
Pagi harinya, Arya yang baru selesai membersihkan tubuhnya itu segera berpakaian. Dia langsung bergegas ke rumah Lucy untuk memberi penjelasan.
Dia sudah tiba di rumah gadis itu dan sudah mengetuk pintu untuk kesekian kalinya, tapi tidak ada yang membukakannya.
Ini membuat Arya merasa agak kesal, karena dia yakin Lucy seharusnya sudah bangun dan kemungkinan sedang memasak di dapur.
Melihat jam di handphonenya, Arya berdecak kesal. Ini sudah pukul enam lebih, jadi seharusnya Lucy ataupun David sudah bangun dari tidurnya, terutama Lucy.
Berdecak kesal, Arya berbalik dan hendak meninggalkan rumah Lucy. Namun segera, dia mendengar suara pintu terbuka dan langsung menoleh.
"Apa yang kau lakukan di pagi hari seperti ini?"
David bertanya dengan malas saat matanya masih mengantuk. Dia tampaknya baru bangun tidur.
"Ah, maaf karena mengganggu tidurmu, Kak. Lucy sudah bangun, kan?"
"Ya, sepertinya dia sudah bangun dan sedang memasak di dapur.
Seperti yang Arya duga, Lucy sebenarnya sudah bangun sejak tadi tapi tampaknya gadis itu sengaja tidak membukakan pintu untuknya.
'Gadis kecil, kamu sangat pandai membuat orang naik darah di pagi hari!'
Arya menghela nafas tanpa daya.
"Masuklah, kamu harus menemui Lucy dan menyelesaikan masalahmu dengannya. Kamu sudah mengetahui kesalahanmu, kan?"
Arya mengangguk pada pertanyaan David.
"Bagus, kalau begitu semuanya akan menjadi lebih mudah."
David tersenyum puas dan berbalik, menuju ke belakang untuk membasuh wajahnya.
Arya kemudian mengikuti di belakangnya dan ketika dia berjalan menuju dapur, dia bertemu dengan Lucy yang baru saja selesai memasak.
Gadis itu masih memakai apron berwarna coklat dengan gambar beruang imut. Dia membawa mangkuk berisi sup yang masih panas.
"Lucy, selamat pagi..."
Arya tersenyum canggung dan mencoba menyapa Lucy.
Lucy hanya mendengus dan menatap tajam Arya lalu melewatinya, sepenuhnya mengabaikan pemuda tersebut.
Wajah Arya berkedut dengan ini.
Kemudian, pemuda itu pergi ke ruang tamu sambil memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan semuanya pada Lucy. Dia ingin menyiapkan beberapa kata-kata manis saat meminta maaf pada Lucy, jadi dia ingin berpikir dengan tenang tanpa ada yang menganggu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, David menghampiri Arya dengan membawa secangkir kopi di tangannya dan duduk di hadapan Arya.
"Aku penasaran dengan ini. Apa alasanmu tidak pacaran dengan Lucy?"
David adalah yang pertama buka suara sesaat setelah dia duduk.
Arya agak terkejut tapi dia segera menghela nafas dan menatap David dengan ekspresi rumit.
"Sulit untuk dijelaskan. Intinya, semua kesalahan ada pada diriku."
"Baiklah, jelaskan saja sebisa mungkin. Aku akan mendengarkannya dan membantumu. Jujur saja, aku mengira kalian itu pacaran sejak kalian berbaikan dulu."
David awalnya berpikir kalau Arya dan Lucy sudah pacaran dan setelah mengetahui bahwa mereka tidak menjalin hubungan apapun, dia terkejut.
Arya dan Lucy sebelumnya pernah bermusuhan selama beberapa tahun karena suatu masalah dan David mengetahui hal ini.
Sampai akhirnya, Arya dan Lucy berbaikan saat mereka tahun kedua SMA, satu tahun yang lalu. Karena keduanya sudah baikan dan mulai menjalin hubungan dengan semakin baik, David kira mereka berdua sudah pacaran.
Arya menghela nafas panjang mendengar ini dan berkata.
"Yah, pada saat itu aku dan Lucy hanya berbaikan saja, tapi kami tidak pacaran. Aku juga sudah bilang pada Lucy kalau aku mungkin tidak bisa pacaran dengannya dan dia bilang tidak masalah jika kami tidak pacaran. Baginya yang penting aku selalu bersamanya."
