Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 150 - Aku Ingin Kamarku Sendiri



Esok pagi harinya, ketika Arya membuka matanya, dia melihat sekeliling dan terkejut karena menyadari jika dia berada di dalam bus.


Dia kemudian ingat jika dia sedang dalam perjalanan study tour.


Saat ini, bus sedang berada di area istirahat di jalan tol. Bus juga dalam keadaan sepi dan hanya ada beberapa orang yang masih tertidur dan beberapa sedang mengobrol.


"Arya, kamu sudah bangun? Ini, sarapan bersamaku, ya."


Lucy datang dari arah pintu masuk bus. Wajahnya terlihat segar, sepertinya dia habis dari toilet umum untuk membasuh wajah. Di kedua tangannya, ada dua cup mie instan.


Lucy memberikan satu cup mie instannya pada Arya.


"Ugh, apa yang kamu pikirkan dengan memberiku mie instan ketika aku baru saja bangun tidur?"


Arya mengeluh, menerima cup mie instan dari Lucy dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggosok mata.


Dia baru saja bangun tidur, jadi jelas nafsu makannya tidak ada sama sekali.


Lucy tersenyum masam mendengarnya, namun dia tidak mengatakan apapun dan duduk di sebelah Arya, menikmati mie instan cupnya.


Arya pun melakukan hal yang sama untuk menghargai Lucy, meski dia tidak nafsu makan sama sekali.


Setelah hampir satu jam, bus melanjutkan perjalanan ketika para siswa sudah mandi dan sarapan.


Hanya membutuhkan waktu dua jam untuk benar-benar tiba di kota Vant.


*****


Setelah dua jam perjalanan, bus parkir di area parkir sebuah hotel yang akan digunakan para siswa menginap selama masa study tour mereka.


Ketika bus berhenti, tidak satu seorang siswa pun yang langsung turun dari bus. Mereka semua mendengarkan beberapa aturan dari guru.


"Baiklah, cukup sekian pemberitahuannya. Silakan kalian turun dan ambil barang-barang kalian. Setelah itu, tunggu di lobi resepsionis dan kepala sekolah akan mengatakan beberapa hal lagi pada kalian. Ingat, jangan ada yang pergi sebelum kepala sekolah selesai dengan pidatonya."


Seorang guru berkata demikian.


Para siswa mengangguk, kemudian turun satu per satu dari bus, mengambil barang-barang mereka.


Hari ini adalah hari pertama mereka study tour dan mereka baru saja tiba, jadi hari ini hari bebas dan study tour sesungguhnya akan dimulai esok harinya.


Setelah turun dari bus, banyak dari para siswa berdecak kagum saat melihat gedung yang akan menjadi tempat mereka beristirahat.


Hotel tersebut memiliki sepuluh lantai yang sangat mewah. Wajar jika ada beberapa siswa yang kagum.


Di lobi resepsionis, para siswa berkumpul dan mendengarkan pidato singkat dari Tuti.


Setelah itu, para guru mengatur kelompok siswa, yang setiap kelompok berjumlah lima hingga enam orang yang akan menempati satu kamar hotel.


Para siswa sangat patuh saat pembagian kelompok, membuat Tuti sangat puas.


"Kepala Sekolah. Aku ingin kamarku sendiri, apakah itu boleh?"


Tiba-tiba, saat Tuti sedang dalam kesenangannya karena para muridnya patuh, datang seorang pemuda maju dan berkata demikian padanya.


Tuti berkedut di sudut mulut, rasa senangnya menghilang seketika saat dia mengenali suara pemuda ini.


Menoleh ke samping dengan kaku, suara Tuti penuh penekanan.


"Apa yang kamu katakan, Arya? Bisakah kamu mengulanginya lagi?"


"Aku ingin kamarku sendiri. Aku tidak ingin berbagi kamar. Tenang saja, biaya kamar aku yang bayar, jadi jangan khawatir."


Arya berkata, acuh tak acuh hingga membuat wajah Tuti berkedut tanpa henti.


Sebelum Tuti menyelesaikan kata-katanya, Arya membuka tasnya dan membukanya, mengeluarkan segepok uang dan melemparnya pada Tuti.


