
"Ya, aku dan Arya saling kenal. Kami teman masa kecil."
Mendengar jawaban ini, para pria langsung kecewa dan mendecakkan lidah mereka. Beberapa bahkan ada yang langsung pergi begitu tahu jawabannya.
Teman masa kecil biasanya bisa saja saling jatuh cinta, jadi para pria tidak mau membuang waktu mereka untuk memenangkan hati Lucy, karena mereka yakin hubungan Arya dan Lucy tidak biasa dan jelas hubungan mereka melebihi teman masa kecil semata.
Setelah bertukar beberapa kata, Lucy meminta undur diri pada teman-teman barunya. Dia kemudian menghampiri Arya dengan senyuman manisnya, yang tidak dia tunjukkan pada siapapun selain Arya.
"Arya, apakah kamu senang dengan kelas barunya? Aku sangat senang di sini, aku mendapat beberapa teman baru."
Lucy duduk di hadapan Arya, meminjam bangku kosong milik seseorang dan menghadap belakang, menatap Arya dengan matanya yang indah.
Arya, yang buang muka perlahan menoleh dan menatap Lucy, berusaha bersikap dingin.
"Bukan urusan Anda." Kata Arya.
"Oh, ayolah. Jangan bersikap dingin seperti itu. Kamu jadi tidak tampan jika seperti itu, tahu?"
"Diamlah, jangan banyak bicara atau saya akan pergi!"
Arya berkata, matanya menajam dan dia terdengar serius.
Meski begitu, Lucy melihat bahwa telinga Arya memerah, jadi dia tidak bisa menahan tawa dalam hatinya.
Menuruti permintaan Arya, Lucy diam sejenak lalu berkata lagi.
"Arya, kamu digosipkan oleh beberapa orang, lho. Katanya kamu orang yang sombong."
"Bukan urusan Anda."
Lucy tersenyum masam.
Setelah itu, Lucy terus-menerus mengajak Arya mengobrol. Dia penuh dengan semangat, tapi Arya selalu membalasnya dengan formal dan dingin, bahkan terkadang mengejeknya.
Lucy menjadi kesal dengan ini. Tidak masalah jika Arya berbicara formal dan dingin padanya, tapi dia tidak terima dengan ejekan Arya, yang mengejeknya bahwa dia adalah seseorang yang ingkar janji dan mengkhianatinya.
Lucy merasakan sakit di dadanya. Kebahagiannya tadi perlahan menghilang.
Menghela napas panjang, Lucy berhasil menenangkan diri. Dia kemudian menatap Arya dengan serius.
"Arya, bisakah kamu hentikan ini? Aku tidak ingkar janji padaku. Aku juga tidak pacaran dengan siapapun. Aku hanya menyukai dan mencintaimu seorang, Arya. Jadi, bisakah kamu hilangkan kesalahpahamanmu itu?"
"Salah paham? Omong kosong. Anda mengkhianati saya, jadi tidak perlu banyak alasan yang tidak berguna."
"Tidak, aku benar-benar..."
"Cukup, tidak ada gunanya kita membahas hal ini lagi. Saya sudah kecewa dengan Anda, jadi jangan mengatakan apapun lagi tentang masa lalu."
Arya segera menyela. Dia menatap Lucy dengan dingin lalu pergi meninggalkan kelas.
Pada saat yang sama, Lucy mengigit bibirnya ketika matanya berkaca-kaca. Hatinya sangat sakit karena semua ucapan Arya tadi.
Menyeka matanya, Lucy berusaha menghilangkan rasa sedihnya.
Melihat ini, para siswa lainnya langsung berbisik dan bergosip. Mereka mungkin tidak mendengar percakapan Arya dan Lucy, tapi melihat situasi Lucy yang terlihat sedih setelah ditinggalkan Arya, semua orang langsung bisa menebak jika hubungan keduanya tidak baik.
"Lucy, apakah kau baik-baik saja?"
Gadis berambut pendek tadi menghampiri Lucy, menepuk pundaknya dengan pelan.
Lucy mengangkat kepalanya dan menoleh, tersenyum terpaksa.
"Apa maksudmu? Aku tidak paham."
"Itu... Bukankah kau sedih karena Arya? Bukankah kau bilang kalian saling kenal? Lalu, kenapa sepertinya kalian memiliki hubungan yang buruk? Lucy, aku memang tidak mendengar percakapanmu dengan Arya, tapi aku melihat semua sikapnya."
"Ah, Arya memang begitu akhir-akhir ini. Dia sedang menghadapi suatu masalah, jadi dia agak frustasi karena masalahnya itu. Makanya, dia agak dingin karena dia sedang ingin menyendiri untuk menemukan solusi dari masalahnya itu."
