Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 64 - Ulang Tahun Lucy



Setelah mencari di beberapa toko perhiasan, Arya merasa kurang puas karena dia tidak menemukan kalung yang menurutnya sesuai untuk Lucy.


Sampai akhirnya, saat sedang berada di salah satu toko perhiasan, Yuki tiba-tiba memanggil Arya dan menunjukkan salah satu kalung dengan model cantik dan cocok digunakan sebagai hadiah ulang tahun.


"Arya, bagaimana dengan kalung semanggi berdaun empat ini?" Kata Yuki, menunjukkan kalung yang dia pilih.


"Ini... Sepertinya bagus...? Tapi, kenapa harus ini, Tante?"


"Oh, apakah kamu tidak tahu? Semanggi berdaun empat adalah langka dan setiap helai daunnya mengandung makna yang berbeda-beda, tahu? Daun pertama melambangkan cinta dan kasih. Helai kedua melambangkan kesehatan dan panjang umur. Daun ketiga melambangkan kemakmuran hidup dan daun keempat melambangkan kekayaan yang melimpah."


Arya mendengarkan penjelasan Yuki dan mengangguk setuju setelah beberapa saat. Dia pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya.


Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan untuk membeli kalung semanggi berdaun empat ini untuk diberikan pada Lucy nanti.


Meski sudah membeli kalung, Arya masih merasa kurang puas. Dia akhirnya membeli sebuah handphone baru untuk Lucy. Dia baru ingat jika handphone Lucy sudah beberapa tahun belum diganti, jadi dia membelikannya saja sebagai hadiah tambahan.


Yuki mendecakkan lidahnya dengan kagum saat melihat Arya membeli handphone untuk kekasihnya. Dia sekarang tahu, bahwa Arya sangat mencintai kekasihnya itu.


Ketika hendak pergi dari toko handphone, Arya tiba-tiba berhenti dan kembali masuk ke toko itu lagi. Saat dia keluar, dia kembali dengan membawa handphone lainnya.


Semua orang terkejut dengan ini, berpikir bahwa Arya terlalu boros. Tentu saja, membeli kalung dan dua buah handphone setidaknya membuat Arya menghabiskan beberapa juta uangnya, namun sepertinya Arya tidak peduli.


Namun, karena Arya sudah membelinya dan dia menggunakan uangnya sendiri, jadi tidak ada yang protes.


Setelah semuanya selesai, Arya mengantarkan Helen dan Nia menggunakan taksi.


"Nia, ambil ini. Anggap saja hadiah dariku."


Saat Nia hendak masuk ke dalam taksi, Arya tiba-tiba memberikannya handphone yang tadi pemuda itu beli.


Nia terkejut dan segera menolak, namun Arya memaksanya dengan keras kepala, jadi Nia hanya bisa pasrah dan menerimanya. Dia mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Arya.


Setelah mengantar Helen dan Nia pergi, hanya tersisa Arya dan Yuki.


"Tante, mau aku antar pulang?"


"Eh? Rumahku dan rumahmu berbeda arah, tahu? Tidak perlu, aku akan memesan taksi saja, aku tidak mau merepotkanmu, Arya."


"Tidak, aku tidak merasa direpotkan, Tante. Sebaliknya, aku sangat berterima kasih pada Tante karena sudah menemaniku seharian ini. Aku juga minta maaf karena karenaku, Tante jadi menghabiskan waktunya secara percuma." Arya tersenyum tulus.


"Tidak, tidak. Apa yang kamu katakan? Kamu sama sekali tidak membuang waktuku, aku malah menikmati berbelanja bersamamu hari ini, Arya."


Yuki melambaikan tangannya, wajahnya agak merona saat dia menyadari bahwa meski dia bersama dengan Helen dan Nia, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Arya saat berbelanja tadi. Bahkan keduanya terlihat selalu berdampingan saat berjalan ke sana dan kemari.


Secara tidak langsung, Yuki merasa bahwa dia baru saja berkencan dengan Arya.


"Baiklah, ayo aku antar pulang, Tante."


Arya tersenyum lembut sebelum berjalan ke parkiran motor, mengambil motornya.


Kali ini, Yuki tidak menolak lagi. Dia membiarkan pemuda ini mengantarnya pulang.