"Baiklah, aku paham itu. Tapi, bukankah itu terjadi dulu? Coba kau pikirkan, Lucy pasti sudah berubah pikiran dan ingin menjadi kekasihmu."
"Tapi, Kak..."
Arya masih ragu.
"Arya, dengarkan aku. Kamu dan Lucy sudah pernah ciuman bahkan tidur satu ranjang. Semua yang kalian lakukan itu sudah melewati batas berteman, bahkan sudah melewati batas sepasang kekasih. Jika kamu terus seperti ini dan tidak mau menjadikan lucy kekasihmu, kamu sama saja menjadi pria yang tidak bertanggung jawab, sama seperti ayahmu!"
David menatap serius Arya dan membandingkan pemuda di hadapannya dengan ayahnya.
Arya terkejut dan melebarkan matanya. Ekspresinya segera berubah dan kebencian langsung memenuhi matanya. Dia sangat benci jika harus dibandingkan, apalagi dibandingkan dengan Vicky.
Tapi meski begitu, Arya segera menghela nafas, menenangkan diri. Dia kemudian merenung sejenak dan akhirnya menjelaskan alasannya tidak mau menjadikan Lucy pacarnya.
Alasan utama mengapa Arya tidak bisa menjadikan Lucy kekasihnya adalah karena dia dulu pernah memiliki dua orang kekasih. Tapi sayangnya, dia tidak bisa menjaga keduanya dengan baik dan berakhir dengan kehilangan keduanya secara sepihak.
Dia ditinggalkan oleh salah satunya tanpa diketahui alasannya, membuatnya trauma dan agak takut dalam menjalani hubungan pacaran lagi.
Dia takut jika dia pacaran dengan Lucy, gadis itu akan meninggalkannya tanpa alasan juga. Dia juga takut kalau dirinya nanti tidak bisa menjaga Lucy dengan baik.
"Hm, jadi begitu, ya?"
David mengelus dagunya dan ekspresi berpikir terlihat di wajahnya.
Setelah berpikir sejenak, David berkata.
"Arya, aku paham dengan rasa ragu dan traumamu. Tapi, bagaimanapun juga semua itu kesalahanmu karena tidak bisa menjaga kedua kekasihmu dulu. Adapun mengapa kau ditinggalkan, mungkin kau membuat kesalahan pada mereka berdua. Juga, dua kekasihmu sebelumnya hanyalah masa lalumu, jadi tidak seharusnya kamu terpaku pada masa lalu terus-menerus. Lihatlah ke depan, ada Lucy yang menunggumu. Aku yakin kamu bisa menjaga Lucy dengan baik."
David menasehati Arya tanpa henti, membuat pemuda itu termenung cukup lama.
Ketika sedang merenung, suara Lucy tiba-tiba terdengar, memanggil David untuk menyuruhnya sarapan dan segera pergi bekerja. Dia hanya memanggil David, tidak dengan Arya.
David menanggapi panggilan Lucy dan mengajak Arya sarapan bersama karena dia yakin kalau Arya belum memakan apapun sejak pagi.
Arya meringis pasrah dan dia hanya bisa mengikuti permintaan kakaknya itu.
Ketiganya akhirnya sarapan bersama dengan keadaan yang canggung dan tidak nyaman, terutama untuk Arya.
Setelah sarapan, David bersiap pergi bekerja. Dia menasehati Arya sekali lagi dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah, Kak. Aku akan berusaha sebaik mungkin."
Arya terdengar pasrah.
David tersenyum meledek sambil menjepitkan ibu jarinya di antara jari tengah dan jari telunjuk.
Arya yang melihat bagaimana David membentuk jarinya sedemikian rupa menjadi memerah dan pikirannya segera menjadi liar tapi dia segera menggeleng.
"Kak, jangan bercanda seperti itu! Itu tidak lucu!"
"Tapi kamu memang mau melakukannya, kan?"
"Iya, itu benar. Tapi setidaknya biarkan aku menikahi adikmu dulu, baru aku akan melakukannya!"
Arya semakin memerah dan merasa malu. Dia segera mendorong pergi David agar dia tidak terus-menerus menjahilinya.
