Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 31 - Demam



‍‍‍‍‍‍‍‍Pada esok harinya, masih seperti hari Sabtu kemarin, hujan turun, namun tidak selebat kemarin.


Kini di rumah Lucy, tepatnya di ruang TV, terlihat tiga orang, dua pemuda dan seorang gadis. Dua pemuda tersebut sedang bermain game bersama karena mereka berdua memegang controler game.


Pemuda pertama memiliki wajah agak galak dan pemuda lainnya terlihat agak kewalahan karena sang gadis sedang duduk di pangkuannya, melingkari lehernya dan mengunci pinggangnya.


David yang melihat Arya memangku Lucy memiliki wajah berkedut yang tidak berhenti. Dia merasa sangat kesal ketika melihat dua orang ini bermesraan di hadapannya tanpa tahu malu. Dia marah sekaligus iri, iri karena dia tidak memiliki pasangan untuk diajak bermesraan.


"Sialan, kalian berdua benar-benar membuatku iri!"


David berkata demikian, berkedut tanpa henti sebelum akhirnya dia meninggalkan keduanya di ruang TV dan pergi ke kamarnya, memilih untuk membaca buku daripada melihat kemesraan dua orang yang sedang kasmaran ini.


Arya dan Lucy yang melihatnya hanya terkekeh dan mengabaikannya.


"Ini tidak akan menjadi menyenangkan karena aku tidak memiliki teman bermain. Apakah kamu mau main, Lucy?"


"Tidak, aku tidak mau main. Aku hanya ingin di sini. Arya, kamu sangat hangat."


Lucy mengusapkan dahinya ke dada Arya. Dia terlihat sangat nyaman ketika merasakan kehangatan tubuh Arya.


Arya tersipu malu mendengar ini.


Lucy kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Arya. Dia memiliki senyum nakal di wajahnya.


"Apa yang kamu inginkan?"


Arya bertanya, sedikit berharap.


Senyum nakal Lucy terlihat seperti dia menginginkan sesuatu dan sepertinya gadis itu ingin dicium olehnya. Jadi, Arya tidak bisa untuk tidak berharap.


"Tidak ada. Hanya saja, aku ingin mandi hujan. Ayo keluar bersama dan bermain hujan di luar."


Lucy memiringkan kepalanya sambil tersenyum.


Ekspresi Arya langsung menggelap mendengar ini. Dia sangat kecewa dan wajahnya dipenuhi kedutan.


"Tidak, jangan mandi hujan, atau kamu akan sakit."


"Ayolah, sekali saja. Lagi pula aku sudah lama tidak mandi hujan, jadi tidak masalah, kan?"


Lucy mengerucutkan bibirnya, sedikit kecewa dengan jawaban Arya.


Dia tiba-tiba mendapat ide untuk mandi hujan di luar karena itu terdengar menyenangkan. Selain itu, terakhir kali dia mandi hujan adalah sekolah dasar, jadi dia ingin bernostalgia sedikit.


Tapi meski begitu, Arya menolaknya dengan tegas.


Lucy sudah membujuknya berkali-kali tapi tetap ditolak.


Pada akhirnya, Lucy menghela nafas kecewa dan sudut matanya menunjukan air mata sebelum dia membenamkan wajahnya ke dada Arya lagi.


'Baguslah, dia sepertinya sudah tidak merengek lagi. Aku lelah mendengar rengekannya.'


Arya melanjutkan gamenya tapi tiba-tiba, dia mendengar suatu ancaman dari Lucy.


"Arya, kamu sangat jahat. Jika kamu tidak mau menemaniku mandi hujan, maka jangan harap kamu bisa mencium atau tidur bersamaku malam ini!"


Kata Lucy sambil menatap Arya. Dia terlihat sangat serius.


Wajah Arya berkedut mendengar ini dan dia segera menuruti permintaan gadis kecilnya itu dengan terpaksa. Selain itu, sepertinya jika dia menolaknya sekali lagi, Lucy benar-benar akan melakukan apa yang dia katakan tadi.


