Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 149 - Firasat Buruk Rosa



Di SMA Daeil.


Para siswa tahun ketiga yang akan pergi study tour berkumpul di lapangan dan mendengarkan beberapa pidato dari Tuti selaku kepala sekolah.


"Baiklah, sekian yang perlu saya sampaikan. Ingat, perjalanan akan memakan waktu sepuluh hari dan selama diperjalanan, jangan membuat masalah yang tidak perlu. Ingatlah untuk bersikap sopan saat kalian study tour nanti."


Setelah mengatakan ini, Tuti membubarkan para siswa dan semua orang segera bubar, menemui orang tua mereka untuk berpamitan.


"Ibu, aku pergi dulu, ya. Hati-hati selama aku tidak ada di rumah. Ketika aku pulang nanti, aku akan bawakan Ibu banyak oleh-oleh."


Niko berkata pada Yuki, tersenyum hangat padanya.


Yuki mengangguk dan berkata.


"Tenang saja, Ibu pasti berhati-hati. Kamu juga, hati-hati selama study tour, ya. Jaga makanmu dan patuhi kata-kata gurumu. Ketika study tour nanti, jangan pergi terlalu jauh dari tempatmu menginap, karena itu akan membuat para guru khawatir, oke?"


"Oke, Bu. Baiklah, aku pergi dulu, ya."


Niko tersenyum, bertukar pelukan ringan dan mendapat kecupan hangat di dahinya dari sang ibu. Dia kemudian memasuki bus.


Yuki mengantar Niko ke dalam bus dan bertukar beberapa kata lagi dengan putranya sebelum keluar bus.


Melihat sekeliling, matanya tidak sengaja menangkap sosok pemuda yang dia kenal. Yuki tersenyum melihat Arya berada tidak jauh darinya. Dia segera menghampirinya.


"Arya, tunggu!"


Yuki segera memanggil ketika melihat Arya hendak memasuki bus.


Arya terkejut dan menoleh, mengetahui jika yang memanggil adalah Yuki.


"Apakah ada yang bisa kubantu, Tante?"


Arya bertanya dengan senyuman tipis di wajahnya.


"Tidak banyak, hanya ingin mengobrol sebentar sebelum kamu pergi. Ngomong-ngomong, jika kamu bertemu Niko nanti, atau jika kebetulan kamu satu kelompok dengannya, tolong jaga dia, ya."


"Tentu, Tante. Niko adalah temanku, jadi aku akan mencarinya nanti dan mengobrol. Kami sudah agak lama tidak mengobrol bersama."


"Baguslah, aku bisa lega. Ngomong-ngomong, di mana kekasihmu?"


Yuki melihat ke kiri dan kanan, menyadari jika Lucy tidak ada.


"Oh, dia sudah di dalam bus. Dia sudah menungguku sejak tadi."


"Oh, jadi aku menghambatmu, ya? Baiklah, itu saja yang ingin aku sampaikan."


Yuki tersenyum pahit, agak tidak senang karena dia tidak bisa mengobrol lebih lama lagi dengan Arya.


Arya mengangguk dan hendak berbalik, namun dia tiba-tiba berhenti saat Yuki meraih pergelengan tangannya.


"Tante?" Arya agak terkejut.


"Sebentar, kemari. Menunduk sedikit dan tutup matamu."


Yuki berkata, menatap Arya dengan matanya yang indah.


Arya terkejut, diam cukup lama sebelum menundukkan kepalanya dan menutup matanya.


Arya cukup penasaran karena Yuki tiba-tiba memintanya menundukkan kelapa, namun dia menurut.


Yuki menarik napas dalam-dalam, menatap wajah tampan Arya yang kini menutup matanya. Dia kemudian menangkupkan kedua tangannya di wajah Arya, mencium dahi pemuda tersebut dengan hangat.


Arya terkejut, segera membuka matanya.


Ciuman di dahi ini begitu hangat bagi Arya, apalagi dia bisa merasakan kasih sayang di dalam kecupan ini. Rasanya begitu menenangkan dan nyaman.


"Nah, hati-hati selama study tour-mu. Tolong jaga Niko, oke?"


Yuki menarik kedua tangannya, tersenyum hangat pada Arya.


Arya menatapnya dengan terpesona sebelum tersenyum, mencubit dagu Yuki dan menunjukkan tatapan menggoda.


"Aku pergi dulu, Tante."


Arya tertawa kecil, melepas tangannya dari dagu Yuki dan melambaikan tangannya, memasuki bus.


Setelah beberapa saat, bus berangkat.


