Murderer & Love

Murderer & Love
Chapter 70 - Satu Hari tanpa Lucy



Setelah waktu yang cukup lama, Arya menghela napas ringan dan menatap Erwin.


"Kek, Kakek bilang jika aku harus menjaga jarak dari Lucy, kan? Bagaimana jika begini, aku akan menginap di rumah Lucy selama lima hari, sedangkan aku akan menginap di sini dua hari."


"Kau gila! Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apakah kau pikir aku akan menyetujuinya semudah itu? Arya, kau seharusnya pulang hari ini dan tetap di sini selama kau masih sekolah. Kenapa kau harus di tempat Lucy?" Erwin terdengar marah.


Apa yang dikatakan cucunya ini sama sekali tidak masuk akal baginya.


"Ugh, ayolah, Kek. Aku berjanji akan selalu pulang ke sini setiap beberapa hari sekali dan aku juga akan menjaga jarak dari Lucy."


"Omong kosong! Menjaga jarak dari mana?! Kau hanya ingin menginap di sana dan bertemu kekasihmu setiap hari!"


Nada Erwin mulai meninggi, tapi itu tidak membuat Arya takut. Dia terus-menerus membujuk Erwin dan memberikan saran terbaiknya, agar dia bisa menginap di rumah Lucy.


Dia juga mengatakan pada Erwin jika dirinya akan berada di rumah selama dua minggu, sebelum akhirnya menginap di rumah Lucy lagi.


Namun, semua saran yang dia katakan selalu dibantah oleh Erwin, menyebabkan keduanya berdebat.


"Baiklah, baiklah! Lakukan sesukamu! Kau boleh menginap di rumah Lucy selama lima hari setiap minggunya. Tapi, ingat janjimu dan kau harus pulang setiap dua hari. Juga, jika David sedang lembur, pulang ke sini dan jangan berduaan saja dengan Lucy!"


Erwin mengibaskan tangannya ketika dia mulai lelah berdebat dengan Arya. Dia merasakan sakit kepala karena cucunya begitu keras kepala dan terus-menerus memintanya agar diizinkan untuk menginap di rumah Lucy.


Arya tersenyum puas mendengar ini. Dia berterima kasih pada Erwin sebelum akhirnya meninggalkannya ke kamar.


*****


Pada pagi harinya, Arya yang sedang tertidur itu perlahan membuka matanya dengan berat. Dia lalu duduk dan menggosok matanya.


Melihat ke samping, Arya terkejut karena tidak melihat Lucy di sebelahnya. Biasanya, Lucy masih tertidur ketika akhir pekan seperti ini.


Lucy pasti akan bangun lebih lambat setiap akhir pekan, karena itu adalah hari libur, jadi tidak perlu melakukan aktivitas seperti biasanya.


Mengerutkan dahinya, Arya melihat sekeliling dan menyadari sesuatu.


"Ah, aku ada di rumah, ya?"


Arya menghela napas tanpa daya. Dia merasa agak kesepian malam ini, karena tidak bisa memeluk Lucy tadi malam.


Membaringkan tubuhnya, Arya tidur lagi.


"Emily, bangunkan kakakmu! Ini sudah tengah hari, tapi dia masih belum bangun juga!"


"Baik~."


Erwin menyuruh Emily membangunkan Arya karena pemuda itu tidak bangun dari tidurnya meski ini sudah tengah hari.


Emily segera mendatangi kamar Arya dan mengetuk pintu, tapi tidak ada respon.


Mencoba membuka pintu kamar Arya, ternyata kamarnya tidak terkunci.


Emily masuk dan melihat Arya berbaring dengan miring, memperlihatkan punggungnya.


Emily kemudian mendekatinya dan mengguncang pundaknya.


"Kak, ayo bangun. Ini sudah siang. Kakek marah karena kamu tidak kunjung bangun."


"Um... Lima menit lagi."


"Ish, Kak! Ayo bangun!"


Emily menarik selimut Arya, membuatnya berkedut.


"Emily, jangan ganggu Kakakmu ini. Jika bukan kekasihku yang membangunkanku, maka aku tidak akan bangun!"


Arya berkata dengan malas. Dia tidak memiliki mood untuk menjalani kesehariannya karena tidak ada Lucy di rumahnya. Juga, dia tidak diperbolehkan oleh Erwin untuk berkunjung ke rumah Lucy selama dua minggu ini. Jadi, selain di sekolah, dia tidak bisa menemui kekasihnya itu.


