
"Ah! Sialan, aku kalah tujuh kali! Kenapa teman satu timku begitu bodoh?!"
Suara Arya terdengar dari ruang tamu ketika dia mengutuk karena kalah bermain game online sebanyak tujuh kali. Sebanyak tujuh kali ini, dia selalu mendapat teman satu tim yang bermain secara asal, membuatnya kesal. Jika dia tahu siapa saja teman satu timnya ini, dia mungkin sudah membunuh mereka semua agar rasa kesalnya hilang.
David yang berada tidak jauh dari dirinya tertawa mengejek.
"Berhentilah bermain jika kamu kalah terus."
Sudut mulut Arya berkedut dengan ini. Dia menghela napas panjang dan pergi meninggalkan David seorang diri di ruang tamu. Dia kemudian menghampiri Lucy yang berada di ruang TV.
"Ada berita menarik apa hari ini, Lucy?"
Arya duduk di sebelah Lucy dan bertanya pada kekasihnya itu.
"Tidak banyak. Ada beberapa berita tentang pencurian bank dan kerusuhan massa di beberapa kota."
"Oh, apakah tidak ada berita tentang pembunuhan hari ini?"
"Arya, berita itu akan muncul di TV jika kamu membunuh seseorang!"
Lucy mendecakkan lidahnya, kesal. Dia sedikit tidak senang karena Arya membahas tentang pembunuhan. Dia memiliki pengalaman buruk tentang pembunuhan, di mana dia melihat Arya membunuh seseorang tepat di depan matanya.
Arya menyadari ini dan segera meminta maaf dengan tulus dan segera mengelus kepalanya, membujuknya.
Setelah waktu yang cukup lama, Lucy akhirnya merasa lebih baik dan menghela napas, bersandar di dada Arya.
Tiba-tiba, Lucy teringat sesuatu dan segera mengangkat kepalanya, menatap Arya.
"Arya, kamu tidak pulang ke rumah kakek? Kamu sudah tiga bulan lebih menginap di sini."
Arya terkejut dengan ini dan dia segera berkeringat dingin.
"Lucy, bisakah kamu mengatakannya sekali lagi? Sepertinya aku salah dengar."
"Kamu belum pulang ke rumah kakek selama tiga bulan ini. Kamu selalu menginap di sini dan jarang menghubungi kakek."
Arya segera menelan ludah dengan tegukan. Dia baru ingat, jika dia sudah menginap di rumah Lucy selama tiga bulan lebih. Jika Lucy tidak mengingatkannya, maka dia tidak akan pernah ingat jika dia awalnya tinggal bersama kakeknya.
Kembali ke tiga bulan yang lalu, Arya menginap di rumah Lucy karena gadis ini selalu bermimpi buruk setiap kali tidur. Dia juga tidak bisa tidur dan selalu terjaga karena tiga bulan yang lalu, Arya membunuh seorang preman yang menerobos masuk ke rumahnya dan berniat menculiknya.
Karena preman tersebut memiliki niat jahat pada Lucy, Arya tidak ragu untuk membunuhnya, bahkan jika dia harus membunuhnya tepat di depan mata Lucy.
Ngomong-ngomong, preman yang memiliki niat jahat pada Lucy ini adalah orang sewaan Viktor. Pada saat itu, Viktor gagal mendekati Lucy melalui telepon dan malah berakhir dipukuli oleh Arya. Oleh karena itu, dia menyuruh preman bayaran untuk menculik Lucy agar dia bisa memilikinya seutuhnya meski dengan paksaan.
Tapi, tidak ada yang menyangka bahwa preman bayaran itu malah terbunuh oleh Arya. Bukan hanya preman tersebut, Viktor dan juga ayahnya ikut terbunuh.
Karena Arya membunuh seseorang di depan matanya, Lucy ketakutan setengah mati dan selalu terjaga karena ketakutan, serta selalu bermimpi buruk.
Arya jelas sangat merasa bersalah, jadi dia selalu menemani Lucy setiap malam, memeluknya dengan hangat agar gadis itu bisa merasa aman dan nyaman.
Juga, jika Arya tidak memeluk Lucy saat ingin tidur, maka gadis itu tidak akan bisa tidur.
Jadi, peran Arya cukup penting di tiga bulan yang lalu.
Tapi sekarang, alasannya tinggal di rumah Lucy karena dia terlalu bahagia dan nyaman di sini. Setiap malam, ketika hendak tidur, dia selalu bisa menatap Lucy hingga tertidur dan saat terbangun esok paginya, orang pertama yang dia lihat adalah kekasihnya tercinta.
Bukan hanya itu, Arya bahkan bisa mendapat ciuman selamat pagi sesaat setelah bangun tidur. Tentu, dia juga dapat ciuman selamat malam sebelum dia tidur.
Hanya dengan ini, dia sangat bahagia dan melupakan rumah kakeknya.
Menyeka keringat di dahinya, Arya berdiri dan segera pergi ke kamar Lucy.
Lucy juga mengikutinya dari belakang.
Ketika Lucy masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Arya dengan terburu-buru memasukkan sebagian pakaiannya yang ada di dalam lemarinya ke dalam tas. Tidak lupa, Arya juga membawa belatinya.
