Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 89 - Pujaan Hati William



Beberapa hari kemudian, Arya yang sedang berbaring di dalam kamarnya terlihat sedang bermain dengan handphonenya. Dia tiba-tiba terkejut saat melihat pesan yang masuk ke handphonenya. Dia segera duduk dan senyum lebar muncul di wajahnya.


Beranjak dari kasurnya, dia memakai jaketnya dan segera pergi keluar.


Setelah beberapa saat, Arya tiba di rumah Lucy. Dia mengetuk pintu beberapa kali dan dengan segera, dia disambut oleh David.


"Oh, Arya. Ada apa?"


"Kak, apakah ada kurir yang mengantarkan paket atau semacamnya?"


"Hm? Kurir mengantar paket... Ah! Ya, memang ada kurir tadi. Dia memberikan sesuatu dan segera pergi setelah itu. Apakah itu paket milikmu, Arya?"


"Ya, itu adalah milikku. Bisakah aku melihatnya, Kak?"


"Tentu, masuklah."


David mengangguk setuju. Dia kemudian mempersilakan Arya masuk.


Arya menunggu di ruang tamu di depan, sementara David ke kamarnya untuk mengambil paket yang dia terima tadi.


"Ini, aku tidak tahu apa yang kamu pesan, tapi sepertinya benda ini cukup berharga untukmu, benar? Kamu terlihat sangat bersemangat."


David tertawa kecil, memberikan paket milik Arya.


Arya menerimanya dengan gembira. Dia kemudian membuka bungkus paket itu, menemukan sebuah kotak hitam yang terlihat mewah.


David menjulurkan kepalanya dan menatap Arya dengan penasaran. Sudah cukup lama sejak terakhir kali dia melihat Arya begitu semangat seperti sekarang.


Arya menyentuh kotak hitam itu dan membelainya dengan pelan. Dia kemudian membuka kotak tersebut dan dua buah benda panjang terlihat.


Dua benda tersebut memiliki panjang sekitar tiga puluh centimeter, melengkung dari bagian tengah hingga ujungnya. Keduanya memiliki warna perak besi alami dan di satu sisinya memiliki gerigi tajam.


Dua benda bergerigi dan melengkung itu tidak lain adalah belati. Belati ini Arya beli secara online, melalui cara ilegal. Dia membeli belati ini menggunakan uang yang dia pinjam dari Lylia beberapa hari yang lalu. Belati ini yang nantinya akan dia gunakan untuk membunuh semua orang yang telah dia targetkan.


Arya dengan tangannya yang gemetar karena rasa gembiranya menyentuh belatinya. Dia kemudian mengeluarkannya dari kotaknya, mengamatinya dengan rasa ingin tahu.


David, yang menyadari apa yang Arya pegang tercengang, melebarkan matanya hingga akan lepas dari rongganya. Dia menjadi agak pucat dan keringat dingin menetes dari pipinya.


"Arya... Apa itu?" Suara David gemetar.


"Oh, ini? Ini adalah belati, yang akan kugunakan untuk membunuh mereka yang sudah menggosipi ibuku. Ini belati yang akan kugunakam untuk membunuh istri pertama ayahku beserta anak-anaknya nanti. Lihat saja, dalam waktu dekat, aku akan membunuh mereka semua."


Arya awalnya terdengar lembut, namun ketika dia mengatakan akan membunuh orang-orang yang menggosipi ibunya, nadanya berubah menjadi dingin dan dipenuhi kebencian.


David menatap Arya dengan ngeri saat dia melihat orang yang dia anggap adiknya itu bermain-main dengan belati. Dia kemudian menyeka keringat dingin di dahinya dan mengambil napas dalam-dalam.


"Arya, tenangkan dirimu dulu, lalu letakkan belati itu, mengerti? Aku tahu kamu memiliki banyak masalah dalam keluargamu, bahkan kamu bilang jika tetanggamu di kota Bern menyebarkan rumor buruk tentang ibu, kan? Aku tahu itu semua, aku tahu. Kemari, ceritakan masalahmu yang lain dan Kakak akan mendengarkan semuanya, oke? Jadi, jangan membunuh. Membunuh tidak membuatmu semakin baik, membunuh hanya membuatmu menjadi seorang penjahat."