Kembali pada Yuki, dia sangat terkejut dengan tindakan Arya tadi, hingga dia memiliki tatapan tidak percaya.


Setelah diam lama, Yuki mendapat kembali kesadarannya dan mengetahui jika bus sudah pergi jauh. Dia menghela napas kecewa dengannya ini, karena masih ada beberapa hal yang perlu dia sampaikan pada pemuda tersebut.


Namun, karena dia telah pergi, jadi tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia hanya bisa menunggu hingga study tour selesai, jadi dia memiliki banyak waktu luang untuk mengobrol dengannya.


*****


Di dalam bus, semua siswa yang pergi study tour tampak bersemangat saat mereka duduk dan mengobrol gembira.


Tujuan perjalanan study tour kali adalah kota Vant, sebuah kota besar yang terkenal dengan budaya dan bangunan bersejarahnya. Kota Vant berada sangat jauh dari kota Century. Setidaknya membutuhkam satu hari lebih waktu perjalanan.


Selama perjalanan, tidak mungkin para siswa tidak istirahat. Mereka berhenti sebanyak empat kali untuk istirahat, jadi ini membuat perjalanan menjadi sedikit lebih lama.


"Apa yang membuatmu lama di luar tadi?"


Lucy bertanya pada Arya yang duduk di sebelahnya. Dia agak penasaran karena Arya cukup lama tidak memasuki bus.


Arya tersenyum masam, lalu menjawab apa adanya. Dia hanya menyembunyikan fakta jika dia mendapat kecupan hangat di dahinya dari Yuki.


Lucy berkedut mendengarnya, diam-diam mengutuk Yuki karena mengganggu kekasihnya.


Arya mengabaikan ketidaksenangan Lucy. Dia mengambil handphonenya dan menelepon Rosa untuk memberitahu keberangkatannya.


"Ma, maaf telat mengabari. Hari ini aku berangkat study tour."


Arya berkata dengan lembut ketika teleponnya diterima oleh pihak seberang.


"Oh, benarkah? Kalau begitu hati-hati. Jangan buat masalah. Turuti semua perintah guru. Jangan nakal. Makan yang teratur. Jangan sibuk pacaran terus. Jangan tidur terlalu malam."


Dari sisi lain handphone, Rosa mengingatkan Arya tentang semua hal baik.


Arya yang mendengar itu hanya menjawab, "Ya," dengan ringan sambil tersenyum tipis. Dia sudah mendengar ini belasan kali tadi malam, saat teleponan dengan Rosa untuk memberitahu keberangkatannya study tour.


Arya dan Rosa kemudian mengorbol cukup lama, sampai akhirnya Rosa tiba-tiba berkata.


"Arya, jika kamu sudah sampai tujuan, telepon Mama, oke? Mama tiba-tiba punya firasat buruk sejak tadi malam. Ingatlah untuk selalu jaga diri dengan baik, oke? Jangan sampai terjadi apa-apa padamu, Nak."


Mendengar ini, Arya terkejut dan diam beberapa saat, menghela napas pada akhirnya.


"Ya, Ma. Aku akan jaga diri dengan baik. Mama juga hati-hati di rumah. Saat aku pulang study tour nanti, aku akan belikan Mama oleh-oleh. Katakan saja apa yang Mama inginkan, nanti aku akan membelikannya di perjalanan pulang."


"Tidak perlu, Arya. Yang terpenting kamu pulang dengan selamat, itu saja sudah cukup untuk Mama."


"Baiklah, Ma. Ngomong-ngomong, Lucy ingin mengobrol juga dengan Mama."


"Oh, kalau begitu berikan handphonenya pada Lucy."


Arya kemudian memberikan handphonenya pada Lucy dan kemudian, sang kekasih dan ibunya itu mengobrol lama melalui telepon.


*****


Saat malam hari, saat semua siswa sudah tertidur di bangku bus masing-masing, tampak sosok Arya masih terjaga. Arya terlihat melamun dengan dahi yang sangat mengerut.


"Kenapa kakek dan mama mengatakan hal yang sama? Kenapa mereka memiliki firasat buruk tentang keberangkatan study tour-ku ini? Apakah akan terjadi hal yang buruk padaku? Ini membuatku cemas."


Arya bergumam pelan. Semenjak mendengar ucapan yang sama dari Erwin dan Rosa, dia jadi waspada dan cemas.


Firasat seorang ibu tidak pernah salah dan selalu tepat sasaran, jadi hal ini membuat Arya yakin kalau dia akan mengalami kejadian yang buruk saat study tour nanti.


"Tampaknya aku harus berhati-hati."


Arya bergumam, mengepalkan tangannya.