Keluar dari rumah, keduanya menuju teras samping dan Lucy dengan tawa cerianya berlarian di tengah hujan. Dia berlari, berputar-putar dan menatap langit yang mendung dan hujan itu.


Hujan tidak terlalu lebat, jadi tidak terlalu masalah.


Di sisi lain, Arya yang melihat Lucy begitu ceria di bawah air hujan merasa heran. Dia saja mengigil kedinginan begitu menyentuh air hujan. Tapi gadis kesayangannya itu terlihat tidak merasakan apapun.


Setelah beberapa saat, Arya akhirnya mulai terbiasa dengan dinginnya hujan dan mulai mengejar Lucy.


Mengejar Lucy, Arya menunjukan senyum nakal. Dia mengulurkan tangannya untuk meraih pergelangan tangan Lucy, tapi Lucy yang menyadari hal ini menghindar ke samping, membuatnya tergelincir jatuh.


Lucy hanya tertawa melihat Arya terjatuh. Dia terdengar mengejek, membuat pemuda itu kesal dan segera berdiri untuk menangkapnya.


Lucy terus menghindar seperti kelinci kecil yang lincah, sementara Arya mengejarnya bagai serigala nakal.


Di dalam rumah, David keluar dari kamarnya untuk membuat kopi. Ketika dia menuju dapur, dia tidak sengaja mendengar suara tawa dari luar rumah, membuatnya penasaran dan melihat keluar jendela. Dia agak terkejut ketika menyadari dua orang sedang bermain hujan sambil kejar-kejaran bagai anak kecil. Dia menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun, kalian sudah besar. Kenapa malah main hujan-hujanan begitu?"


David tertawa melihat kedua adiknya terlihat asik bermain hujan di luar. Dia merasa hangat melihat keduanya terlihat bahagia. Melihat keduanya yang begitu mesra bukan hanya membuatnya iri dan kesal, tapi juga merasa bahagia dan lega. Dia bisa melihat betapa bahagianya Lucy jika menikah dengan Arya suatu hari nanti.


Dengan ini, dia bisa tenang karena kebahagiaan adik kecilnya itu sudah terjamin.


"Kena kamu!"


Arya meraih pergelangan tangan Lucy, namun gadis itu hanya tertawa geli.


Lucy menatap Arya dengan agak terkejut. Dia meletakkan kedua tangannya di dada Arya.


Keduanya saling menatap dan rasa dingin dari hujan yang sebelumnya mereka rasakan hilang, digantikan oleh kehangatan dari tubuh masing-masing.


Arya sendiri bisa merasakan dada bulat Lucy menyentuh tubuhnya, membuatnya memerah.


Selain itu, karena hujan, pakaian keduanya menempel erat di tubuh mereka. Terutama Lucy.


Lekuk tubuhnya terlihat jelas dan menunjuk dadanya yang bulat dan besar itu pada Arya.


Pinggulnya yang bulat, yang jarang diperhatikan oleh Arya juga terlihat memiliki kelembutan dan bentuk yang sempurna.


Mata Arya yang awalnya menatap dada Lucy kini berpindah ke bibirnya. Bibir mungil itu memiliki warna merah cerah alami dan terlihat sangat nikmat.


Perlahan, Arya mendekatkan wajahnya ke wajah Lucy sambil mengerucutkan bibirnya.


Lucy sudah tahu apa yang Arya inginkan, jadi dia segera menutup matanya dan mengerucutkan bibir mungilnya.


Kedua bibir bertemu, membuat kehangatan bertambah.


Mereka berdua bukan melakukan ciuman dangkal dan ringan, tapi mereka menjalinkan lidah juga.


David yang awalnya menonton dari balik jendela langsung berkedut tanpa henti. Dia baru saja merasa hangat di hatinya melihat kedua adiknya bahagia. Tapi segera, dia menjadi kesal karena melihat Arya dan Lucy ciuman dengan mesra dan penuh kasih sayang.


