
Karya ini merupakan cerita fiksi berdasarkan imajinasi dan tidak terkait dengan nama orang, organisasi, tempat ataupun kejadian apapun.
*
*
*
*
*
Di bandara.
Tiba di bandara, Arya dan Luois serta dua orang lainnya turun dari mobil dan setelah itu, Luois menuntun Arya menuju tempat Marissa menunggu.
Bertemu dengan Marissa, Arya memasang senyuman dan mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Marissa.
Marissa membalas dengan senyuman juga, menjabat tangan Arya.
"Senang rasanya kamu mau meluangkan waktu untuk menerima undanganku. Aku cukup cemas jika kamu menolak."
"Maafkan penolakanku yang sebelumnya. Aku terlalu cepat mengambil keputusan."
"Tidak perlu dipikirkan, Arya. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu hari ini?" Marissa bertanya.
Setelah itu, Arya dan Marissa mengobrol selama beberapa waktu sebelum akhirnya mereka berangkat menuju Inggris.
*****
Pada saat ini, Arya bersama Marissa sedang duduk berhadapan di dalam pesawat.
Pesawat yang digunakan oleh Marissa dan Arya adalah pesawat pribadi milik Marissa dan pesawat ini cukup mewah dan memiliki kesan elit.
Arya tak berhenti berdecak kagum ketika melihat isi dalam peswat ini, karena ini adalah pertama kalinya dia menaiki pesawat semewah ini, apalagi ini adalah pesawat pribadi.
Ini membuatnya jadi ingin memiliki satu suatu saat nanti.
Pesawat pribadi milik Marissa sendiri memiliki tiga ruangan yang digunakan untuk kamar tidur. Setiap kamar memiliki desain yang mewah dan memukau.
Bukan hanya itu, di dalam pesawat pribadi milik Marissa juga masih ada dua hingga tiga ruangan lagi, sebagai dapur serta ruang makan dan ruang tengah, yang kini digunakan oleh Arya dan Marissa untuk mengobrol.
Karena ini adalah pesawat pribadi milik Marissa, tentu saja ada beberapa pengawal pribadinya dan mereka semua bersiap di tempat mereka masing-masing. Luois bahkan berada tidak jauh dari Marissa.
"Sungguh disayangkan karena ibuku tidak bisa bertemu denganmu, Marissa. Sebenarnya aku berniat untuk berangkat sendiri ke bandara bersama ibuku dan adikku, tapi aku tidak menyangka jika Luois akan menjemputku."
Arya berkata, menggeleng pelan. Dia sebenarnya ingin berangkat ke bandara bersama Rosa serta Andhika, namun karena Luois menjemputnya, membuat ibu dan adiknya jadi gagal untuk bertemu dengan Marissa.
"Oh, benarkah itu? Aku tidak tahu, jika aku tahu aku mungkin akan menjemputmu secara pribadi."
Marissa tersentak, lalu tersenyum tipis saat sedikit penyesalan terdengar darinya.
Arya melambaikan tangannya, tanda agar Marissa tidak perlu ambil hati tentang kata-katanya.
Kemudian, Marissa menanyakan beberapa hal tentang Rosa pada Arya, karena dia sedikit penasaran.
Arya tentunya menceritakan tentang ibunya dengan penuh kebanggaan dan pujian. Dia mengatakan banyak hal baik tentang Rosa dan sesekali, Marissa akan memuji.
Mendengar pujian dari Marissa membuat Arya merasa gembira dan bangga. Bagaimanapun, orang yang dipuji oleh Putri Inggris ini adalah ibunya, jadi itu sebuah kebanggaan tersendiri. Pujian dari Putri Inggris bukanlah hal yang bisa didengar setiap hari.
Selama bercerita tentang Rosa, Arya tak pernah menyebutkan sedikitpun tentang ayahnya dan Marissa sendiri tidak bertanya.
Bukannya Marissa tidak penasaran dengan sosok ayah dari Arya, namun dia memiliki firasat jika Arya dan ayahnya memiliki hubungan yang buruk, jadi dia lebih memilih untuk tidak bertanya.
*****
Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, Arya bersama Marissa dan lainnya tiba di bandara Inggris dan segera turun dari pesawat.
"Mari, Arya. Setelah ini, kita akan langsung ke istana kerajaan dan bertemu dengan Ratu."
Marissa berkata dengan lembut sebelum memasuki mobil.
Arya terkejut dan terdiam, tidak menyangka jika dia akan bertemunya dengan ratu Inggris, yang merupakan pemimpin Inggris saat ini.
Namun, setelah dia memikirkannya sedikit, dia segera mengangguk tanpa daya. Dia bertemu Marissa, yang merupakan Putri Inggris, jadi wajar jika dia juga akan bertemu dengan ratu Inggris.
Melihat Marissa memasuki mobil, Arya menghela napas pelan dan setelah itu, seseorang menghampirinya dan menunjukkannya mobil yang akan dia gunakan untuk menuju kerajaan Inggris.