"Oh, baiklah. Aku akan menelepon kekasihmu, yaitu ibumu!"


Suara Erwin tiba-tiba terdengar, membuat Arya bergidik dan segera duduk di kasurnya. Melihat ke arah pintu, dia melihat Erwin memegang telepon, siap menelepon Rosa kapan saja.


Erwin menatap tajam Arya sementara waktu sebelum akhirnya pergi.


Arya menghela napas panjang sebelum dia keluar dari kamarnya dan pergi membersihkan tubuhnya.


*****


Pada sore harinya, Arya yang tidak memiliki sesuatu untuk dikerjakan memilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya, bermain laptop baru yang dia beli beberapa jam yang lalu.


Menatap layar laptopnya, Arya menghela napas untuk kesekian kalinya. Dia meletakkan dagunya di tangannya yang bertumpu pada meja kecil yang digunakan untuk meletakkan laptopnya.


"Kak, apa yang sedang kamu lakukan?"


Emily masuk ke dalam kamar Arya ketika dia tidak sengaja lewat. Pintu kamar Arya terbuka, jadi dia bisa masuk dan kebetulan melihat Arya yang terlihat seperti ikan mati itu.


"Entahlah... Aku saja tidak tahu, apa yang sebenarnya aku lakukan?" Jawab Arya, lemas dan tidak bersemangat.


Emily menghela napas mendengar nada lemas Arya. Dia kemudian duduk di sebelahnya dan melihat laptop baru Arya, terkejut.


"Kak, sejak kapan kamu punya laptop?"


"Sejak tadi. Aku baru membelinya tadi."


"Ugh, sungguh. Karena kamu adalah bos Arcy's bakery dan uangmu banyak, kamu bisa melakukan apa saja dengan uangmu, Kak."


Emily kagum. Dia tahu jika Arya memiliki toko roti, jadi tidak heran jika dia tahu Arya memiliki banyak uang.


Adapun dari mana gadis ini tahu, Arya memberi tahunya sendiri. Dia tidak merahasiakan toko rotinya dari Erwin dan Emily. Selain ibunya, Rosa, Arya tidak merahasiakan toko rotinya.


"Kak, karena kamu sudah punya laptop, bagaimana jika kita menonton drama saja? Ada drama baru yang populer sedang tayang baru-baru ini. Juga, Kakak tidak ada kerjaan, kan?"


"Ya, lakukan sesukamu."


Arya acuh tak acuh.


Emily tersenyum puas dengan ini. Dia kemudian pindah posisi, duduk di pangkuan Arya.


Menatap layar laptopnya, Emily mencari drama yang ingin dia tonton.


"Emily, bisakah kamu menyingkir? Tidak seharusnya kamu duduk di pangkuanku."


"Eh? Apakah itu salah? Dulu Kakak juga sering memangkuku..."


"Ya, tapi itu dulu. Sekarang kita sudah dewasa, jadi kamu harus tahu jarak antara pria dan wanita."


"Tidak mau! Kakak biasanya tidak mempermasalahkan ini, kenapa sekarang kamu jadi begitu sensitif?!"


Emily terdengar sedih.


Dulu, ketika dia masih di bangku tahun kedua SMP, dia sering duduk di pangkuan Arya dan kakak sepupunya ini sama sekali tidak mempermasalahkannya.


"Emily, dengarkan aku dan jangan melawan."


"Tidak mau!"


Emily membenturkan kepalanya ke belakang, membuat kepala belakangnya menabrak dagu Arya dengan keras.


Arya mengerang kesakitan dengan ini.


Pada akhirnya, dia pasrah dan membiarkan Emily duduk di pangkuannya.


Emily terdengar senang ketika dia mendapat izin untuk duduk di pangkuan Arya. Dia bersandar di dadanya dan bersenandung dengan ringan sambil mencari drama yang ingin dia tonton.


Setelah itu, keduanya menonton drama yang disarankan Emily bersama.


Pada malam harinya, Arya akhirnya memiliki sesuatu untuk mengisi waktu luangnya. Dia melakukan panggilan video dengan Lucy sampai akhirnya Lucy tertidur.