Semua orang terkejut, melebarkan mata mereka. Tuti pun sama. Dia reflek menangkap uang segepok itu.


"Ambilah, Kepsek. Sebagai gantinya, biarkan aku punya kamarku sendiri."


Arya tersenyum tipis pada Tuti, yang menatapnya dengan linglung dan bingung.


Lucy yang melihat ini menepuk dahinya karena sikap sembrono Arya tentang uang.


"Oh, apakah itu kurang? Ini, ambil lagi."


Arya tanpa pikir panjang mengambil segepok uang lagi dan melemparnya pada Tuti, mengejutkan semua orang hingga mata mereka hampir lepas dari rongganya.


Semua orang tidak menyangka jika Arya akan semudah itu mengeluarkan dua gepok uang, seakan yang dia lempar bukan uang, melainkan daun.


"Jadi, apakah sekarang aku boleh memiliki kamarku sendiri?"


Tuti menatap Arya, lalu dua gepok uang di tangannya sebelum mengangguk tanpa dia sadari.


Arya tersenyum puas melihatnya. Dia kemudian mendekat ke resepsionis, memesan kamarnya sendiri. Dia memilih kamar terbaik dan segera menyewanya tanpa pikir dua kali.


"Ini, Tuan. Kamarmu berada di lantai enam. Nomor kamarmu adalah 30. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa menelpon dari kamar dan pihak hotel akan menyiapkan keperluanmu secepat mungkin. Selamat menikmati liburan~"


Resepsionis tersebut tersenyum pada Arya ketika dia memberikan kunci kamar pada Arya.


Arya mengangguk dan mengambil kunci tersebut, berbalik dan mengajak Lucy.


Semua orang menghela napas melihat kepergian Arya. Tampaknya memiliki banyak uang bisa membuat kita melakukan apapun yang kita mau.


*****


"Wow, kamarnya sangat bagus!"


Mata Lucy berbinar saat dia melihat isi kamar yang Arya sewa. Dia terdengar bersemangat.


Kamar yang Arya sewa secara pribadi memiliki fasilitas yang cukup mewah dan lengkap. Di dalam sana terdapat kasur dengan ukuran king size. Di dalam kamar tersebut juga dilengkapi dengan kompor elektrik, microwave, sofa, TV dan masih banyak lagi.


Harga kamar yang Arya sewa memang cukup mahal, tapi melihat fasilitas yang lengkap, itu membuatnya mengangguk puas.


"Lucy, apakah kamu mau kamarmu sendiri? Jika kamu mau, aku akan sewakan lagi, tepat di sebelahku. Atau, kamu mau satu kamar saja denganku?"


Arya berkata dengan lembut di awal, namun di akhir kalimatnya, dia tersenyum nakal dan meraih dagu Lucy, mengangkatnya seakan dia ingin menciumnya.


Lucy tersentak, memerah namun tersenyum dan mencium Arya dengan ringan di bibir.


"Tidak perlu, aku sudah cukup senang dengan kelompokku. Selain itu, akan terlalu mahal untukmu membayar dua sewa kamar sekaligus. Aku tidak mau merepotkanmu."


Lucy tersenyum lembut saat dia menolak. Dia tidak mau menjadi beban bagi Arya. Selain itu, dia lebih suka berada di kamar yang sama dengan Arya dari pada harus berada di kamar yang berbeda dari Arya. Dia ingin berada di pelukannya ketika tidur.


Arya tersenyum dan mengangguk mengerti pada Lucy. Dia merogoh kantungnya dan mengeluarkan kunci kamar hotelnya pada Lucy.


"Ini, kamu bawa kunci cadangannya. Jika kamu mau datang ke kamarku nanti malam, kamu tidak perlu mengetuk dan tinggal masuk saja."


Lucy agak terkejut dan diam beberapa saat, lalu mengambil kunci itu dari tangan Arya.


"Baiklah, terima kasih. Nanti malam, jika aku tiba-tiba masuk dan menyerangmu diam-diam, jangan salahkan aku, oke?"


Lucy tersenyum nakal sekali lagi sebelum meninggalkan kamar Arya.


Arya tertawa kecil mendengarnya. Jika Lucy tiba-tiba datang nanti malam dan menyerangnya, maka dia akan senang hati diserang.