Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 25 - Viktor si Penggangu



Setelah David pergi bekerja, Arya pergi mandi dan bersiap-siap.


'Sekarang, apa yang harus kulakukan? Aku sudah mandi dan juga sarapan. Sekarang aku hanya perlu menunggu Lucy bangun, tapi 30 menit lagi kita akan terlambat, haruskah kubangunkan dia?'


Arya berpikir sejenak setelah keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat segar ketika air menetes dari rambutnya yang masih berantakan.


Setelah mengeringkan rambutnya sebentar, Arya segera menuju kamar Lucy. Jika dia tidak membangunkannya sekarang, mereka mungkin akan terlambat pergi ke sekolah. Juga, ini membuatnya sedikit bingung karena Lucy jarang bangun terlambat seperti ini.


Arya hanya berpikir Lucy mungkin agak lelah.


Membuka kamar Lucy, Arya masuk. Kamar Lucy tidak dikunci, jadi Arya dapat dengan mudah menerobos masuk. Meski begitu, dia tidak pernah memiliki niat buruk ketika Lucy sedang tidur.


Sesaat setelah dia masuk, Arya melihat Lucy yang sedang tidur pulas dengan mempertahankan posisi elegannya.


Dia kemudian berjongkok di sebelah Lucy. Wajah cantiknya membuat Arya tak kuasa untuk mengelus rambut dan menyolek pipinya.


Pipi kenyal itu masih lembut seperti biasanya. Begitu lembut, membuat Arya tidak bisa berhenti meyoleknya menggunakan jarinya.


Arya menyentuhnya selembut yang dia bisa tetapi sementara dia membelai pipinya yang imut dengan lembut.


"Hmm..." Lucy yang dari tadi tidur tenang mengeluarkan suara manis.


Arya lalu menarik kembali lengannya secara perlahan agar tidak mengejutkan Lucy.


Lucy perlahan membuka matanya. Mata berwarna hitamnya lembab dan tidak fokus, ekspresinya yang lembut menunjukkan wajah muda yang mengantuk. Mata mengantuknya memiliki beberapa kesadaran meski dalam keadaan linglung.


Lucy lalu duduk dan mengusap pelipis matanya.


"Selamat pagi."


Kata Arya sambil tersenyum lembut pada Lucy yang masih mengantuk itu.


"Mmm... Pagi. Jam berapa ini?"


"Jam 07:10."


Lucy langsung melebarkan matanya, terkejut. Dia langsung beranjak dari kasurnya. Tak biasanya dia bangun seterlambat ini. Biasanya dia akan bangun jam setengah enam pagi untuk membereskan rumah dan memasak. Tapi untuk beberapa alasan, dia kesiangan hari ini. 


"Minggir, aku harus memasak untuk Kakak sarapan sebelum dia kerja!"


Lucy yang baru bangun tidur itu langsung berlari ke arah dapur untuk memasak sarapan untuk kakaknya tercinta.


"Ah, jika kamu mencari Kakak, dia sudah pergi kerja sejak tadi."


"Lalu sarapannya?"


"Aku memasak untuk sarapan tadi. Aku juga sudah memasakkan sarapan untukmu juga."


Meski Arya adalah pria, setidaknya dia masih bisa memasak meski tidak begitu terampil. Setidaknya dia masih bisa memberikan rasa pada masakannya.


Dia sangat berkebalikan dengan David yang sama sekali tidak bisa memasak.


"Syukurlah." Lucy menghela nafas lega.


"Lucy apakah kamu lelah akhir-akhir ini? Kamu bangun terlambat hari ini. Bagaimana jika istirahat di rumah saja?" Arya bertanya, membelai pipi Lucy.


Lucy tersentak terkejut, tubuhnya menegang ketika wajahnya memerah. Mendengar pertanyaan Arya, dia ingat alasannya bangun terlambat hari ini. Semuanya karena dia ketahuan kakaknya sedang berciuman dengan Arya.


Dia memikirkan berbagai macam cara agar tidak canggung ketika mengobrol dengan kakaknya esok harinya. Bagaimanapun, dipergoki kakaknya ketika berciuman benar-benar memalukan baginya.


Oleh karena itu, dia tidur lambat dan membuatnya bangun terlambat.


"Lucy, wajahmu merah, lho. Apakah kamu demam?"


Arya semakin khawatir. Dia menunduk dan menempelkan dahinya ke dahi Lucy, memeriksa suhu tubuh gadis kesayangannya.


Lucy terkejut dan semakin memerah hingga telinganya.


"Ah, sepertinya kamu demam!"


Arya merasakan Lucy semakin memanas, menyimpulkan jika gadis ini demam.


Apa yang dia tidak ketahui adalah Lucy memanas hingga memerah adalah karena tindakannya.


"A-aku tidak demam!"


Lucy mendorong Arya mundur, berbalik dan melarikan diri.


Arya terkejut dan menatap Lucy dengan bingung, merasa aneh dengan sikap gadis itu.


*****


Seperti hari-hari biasanya, Arya dan Lucy menjalani keseharian tanpa ada masalah. Mereka berangkat ke sekolah dan belajar dengan tenang. Pada saat di sekolah pun, keduanya selalu terlihat bersama seakan tidak ada yang bisa memisahkan mereka.