Tampaknya dia dan Marissa mengendarai mobil yang berbeda.
Meski begitu, Arya merasa agak lega. Setidaknya dia memiliki waktu untuk merilekskan diri sebelum bertemu dengan ratu Inggris. Bertemu dengan seorang pemimpin negara, ini adalah pertama kalinya bagi Arya dan dia tidak bisa bertindak sembarangan.
Dia harus berperilaku sangat sopan dan tidak boleh seenaknya, atau dia akan mendapat masalah tak berarti.
*****
Setelah perjalanan singkat, Arya tiba di depan istana kerajaan Inggris, istana Buckingham.
Arya tidak bisa untuk tidak terkejut dan menganga lebar, takjub dengan istana kerajaan Inggris yang begitu megah. Dia baru melihat bagian luarnya saja, namun itu sudah cukup membuatnya kagum. Jika dia melihat bagian dalam istana, kemungkinan besar dia bisa saja pingsan saking terkejutnya.
Setelah pemeriksaan sejenak, mobil yang Arya tumpangi perlahan mulai memasuki halaman istana dan masuk lebih dalam.
Benar saja, ketika memasuki halaman istana, Arya hampir pingsan karena terkejut oleh isi dalam dari istana kerajaan Inggris ini. Halamannya begitu luas dan terdapat beberapa taman bunga serta kursi taman yang diletakkan di sana. Ada juga air mancur yang indah.
Bukan hanya itu, Arya bisa melihat jika para penjaga berjaga dengan ketat dan setiap lima meter, mereka pasti para penjaga istana Inggris ini.
Melihat dari penampilan para penjaga ini terlihat kuat dan mengesankan. Arya bisa yakin, jika dirinya berkelahi dengan salah satu dari mereka, dia pasti kalah telak.
Bagaimanapun, lawannya selama ini hanya anak seusianya dan beberapa orang dewasa yang tidak berpengalaman. Tapi menghadapi para penjaga istana ini, Arya tidak memiliki sedikitpun keyakinan dia bisa melawan.
Setelah beberapa saat, mobil yang Arya tumpangi berhenti.
Arya yang penasaran dengan berhentinya mobil menjulurkan kepalanya dari kursi belakang, melihat ke depan dan mengetahui jika Marissa turun dari mobil dan disambut oleh banyak orang, salah satunya seorang wanita dengan mahkota di kepalanya.
Arya melebarkan matanya saa melihat wanita bermahkota ini, itu jelas-jelas pemimpin negara Inggris saat ini, Ratu Chaterine!
Napas Arya memburu dan wajahnya sedikit memucat. Rasa gugup memenuhi hatinya saat jantungnya berdebar kencang.
Dia tidak siap dengan ini.
Dia tidak tahu bagaimana cara berperilaku layaknya bangsawan ketika bertemu dengan Ratu Chaterine.
"Silakan, Tuan. Putri Marissa telah menunggu Anda."
Tiba-tiba, ketika Arya sedang dalam keadaan gugup dan tidak tahu harus berbuat apa, seseorang membuka pintu kursi belakang dan memintanya untuk turun dan menemui Marissa yang sedang bertukar sapa dengan Ratu Chaterine. Ini membuatnya kebingungan.
Menghela napas panjang, Arya mendapat sedikit ketenangannya dan dia perlahan turun, memeriksa sedikit pakaiannya dan perlahan berjalan menuju tempat Marissa dan Ratu Chaterine berada.
"Yang Mulia, perkenalkan. Dia adalah Arya, orang yang saya ceritakan pada Anda sebelumnya. Arya, perkenalkan. Ini adalah Ratu Chaterine, pemimpin Inggris saat ini."
Marissa dengan sopan memperkenalkan Arya pada Ratu Chaterine dan begitu juga sebaliknya.
Arya menelan ludahnya sekali, lalu dengan tangannya yang agak gemetar, dia berniat untuk berjabat tangan dengan Ratu Chaterine.
Ratu Chaterine dengan senyum khasnya menjabat tangan Arya dan keduanya saling berjabat tangan, lalu memperkenalkan diri sebagai formalitas.
"Per-perkenalkan, nama saya Arya, Yang Mulia Ratu..."
"Senang bertemu denganmu, Arya. Aku adalah Ratu Chaterine, pemimpin Inggris saat ini. Tidak perlu gugup begitu, cobalah untuk merilekskan dirimu."
Ratu Chaterine berkata dengan lembut dan sopan, sama sekali tidak menunjukkan nada arogansinya sebagai pemimpin negara pada Arya, membuat pemuda itu memiliki kesan baik pada Ratu Chaterine.
Setelah itu, Arya dan Ratu Chaterine bertukar beberapa kata sebelum akhirnya Ratu Chaterine berbalik untuk bertukar kata dengan Marissa, lalu mengajak Marissa memasuki istana.