Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 58 - Membujuk Nia



Setelah mengobrol cukup lama dengan Ayah Nia, Arya kembali ke rumah Lucy. Dia kini bisa tenang setelah mengetahui kepribadian Ayah Nia yang penyayang dan penuh perhatian, bukan sosok pemabuk dan suka memukul anaknya hanya karena kesulitan ekonomi.


Awalnya, karena Nia mengatakan bahwa ayahnya menjadi seorang pemabuk, Arya langsung berpikiran negatif dan mengira kalau ayah Nia adalah seseorang bertato dengan wajah sangar. Namun, ternyata perkiraannya salah.


Ini membuatnya agak malu dan merasa sedikit bersalah pada ayah Nia. Dia bisa berpikiran negatif tentang ayah Nia karena Nia sendiri menceritakan ayahnya dengan cara yang kurang menyenangkan, jadi wajar jika Arya salah menafsirkan.


Tiba di rumah Lucy, Arya segera mencari Nia dan menemukan bahwa gadis itu sedang duduk di sofa ruang tamu, melamun.


Arya tidak tahu apa yang gadis ini pikirkan, jadi dia hanya mendekatinya.


Nia yang melamun itu tidak menyadari bahwa Arya telah berada di sebelahnya.


Menepuk bahu Nia, Arya berkata dengan lembut.


"Nia, ayo kembali ke rumahmu dulu. Ayahmu mengkhawatirkanmu, tahu?"


"Kyaaa!"


Nia berteriak terkejut dengan suara melengking. Dia jelas terkejut karena bahunya ditepuk tiba-tiba.


Arya menarik tangannya dan tersenyum masam mendengar gadis ini terkejut. Dia tidak berharap Nia akan berteriak sekencang ini.


Menoleh ke samping, Nia menajamkan tatapannya.


"Jangan mengagetkanku!"


"Maaf, maaf." Arya tertawa kecil dan melambaikan tangannya.


Mendengus dingin, Nia melirik Arya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya dan berkata dengan penuh kebencian.


"Aku tidak ingin pulang, aku tidak akan pulang sebelum bajingan itu berhenti mabuk-mabukan!"


"Hei, jangan berkata kasar seperti itu tentang ayahmu. Setidaknya cobalah untuk pulang, kau pasti akan terkejut nanti."


Arya membujuk Nia dan mencoba mengelus kepala gadis tersebut, namun tangannya segera ditepis tanpa ampun.


"Aku tidak peduli dengan apapun yang kau katakan, aku tidak akan pulang!"


Nia menegaskan. Matanya menatap tajam Arya dan nadanya sedingin es.


Jelas, dia benar-benar tidak berniat untuk kembali ke rumahnya jika ayahnya belum berhenti mabuk-mabukan.


Selain itu, dia juga menyimpan kebencian pada ayahnya. Dia pernah beberapa kali dipukuli oleh ayahnya saat ayahnya sedang mabuk. Terlebih lagi, ayahnya telah menjadi seorang pemabuk sejak setengah tahun yang lalu, membuat Nia yakin bahwa ayahnya tidak akan pernah kembali seperti dulu, yang selalu lembut dan penuh kasih sayang.


Arya menghela nafas tanpa daya. Dia kemudian pergi mencari Lucy.


Nia menyukai Lucy. Jadi, secara alami Nia akan menuruti semua ucapan Lucy.


Setelah mencari sebentar, Arya menemukan Lucy berada di kamarnya, sedang melipat pakaian.


Duduk di tepi kasur, Lucy melipat pakaian dengan santai sambil bersenandung dengan nada menyenangkan. Di belakangnya, ada setumpuk pakaian yang menunggu untuk dilipat. Di tumpukan pakaian itu bukan hanya pakaiannya, tetapi juga ada milik Arya dan David.


Bagaimanapun, Arya setiap harinya mengingap di rumah Lucy, jadi pakaiannya jelas akan kotor dan setiap beberapa hari sekali, Lucy akan mencucikannya.


Lucy sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga semacam ini, jadi dia tidak terlalu terbebani.


"Lucy, apakah kamu sibuk...?"


Membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, Arya segera membeku dan terdiam.


Lucy mengangkat kepalanya dan menatap Arya.


Perlahan, wajah Arya terasa panas dan wajahnya berubah jadi merah padam.


Di tangan Lucy, gadis itu sedang melipat pakaian dalam miliknya. Di sana dia sedang memegang bra berwarna merah muda dengan pola bunga.


