Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 110 - Pulih dari Rasa Bersalah



Tiba di rumah, Arya dan Lylia disambut oleh Erwin yang menatap Arya dengan senyuman mengejek.


"Hei, Arya. Bagaimana kabarmu? Kau semalaman di rumah Lucy dan hari ini Lylia datang langsung mencarimu. Sekarang, bagaimana caramu menenangkannya?"


Arya berkedut mendengar ini. Dia hanya diam tak menjawab, sementara Lylia menyipitkan matanya dan menatap tajam Erwin.


"Kakek, tidak bisakah Kakek lihat Arya sedang sakit sekarang?"


"Hm? Arya, kau sakit, Nak?"


Arya hanya diam, menghela napas tanpa daya dan pergi ke kamarnya, mengabaikan Erwin. Dia terlalu malas meladeni kakeknya itu.


Erwin berkedut, mendengus dan buang muka dengan tidak senang. Dia mengkhawatirkan cucunya ketika mendengarnya sakit, tapi dia malah diabaikan.


Menatap Arya dan Lylia yang menjauh, dia menghela napas lagi. Bagaimanapun, dia sebenarnya agak berharap Arya dan Lylia bertengkar, agar dia memiliki tontonan yang bagus untuk disaksikan.


Kembali pada Arya, dia memasuki kamarnya dan duduk di tepi kasur, diikuti Lylia di sebelahnya dan bersandar di bahunya.


Ketika keduanya mulai mengobrol, suara perut Arya yang kelaparan terdengar, membuat pemuda itu menutup wajahnya karena malu, sementara Lylia hanya tertawa kecil, merasa lucu.


Arya belum memakan apapun sejak kemarin, jadi wajar jika dia kelaparan.


"Arya, kamu mau makan? Aku akan masakkan apapun, jadi jangan sungkan."


"Aku akan memakan apapun yang kamu masak, Lylia. Aku bukan pemilih. Juga, masakan kekasihku sudah pasti lezat, jadi bagaimana mungkin aku menolaknya?"


"Hmph! Sudah sembuh, ya? Mulutmu sudah sangat manis sekarang!"


Lylia mendengus, tampak tidak senang di luar namun kegirangan di dalam.


Arya hanya terkekeh dan membelai kepala Lylia sejenak, sebelum gadis itu pergi memasak untuknya. Adapun makanan yang sudah dia belikan tadi, dia meninggalkan semuanya dia rumah Lucy sebagai buah tangan karena sudah bertamu tadi.


Setelah beberapa saat memasak, Lylia kembali ke kamar Arya sambil membawa makanan yang sudah dia masak.


"Ah, kamu tidak perlu membawanya ke kamar, Lylia. Aku akan keluar untuk makan."


"Tidak, tetap di sini. Aku ingin melakukan sesuatu dan aku tidak ingin itu dilihat oleh kakek."


Lylia tersipu saat di meletakkan makanan yang dia masak ke meja. Dia kemudian duduk di karpet ambal dan meminta Arya untuk duduk.


Arya kebingungan, namun dia menurut.


Ketika Arya duduk, Lylia sibuk menyendok nasi serta lauk pauknya, lalu mengarahkan sendok penuh nasi itu pada Arya.


"Lylia, meski aku sakit aku masih bisa makan sendiri, tahu?"


"Ta-tapi ini yang ingin kulakukan denganmu. Aku ingin menyuapimu. Apakah itu tidak boleh?",


Alis Lylia terkulai, terlihat kecewa saat dia mengerucutkan bibirnya.


Arya tertawa kecil melihat reaksi Lylia yang begitu imut dan menggemaskan.


"Baiklah, mungkin bukan ide buruk disuapi kekasihku."


Mata Lylia berbinar mendengar ini. Dia segera mengarahkan sendok penuh makanan itu pada Arya sambil berkata "ahhm" seperti dia sedang menyuapi anak kecil.


Arya tersenyum masam dengan ini, namun dia menerima suapan dari Lylia tanpa mengeluh. Dia justru sangat senang dengan ini.


*****


Lusa, Arya yang merasa jika keadaannya sudah membaik memberanikan diri untuk berangkat sekolah. Wajahnya sudah tidak pucat, sorot matanya tidak menunjukkan ketakutan lagi namun dia jarang tersenyum selama tiga hari ini.


Selain itu, Arya juga berterima kasih pada Lylia, karena begitu perhatian padanya selama dua hari terakhir. Karena kehangatan Lylia, dia bisa cepat pulih dari rasa bersalah dan penyesalannya.


Ketika Arya memasuki kelas, semua orang melakukan aktivitas mereka seperti biasa.


Arya menyapu pandangannya ke setiap sudut kelas, melihat jika ada dua bangku yang kosong. Dia tahu siapa pemilik dua bangku ini, yaitu Lucy dan William.


Lucy sepertinya belum dalam keadaan yang baik, jadi dia sepertinya belum berani datang ke sekolah.


Adapun William, Arya tidak ingin mengingatnya.


Lylia ragu dan menyentuh dahi Arya, memeriksa apakah kekasihnya ini demam atau tidak. Setelah memastikan jika Arya benar-benar sehat, dia menghela napas lega.


Kemudian, pelajaran dimulai.


Seorang guru pria memasuki kelas dan berdiri di papan tulis. Dia menatap para siswanya, berdeham pelan dan berkata.


"Baiklah, anak-anak. Sebelum pelajaran dimulai, saya memiliki beberapa hal yang perlu disampaikan."


