Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 117 - Kencan



Pada hari Sabtu, akhir pekan, Arya dan Lylia pergi kencan sesuai dengan ajakan Arya. Mereka berdua terlihat begitu bersemangat, karena sebenarnya keduanya jarang keluar untuk kencan semacam ini.


Pertama-tama, pada pukul sepuluh pagi, keduanya pergi ke taman hiburan untuk bersenang-senang.


Wahana permainan yang pertama mereka mainkan sesaat setelah tiba di sana adalah roller coaster.


Arya sebenarnya benci jika disuruh menaiki benda berkecepatan tinggi ini. Karena sejujurnya, dia belum pernah naik wahana seperti ini. Dia ingin naik karena menuruti permintaan Lylia dan sebagai pria, bagaimana mungkin dia ingin mempermalukan dirinya sendiri di hadapan kekasihnya? Ini hanya roller coaster, tidak menakutkan sama sekali!


Setelah itu, Arya menyesal karena menuruti permintaan Lylia.


Dia merasa sangat pusing dan mual. Perasaan pertama kali naik roller coaster benar-benar bukanlah suatu hal yang baik baginya. Dia benar-benar ingin muntah.


Adapun Lylia, gadis ini sebenarnya sangat menikmati roller coaster ini. Dia bahkan terdengar berteriak kegirangan saat roller coaster itu semakin cepat.


Setelah turun dari roller coaster, Arya segera berlari ke toilet dan mengeluarkan semua isi perutnya di sana. Dia benar-benar mual dan pusing. Rasanya benar-benar tidak nyaman.


Setelah itu, Arya kembali dan menemukan Lylia tengah duduk di bangku taman. Gadis itu tersenyum masam padanya, lalu menyerahkan sebotol air minum.


Mengucapkan terima kasih, Arya meminum minuman yang diberikan Lylia. Dia merasa lebih baik sekarang.


Menyeka sudut mulutnya, Arya berkata dengan senyum pahit.


"Aku benar-benar payah, ya? Padahal itu hanya wahana biasa, tapi aku malah jadi seperti sekarang."


"Eh? Tidak apa-apa, Arya. Kamu bilang ini pertama kalinya kamu naik roller coaster, kan? Itu reaksi yang wajar. Aku juga begitu saat pertama kali naik roller coaster."


Lylia melambaikan tangannya, tersenyum lembut dan mencoba menghibur Arya.


Hati Arya menghangat mendengar ini.


Keduanya kemudian melanjutkan kencan mereka.


Arya dan Lylia berkeliling sebentar di taman hiburan itu, mampir ke beberapa kios untuk membeli makanan ringan serta minuman.


Setelah itu, keduanya pergi menaiki wahana selanjutnya, yaitu kincir ria.


Arya sebenarnya sedikit membenci ketinggian. Tapi, karena dia sudah mempermalukan dirinya di roller coaster tadi, setidaknya dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama ketika di kincir ria ini.


Di dalam kabin penumpang, Arya dan Lylia duduk berhadapan sambil mengobrol dan memakan makanan ringan yang mereka beli tadi.


Lylia dengan senyumannya menatap ke luar. Dia bisa melihat semua dari atas ketika kincir ria mencapai puncaknya. Adapun Arya, dia melihat ke luar sesekali dan menatap Lylia lebih banyak.


Menyadari tatapan Arya, Lylia tersenyum nakal saat sebuah ide muncul di benaknya.


Duduk di sebelah Arya, Lylia memeluk tangannya dan bersandar pada kekasihnya itu.


"Arya, apakah kamu pernah dengan sebuah rumor tentang kincir angin? Rumornya, jika pasangan kekasih naik kincir ria berdua, mereka akan memiliki kebahagiaan abadi dan tidak akan terpisah, lho."


"Oh, benarkah?" Arya agak canggung.


"Um, itu benar! Tapi, syaratnya mereka harus berciuman di kincir ria!"


Lylia sangat bersemangat. Matanya berbinar ketika dia menatap mata Arya dengan tatapan nakalnya. Senyumnya itu benar-benar menggoda, sangat berbeda jauh dengan tampilan luarnya yang lembut dan polos.


Arya terkejut dan wajahnya merah padam. Jantungnya berdetak kencang. Dia tahu jika yang Lylia katakan hanya omong kosong dan gadis ini hanya menggodanya.


'Tapi, jika rumor itu benar apa adanya...'


Arya menatap Lylia, menangkupkan tangannya di wajah Lylia dan membelainya dengan lembut. Dia kemudian mendekatkan wajahnya, mengerucutkan bibirnya.


Sekarang, Lylia yang terkejut dan panik. Dia hanya bercanda, tapi sepertinya kekasihnya ini benar-benar serius.


"Stop! Aku hanya bercanda! Jangan dianggap serius!"


Lylia segera menghalangi Arya, mendorong wajahnya. Wajahnya merah padam dan jantungnya berdebar kencang. Bukannya dia tidak mau ciuman dengan Arya. Tapi, dia ingin momen yang lebih romantis dari sekarang.


"Oh, bukankah kamu yang bilang jika kita ciuman, kita akan memiliki kebahagiaan abadi dan tidak akan terpisah selamanya?"


Arya tersenyum menggoda, memainkan rambut putih keperakan milik Lylia.


Lylia terdiam dan wajahnya semakin memerah. Bahkan asap bisa terlihat keluar dari ubun-ubunnya.