Arya jelas sangat terkejut dan wajahnya merah padam.


Lucy memiringkan kepalanya sejenak, kebingungan. Kemudian, dia menyadari wajah Arya memerah dan segera melihat ke bawah hanya untuk melihat dia sedang memegang bra miliknya.


Lucy langsung merah padam dan dia berteriak dengan suara aneh.


Lucy berteriak dan menyembunyikan branya ke balik punggungnya.


Arya yang memerah itu tersadar dari lamunannya. Dia melihat bra milik Lucy cukup lama sampai akhirnya terkejut oleh teriakan Lucy dan segera keluar dari kamar gadis tersebut, menutup pintu dengan kencang.


"Maaf, aku tidak tahu kamu sedang melipat pakaian!"


Arya berteriak dari balik pintu, agak panik.


"Arya, kamu mesum! Kenapa kamu tidak mengetuk pintu lebih dulu?! Kamu tidak tahu sopan santun!"


"Jangan salahkan aku! Salahkan dirimu yang jarang mengunci pintu!"


Arya membantah.


Bagaimanapun, Lucy sering tidak mengunci pintu kamarnya. Ini membuat Arya terbiasa untuk masuk tanpa mengetuk.


Kemudian, pasangan kekasih ini berdebat cukup lama.


Lucy terus-menerus menyalahkan Arya karena masuk tanpa mengetuk pintu. Dia juga menyalahkan Arya karena menatap bra miliknya cukup lama, membuatnya menganggap Arya adalah orang mesum.


Arya tidak membantah banyak karena dia tahu bahwa dirinya salah, tidak mengetuk pintu lebih dulu.


Setelah kurang lebih sepuluh menit berdebat, keduanya perlahan mulai lelah dan Lucy merasa lebih baik setelah memarahi Arya sedikit.


Arya lalu mengetuk pintu beberapa sebelum Lucy mengatakan masuk.


Menatap Lucy, gadis itu masih memiliki wajah yang merah cerah seperti apel. Dia memiliki tatapan malu-malu dan berusaha untuk tidak menatap Arya.


"Lucy, maaf untuk yang sebelumnya. Sekarang, bisakah aku meminta bantuanmu sedikit?"


"Bantuan apa?"


"Tolong bujuk Nia untuk pulang ke rumahnya. Ayahnya khawatir padanya dan mencarinya."


"Tunggu, kenapa kamu bisa tahu ayah Nia mencari Nia?"


Lucy bertanya, mengerutkan dahinya dengan curiga.


Arya lalu duduk di sebelah Lucy dan menjelaskan sedikit tentang dirinya yang ke rumah Nia dan bertemu dengan ayah gadis tersebut.


Dia juga menjelaskan bahwa dirinya juga telah membantu Nia tentang masalah ekonominya, seperti yang Lucy minta tadi pagi.


Lucy agak terkejut mendengar ini, namun dia bahagia. Nia adalah orang yang sudah dia anggap seperti adik meski mereka berdua baru saling kenal untuk waktu yang singkat.


Lucy perlahan bersandar pada Arya sambil tersenyum manis.


"Terima kasih sudah mendengarkan permintaanku. Maaf karena aku selalu merepotkanmu."


"Tidak, semuanya tidak merepotkan. Aku justru senang karena kamu mau merepotkanku, Lucy."


Arya juga bersandar dan meraih tangan Lucy, menjalinkan jari-jarinya.


Lucy membiarkan Arya melakukan apa yang dia inginkan. Dia hanya menikmati momen mesra ini untuk sejenak saja.


Karena Nia sering berkunjung setiap harinya dan selalu pulang larut malam, Arya dan Lucy tidak memiliki waktu bermesraan yang cukup, membuat keduanya agak kesepian.


Setelah beberapa menit menikmati momen mesra yang hangat, Lucy mengangkat kepalanya dan berdiri.


"Baiklah, ini sudah cukup, kan? Aku akan membujuk Nia sebentar, oke?"


Arya mengangguk sambil tersenyum.


Lucy kemudian pergi menghampiri Nia dan membujuknya.


Hanya perlu waktu kurang dari satu menit sebelum akhirnya Nia terbujuk dan mau kembali ke rumahnya.


Sepertinya Lucy benar-benar senjata yang ampuh untuk membujuk Nia, tidak peduli apapun situasinya.