David dengan napasnya yang memburu itu menasehati Arya. Dia tergagap ketika berbicara dan jantungnya berdebar kencang karena takut akan belati di tangan Arya.


Dia hanya bisa berharap Arya akan mendengarkannya dan membuang belati itu.


Namun, harapan David hancur seketika.


"Kak, ketika aku mengatakan jika aku akan membunuh mereka semua, maka aku akan membunuhnya."


Arya berkata dengan dingin, menatap tajam pada David.


David yang ditinggalkan seorang diri itu perlahan jatuh terduduk, terengah-engah karena ketakutan.


Dia tidak menyangka jika Arya akan benar-benar membunuh orang-orang yang telah dia targetkan.


David ingat jelas jika saat Arya yang masih duduk di bangku tahun kedua SMP itu berkata jika dia akan membunuh semua tetangganya karena menyebarkan rumor buruk tentang ibunya. Dia juga ingat Arya bilang jika dia akan membunuh istri pertama ayahnya beserta seluruh anaknya.


Awalnya David mengira jika apa yang Arya katakan saat itu hanyalah omong kosong.


Dia tidak menyangka jika suatu hari kata-kata Arya itu akan menjadi kenyataan.


*****


Esok harinya, di SMA Daeil, ketika jam pelajaran terakhir telah usai, di dalam kelas 1-1, terlihat semua siswa sibuk membereskan buku mereka dam bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing.


Dari sekian banyak siswa, ada seorang siswa berwajah tampan malah melihat sekeliling dan terlihat tidak peduli akan kepulangannya. Dia kemudian mendekati salah satu gadis.


"Hei, kau. Kemari sebentar, aku memerlukan bantuanmu." Pemuda itu, William, memanggil.


Gadis yang dipanggil berbalik dan agak terkejut melihat William.


"Ada apa, William?" Gadis itu bertanya.


"Aku ingin meminta bantuanmu, apakah kau bisa membantuku?"


"Tentu, bantuan apa yang kamu perlukan?"


"Yah... Bisakah kamu mengajak Lucy keluar sebentar? Aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Aku masih memerlukan beberapa persiapan untuk memberikan kejutan padanya, jadi tolong ajak dia menjauh sebentar. Sepuluh menit saja."


Gadis itu linglung mendengar William, dia menatapnya kebingungan dan mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menunjukkan senyum lebar dan mengangguk dengan cepat.


"Um, serahkan saja padaku! Aku harap kamu jadi pasangan kekasih dengan Lucy!"


Gadis itu lalu berbalik, menghampiri Lucy dan mengajaknya keluar.


William menghela napas pelan dengan ini. Dia kemudian menuju ke depan kelas.


"Teman-teman, tolong tunggu sebentar. Aku memiliki sesuatu untuk diberitahu pada kalian semua."


Suara William terdengar jelas ketika dia berbicara di depan kelas, membuat semua orang yang mendengarnya menghentikan kegiatan mereka dan mengalihkan fokusnya pada William.


Mereka semua berbisik kebingungan ketika mendengar William.


"Baiklah, terima kasih telah mendengarkanku." William berdeham.


"Teman-teman, aku ingin meminta bantuan pada kalian saat ini. Seperti yang kalian ketahui, wajahku ini sangat tampan, jadi banyak gadis yang mengantri untuk menjadi kekasihku. Tapi, aku menolak mereka semua. Namun, suatu hari, aku bertemu pujaan hatiku sesungguhnya, jadi aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya hari ini."


William berpidato sejenak dengan nada narsisnya, membuat beberapa orang jijik dan mencibir.


Hampir semua orang terkejut, terutama para gadis. Banyak dari mereka memang menyukai William karena dia tampan, tapi mereka ditolak mentah-mentah olehnya. Jadi, mendengar dia memiliki seorang pujaan hati cukup mengguncang mereka.


Namun, ada juga gadis yang mencibir, merasa kasihan pada gadis pujaan hati William karena mendapat kekasih narsis sepertinya.


Segera, kelas menjadi heboh dan suara bisikan terdengar di mana-mana.