David hanya tertawa puas karena berhasil menjahili Arya.
Setelah David pergi, Arya dan Lucy duduk bersebelahan di kamar gadis tersebut.
Meski begitu, Arya masih merasa canggung untuk memulai pembicaraan dengan Lucy. Dia sudah menyiapkan banyak kata-kata manis dan bujukan untuk dikatakan pada gadis ini, tapi setelah berhadapan langsung dengannya, semua kata-kata manis yang sudah dia siapkan hilang begitu saja dari benaknya.
Adapun Lucy, dia terus menatap tajam Arya dan tidak mengatakan apapun sejak Arya datang tadi. Selain itu, dia memang berniat untuk tidak mengatakan apapun sebelum Arya buka suara lebih dulu.
Lima menit berlalu dan keduanya masih duduk bersebelahan tapi tidak ada satupun dari mereka yang bersuara.
Mengepalkan tangannya, Arya bertekad dan membuka mulutnya dan memanggil nama Lucy.
"Lucy... Tentang yang kemarin, aku minta maaf."
"Maaf? Maaf untuk apa? Apakah kamu membuat kesalahan padaku?"
"I-iya... Aku memang membuat kesalahan padamu dan itu adalah sebuah kesalahan besar."
"Kalau begitu, katakan padaku. Kesalahan besar apa yang kamu perbuat padaku?"
Lucy terus-menerus berpura-pura tidak paham. Dia sengaja seperti ini agar Arya jera dan lebih barhati-hati dalam berbicara tentang hubungan keduanya.
Pipi Arya berkedut dengan ini dan perasaan kesal muncul di hatinya. Dia tidak pernah berharap kalau gadis ini akan membuatnya kesulitan.
Menghelas nafas pelan, Arya menatap Lucy dengan serius.
"Lucy, aku benar-benar minta maaf soal kemarin. Aku ceroboh dan seenaknya bilang kalau kita hanya teman dan bukan sepasang kekasih. Aku juga minta maaf soal karena tidak bisa pacaran denganmu saat ini karena aku masih ragu dan aku juga masih takut kehilangan lagi."
Arya menunjukan ekspresi minta maaf pada awalnya tapi perlahan, ekspresinya menjadi rumit. Dia meminta maaf dua kali untuk dua kesalahannya.
Lucy senang karena Arya minta maaf padanya dan menyadari kesalahannya. Tapi segera, rasa kesal dan marah memenuhi hatinya saat dia mendengar permintaan maaf Arya yang kedua.
"Arya, apakah kamu sadar tentang ucapanmu itu?"
Nada Lucy sedingin es.
Arya menunjukan ekspresi menyesal dan menganguk ringan sebagai jawaban.
Lucy terkejut dengan ini dan dadanya menjadi sangat sakit. Sudut matanya segera dipenuhi air mata saat dia menatap Arya dengan sedih.
Arya mengangkat kepalanya dan menyeka air mata Lucy dengan lembut. Dia meminta maaf sekali lagi dan berkata.
"Lucy, kamu mengerti keadaanku, kan? Ada dua hal yang tidak bisa aku lakukan untukmu. Aku yakin kamu masih ingat dengan dua hal itu, benar?"
Lucy hanya mengangguk. Dia dengan jelas mengetahui dua hal yang Arya katakan itu.
Ada dua hal yang tidak bisa Arya lakukan untuk Lucy.
Pertama, dia tidak bisa berhenti membunuh sebelum semua orang yang pernah menyinggungnya dan ibunya di masa lalu terbunuh dengan tangannya sendiri. Kedua, dia tidak bisa menjalin hubungan pacaran dengan Lucy sebelum dia benar-benar bisa menghilangkan rasa traumanya.
Setelah menyeka air mata Lucy, gadis itu menatap lurus mata Arya dan mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Arya dengan lembut.
"Arya, bukankah ini tidak adil? Aku selama ini selalu menuruti semua keegoisanmu dan aku juga tidak pernah membantahmu. Aku hanya ingin kamu memenuhi keegoisan kecilku ini dengan cara menjadikanku kekasihmu. Apakah semuanya sangat sulit bagimu, Sayangku?"