"Tolong jangan menganggap Arya jahat, sombong atau semacamnya. Dia itu sangat baik jika kalian tahu."
Setelah berkata demikian, Lucy tidak mengatakan apapun lagi dan mengabaikan semua pertanyaan yang berhubungan dengan Arya.
*****
Setelah mengatakan beberapa hal buruk pada Lucy, Arya keluar dari kelas dan segera menuju toilet. Dia berjalan dengan menghela napas berulang kali, merasa sakit pada hatinya karena sudah mengatakan banyak hal buruk pada Lucy. Dia masih mencintai Lucy, jadi dengan dirinya mengatakan hal buruk tentang orang yang dia cintai, itu sama saja menyakiti dirinya sendiri.
Tapi, Arya tetap melakukannya agar dia bisa melupakan Lucy.
Ketika Arya berjalan menuju toilet, dia secara tidak sengaja melihat beberapa orang berkumpul. Dia penasaran, jadi dia mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Hei, apakah tidak ada yang ingin membantunya? Kasihan sekali gadis itu, dia diganggu oleh Lery dan kelompoknya."
"Kau gila! Siapa yang ingin membantu gadis itu, jika bayarannya harus berurusan dengan Lery, si penguasa sekolah ini? Dia itu mudah tersinggung dan jika sudah seperti itu, kita hanya akan menjadi samsak tinjunya!"
"Oh, gadis yang malang. Karena kecantikkannya, dia jadi diganggu oleh Lery."
Semua orang berbisik, membicarakan seorang pemuda bernama Lery yang tengah mengganggu seorang gadis cantik.
Banyak dari mereka tidak berniat membantu, takut mendapat masalah yang tidak perlu.
Arya yang mendengar ini menatap ke gadis tersebut. Dia terkejut ketika mengetahui siapa gadis yang sedang dalam masalah itu.
Gadis tersebut memiliki wajah cantik dengan ekspresi lembut serta rambut berwarna putih keperakan.
Jelas, itu adalah Lylia.
Arya merasa prihatin dengan Lylia, meski dia baru mengenalnya beberapa saat yang lalu. Namun, meski begitu, dia tidak berniat menolong, sama seperti yang lainnya. Dia berbalik dan hendak meninggalkan lokasi tersebut.
"Hei, kau! Aku sudah mencarimu sejak tadi, darimana saja kau?"
Tiba-tiba, ketika Arya hendak meninggalkan lokadi tersebut, suara manis dan lembut seorang gadis terdengar dari belakang.
Arya berhenti sejenak untuk menoleh sumber suara, menemukan bahkan Lylia menatapnya sambil tersenyum manis. Gadis itu lalu menghampirinya dengan langkah yang cepat.
Semua orang yang melihat ini terkejut, begitu juga pemuda bernama Lery tersebut. Dia menatap linglung Arya dan Lylia sebelum akhirnya menggertakkan giginya karena marah.
"Ya ampun, ke mana saja kau? Aku menunggumu sejak tadi, tahu!"
Lylia yang berdiri di hadapan Arya tersenyum manis.
Arya terkejut dan mengerutkan dahinya dengan tidak senang. Dia baru saja hendak meninggalkan tempat ini, tapi dia tiba-tiba dipanggil oleh gadis ini, membuatnya memiliki firasat jika masalah akan menghampirinya.
"Hei, siapa kau? Kenapa kau mengganggu kekasihku?"
Sepertinya firasat Arya benar.
Lery benar-benar menghampirinya dengan ekspresi marah. Tangannya terkepal dan dia melotot pada Arya.
"Siapa kekasihmu? Aku bahkan tidak mengenalmu!" Lylia membalas.
"Kau gadis sialan! Kau benar-benar cari mati!"
"Kyaaa!!!"
Lery mengangkat tangannya, hendak menampar wajah cantik Lylia.
Lylia terkejut dan berteriak, wajahnya terlihat ketakutan.
Tapi, meski Lery ingin menampar Lylia, dia gagal dan tangannya tidak sampai pada wajah Lylia. Tangannya berhenti di udara, digenggam oleh seseorang dengan kuat.
Orang-orang di sekitar terkejut. Mereka menatap orang yang menghentikan tangan Lery dengan kagum.
Arya yang berada di dekat Lylia adalah orang yang menghentikan tamparan Lery. Selain dia bergerak secara reflek, dia jelas tidak bisa membiarkan seorang gadis ditampar oleh pria tepat di depan matanya. Selain itu, dia sering melihat ayahnya menampar ibunya ketika bertengkar, jadi dia secara alami memiliki kebencian pada para pria yang ringan tangan pada wanita.