Dia juga ingin melakukan hal semacam itu, tapi dia tidak memiliki pasangan, jadi bagaimana mungkin dia bisa berciuman?


"Arya, lihat saja. Setelah kau masuk ke dalam, aku akan memukulmu!"


David menggerutu kesal.


Kembali pada Arya dan Lucy, keduanya menarik kembali bibir mereka, menciptakan jembatan air liur.


"Lucy, mari kita sudahi ini. Jika lebih lama lagi, aku takut kita jatuh sakit."


"Sebentar lagi, ya? Lima menit saja~." Kata Lucy manja.


"Baiklah. Kamu boleh mandi hujan lima menit lagi, tapi setelah itu kamu harus segera masuk dan mandi agar tidak sakit."


"Oke~."


Arya mengingatkan Lucy. ketika hendak masuk rumah, dia menatap Lucy dengan ragu, takut gadis kesayangannya ini jatuh sakit.


Menggelengkan kepalanya, Arya masuk ke dalam untuk mandi agar tidak jatuh sakit.


Tapi tiba-tiba, dia melihat David berlari padanya dengan tatapan tajam. Tangannya yang terkepal melayang ke arahnya, mengenai perutnya.


Arya mengerang kesakitan. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia tiba-tiba dipukul oleh David tanpa alasan, membuatnya kesal bukan main.


*****


"Jadi, apakah kamu puas setelah mandi hujan dan jatuh sakit?"


Arya tersenyum tapi matanya menunjukan kemarahan. Dia saat ini sedang berdiri di dekat Lucy yang sedang terbaring sakit di kasurnya.


Dia mengalami demam setelah bermain hujan kemarin.


Kemarin, Arya sempat menolak untuk bermain hujan karena takut jatuh sakit, tapi Lucy terus memaksanya, membuatnya menerima permintaan gadis tersebut dengan terpaksa.


Setelah bermain cukup lama, Arya menyuruh Lucy untuk berhenti bermain hujan dan segera mandi agar tidak sakit. Tapi hasilnya, Lucy mengabaikannya dan bermain hujan sepuasnya hingga akhirnya dia jatuh sakit seperti sekarang.


"Ugh, kamu sangat jahat... Aku sedang sakit, tapi kamu malah memarahiku...!"


"Ratuku, aku sudah menyuruhmu untuk berhenti bermain hujan tapi kamu mengabaikanku. Sekarang ini hasilnya. Siapa yang bisa disalahkan jika sudah seperti ini?"


Lucy terdiam, mengalihkan pandangannya. Wajahnya merah karena demam dan nafasnya agak berat. Dia juga pilek dan kepalanya pusing.


Dia sudah meminum obat tadi, tapi sepertinya itu tidak berefek banyak.


Arya menghela nafas melihat Lucy. Dia menatapnya dengan menyesal karena menuruti permintaannya untuk mandi hujan. Jika saja dia menolak dengan tegas, gadis kesayangannya ini pasti tidak akan jatuh sakit.


"Arya, maaf..."


Lucy menyadari tatapan Arya dan berkata demikian.


"Tidak Lucy, jangan meminta maaf. Kamu tidak bersalah. Tidurlah, aku akan pergi keluar untuk membeli bubur untukmu."


Arya mengelus kepala Lucy dan keluar dari kamarnya.


"Arya, aku pergi bekerja dulu. Tolong rawat Lucy, ya. Jika perlu, bawa di ke rumah sakit."


David yang hendak pergi bekerja berpesan pada Arya. Dia harus bekerja, jadi dia menitipkan Lucy pada Arya. Dia yakin sepenuhnya bahwa adik laki-lakinya itu pasti bisa merawat Lucy dengan baik.


Arya mengangguk dan keluar sebentar untuk membeli bubur untuk Lucy. Bubur adalah makanan terbaik untuk orang yang sedang sakit