit pintu terbuka terdengar. Sosok pemuda yang tidak jauh lebih tua dari Arya masuk dengan basah kuyup karena hujan.
Pemuda itu tidak lain adalah David, yang baru saja pulang dari mencari pekerjaan. Dia kemudian menoleh pada Arya yang sedang duduk tidak jauh darinya.
"Oh, Arya. Jadi kamu benar-benar mengantar dan menemani Lucy, ya? Terima kasih Arya, kamu memang bisa diandalkan."
David berkata, tertawa kecil.
Arya yang mendengar suaranya perlahan menoleh ke arahnya dengan kaku. Sorot matanya sedikit meredup dan wajahnya yang pucat terlihat menakutkan ketika David melihatnya.
"Arya, kenapa kamu sangat pucat? Apakah kamu sakit?"
David bertanya dengan cemas, menepuk bahu Arya.
Arya menatap David dengan matanya yang gemetar.
"Kak... Aku baru saja... Aku baru saja membunuh tiga orang... Apa yang harus aku lakukan, Kak? Aku menjadi seorang pembunuh sekarang ini, Kak. Kak, kumohon padamu, katakan padaku. Apa yang harus kulakukan?"
Arya meraih tangan David di pundak, menatap kakaknya itu dengan air mata yang hampir tumpah dan suara yang gemetar, mengandung ketakutan.
David terkejut dan terdiam, wajahnya perlahan memucat dan keringat dingin menetes dari pipinya.
"Kamu bercanda. Kamu pasti bercanda, Arya. Kamu tidak mungkin membunuh, kan?"
David tersenyum tidak percaya. Melihat ekspresi Arya, dia tahu jika adik laki-lakinya ini tidak bercanda, namun dia menolak untuk mengakuinya.
"Aku tidak bercanda! Aku benar-benar membunuh tiga orang yang berusaha melecehkan Lucy!"
"Tunggu, apa?! Lucy terlibat?!"
David semakin terkejut.
Tanpa menunggu David bertanya, Arya sudah menjelaskan semuanya pada kakaknya itu. Dia mengatakan semua kejadian dari awal hingga akhir.
David seketika panik dan segera menuju kamar Lucy begitu Arya selesai dengan penjelasannya.
"Lucy, kamu baik-baik saja?!"
Lucy yang berada di kamarnya itu terkejut dengan suara aneh karena David tiba-tiba datang.
Menyadari jika kakaknya berada di hadapannya, Lucy yang gemetar di kasurnya itu segera melompat dalam pelukan David dan menangis sekeras mungkin, menumpahkan semua rasa takut yang dia alami.
"Kakak... Kakak, aku takut... Aku takut, Kak. Mereka mencoba melecehkanku, tapi beruntung Arya menolongku... Kak, aku takut..."
Lucy menangis dalam pelukan David, mencengkeram erat pakaiannya.
David mengelus kepala adiknya dengan lembut dan mengucapkan beberapa kata penghibur, mencoba menenangkan adiknya.
Setelah lebih dari lima belas menit menangis, Lucy yang lelah menangis itu akhirnya tertidur.
David menatap adiknya yang tertidur itu dengan ekspresi rumit. Dia membelai kepala Lucy sejenak sebelum kembali menemui Arya di ruang tamu.
"Arya, kamu baik-baik saja?"
David memberanikan diri bertanya. Setelah dia mengetahui jika Arya membunuh, dia jadi agak takut padanya. Namun, mengingat kondisi Arya yang sedang tidak baik, dia mengabaikan rasa takutnya.
"Ya, aku sudah lebih baik, Kak."
Menghela napas pelan, Arya bangkit dari tempatnya.
"Kak, aku lebih baik pulang saja. Lucy pasti takut padaku."
Meski dia tidak tahu apakah Lucy melihatnya membunuh atau tidak, namun Arya memiliki keyakinan jika Lucy melihatnya membunuh. Jika sudah seperti ini, dia lebih memilih untuk menjauh agar Lucy bisa tenang dan tidak ketakutan karena keberadaan dirinya.
"Tidak! Jangan pulang! Tetap di sini dan tenangkan dirimu, oke? Kamu tidak perlu sekolah dan menginap saja di sini selama beberapa hari sampai keadaanmu membaik."
David berkata, menatap Arya dengan serius.
Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Arya saat ini. Membunuh bukanlah hal sepele, jadi dia yakin jika keadaan mental Arya sedang tidak stabil. Juga, dia ingin Arya tenang lebih dulu.
