Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 165 - Arya Siuman



Di dekat para polisi, banyak orang tua yang kehilangan putrinya akhirnya bisa bertemu dengan mereka lagi. Mereka memeluk erat putri mereka dan menanyakan kondisi mereka.


Namun, meski banyak yang sudah bertemu dengan putri mereka, tetap ada satu atau dua orang yang melihat sekeliling dengan panik dan kebingungan.


"Kepala Sekolah, bagaimana ini? Setidaknya ada empat orang siswi dari sekolah kita yang diculik!"


Seorang wanita berusia empat puluh awal berkata dengan panik saat wajahnya pucat. Dia merupakan salah satu guru di SMA Daeil dan di sebelahnya merupakan kepala sekolah SMA Daeil, Tuti.


"Tenang, para polisi sedang menyelidiki tempat ini. Kita hanya perlu menunggu dengan sabar dan yakinlah jika para siswi kita selamat dari penculikan ini!"


Tuti berkata dengan wajah tenang, namun di dalam hatinya dia panik dan tidak nyaman. Setidaknya, ada empat orang siswinya yang menjadi korban penculikan dan jika salah satu mereka ada yang tidak kembali, maka dia akan menyesal seumur hidupnya.


Tuti jelas tidak akan memiliki alasan yang bagus untuk diberikan pada para orang tua siswi jika siswinya tidak kembali dengan selamat.


"Ah! Kepsek, Bu Guru!"


Sebuah suara datang dari samping, membuat Tuti dan guru wanita tadi menoleh karena suara yang mereka dengar tidak asing.


"Rem!" Guru wanita itu berkata, sangat gembira dan langsung menghampiri gadis tersebut.


"Rem, syukurlah kamu selamat!" Kata Tuti, menghela napas lega.


Gadis tersebut, yang bernama Rem, menangis dalam pelukan guru wanita tadi dan tidak memperhatikan ucapan Tuti.


Setelah beberapa saat, gadis bernama Rem itu akhirnya menjadi lebih tenang dan siap ditanyai oleh Tuti dan guru wanita tadi.


"Rem, apakah kamu melihat temanmu yang diculik juga? Ada setidaknya empat orang dari sekolah kita yang juga diculik."


Mendengar pertanyaan Tuti, Rem terisak sekali kemudian menjawab.


"Y-ya, Kepsek... Aku melihat ada dua orang lainnya dan Lucy juga ada di sana..."


Rem menjawab dengan terbata-bata, masih merasa takut karena penculikan ini.


"Lucy juga diculik?! Bagaimana keadaannya sekarang?!"


Tuti dibuat terkejut, tidak menyangka jika Lucy juga akan menjadi korban penculikan. Jika Lucy sampai mengalami cedera dan Arya mengetahui hal ini, bukankah Tuti akan menerima amukan tanpa batas dari Arya?


Membayangkannya saja membuat Tuti merinding.


"Lucy baik-baik saja, Kepsek... Dia ada di sana. J-juga, Arya datang menyelamatkannya tadi..."


Rem berkata, membuat Tuti semakin terkejut.


'Arya datang menyelamatkannya? Bagaimana mungkin?' Tuti mengerutkan dahinya dengan curiga, namun matanya menunjukkan rasa khawatir.


Mengabaikan hal tak perlu, Tuti meminta Rem untuk mengantarkannya ke tempat Lucy berada.


Rem mengangguk kemudian mengantarkan Tuti ke sebuah mobil di mana Lucy berada di dalamnya. Setelah mengantar Tuti, Rem mengantarkan guru wanita tadi ke tempat dua siswi lainnya.


Melihat mobil itu, Tuti memiliki sedikit tebakan jika mobil ini adalah mobil ambulans. Ini membuatnya khawatir karena jika Lucy ataupun Arya berada di dalam sana, pasti salah satunya terluka.


Melihat ke dalam, Tuti langsung lega karena melihat seorang gadis berambut hitam dengan wajah familiar, yang tidak lain adalah Lucy.


"Lucy, kamu baik-baik saja?"


Tuti memanggil pelan.


Lucy perlahan mengangkat kepalanya dan ketika matanya bertemu dengan Tuti, dia mengangkat alisnya sedikit karena terkejut.