Suara guru itu pelan, namun semua siswa bisa mendengarnya dengan jelas.


Arya memperhatikan guru itu saat hatinya dipenuhi firasat buruk.


"Baik, dengarkan saya. Seperti yang kita ketahui, teman sekelas kalian, William, telah absen selama dua hari ini. Kalian mungkin mengira William membolos atau sedang sakit, makanya dia absen. Namun, sebenarnya William menghilang selama beberapa hari ini."


Para siswa terkejut mendengar ini. Mereka saling memandang dan berbisik, terutama para gadis.


Arya di sisi lain terlihat pucat saat mendengar nama William disebutkan. Jantungnya berdetak kencang dan bahunya bergetar ringan.


"Anak-anak, diam. Biarkan saya melanjutkan."


Guru tersebut berdeham dan para siswa segera diam, memperhatikan guru tersebut.


"Karena William, Lery dan Tommy menghilang, orang tua mereka jelas khawatir dan mencari mereka, ke manapun mereka bisa. Namun, selama beberapa hari ini, William dan dua lainnya belum ditemukan. Orang tua mereka sudah melapor pada polisi dan juga pihak SMA Daeil. Kepala sekolah sedang memikirkan cara untuk membantu pihak kepolisian dalam menemukan William dan yang lainnya. Oleh karena itu, kepala sekolah memutuskan untuk meminta kalian semua, untuk bekerja sama saat polisi datang nanti. Jangan panik, para polisi hanya akan menanyakan kalian tentang William. Itu saja, tunggu para polisi datang. Sekian dan terima kasih."


Guru tersebut mengakhiri pengumumannya dan meninggalkan kelas setelahnya.


Para siswa segera kembali berbisik dan kelas menjadi heboh seketika.


"Benarkah itu? Polisi akan datang? Wah, ini keterlaluan. Hanya gara-gara William menghilang, kenapa para polisi harus datang dan bertanya pada kita? Mereka harusnya mencarinya, bukan datang ke kita!"


"Itu benar. Tapi, mungkin saja polisi membutuhkan beberapa petunjuk dari kita. Bisa saja para polisi itu ingin menanyakan tentang William lebih dalam, agar mereka lebih mudah mencarinya. Contohnya, aku yakin para polisi akan menanyakan dengan siapa saja William berhubungan sebelum menghilang. Mereka pasti akan bertanya begitu."


"Itu masuk akal. Tapi, aku sedikit takut karena polisi akan datang. Bagaimana jika aku salah bicara dan ditangkap? Bukankah itu menakutkan?"


"Tidak, kita tidak akan ditangkap kecuali kita bersalah. Juga, mereka membutuhkan bukti sebelum menangkap kita."


Para siswa sibuk dengan obrolan mereka masing-masing.


Arya, di sisi lain, terdiam dan keringat dingin membasahi pakaiannya. Matanya menunjukkan ketakutan dan tubuhnya gemetar. Dia merasa pusing ketika William dan yang lainnya, mati di tangannya beberapa hari yang lalu. Wajahnya juga pucat bagai kertas.


Arya seketika mual mengingat bagaimana cara dia membunuh ketiganya. Dia segera bangkit dan berlari ke toilet.


Lylia yang melihat itu terkejut, merasa cemas. Bagaimanapun, Arya baru sembuh baginya dan mungkin saja penyakitnya kambuh. Dia segera mengejar Arya.


"Hei, ada apa ini? Kenapa Arya tiba-tiba pergi? Juga, wajahnya sangat pucat!"


"Mungkin dia sedang sakit? Guru bilang Arya sakit, kan? Guru bilang begitu beberapa hari yang lalu. Lucy juga sakit, ingat?"


"Aku ingat itu. Tapi, bukankah ini sedikit mencurigakan? Arya dan Lucy sakit di saat yang bersamaan dengan hilangnya William, ingat? William menyukai Lucy dan keduanya sepertinya memiliki hubungan asmara. Tapi, apakah kalian lupa jika Arya dan Lucy adalah teman masa kecil? Teman masa kecil bisa saja mengembangkan perasaan saling suka. Terutama, di awal bukankah Lucy pernah bilang jika dia menyukai Arya?" Kata pemuda bertindik.


"Lalu, apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"


"Singkatnya, Arya mungkin masih menyimpan rasa suka pada Lucy, tapi karena Lucy memiliki hubungan dengan William, dia mungkin saja cemburu."


"Tapi bukankah Arya sudah pacaran dengan Lylia?"


"Ya, dia memang pacaran dengan Lylia, tapi tidakkah kalian pikir Arya mungkin saja masih menyukai Lucy?"


"Itu tidak masuk akal. Lylia sangat cantik dan kaya, bagaimana mungkin Arya tidak menyukainya?"


"Yah, tapi aku tetap pada pendirianku. Arya sangat kejam saat dia berkelahi, bahkan ketika dia berkelahi dengan Guru James. Mungkin saja, karena Arya cemburu pada William karena William dekat dengan Lucy, dia berkelahi dengan William dan menghajarnya begitu parah hingga William mati."


Para siswa membuat argumen mereka sendiri. Beberapa menganggapnya apa yang dikatakan oleh pemuda bertindik itu cukup masuk akal sementara lainnya menganggapnya tidak masuk akal.


Mereka terus berdebat tentang Arya dan William yang mungkin berkelahi.


Segera, para siswa menyimpulkan jika Arya mungkin mengetahui sesuatu tentang hilangnya William.