"Haah... Aku sangat lelah."


Arya melempar tasnya dan berbaring di depan TV, menikmati dinginnya angin dari kipas di hari yang panas.


Arya dan Lucy sudah pulang dari sekolah setelah melewati hari yang panjang yang dipenuhi dengan berbagai macam pelajaran di sekolah.


Tiba-tiba, handphone Lucy berdering.


Mendengar itu, Arya meraih tas Lucy dan mengambil handphonenya untuk mengecek, siapa yang menelepon.


Memeriksa handphone gadis itu, Arya agak terkejut ketika mengetahui bahwa yang menelepon Lucy merupakan nomor tidak dikenal. Dia mengerutkan dahinya dengan curiga.


"Lucy, handphonemu berdering." Arya memanggil Lucy.


"Ya, tunggu sebentar."


Lucy segera menjawab, menghampiri Arya dan mengangkat telepon itu dengan kebingungan saat melihat nomor yang tak ia kenal.


"Halo? "


"Halo cantik~. Apa kabarmu? Suaramu makin merdu saja, ya."


Terdengar suara seorang pria dari handphone Lucy. Ia merasa pernah mendengar suara pria itu disuatu tempat.


Setelah beberapa saat berpikir, Lucy menyadari bahwa yang meneleponnya ternyata adalah Viktor.


Ekspresi Lucy langsung berubah menjadi jengkel ketika mendengar suara Viktor.


Sejak Arya melakukan video call dengan Vanessa dan yang lainnya tempo hari, Lucy sering ditelepon oleh Viktor.


Dia tidak mengetahui dari mana Viktor mendapat kontaknya. Yang dia ingat, saat Arya video call dengan Vanessa dan yang lainnya, dia hanya mengenalkan dirinya sedikit dan meminta Arya untuk mengenalkannya pada Vanessa dan yang lainnya.


Selama beberapa waktu terakhir, dia pernah beberapa kali teleponan dengan Vanessa, Vina dan Kana. Hanya tiga gadis itu yang mengetahui kontak handphonenya.


Yang tidak diketahui Lucy adalah Viktor mendapat kontak handphonenya dari Kana. Dia membodohi gadis polos tersebut untuk mendapatkan kontak Lucy.


Lucy sudah memblokir kontak Viktor beberapa kali tapi tetap saja, Viktor selalu bisa menghubunginya tanpa dia ketahui caranya.


Pada saat Arya video call dengan Vanessa dan yang lainnya, Lucy hanya diam di dalam pelukan Arya tanpa menunjukan wajahnya, hanya memperlihatkan punggungnya saja dan mengeluarkan suaranya untuk memperkenalkan diri.


Meski begitu, Viktor yakin kalau Lucy adalah seorang gadis yang sangat cantik. Dia merupakan orang yang saat dia sudah suka dengan seorang gadis, maka dia harus mendapatkannya, tidak peduli apapun caranya.


Bahkan saat SMP dulu, Viktor tidak akan segan-segan untuk merebut pacar orang lain dengan alasan dia juga menyukai gadis tersebut itu. Dan saat sudah berhasil merebut pacar orang, dia hanya akan menjalin hubungan paling lama satu bulan dan setelah itu, dia akan mencari yang baru.


Arya yang melihat ekspresi wajah Lucy berubah segera mengerutkan dahinya dan mendekati Lucy, merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Siapa menelepon?"


"Temanmu, Viktor."


Begitu mendengar nama Viktor, Arya langsung menjadi kesal dan langsung merebut handphone Lucy.


"Viktor, aku peringatkan kau untuk berhenti menghubungi Lucy, atau kau akan kehilangan nyawamu!"


"Hei Arya, jangan pelit begitu. Kita ini teman, kan?"


Viktor hanya terkekeh. Ia hanya menganggap ucapan Arya itu hanya gertakan belaka.


Arya yang sudah kesal itu langsung mengakhiri panggilan telepon dari Viktor. Dia mengambil tasnya, mencari belatinya. Setelah itu, dia bergegas pergi.


Tapi, belum sempat melangkahkan kakinya, tangan Arya ditarik oleh Lucy. Gadis tersebut menatapnya dengan ekspresi serius dan matanya sedikit menunjukan rasa kesal.


"Kemana kamu ingin pergi?" Nada Lucy sedingin es.


"Aku akan membunuh Viktor."


"Jangan bunuh dia! Kamu tidak boleh menyelesaikan semua masalah dengan membunuh! Pikirkan semuanya dengan kepala dingin!


Lucy segera memarahi Arya.


Meski dia kesal dengan Viktor, tapi dia tidak ingin Arya membunuhnya hanya karena masalah sepele. Selain itu, dia tidak ingin Arya membunuh siapapun. Dia benar-benar tidak habis pikir karena Arya selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan ataupun membunuh.


Arya merenung sejenak sebelum akhirnya menghela nafas dan mengembalikan belatinya ke dalam tasnya.


"Baiklah, tapi aku akan tetap pergi untuk menghajarnya."


Arya menatap Lucy sejenak sebelum berbalik dan pergi.


Kali ini, Lucy tidak menghentikan Arya yang ingin menghajar Viktor. Dia sengaja membiarkannya pergi.


Lucy sendiri sangat kesal kepada Viktor karena terus-menerus mengganggunya.