"Eh? Kepsek?"


"Iya, aku baik-baik saja..."


Lucy berkata dengan lemah, suaranya gemetar ketika dia menatap pria yang sedang terbaring di pangkuan pahanya.


Tuti perlahan mengalihkan pandangannya ke pria tersebut hanya untuk melebarkan matanya hingga hampir keluar rongganya. Dia sangat terkejut ketika melihat Arya terbaring lemah dengan telanjang dada.


Di bahu kanan Arya, terikat perban dengan noda merah darah. Bukan hanya di bahu, melainkan di pinggangnya juga terdapat perban berdarah.


"Lucy, apa yang terjadi pada Arya?!"


Tuti histeris, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin memenuhi dahinya.


"Arya... Dia... Dia datang untuk menyelamatkanku, tapi dia terluka... Dia tertembak di bahunya..."


Lucy tersedu-sedu saat dia menjelaskan. Air matanya menetes deras bagai air terjun. Perasaan bersalah dan sakit memenuhi hatinya.


Wajah Tuti semakin pucat mendengar itu, seakan darah tidak pernah mengalir ke sana.Tubuhnya terhuyung-huyung. Kepalanya seketika pusing seakan dunia berputar sangat cepat. Berbagai macam pertanyaan melintas di benaknya.


"Tidak... Tidak... Bagaimana caraku menjelaskan ini pada orang tua Arya jika keadaannya seperti ini...? Apa... Apa yang harus kulakukan...?"


Tuti bergumam, nadanya gemetar. Dia jelas merasa bersalah karena gagal menjaga para siswanya selama study tour ini.


"Kepsek, aku bisa menjelaskannya pada ibu Arya. Aku tahu cara menjelaskan semua ini..."


Lucy berusaha menghibur Tuti meski dia dalam keadaan yang tidak baik. Namun, itu sama sekali tidak membantu.


Tuti tetap tampak kebingungan dan dia terus-menerus bergumam sendiri.


Ketika Tuti sibuk bergumam dengan dirinya sendiri, suara erangan pelan tiba-tiba terdengar dari Arya. Mata pemuda itu berkedut beberapa kali sebelum dia membukanya dengan berat.


Melihat Arya membuka matanya, Lucy melebarkan matanya dan rasa bersyukur memenuhi hatinya. Tuti juga begitu, dia segera menatap Arya dengan lega.


"Arya! Kamu sudah sadar? Kamu baik-baik saja? Mana yang sakit?"


Lucy segera menangkupkan kedua tangannya pada wajah Arya, ingin memastikan jika Arya baik-baik saja.


Arya mengedipkan matanya beberapa kali, dia kemudian memfokuskan pandangannya pada wajah Lucy yang menangis. Air mata gadis itu menetes ke wajahnya.


"Lucy... Aku baik-baik saja."


Arya tersenyum tipis dengan wajahnya yang pucat. Dia menyeka air mata Lucy dengan lembut.


Tuti menghela napas lega ketika melihat Arya sudah siuman. Dia kini hanya perlu mengkhawatirkan luka Arya dan meminta sedikit penjelasan tentang kenapa pemuda ini bisa berada di lokasi penculikan sebelum kepolisian datang.


"Arya, bagaimana kondisimu saat ini? Apakah perlu aku panggilkan seseorang untuk memeriksa keadaanmu?"


Tuti bertanya dengan khawatir.


Arya agak terkejut mendengar suara Tuti. Dia perlahan bangkit dan duduk meski itu menyakitkan untuk pinggangnya.


"Kepsek, bagaimana kau bisa ada di sini?"


"Ceritanya panjang. Juga, itu seharusnya pertanyaanku. Kenapa kau bisa di sini dan berakhir terluka?"


"Apakah aku harus menjawab? Aku tidak perlu memberitahumu, benar?"


Arya berkata dengan dingin, acuh tak acuh.


Tuti tidak tersinggung mendengarnya. Dia hanya tersenyum tipis. Mendengar itu jika Arya masih bisa acuh tak acuh dan berkata dengan dingin padanya, itu menunjukkan jika pemuda ini baik-baik saja.