Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 60 - Memikirkan Hadiah Ulang Tahun



Pada tanggal sembilan belas September, merupakan tanggal ulang tahun Lucy.


Pada saat ini, Arya yang bersiap-siap tidur di dalam kamar Lucy memiliki ekspresi berpikir dan dahinya berkerut erat.


Hari ini adalah tanggal tujuh belas September, jadi dua hari lagi adalah ulang tahun Lucy, jadi Arya, sebagai kekasih dari Lucy, berniat memberinya hadiah di ulang tahun gadis itu yang kedelapan belas ini.


Namun, karena dia terlalu mencintai Lucy, dia bingung harus memberikan hadiah macam apa.


"Apa yang sebaiknya kuberikan pada Lucy di ulang tahunnya lusa depan? Mungkin boneka akan menjadi hadiah yang bagus?"


Arya ragu.


Dia ingin memberikan boneka pada Lucy, tapi itu terlalu klasik. Selain itu, baru sekitar minggu lalu dia membelikan Lucy boneka.


Adapun kosmetik dan aksesoris, Arya selalu membelikannya setiap bulan, terutama kosmetik.


Lucy sendiri merupakan seorang gadis yang memiliki kecantikan alami, meski tanpa memakai kosmetik. Namun, untuk menjaga kecantikan alami tersebut, tentu memerlukan beberapa produk kecantikan lainnya.


Arya sangat menyadari ini, jadi dia membelikan Lucy kosmetik setiap bulannya, terutama jika Lucy sudah kehabisan. Dia bahkan pernah beberapa kali dimarahi Lucy karena dia membelikan gadis tersebut kosmetik dan produk kecantikan lainnya terlalu banyak.


Alasan Lucy marah sederhana, semuanya karena pemuda ini membelikannya terlalu banyak, yang menurutnya pemborosan.


Selain kosmetik, ada juga aksesoris.


Arya terkadang membelikan Lucy aksesoris seperti, anting, jepit rambut dan gelang. Dia juga pernah membeli cincin pasangan untuk dirinya dan Lucy kenakan bersama.


Lucy jelas sangat bahagia ketika dia menerima cincin dari Arya. Baginya, itu seperti sebuah lamaran.


Namun, meski begitu, Lucy selalu mengingatkan Arya untuk tidak terlalu boros tentang uang. Jika benar-benar tidak diperlukan, maka jangan beli.


Itu yang selalu Lucy katakan. Selain itu, dia juga mengingatkan Arya untuk tidak terlalu sering mengeluarkan uang untuk dirinya.


Lucy selalu menyuruh Arya untuk mementingkan keluarganya lebih dulu daripada dirinya.


Selain tiga hal tadi, Arya juga berniat memberikan pakaian baru untuk Lucy, tapi setelah diingat-ingat kembali, ternyata dia baru membelikan Lucy pakaian baru sekitar tiga minggu yang lalu.


Arya sangat mencintai Lucy, jadi dia benar-benar ingin memanjakan dan memuaskannya. Bahkan, jika dia bisa, dia ingin membeli sebuah mobil untuk dirinya gunakan. Jika dia memiliki mobil, maka ke manapun dia pergi bersama Lucy, maka dia dan kekasihnya itu tidak akan kepanasan ataupun kehujanan.


Namun, sepertinya hal ini harus ditunda lebih dulu karena dia sedang fokus menabung untuk membelikan ibunya, Rosa, sebuah rumah mewah nan megah.


Menggaruk kepalanya, Arya mengalami kebuntuan dalam memikirkan hadiah macam apa yang akan dia berikan di ulang tahun Lucy lusa depan.


"Mungkin memberikan tubuhku sendiri bukan ide yang buruk...?"


Arya yang sudah kehabisan ide itu akhirnya mulai memiliki ide liar.


Singkatnya, dia berniat telanjang dada, lalu tubuhnya akan diikat oleh pita. Setelah itu, dia akan masuk ke dalam sebuah kotak yang cukup besar untuk menampung tubuhnya dan kemudian, kotak tersebut akan dihias secantik dan seindah mungkin. Terakhir, kotak yang berisi Arya yang telanjang dada dan diikat pita itu akan diberikan pada Lucy di hari ulang tahunnya nanti.


Setelah berpikir sejenak, Arya merasa ide liar ini cukup bagus, tapi setelah dia membayangkan dirinya diikat pita sambil telanjang dada, dia segera menjadi mual dan hampir muntah.


"Sial, membayangkannya saja membuatku jijik!"


Arya mengeluh, merasa bahwa idenya terlalu menjijikan.


Selain itu, jika dia memang ingin memberikan tubuhnya sebagai hadiah ulang tahun Lucy, maka dia memerlukan seseorang untuk membantunya mengikat pita pada tubuhnya, meminta seseorang untuk menghiasi kotak besar dan banyak lagi.


Semua itu memerlukan bantuan orang lain, jadi Arya pasrah pada ide ini. Jika dia meminta bantuan David, dia tidak akan pernah melihat Lucy lagi, selamanya.