Ketika menaiki motor Arya, Yuki tiba-tiba melingkari kedua tangannya di pinggang Arya, memeluknya.


"Ta-Tante?!"


"A-apa? Bukankah ini normal? Jika aku tidak berpegangan padamu, aku akan jatuh, kan?"


Arya terkejut karena Yuki tiba-tiba memeluknya, wajahnya memerah. Namun sebelum dia bisa membantah, Yuki segera mengatakan sesuatu yang masuk akal, jadi dia membiarkannya.


Selama perjalanan pulang, Yuki terus-menerus memeluk Arya.


*****


Pada esoknya, Helen dan Nia langsung ke rumah Lucy untuk merayakan ulang tahunnya. David bahkan pulang lebih awal dan dia membawa kue ulang tahun untuk merayakannya.


"Selamat ulang tahun!"


Arya dan yang lainnya berkata dengan penuh semangat


Lucy tidak terkejut dengan pemandangan ini. Dia sudah menduga bahwa kekasihnya, kakaknya dan sahabatnya pasti akan merayakan ulang tahunnya tanpa dia minta, membuatnya merasa bahagia dan hatinya menghangat.


Setiap tahun, dia pasti mendapat perayaan ulang tahun semacam ini dan dia selalu bahagia dengan perayaan ini. Namun, Lucy agak sedih karena beberapa tahun terakhir, dia tidak bisa merayakan ulang tahunnya bersama kedua orang tuanya, karena kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia tahun ketiga SMP.


"Tiup lilinnya dan buat permohonanmu."


David yang memegang kue ulang tahun di nampan berkata demikian. Di kue tersebut, ada lilin yang membentuk angka delapan belas, menunjukan usia Lucy yang sudah delapan belas tahun.


Lucy tersenyum bahagia dan segera meniup lilinnya sembari berharap bahwa kehidupannya ke depannya dipenuhi kebahagiaan dan kasih sayang orang-orang terdekat. Dia berharap di masa depan, dia bisa menikah dengan Arya dan membuat keluarga kecil yang bahagia. Dia juga berharap David dapat secepatnya menemukan pasangannya, agar dia tidak terlalu kesepian.


Setelah meniupnya, Lucy tersenyum pada semua orang dan berterima kasih.


"Kak Lucy, ini hadiah untukmu!" Nia adalah yang pertama maju dan memberikan hadiah yang sudah dia siapkan kemarin.


"Padahal kamu tidak perlu repot-repot begini, Nia." Lucy mengelus kepala Nia.


"Baiklah, ini hadiah dariku juga." Helen adalah yang selanjutnya.


Kemudian, David dan Arya juga memberikan hadiah yang sudah mereka siapkan.


Lucy menerima semuanya dan sangat berterima kasih pada mereka.


Setelah itu, mereka memotong kue ulang tahunnya dan membaginya.


Lucy pertama memberikan kue itu pada David, karena dia adalah kakaknya. Setelah itu, dia memberikannya pada Arya sambil menyuapinya, membuat David agak kesal.


Dia adalah kakaknya, jadi kenapa dia tidak disuapi juga?


Setelah itu, mereka makan malam bersama dan mengobrol dengan riang. Makan malam pada malam itu dipenuhi canda tawa dan kehangatan yang menyenangkan.


Dua jam kemudian, baik Helen dan Nia berpamitan pulang karena sudah hampir larut malam.


"Oh, apakah kau tidak pulang juga, Arya?" Helen tersenyum main-main, seakan kata-katanya menyimpan makna lain.


"Rumahku di sini, jadi ke mana aku harus pergi?"


Arya tersenyum sinis, jelas tahu apa yang Helen maksud.


Helen agak terkejut dengan sikap Arya yang blak-blakan, namun dia hanya menghela napas dan tersenyum.


Setelah dua gadis itu pulang, Lucy yang berada di kamarnya sedang melihat beberapa hadiah ulang tahunnya.


Dia duduk di kasurnya ketika beberapa kotak hadiah dengan berbagai macam ukuran berserakan di sana. Lucy mengerutkan dahinya sambil berpikir untuk membuka hadiah yang mana.


Ketika Lucy sedang merenung untuk memilih hadiah mana yang akan dia buka duluan, suara pintu diketuk terdengar.


"Masuk." Kata Lucy.