Lucy tersenyum lembut dengan ekspresinya yang sedih itu, membuat Arya merasakan sakit di dadanya. Dia menundukkan kepalanya dengan murung dan memutar otaknya untuk mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membantunya.
Lucy kemudian menarik tangannya dan menyeka air matanya. Dia berhenti menangis dan menatap Arya yang menundukkan kepalanya itu. Dia meraih kedua pipi Arya dengan kedua tangannya dan mengangkatnya, membuat Arya mau tak mau menatapnya, lagi.
"Arya, kamu trauma karena kedua mantan kekasihmu dulu, bukan?"
"Iya, karena mereka berdua..." Arya terdengar lesu.
"Ya, aku tahu kamu trauma karena mereka berdua. Aku juga mengenal siapa kekasihmu yang pertama. Dia Lylia, kan? Aku tahu Lylia pergi jauh meninggalkanmu karena pekerjaan orang tuanya, tapi apakah itu membuatmu trauma? Atau, kamu mengalami sesuatu yang buruk dengan Lylia?"
"Ya, aku mengalami suatu hal yang buruk dengan Lylia, bahkan dengan kedua orang tuanya. Aku dulu pacaran dengan Lylia karena uangnya dan setelah aku benar-benar jatuh cinta padanya, dia pergi. Aku menyesal karena telah memanfaatkannya dan aku pikir itu adalah karma karena telah memanfaatkannya hanya demi uang."
Arya menjelaskan sedikit tentang kekasih pertamanya. Dia terdengar menyesal ketika menjelaskan itu semua.
Lucy hanya mengangguk ringan. Dia kenal dengan Lylia dan dia juga mengetahui kalau Arya pacaran dengan Lylia hanya demi uang semata.
"Lalu, kekasihmu yang kedua, siapa dia? Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku yakin dia meninggalkanmu dengan buruk juga, kan?"
"Ya, kamu benar. Dia meninggalkanku dengan buruk. Adapun siapa dia, kurasa kamu tidak perlu tahu. Awalnya, hubunganku dengannya baik-baik saja dan kami pacaran cukup lama. Pada saat itu, aku benar-benar mencintainya tanpa mengharapkan apapun. Tapi tiba-tiba, dia pergi dan tidak pernah muncul di hadapanku lagi. Aku tidak tahu mengapa dia meninggalkanku tanpa mengucapkan apapun. Dia benar-benar pergi begitu saja!"
Arya terdengar kesal saat ini.
Karena dia pernah mengalami hal buruk dengan Lylia dan ditinggalkan oleh kekasih keduanya tanpa alasan, Arya jadi sangat sedih dan patah hati.
Lucy yang mendengarkan penjelasan Arya tentang kedua mantannya hanya diam. Dia kemudian mengusap pipi Arya dengan lembut.
Arya menatap Lucy dengan tatapan rumit dan bersalah. Dia saat ini benar-benar ingin membuat gadis ini menjadi kekasihnya, tapi dia masih takut kehilangan.
"Arya, dua orang itu adalah mantanmu, jadi secara alami mereka adalah masa lalumu. Aku yakin jika kita pacaran, kita pasti akan baik-baik saja. Aku juga yakin kamu pasti bisa menjagaku dengan baik, begitu pula sebaliknya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sekalipun. Jadi, bisakah kamu memenuhi keinginan kecilku ini?"
Lucy tersenyum tipis.
Arya diam sesaat dan menundukkan kepalanya lagi. Rasa ragu dan takut kehilangan masih memenuhi hatinya.
Perlahan, Arya mengangkat kepalanya dan menatap Lucy yang kini telah kehilangan senyumannya, digantikan oleh air mata yang hampir menetes dari matanya yang indah.
Arya sangat ingin memenuhi keinginan kecil Lucy ini, tapi yang keluar dari mulutnya mengejutkan Lucy.
"Maaf, aku sungguh minta maaf. Tolong, berikan aku waktu sebentar saja untuk memikirkannya."
Arya berdiri dan keluar dari kamar Lucy dan menutup pintu kamar gadis tersebut.
Lucy segera meneteskan air matanya dan memegangi dadanya ketika rasa sakit memenuhi hatinya. Suara terisak tangisnya bisa terdengar oleh Arya yang masih berada di luar kamar, membuat pemuda itu merasa tidak nyaman.