*****


Setelah makan siang, Arya dan Lylia pergi berbelanja pakaian baru. Mereka pergi ke mall di pusat kota dan membeli banyak pakaian. Setidaknya ada lima puluh pasang pakaian yang mereka beli. Lebih dari setengah merupakan pakaian pasangan dan sisanya adalah semi-formal dan pakaian santai.


Setelah itu, Lylia mengajak Arya bermain sebentar di game center. Keduanya memainkan beberapa permainan, sebelum akhirnya Lylia mengajak berfoto di photobox.


Masuk ke dalam photobox, Lylia memeluk tangan Arya dan berfoto sambil tersenyum.


Arya tersenyum canggung karena tidak terbiasa.


Setelah itu, keduanya berfoto dengan banyak pose dan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang berpelukan, saling menatap, membentuk hati menggunakan kedua tangan masing-masing dan banyak lagi.


*****


"Baiklah, ini sudah larut. Aku pulang dulu, ya, Arya."


Lylia dengan enggan berkata demikian. Dia tidak ingin pulang ke rumahnya. Dia ingin tetap bersama Arya.


Lylia lalu berbalik, hendak ke mobilnya karena sopir sudah menunggu. Namun, dia tiba-tiba dihentikan oleh Arya saat pergelangan tangannya dipegang dengan erat.


Lylia terkejut dan menoleh pada Arya.


"Arya...?"


"Lylia, ini sudah larut. Ba-bagaimana jika kamu menginap saja?"


Wajah Arya memerah, sedikit mengalihkan pandangannya karena terlalu malu.


Lylia mengedipkan matanya beberapa kali karena terkejut. Dia ikut memerah.


"Bagaimana dengan kakekmu? Kakekmu sudah pulang dari liburannya, kan?"


"Ya, tapi itu bukan masalah besar. Menginap saja, ya?"


Arya menatap Lylia dengan memohon. Dia ingin memeluk gadis ini dalam tidurnya, tidak peduli apa.


Lylia dengan cepat mengangguk. Dia segera memberitahu sang sopir yang menjemputnya untuk meninggalkannya di rumah Arya dan menjemputnya di hari Senin pagi.


Sopir tersebut tidak banyak bertanya dan segera pergi setelah mendapat perintah.


Berbalik, Lylia menghampiri Arya dan menjatuhkan diri dalam pelukannya.


Dengan begitu, kencan mereka ditutup dengan tidur bersama sambil berpelukan sepanjang malam.


*****


Di dalam kamarnya, Lucy yang sedang berkaca di cermin lemari pakaiannya terlihat sedang memakai make-up tipis sebelum berangkat sekolah. Dia sudah absen selama hampir dua minggu karena mengalami trauma sebab pernah diculik dan hampir dilecehkan. Namun, kini dia perlahan mulai melupakan kejadian buruk yang menimpanya dan traumanya sudah lebih membaik.


Setidaknya Lucy sudah bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk tiga hari terakhir.


Tersenyum tipis pada cermin, Lucy berbalik dan mengambil tas sekolahnya dan menghampiri David.


"Kak, aku sudah siap. Ayo berangkat!" Lucy bersemangat.


David tertawa kecil mendengar adiknya yang sudah kembali ceria itu. Dia kemudian menatapnya dengan ekspresi rumit, menghela napas panjang.


"Kak, ada apa? Kenapa kamu menghela napas begitu?"


"Tidak apa, Lucy. Hanya saja, aku takut kamu masih trauma."


"Tenang saja, Kak! Aku baik-baik saja sekarang!"


"Baguslah. Ngomong-ngomong, bagaimana perasaanmu tentang Arya?"


Lucy tertegun, menyebabkan rona merah muncul di pipinya.


David menghela napas panjang lagi melihatnya. Tampaknya adiknya ini benar-benar belum melupakan rasa cintanya pada Arya.


"Lucy, apakah kamu masih mencintai Arya, meski dia telah memiliki kekasih?"


Lucy mengangguk.


"Meski sikap Arya kasar, dingin dan formal padamu, kamu masih mencintainya?"


Lucy mengangguk serius.


"Lucy, lupakanlah Arya. Dia sudah memiliki kekasih dan dia bahagia bersama kekasihnya sekarang. Juga, ada baiknya kamu menjauhi Arya, karena dia adalah seorang pembunuh sekarang." David menasehati dengan serius.


Lucy mengerutkan dahinya, tidak senang.


"Apa maksudmu, Kak?"


"Lucy, Arya sudah berubah. Dia bukan Arya yang kita kenal. Arya yang kita kenal tidak akan pernah membunuh, sementara Arya yang sekarang adalah pembunuh. Arya sudah berubah, Lucy."


"Tidak! Arya tidak berubah! Dia masih sama seperti dulu! Kakak saja yang tidak mengetahuinya! Lihat matanya, dia masih memiliki tatapan lembut dan penuh kasih sayangnya! Lihat sikapnya padaku pada malam itu! Dia tidak meninggalkanku dan menemaniku tidur, sehingga aku tidak mimpi buruk!"


Lucy segera membantah, tidak terima karena sang pujaan hati dikatakan sudah berubah.


David terdiam, merasa jika cinta benar-benar mengubah kepribadian adiknya ini.


'Lucy dulu selalu mendengarkanku. Sejak kapan dia jadi membantah begini? Arya, kau sialan! Kembalikan adikku yang penurut!' David mengutuk Arya dalam hatinya.