
"Dengarkan aku, Lucy..."
Arya lalu mulai menjelaskan tentang apa yang terjadi dan dia juga mengatakan kalau dia sebelumnya bertemu dengan David terlebih dahulu untuk mengatakan kalau dia akan membunuh Vicky.
*****
Kembali pada beberapa hari yang lalu, saat Arya menemui David untuk berkonsultasi padanya. (Chp 34)
Ketika David mendengar Arya berkata dia ingin membunuh ayahnya, dia merasakan kepalanya sangat sakit. Ekspresinya bermasalah dan dia memutar otaknya, memikirkan cara agar Arya mengurungkan niatnya untuk membunuh Vicky.
Setelah dia lama, David menghela napas panjang lalu menatap Arya dengan serius.
"Arya, dengarkan aku. Aku tahu ayahmu memang tidak pernah perhatian padamu ataupun adikmu. Tapi, lamu tidal boleh membunuhnya tidak peduli seberapa bencinya kamu pada ayahmu. Kamu harus memaafkan ayahmu, Arya."
"Aku tahu itu, Kak. Aku sangat tahu hal itu, makanya aku ragu harus membunuhnya atau tidak. Bahkan, sekarang aku ragu apakah jalan yang kuambil sebagai pembunuh ini adalah jalan yang benar atau tidak."
Arya menggertakkan giginya, merasa ragu pada pilihannya sebagai pembunuh. Dia merasa semua yang dia lakukan adalah hal yang sia-sia.
David menghela nafas panjang mendengar ini.
"Arya, untuk jalan yang kau ambil, itu adalah pilihanmu sejak dulu. Benar atau tidaknya, jelas pilihanmu tidak benar karena kamu memilih menjadi pembunuh. Adapun untuk ayahmu, aku sarankan kamu untuk mengurungkan niatmu dan jangan kamu bunuh dia." Kata David penuh khawatir.
"Ayahku? Pria sepertinya ayahku?"
Arya hanya tertawa saat mendengar ucapan David. Tawanya perlahan berhenti ketika nadanya menjadi sangat dingin dan penuh kebencian.
"Kak, jangan buat aku tertawa. Ayah macam apa yang meninggalkan anaknya yang baru berusia satu bulan. Di bahkan tidak pernah mengunjungiku sampai aku berusia dua tahun. Apakah dia pantas disebut ayah?"
"Argh! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
David memijat kepalanya yang terasa sakit.
"Pokoknya, jangan bunuh dia. Dia adalah ayahmu. Jika dia tidak ada di dunia ini, maka kau juga tidak akan ada di dunia ini. Jangan hanya karena dia pernah menelantarkanmu sesaat, kau mau membunuhnya."
David kembali meminta Arya untuk mengurungkan niatnya. Dia benar-benar tidak ingin melihat adiknya membunuh ayahnya sendiri.
Arya akhirnya terlihat agak merenung untuk ketika David memintanya dengan sungguh-sungguh. Dia terdiam cukup lama dan menghela nafas akhirnya.
"Kak, aku sebenarnya tidak masalah jika ditelantarkan. Tapi dia sudah menyakiti hati ibuku. Dia menjadikan ibuku yang kedua, dia bahkan memiliki istri ketiga. Aku yakin kau bisa membayangkannya, Kak. Ketika seorang pria memiliki tiga istri, tapi dia tidak bisa bersikap adil pada dua istri pertamanya dan selalu memanjakan istri ketiganya. Ayahku, dia sudah sepantasnya dibunuh. Jangankan adil pada para istrinya, pada para anaknya saja dia tidak pernah sayang bahkan memberikan perhatian sedikitpun tidak pernah!"
"Aku tidak masalah jika ayahku tidak menyayangiku, tapi setidaknya jangan sakit hati ibuku! Ibuku adalah wanita baik-baik, tapi karena dia salah memilih pasangan hidupnya, sekarang ibuku menderita! Ayahku jarang ada di rumah, dia hanya pulang satu bulan sekali. Jika dia pulang, dia akan pulang larut, lalu menggauli ibuku setelah itu dia akan pergi lagi sebelum fajar tiba! Dia anggap apa ibuku? Wanita sewaan? Dia anggap apa rumahku? Hotel tempatnya istirahat? Dia pikir karena aku diam selama ini, aku menerima semua perlakuan darinya? Omong kosong! Aku akan benar-benar membunuhnya!"
Arya berkata, penuh kebencian dan nadanya marah. Dia menunjuk ke samping, seolah Vicky ada di sebelahnya. Dia ingin membunuh Vicky bukan karena keinginannya sendiri. Dia hanya ingin membunuh Vicky agar Rosa tidak menderita lagi. Dia melakukan semuanya demi ibunya, bukan dirinya.
"Arya, aku adalah kakakmu, jadi aku tahu semua itu. Ayahmu memang sedikit gila, tapi dia menyayangimu. Percayalah pada kakakmu ini."
David pasrah, berdiri dari tempat duduknya dan menepuk pelan pundak Arya.
Arya diam, namun dia merenung sedikit. Perasaan ragu untuk membunuh ayahnya masih menghantuinya.