"Arya, kamu tidak memikirkan sesuatu yang menjijikan, bukan?"


Setelah Arya berpikir bahwa idenya terlalu menjijikan dan hampir muntah, suara Lucy terdengar.


Menoleh, Arya melihat gadis itu baru selesai mandi. Dia masih memiliki rambut yang agak basah, aroma tubuhnya begitu harum dan wajahnya beruap dan sedikit merah.


Arya mau tak mau terpesona sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak memikirkan sesuatu yang menjijikan, kok."


"Oh, benarkah? Itu bagus. Sekarang, bagaimana kalau kita tidur? Ini sudah cukup malam, lho."


Arya mengangguk dan tersenyum lembut. Dia menepuk kasur di sebelahnya, menyuruh Lucy berbaring di sana.


Lucy secara alami tidak menolak. Dia naik ke atas kasur dan berbaring di sebelah Arya.


Lucy yang wajahnya merah karena habis mandi menjadi semakin memerah. Dia mengalihkan pandangannya tidak berani menatap Arya.


Arya tertawa kecil. Melihat Lucy malu-malu itu sungguh lucu dan menggemaskan.


"Lucy, lihat kemari."


Arya memanggil, menyuruhnya untuk menatapnya.


Lucy ragu sejenak namun segera mengalihkan pandangannya ke Arya, menatapnya dengan matanya yang lembab, seakan air mara bisa jatuh kapan saja.


"Arya, bisakah kamu tidak menatapku begitu? Itu tidak baik untuk jantungku, tahu?"


Lucy membenamkan wajahnya ke dada Arya, merasa jika dia menatap Arya terlalu lama, jantungnya akan melompat keluar dari tempatnya.


Arya tidak mengatakan apa-apa, hanya mengelus kepala Lucy, membujuknya. Jika memungkinkan, dia ingin menatap Lucy terus-menerus hingga dia tertidur.


Setelah beberapa saat, Lucy akhirnya terbujuk dan mengangkat kepalanya lalu menatap lurus Arya.


Setelah saling menatap cukup lama, Arya akhirnya tidak tahan lagi.


"Lucy, cium, ya?"


"Hm~, tidak mau~."


Lucy berkata dengan main-main, menatap nakal Arya dengan matanya yang indah.


Sudut mulut Arya berkedut.


Dia kemudian meraih pinggang Lucy, menariknya ke dalam pelukannya. Kakinya melingkari kaki Lucy, memberinya kehangatan. Dengan tangannya yang lain, Arya meletakkan telapak tangannya di belakang kepala Lucy, menariknya untuk dicium.


Lucy jelas tidak menolak. Dia menutup matanya dan mengerucutkan bibirnya.


Kedua bertukar ciuman, saling menunjukkan perasaan mereka satu sama lain.


Tapi tiba-tiba, saat Arya sedang menikmati ciumannya dengan Lucy, dia merasakan seseorang meraih kerah bajunya.


Dan benar saja, sesaat setelah itu, kerah bajunya ditarik, membuat Arya harus melepas ciumannya dari Lucy secara paksa.


Arya jelas marah karena momen kebahagiaannya diganggu. Dia dengan cepat menoleh ke belakang dengan marah dan ingin berteriak.


Tapi, dia segera terdiam dan amarahnya lenyap begitu saja ketika dia menyadari siapa yang menarik kerah bajunya.


"Kak...? Apakah kau ada keperluan denganku, Kak?"


Selain David, siapa lagi yang berani menggangu momen mesra Arya dan Lucy?


Secara alami, yang menarik kerah Arya tadi adalah David.


Ekspresinya saat ini sangat jelek dan wajahnya dipenuhi kedutan. Dia menatap Arya dengan tajam.


Di datang ke kamar Lucy untuk mencari Arya, ingin membahas masalah ulang tahun Lucy lusa depan. Tapi, ketika dia masuk, dia sedang melihat kedua adiknya sedang menyatukan bibir.


Dia jelas merasa kesal dan marah. Dia tidak tahu kenapa, tapi setiap kali dia memasuki kamar Lucy, dia pasti akan melihat pemandangan semacam ini.


Ini sudah kesekian kalinya dia menjumpai Arya dan Lucy sedang ciuman.


Hal ini jelas membuatnya iri dan kesal.


David seorang single dan dia jelas ingin memiliki seorang kekasih agar bisa melakukan semua hal yang Arya dan Lucy lakukan. Namun, single bisa apa?


Menghela napas, David mengalihkan pandangannya ke Lucy.


Lucy jelas menyadari keberadaan David dan karena dia ketahuan sedang ciuman dengan Arya, dia jelas merasa sangat malu. Saat ini, dia hanya bisa bersembunyi di dalam selimut dan tidak mengeluarkan suara apapun, berpura-pura tidur.


"Ikut aku."


David berkata dengan dingin, mengajak Arya keluar.


Arya menelan ludahnya dengan tegukan saat dia merasa bahwa dirinya akan dimarahi kali ini.


Menghela napas tanpa daya, Arya beranjak dari kasur dan mengikuti David.