Hanya melihat ini, Lucy tahu Arya akan pulang ke rumah kakeknya, Erwin
"Lucy, aku pulang dulu, ya? Aku mungkin agak lama, sekitar dua minggu atau lebih."
"Apa?! Dua minggu?!"
Ketika Arya selesai berkemas, dia berkata demikian dan membuat Lucy terkejut.
Lucy segera memeluk erat Arya, membuatnya sesak karena pelukannya begitu kuat.
"Lucy, aku sudah tiga bulan di sini, jadi kakek pasti marah dan dia tidak akan membiarkanku berkunjung ke sini lagi dalam waktu dekat. Aku akan usahakan untuk berkunjung ke sini lagi secepatnya, oke?"
"Tidak! Tidak boleh! Kamu tidak kuizinkan pulang! Tetap di sini, temani aku!"
Lucy mendorong Arya, membuat keduanya jatuh ke atas kasur dengan posisi Arya berada di bawah, sementara Lucy berada di atas tubuhnya, menahannya agar tidak pergi.
Bukan hanya Arya yang merasa bahagia dan nyaman ketika bersama Lucy setiap hari, tapi gadis itu juga merasakan hal yang sama.
Dia sangat bahagia setiap pagi, karena bisa melihat wajah Arya ketika dia membuka matanya. Dia juga bisa memasakkannya makanan kesukaan kekasihnya tersebut.
Lucy sangat bahagia karena bisa merawat Arya, apalagi ketika dia dipeluk oleh Arya ketika hendak tidur.
Itu adalah momen yang sangat Lucy nantikan. Berada dalam pelukan Arya sebelum tidur membuatnya merasa aman dan nyaman, apalagi pelukan Arya sangat hangat.
Dia tidak bisa membayangkan tidur tanpa pelukan Arya. Itu hanya membuatnya kesepian sepanjang malam.
Arya tidak berdaya ketika dia didorong ke atas kasur. Dia dengan pasrah berbaring dan mengelus kepala Lucy perlahan dengan gerakan menyayangi.
Setelah beberapa saat, Arya pindah ke kepala ranjang dan bersandar di sana. Lucy berada di sebelahnya, bersandar di dadanya.
"Arya, jangan pulang, ya? Tetap di sini dan temani aku. Jika kamu pulang, siapa yang akan memelukku saat tidur? Aku pasti akan kedinginan dan kesepian."
"Aku juga ingin tetap tinggal di sini, tapi jika aku tidak pulang dan memberi kabar pada kakek, aku pasti akan kena marah. Bisa saja kakek melaporkanku pada Mama. Jika sudah begitu, bagaimana jika Mama memintaku untuk kembali ke kota Bern? Jika aku kembali ke sana, bagaimana aku bisa bertemu denganmu lagi? Tolong tunggu sebentar, aku akan kembali secepatnya."
Lucy mengangguk dengan pernyataan Arya. Namun, bukan berarti dia membiarkannya pergi begitu saja.
Setelah menghabiskan waktu bermesraan di kamar selama satu jam lebih, baru Lucy membiarkannya pulang.
*****
Tiba di rumahnya, Arya ragu-ragu untuk mengetuk pintu dan masuk. Dia sudah tiga bulan tidak pulang ke rumah, jadi Erwin pasti marah besar padanya.
Ini membuat Arya takut.
Erwin jadi sangat menakutkan ketika marah.
Berdiri di depan pintu masuk, Arya mengulurkan tangannya dengan gemetar saat dia mencoba mengetuk pintu. Namun, ketika dia hampir mengetuk, seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya, membuatnya terkejut dan segera menepis tangan orang yang menepuk pundaknya.
Menoleh ke belakang, Arya terdiam.
"Oh, siapa ini? Wajahmu terlihat mirip seperti cucuku yang sudah menghilang lebih dari tiga bulan yang lalu."
"Halo, Kek. Aku pulang."
Arya tersenyum, namun sudut matanya jelas berkedut.
Ternyata, orang yang menepuk pundaknya tidak lain adalah kakeknya sendiri, Erwin.
"Huh, dasar bocah kurang ajar! Apakah sekarang kamu akhirnya ingat di mana rumahmu? Katakan padaku, kamu menginap di rumah Lucy, kan?"
"Ya... Begitulah, Kek. Maafkan aku karena lupa waktu." Arya menggaruk pipinya dengan canggung.
"Ya, tidak masalah. Lakukan sesukamu. Yang terpenting kau sudah stres memikirkan masalah ayah dan ibumu lagi."
Arya mengangguk, penuh keyakinan.
Karena masalah ayah dan ibunya, Arya mengalami stres berat, sampai akhirnya dia meminta pada Rosa untuk tinggal di kota Century, bersama Erwin sementara waktu untuk menghilangkan stresnya.
Namun, itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang, Arya sudah tidak mengalami stres lagi dan dia selalu dipenuhi kebahagiaan setiap harinya.
Mulai dari tinggal bersama Lucy selama tiga bulan lebih, hingga memiliki toko roti yang selalu ramai. Dia memiliki kekasih yang cantik dan selalu mendukungnya. Dia bahkan memiliki banyak uang dari toko rotinya.
Hanya dengan itu, Arya sudah sangat bahagia.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong Emily ada di sini sekarang. Dia datang satu bulan yang lalu."
"Ah, baiklah. Aku akan menemuinya nanti."