
Malam harinya, di kamar hotel tempat Lucy.
Di atas kasurnya, Lucy melamun menatap langit-langit. Dia memikirkan kesalahan Arya tadi pagi dan masih sulit untuk memaafkannya. Namun, meski begitu, rasanya dia begitu merindukannya malam ini.
Perasaan semacam ini tiba-tiba datang menghantuinya seakan jika dia tidak bertemu Arya malam ini, dia tidak akan bisa tidur dan terjaga sepanjang malam.
Menghela napas, Lucy merogoh kantung celananya dan menatap sebuah kunci di tangannya. Itu adalah kunci cadangan kamar Arya.
"Apakah aku harus menemuinya malam ini? Tidak, tidak. Kenapa aku harus menemuinya? Aku tidak mau bicara dengannya sampai besok!" Lucy mendengus, berniat mengembalikan kunci kamar Arya ke kantung celananya.
Namun, kakinya mengkhianatinya. Kakinya bergerak sendiri menuju pintu keluar dan dia tanpa sadar sudah memegang gagang pintu dan siap untuk keluar, menuju kamar Arya.
"Aku bukan berniat menemuinya, oke? Aku hanya ingin memberinya kunci cadangan ini lalu kembali ke kamarku sendiri. Um, aku tidak akan menemuinya malam ini."
Lucy bergumam sejenak, lalu memutar gagang pintu dan pintu pun perlahan terbuka dengan pelan.
"Merindukan Arya?"
"Kyaaa!!!"
Lucy berteriak dengan suara aneh saat dia mendengar suara Helen datang dari belakang. Dia seketika berbalik dan menatap Helen yang tersenyum penuh makna padanya.
"Helen, ka-kamu belum tidur?"
"Bagaimana bisa aku tidur ketika aku mendengar sahabatku bergumam tentang menemui kekasihnya di malam hari seperti ini?"
Helen tertawa kecil, membuat Lucy memerah karena malu.
"Baiklah, tidak masalah kamu menemui Arya. Tapi, jangan sampai ketahuan guru, oke? Sana, temui kekasihmu itu, kasihan dia kamu abaikan seharian." Helen tersenyum.
Lucy mengangguk dengan wajah merah.
Membuka pintu, Lucy segera berlari menuju lift dan naik ke lantai enam. Dia berdiri di depan kamar nomor 30 dan langsung membukanya menggunakan kunci yang ada.
Masuk ke dalam, Lucy melihat Arya sedang duduk di sofa dan menatapnya dengan terkejut.
"Apa? Apakah aku salah jika datang tiba-tiba?" Lucy mencibir.
"Tidak, tidak, tidak. Kemari, aku merindukanmu."
Arya segera berdiri, membuka kedua tangannya dan memasang senyum lembut.
Lucy segera menutup pintu, berlari dan melompat ke dalam pelukan Arya, memeluknya erat.
Keduanya berpelukan erat tanpa mengatakan sepatah katapun. Keduanya kemudian saling menatap dan berciuman dengan ringan, yang perlahan mereka mulai memainkan lidah mereka dengan cara yang menggoda.
Memisahkan diri, Arya dan Lucy memiliki jembatan air liur dan wajah keduanya memerah, terengah-engah.
Arya kemudian meraih pinggang Lucy, membawanya ke dalam pelukannya. Dia kemudian mencium bibir mungil Lucy sepuasnya. Tangannya perlahan memasuki baju Lucy dan menggelitik perutnya yang rata tanpa lemak berlebih.
Lucy tanpa sadar mengerang, namun dia segera meraih tangan Arya yang berada di dalam bajunya.
"Kamu... Kamu harus ingat prinsip kita... Tidak boleh berhubungan intim sebelum menikah, ingat? Kita sama-sama memiliki prinsip seperti itu, jadi kita tidak boleh melakukannya sebelum menikah..."
Dengan napasnya yang terengah-engah, Lucy mengingatkan Arya.
Arya diam, tersenyum malu dan menarik tangannya.
Melepaskan pelukannya, Arya mundur dua langkah dan mengelus kepala Lucy.
"Sudah tidak marah lagi?" Goda Arya.
"Hmph! Tidak tahu, coba saja kamu pikirkan sendiri!"
"Hm... Sepertinya kamu sudah tidak marah lagi."
Arya terkekeh, mengelus kepala Lucy lebih lama sambil tersenyum lembut padanya.
Lucy menikmati kepalanya dielus. Dia menutup matanya dan ekspresi tenang terlukis di wajahnya.
"Lucy, mau keluar sebentar? Ayo jalan-jalan mencari angin segar." Kata Arya tiba-tiba.
"Eh? Bukankah sangat dingin di luar?"
"Tidak, sama sekali tidak dingin. Pakai jaket saja jika dingin. Pemandangan langit malam di luar cukup bagus, lho. Kamu sudah pernah lihat belum?"
Lucy menggeleng sebagai jawaban.
"Nah, makanya kita keluar, sebentar saja. Aku akan tunjukkan keindahan bulan dan bintang di kota Vant ini."
Arya tersenyum pada Lucy.
Lucy ragu-ragu sejenak, lalu segera mengangguk setuju. Dia mengambil jaket di kasur king size, yang di mana itu adalah jaket Arya kemudian keduanya keluar hotel.
Di luar hotel, udara memang cukup dingin namun itu masih bisa ditahan.
Arya dan Lucy bergandengan tangan dan berjalan berdampingan, menempel satu sama lain sehingga mereka tetap hangat dan tidak merasakan dinginnya angin malam.
Jalanan di kota Vant cukup sunyi dan sepi, namun itu sama sekali tidak memiliki nuansa horor. Lampu jalanan menyala dan menerangi jalanan dari ujung ke ujung.
"Ah, sepertinya aku meninggalkan belatiku."
Arya tiba-tiba berkata ketika dia merasakan ada yang menghilang dari balik pakaian.
"Belati? Kamu mau membawa benda itu? Kenapa kamu selalu membawanya ke mana saja?"
Lucy terkejut, segera mengerutkan dahinya dan memarahi Arya.
Arya diam, lalu menjelaskan singkat.
"Tidak ada yang tahu bahaya macam apa yang akan kita hadapi, jadi lebih baik berhati-hati."
Arya selalu membawa belatinya ke manapun, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang berbahaya menimpanya.
Setelah itu, Arya kembali ke kamar hotelnya untuk mengambil belatinya. Dia mencari sebentar di dalam tas sebelum menemukan benda panjang tiga puluh centimeter dengan gerigi di satu sisi dan melengkung dari tengah hingga ujungnya.
Itu secara alami adalah belati milik Arya.
"Untung saja aku sadar jika kau belum kubawa. Akan masalah jika aku tidak membawamu."
Arya berdialog dengan belatinya, menunjukkan senyum tipis sebelum menyembunyikannya ke balik pakaian dan kembali pada Lucy.
Arya lalu kembali pada Lucy, hanya untuk terkejut dan panik bukan main.