Arya diam sejenak sebelum mengangguk. Dia tidak menolak saran David dan menginap malam itu juga.
****
Jam sudah menunjukkan angka dua belas lebih, namun David masih terjaga sambil menonton TV. Dia saat ini sedang memikirkan keadaan kedua adiknya yang benar-benar kacau. Dia memikirkan bagaimana caranya agar keduanya cepat membaik dan melupakan keadaan buruk yang menimpa mereka.
Menghela napas tanpa daya, David menatap langit-langit dengan ekspresi bermasalah.
"Sial, apa yang sebenarnya terjadi? Adik perempuanku hampir dilecehkan dan adik laki-lakiku membunuh demi menyelamatkan adik perempuanku? Sungguh tidak masuk akal. Jika sudah seperti ini, apa yang bisa kulakukan sebagai seorang kakak?"
David merasa tidak berguna.
Dia tidak menyangka jika Arya akan benar-benar membunuh. Dia dulu sering mendengar jika Arya akan membunuh setiap orang yang sudah menyinggung dan menyakiti ibunya namun dia kira itu hanya gurauan semata.
Tapi sekarang, Arya benar-benar menjadi seorang pembunuh!
"Argh! Kenapa semuanya jadi rumit begini?!"
David menghela napas kasar, mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi sebelum akhirnya berbaring dan tidur di depan TV yang dibiarkan menyala sepanjang malam.
Pada esok harinya, ketika semua orang menjalani aktivitas mereka, Arya dan Lucy terlihat sudah lebih baik dari kemarin. Namun, dapat dilihat jika keduanya tidak tidur nyenyak saat kantung mata mereka menghitam.
Tidak hanya itu, Lucy juga tampak menghindari Arya. Dilihat dari manapun, gadis ini sepertinya takut pada Arya.
Saat jam makan siang, David membelikan Arya dan Lucy makan siang untuk keduanya. Dia ragu mereka memiliki nafsu makan setelah apa yang terjadi kemarin, namun dia tetap membelikannya. Jika keduanya menolak, maka dia akan memaksa.
"Lucy, kamu mau makan?"
David masuk ke dalam kamar Lucy dan bertanya.
Lucu yang duduk di kasurnya, sambil memeluk lututnya, menggeleng sebagai jawaban.
David menghela napas dan memaksanya, namun Lucy tetap menolak untuk makan.
Dia menyerah dan menuju ruang tamu tempat Arya berada dan menanyakan hal yang sama.
Arya mengangguk dan menerima makanan yang David bawakan. Dia menyendok nasi dan membawanya ke dalam mulutnya, meski dia tidak memiliki nafsu makan sama sekali. Matanya bahkan tidak memiliki semangat.
Mengunyah dengan pelan, Arya tiba-tiba mengingat bagaimana dia membunuh William dan lainnya. Setiap tusukan yang dia lakukan pada ketiganya tiba-tiba teringat di benaknya, membuatnya merasa mual dan segera membuang piring yang dia pegang ke samping, berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya yang sebenarnya kosong. Apa yang dimuntahkannya hanya cairan lambungnya saja.
David menghela napas melihat Arya yang kembali dari kamar mandi dengan pucat itu. Dia menatapnya dengan melankolis.
*****
Pada saat yang sama, di SMA Daeil, Lylia yang duduk di salah satu meja di kantin memiliki ekspresi khawatir di wajahnya. Pagi tadi, guru menyampaikan jika Arya dan Lucy absen selama beberapa hari karena sedang sakit.
Lylia menjadi curiga awalnya, ketika mendengar berita ini. Arya dan Lucy pulang bersama kemarin dan hari ini keduanya sakit di saat yang bersamaan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tentunya, hal ini menjadi tanda tanya bagi Lylia.
Meski begitu, dia mengabaikan kecurigaannya dan lebih mengkhawatirkan Arya. Guru mengatakan jika Arya akan absen selama beberapa hari karena sakit, jadi dia mengira jika sakit yang diderita Arya cukup parah.
Saat jam pulang tiba, Lylia segera menuju rumah Arya untuk menjenguk kekasihnya yang sedang sakit itu. Dia juga membelikan beberapa makanan untuk orang sakit serta obat-obatan.
Dia tidak tahu Arya menderita sakit apa, jadi dia membeli banyak obat-obatan untuk berjaga-jaga.