Malam harinya, Arya yang sedang berbaring di kasurnya bersama dengan Lucy yang sudah tertidur itu menatap langit-langit. Dia terus-menerus memikirkan apakah dia harus membunuh Vicky atau tidak.
Hingga akhirnya, dia menemukan jalan tengahnya, yaitu Arya tidak akan membunuh Vicky tapi dia hanya perlu melampiaskan seluruh kebenciannya dengan menyiksa Vicky hingga titik terendah.
Arya ingin Vicky menderita secara mental dan fisik.
Arya lalu segera bangun dari tempat tidurnya, meninggalkan Lucy yang masih tidur di sebelahnya. Dia lalu pergi ke ruang tamu dan mulai mengasah belatinya dan menyiapkan semua barang yang dia butuhkan untuk menyiksa Vicky.
*****
"Begitu ceritanya." Arya menutup penjelasannya.
"Aku paham dengan penjelasanmu. Tapi, apakah benar kamu membunuh ayahmu? Katakan iya dan aku akan menamparmu dan meninggalkanmu selamanya!"
Lucy menatap Arya dengan serius. Yang dia perlu ketahui hanyalah, apakah Arya membunuh ayahnya atau tidak. Hanya itu yang perlu gadis itu konfirmasi.
"Tidak, aku tidak membunuhnya. Aku mendengarkan semua saran kakak dan memikirkannya kembali semuanya matang-matang."
Arya kemudian menjelaskan sedikit tentang Vicky dan ketika dia sedang menjelaskan, Lucy tiba-tiba membungkam mulutnya dengan kedua tangan lembutnya.
Tentu saja, mendengarkan cerita tentang Arya yang menyiksa Vicky terlalu mengerikan baginya, jadi dia segera menghentikan Arya.
Kembali pada Arya, dia terlihat merenung saat dia menundukkan kepalanya. Jejak penyesalan terlihat di matanya.
"Arya, kemari."
Lucy membuka lebar kedua tangannya sambil tersenyum hangat, membuat Arya yang melihat senyumnya merasa kehangatan dan semua beban yang membebani hatinya terangkat.
Membiarkan tubuhnya terjatuh dalam pelukan Lucy, Arya membenamkan wajahnya ke pundak gadis tersebut. Dia tidak ingin melihat wajah penyesalannya yang terlihat jelek itu.
Sekitar lima menit kemudian, Arya tampak mulai menangis, menyesali perbuatannya.
Lucy secara alami memeluk erat Arya dan mengelus kepalanya dengan lembut. Dia membiarkan Arya melepaskan semua penyesalan serta rasa frustasinya.
*****
Lucy perlahan membuka matanya dengan berat, lalu menatap Arya dengan melankolis.
Arya tadi menangis cukup lama hingga akhirnya dia tertidur dan Lucy secara alami membaringkan Arya dan tidur di sebelahnya, menemaninya sambil bersenandung dengan nada menyenangkan sampai akhirnya dia tertidur juga.
Mengelus kepala Arya, Lucy bergumam dengan sedih.
"Maafkan aku. Aku seharusnya tidak membiarkanmu stres hingga jadi seperti ini."
Mengatakan demikian, Lucy kemudian menarik kepala Arya dan membenamkan wajah pemuda tersebut ke dadanya.
"Hmm..."
Arya perlahan terbangun dari tidurnya dan mendapati wajahnya terbenam di dada bulat dam lembut Lucy.
Arya segera mendongak, menatap Lucy dengan wajahnya yang agak memerah.
Lucy yang ditatap Arya memiringkan kepalanya kebingungan. Ia lalu bertanya pada Arya.
"Sudah lebih baik?"
"Um, ya. Aku merasa lebih baik sekarang."
Mulut Lucy terbuka, ingin mengatakan sesuatu namun belum sempat mengatakannya, terdengar suara yang cukup keras yang datang dari Arya.
Perut Arya berbunyi dengan cukup kencang, menandakan dia kelaparan. Dia belum makan sama sekali dari kemarin karena sedang memikirkan Vicky.
Arya lalu membenamkan kembali wajahnya ke dada Lucy, merasa malu dengan bunyi perutnya yang begitu keras.
Lucy yang melihat Arya tertawa kecil.
"Arya, mau makan?"
"Ya, tolong masakkan sesuatu untukku."
Arya mengangguk.
Lucy lalu melepaskan pelukannya, beranjak pergi dari kasur dan menuju ke dapur untuk memasak.
Sementara Lucy memasak, Arya pergi menghampiri David dan menjelaskan kalau dia tidak membunuh Vicky, hanya menyiksanya dengan parah. Dia juga meminta maaf pada David karena sudah membuatnya mengkhawatirkannya.
David terkejut awalnya tapi dia menghela nafas lega mendengar penjelasan Arya. Dia mengelus kepala Arya dengan lembut, membuat Arya memerah karena malu.
Setelah semuanya, Arya tidak lagi memikirkan apa yang telah dia perbuat pada ayahnya.
Baginya sekarang, tidak perlu menyesali sesuatu yang telah terjadi karena itu hanya menjadi beban pikiran yang tidak perlu.